Selasa, 13 Desember 2016

Soja

Inillah cerita Soja, cerita anak yang saya tulis, yang pertama dimuat di media anak. Selamat membaca, teman-teman. Semoga teman-teman suka, ya...                        

                            Soja
                                      Bambang Irwanto


Dimuat di Kumpulan Dongeng 29 tahun 2004


Setelah menempuh perjalanan jauh dari desanya di kaki gunung, akhirnya Soja tiba di kerajaan Aryapada. Soja berniat ikut tes untuk menjadi prajurit kerajaan. Alun-alun istana telah dipadati para peserta. Mereka adalah para pemuda yang datang dari berbagai pelosok negeri.

“Coba lihat pemuda kurus itu!” tunjuk seorang pemuda pada Soja. Semua temannya ikut menoleh pada Soja.

“Pasti tenaganya tak ada,” sambung pemuda yang badannya paling besar. “Bagaimana nanti ia akan menghadapi musuh?”

“Jangankan melawan orang, melawan seekor tikus pun ia pasti kalah!” sambung pemuda lainnya.

Soja tidak mempedulikan ejekan para pemuda itu. tekadnya sudah bulat untuk menjadi seorang prajurit. Soja ingin membahagiakan ibunya yang sudah tua. Bapak Soja sudah meninggal sejak ia masih kecil.

Tes seleksi calon prajurit kerajaan segera dimulai. Berbagai tes dilalui Soja dengan baik. Soja dengan cepat mengerjakan puluhan soal, tentang tata cara dan strategi perang. Dengan liincah, Soca memainkan tombak, juga pedang. Para peserta yang tadinya menganggap remeh, kini kagum pada pada Soja.

Pada tes terakhir, calon prajurit diperintahkan untuk menunggangi kuda. Mereka harus melalui rute yang sudah dittentukan. Siapa yang paling cepat tiba ditujuan, maka dialah yang diangkat jadi prajurit kerajaan.

Soja mendapat kuda berwarna cokelat. Dengan mudah, Soja bisa menunggangi kuda itu. beruntung Soja sudah terbiasa merawat kuda-kuda milik  juragan kaya di desanya.

Garis finish tinggal beberapa meter lagi. Soja menepuk-nepuk punggung kudanya, agar berlari lebih cepat lagi. Sudah banyak peserta yang berhasil disusul oleh Soja.

Tiba-tiba saja, Soja melihat seorang kakek berdiri di tepi jalan. Kakek itu melambai-lambaikan tangan sambil memegang perutnya yang berdarah. Soja segera menghentikan kudanya.

“Kenapa perut Kakek berdarah? tanya Soja sambil turun dari kudanya.

“Digigit anjing liar, Nak! Tolong antar kakek ke rumah Tabib di tepi hutan sana!” pinta kakek itu dengan wajah memelas.

Sejenak Soja bimbang. Bila ia mengantar kakek itu ke rumah Tabib, maka ia akan terlambat sampai di garis finish.

Beberapa peserta mulai mendahululi Soja.

“Dasar bodoh! Tinggalkan saja kakek itu! Bukankah menjadi prajurit jau lebih penting?” ejek seorang peserta yang melintas di depan Soja.

Soja diam saja, dan tidak membalas ejekan peserta itu. Ia lalu membantu kakek itu naik ke pelana kuda. Dengan segera, Soja memaju sepedanya menuju rumah Tabib. Tidak lama, mereka sudah sampai di tepi hutan. Soja pun membantu kakek itu turun dari kuda.

“Terima kasih, Nak! Semoga Tuhan membalas budi baikmu,” kata kakek itu sebelum masuk ke rumah Tabib.

“Sama-sama, Kek! Semoga kakek segera sembuh. Saya melanjutkan perjalanan dulu, Kek!” kata Soja sambil naik ke pelana kudanya. Soja pun meneruskan perjalanan. Ia sudah tertinggal jauh dari peserta lainnya.

Benar saja. Soja peserta terakhir yang mencapai garis finish. Orang-orang kembali mengejek dan menertawakan Soja.

Setelah mengembalikan kuda, Soja bersiap-siap kembali ke desanya. Ia yakin tidak lulus menjadi prajurit. Tapi Soja tidak kecewa. Tahun depan, ia akan ikut lagi.

Tiba-tiba Panglima Bima Setyo naik ke atas panggung di tengah lapangan kerajaan. Ia mulai mengumumkan siapa saja yang akan terpilih menjadi prajurit kerajaan. Soja mulai melangkah meninggalkan lapangan kerajaan.

“Dan peserta calon prajurit terbaik adalah... SOJA!” teriak Panglima Bima Setyo.
Soja sangat terkejut, ketika namanya disebutkan sebagai calon prajurit terbaik. Dengan perasaan bingung, Soja maju, lalu naik ke atas panggung.

“Maaf, Tuan Panglima! Mungkin Tuan Panglima salah membacakan nama,” tukas Soja.

Panglima Bima Setya tersenyum. “Tidak, Anak Muda! Nama kamu Soja, Kan? Bahkan Raja Aryapada sendiri yang menulis namamu,” Panglima Bima Setya menjelaskan. Tapi Soja tetap saja bingung. Bukankah ia tadi gagal saat tes menunggang kuda?

Lalu tiba-tiba muncul kakek yang tadi ditolong Soja. Kakek itu lalu melepas kumis dan janggut palsunya. Ternyata kakek itu adalah Raja Aryapada yang sedang menyamar. Raja Aryapada segera menjabat tangan Soja.

“Selamat, Soja! Kamu diterima menjadi prajurit kerajaan. Seorang prajurit bukan saja mahir bermain pedang dan tombak, juga bukan saja harus pintar strategi perang, tapi harus memikili hati yang baik bagi sesama manusia,” kata Raja Aryapada dengan arif.


Soja sangat terharu. Soja berjanji, tidak akan sombong, walau ia sudah menjadi seorang prajurit kerajaan.


Kamis, 08 Desember 2016

Kejutan Tengah Malam

Dimuat di Kompas Anak


Kejutan Tengah Malam
Tyas Widjati

Grusak!
Aku segera mencari sumber suara tadi. Dari balik semak-semak, kulihat sosok tambun berbulu yang sangat mencurigakan. Tanpa suara, kusergap dia dengan tiba-tiba.
“PETOK!!” si tambun berteriak kaget. Ia berusaha terbang, tetapi tidak berhasil. Ketika kukejar, ia lari tunggang-langgang meninggalkan halaman rumah.
“Fido!” kudengar sebuah teriakan dari belakangku.
Aku menoleh dan mendapati Ello sedang berdiri sambil berkacak pinggang.
“Kenapa kamu kejar ayam Pak Seno? Dia kan hanya cari makan,” omelnya.
Aku berusaha menjelaskan bahwa si tambun tadi adalah mata-mata, tapi Ello malah menghardikku.
“Masuk ke rumah!”
Dengan sebal kuturuti perintahnya. Sebenarnya aku lebih suka berlarian di luar, meski lidahku akan berkeringat setelahnya.

Sudah hampir seminggu aku tinggal bersama Ello, tetapi anak itu belum juga mempercayaiku. Berkali-kali kukatakan bahwa aku hanya ingin melindunginya, seperti pesan Pak Toni.
Pak Toni adalah seorang polisi yang bertugas melatihku sejak bayi. Dengan bantuannya, aku bisa mengenali situasi bahaya dan gerak-gerik mencurigakan. Aku sangat sayang dan hormat padanya.
Suatu hari, Pak Toni mengajakku ke rumah ini.
“Fido, mulai sekarang kamu akan tinggal bersama Ello, keponakanku,” kata Pak Toni.
Dengan sedih, aku mengiyakan.
“Jaga dia baik-baik, ya. Kamu harus selalu menuruti apa yang dia katakan. Ayo, kenalan dulu.”
Pak Toni menarik rantaiku mendekat. Aku berdiri sambil mengulurkan tangan, tapi anak itu malah mundur selangkah.
“Tidak apa-apa, Ell. Fido tidak akan menggigitmu. Dia adalah anjing yang terlatih.”
Ah anak ini pemalu sekali,’ pikirku. ‘Mungkin aku harus berkenalan dengan cara lain.’
Kudekati kakinya lalu kujilat. Saat itu juga aromanya terekam dalam memoriku.
“Hiii…” dia lari menjauh dengan ekspresi jijik dan takut. Pak Toni hanya tertawa.

Tadi pagi aku ikut mengantar Ello ke sekolah yang letaknya tidak jauh dari rumah kami. Dia berjalan bersama seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki.
“Ini anjingmu, Ell?” si anak perempuan bertanya sambil menatapku baik-baik.
“Iya. Namanya Fido. Menurut Omku, merawat anjing adalah salah satu terapi untuk penderita cynophobia sepertiku,” Ello menjelaskan sambil memegang rantaiku erat.
“Kamu masih trauma gara-gara dulu pernah digigit anjing tetanggamu?” tanya anak laki-laki satunya sambil sesekali menoleh ke arahku dengan waswas.
Ello hanya mengangguk.
Wah, aku baru tahu tentang cerita ini. Pantas saja, selama ini Ello selalu menjaga jarak denganku.
“Tampang anjingmu seram sekali, ya,” kata si anak perempuan.
“Iya juga sih. Apalagi bulunya hitam legam dan badannya tinggi besar. Tetapi menurut Om Toni yang sudah bertahun-tahun melatih rottweiler, mereka sebenarnya adalah anjing yang baik hati dan setia. Tetapi insting pemburunya kadang sedikit merepotkan. Jadi pemiliknya harus tegas.”
Jalanku makin tegap dan dadaku makin membusung mendengar pernyataan Ello.
“Wah, kalau punya bodyguard seperti Fido, pasti tidak ada yang berani menggangumu, Ell,” sahut si anak laki-laki.
Sesampainya di depan sebuah gedung bercat hijau, Ello menyuruhku pulang.
“Jangan mampir kemana-mana ya,” pesannya. Aku menjilat tangannya sambil berpamitan. Sekarang dia tidak keberatan bila aku melakukan itu.
“…Dan ingat! Jangan kejar ayam Pak Seno lagi.”

Malam ini, seperti biasa aku tidur di dekat tempat tidur Ello. Anak itu sudah terlelap dari tadi. Sekitar tengah malam, aku mendengar suara aneh dari luar. Telingaku langsung berdiri tegak.
‘Mungkin si tambun itu iseng lagi,’pikirku.
Semenit kemudian, kudengar suara Hi…..Hu… tepat dari luar jendela. Sekarang aku yakin ini bukan ulah si tambun. Selain aromanya berbeda, bayangan dari balik tirai jendela menunjukkan kalau si penyusup berbadan besar. Aku cepat-cepat menarik selimut Ello.
“Aduh, Fido! Ada apa sih malam-malam…” kalimat Ello berhenti ketika dia melihat apa yang tadi kulihat.
“H..h..hantu!” ia berteriak lalu menutupi wajahnya.
Wah, ini situasi bahaya! Aku segera berlari dan menerjang jendela, tapi benda itu bergeming. Aku mencoba mendorongnya sekali lagi dengan kedua kaki depanku, sambil menyalak keras-keras.
“Tolong! Tolong!” si penyusup berteriak.
Saat itulah Ello melompat dari tempat tidur, memegang kalungku erat dan berkata, “Fido, stop!”
Aku menahan langkah meski masih menggeram.
Ello buru-buru membuka jendela kamar. Ketika aku melongok keluar, kulihat dua anak yang tadi pagi berjalan bersama Ello.
“Ilham? Ferina? Ngapain kalian disitu?” Ello segera menolong keduanya, lalu mengajak mereka masuk ke kamar.
“Kami berniat memberi kejutan ulang tahun untukmu dengan menyamar menjadi hantu,” Ilham menjelaskan sambil mengelap wajahnya yang belepotan krim kue.
“Mana kami tahu kalau anjingmu tidur disini. Ketika hendak lari, kami malah terbelit selimut dan menjatuhkan kue tar untukmu. Rusak deh kejutannya,” rutuk Ferina.
Ello tertawa terbahak-bahak dan aku makin bingung. Pak Toni belum pernah mengajariku kasus seperti ini.
“Terimakasih atas kejutannya, teman-teman. Fido hanya bermaksud melindungiku,kok,” jawab Ello.
Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Ia memelukku!
“Terimakasih, sobat,” bisiknya.

Rabu, 07 Desember 2016

Cerita Pertama dimuat di Media

 Kurcaci Pos belajar menulis cerita anak sudah sangat lama. Pokoknya dari saat Kurcaci Pos masih imut, lucu, dan mengemaskan. Sampai sekarang juga masih hehehe.

Tapi cerita Kurcaci Pos yang pertama dimuat di media anak adalah SOJA. Cerita itu Kurcaci Pos tulis, saat mengikuti sayembara menulis dongeng Bobo tahun 2004. Prosesnya lucu, lho.

Pagi itu, Kurcaci Pos akan berangkat kerja. Kebetulan, di dekat rumah Kurcaci Pos ada lapak koran dan majalah. Iseng Kurcaci Pos mampir sebentar. Kebetulan Kurcaci Pos sudah kenal dengan pemilik lapak koran dan majalah itu.




          Eh, ada majalah Bobo. Iseng Kurcaci Pos buka. Ternyata ada sayembara menulis dongeng 2004. Kurcaci Pos pun langsung tertarik ikut. Tapi kok, waktunya sebentar lagi, ya? Wah, Kurcaci Pos harus bersiap, nih.

Sepanjang bekerja hari itu, Kurcaci Pos mulai memikirkan ide. Tapi tidak ketemu juga idenya. Waktu itu, Kurcaci Pos memang belum bisa menangkap ide dengan cepat. Jadi ide harus dicari-cari dulu.

Lalu pas istirahat, Kurcaci Pos ngobrol dengan teman. Dia cerita, merantau jauh dari deerah ke Jakarta, untuk membahagiakan ibunya. Dia ikut tes kerja sana sini, sampai akhirnya diterima bekerja. Eh, Kurcaci Pos jadi ada ide, “Anak yang ingin berbakti apda Ibu”. Kurcaci Pos pun langsung mengembangkan imajinasi.Karena ini untuk lomba dongeng, maka kurcaci sesuaikan ceritanya. Maka jadilah setting kerajaan.

Tahun 2004 itu, Kurcaci Pos belum punya komputer. Adanya mesin ketik bekas yang Kurcaci Pos beli di pasar senen, Jakarta pusat. Soalnya Kurcaci Pos kan, baru belajar merantau juga. Tinggalnya masih di rumah kontrakan hehehe.



Jadi Kurcaci Pos tulis dulu ceritanya di buku tulis. Selesai ditulis, dibaca lagi. Nanti kalau ada kata kurang pas dicoret. Kalau ada tambahan, ditulis di sampingnya. Setelah ceritanya jadi, baru Kurcaci Pos ketik di mesin tik. Ngetiknya hati-hati, lho. Kalau blank dan salah ketik, bisa diulang dan ganti kertas baru.

Dongeng tentang Soja akhirnya selesai. Tapi duh..duh.., batas pengirimannya tinggal sehari. Dulu Kurcaci Pos tidak bisa menulis satu cerita dengan cepat. Satu cerita bisa berhari-hari-hari. Beda dengan sekarang, satu cerita setengah jam selesai. Tapi itulah proses menulis, dan kita harus menikmati setiap proses menulis itu dengan senang hati.

Akhirnya, Kurcaci Pos memutuskan untuk mengantar naskahnya langsung ke redaksi Majalah Bobo. Waktu itu, redaksi Bobo masih di jalan Palmerah selatan. Sepulang kerja, Kurcaci Pos segera ke sana. Kurcaci Pos senang sekali, disambut ramah oleh Pak Isman Santoso yang waktu itu masih bekerja di Bobo.

Waktu pun terus berlalu. Waktu itu Kurcaci Pos lagi mudik ke makassar. Tiba-tiba kakak Kurcaci Pos menelpon, mengabarkan ada kiriman kumpulan dongeng Bobo, juga wesel 150 ribu. Katanya ada cerita Soja dimuat di kumpulan dongeng itu. Kurcaci Pos kaget dan senang. Langsung loncat-loncat kegirangan.



Kurcaci Pos akhirnya memburu kumpulan dongeng itu. Benar saja. Soja terpampang manis di sana. Ternyata, walau tidak menang, Soja masih layak muat. Senangnya lagi, segerbong dengan dongeng-dongeng para pemenang. Apalagi iustrasinya dibuat oleh Pak Iwan Darmawan, salah satu ilustrator favorit Kurcaci Pos di majalah Bobo.

Dari cerita SOJA inilah berawal. Ibaratnya, Soja yang membuka pintu bagi cerita-cerita Kurcaci Pos lainnya dimuat di media anak.
Teman-teman ingin membaca cerita SOJA ini? Yuk, segera mampir ke sini! Selamat membaca. Salam semangat menulis.


Kurcaci Pos


Bambang Irwanto

Senin, 05 Desember 2016

Senyum Zerpima

Dimuat di Majalah Bobo


                                                              Senyum Zerpima 
                                                             Oleh : Liza Efriana
“Hah! dua jam lagi mereka sampai,” tak sengaja aku mendengar percakapan mama dan mak Ijah di dapur. ”Sebal, sebal!” gerutuku sendiri. Om Fadli dan keluarganya akan datang ke rumah. Alin dan Elen sepupu kembarku itu pasti bikin kacau lagi.
“Zerpima!” mama memanggilku dari ruang tengah.
“Alin dan Elen, sebentar lagi sampai mereka akan berkunjung ke sini,” mama begitu senang mengabarkan berita itu.
Terus aku harus bilang wow, ucapku dalam hati. Menirukan gaya iklan di televisi. Pokoknya aku tak suka dengan kehadiran sepupuku. Mereka selalu membuat keributan, mengambil mainanku. Ujung-ujungnya mama selalu membela mereka alasannya karena umurku lebih tua setahun dari mereka.
“Ya, Ma, sudah tahu,” jawabku pelan. Pipiku yang gembul tambah membulat karena cemberut, memainkan  ujung baju juga menjadi kebiasaan burukku jika sedang tak menyukai sesuatu. Mama tersenyum. Mungkin mama tahu kalau aku sedang kesal.
Enam bulan yang lalu mereka juga pernah main ke rumah. Boneka beruangku kotor  karena ulah mereka. Ipadku juga rusak, mereka rebutan kemudian terbanting ke lantai. Belum lagi keduanya usil sering memanggilku dengan panggilan Im. Panggil aku Zerpima jangan disingkat.
Boneka, congklak, ular tangga, bola bekel, semua permainan yang kupunya kusimpan di dalam kardus. Dengan susah payah kuletakkan ke gudang belakang. Mereka tak akan bisa mengambilnya.
Teng..tongg..teng..tong, bel berbunyi. Mak Ijah tergopoh-gopoh membuka pintu. Aduh mereka telah datang. Alin, Elen sudah melihatku. Tak ada waktu untuk bersembunyi, mereka segera menghambur ke arahku. ”Huh.. mereka mulai beraksi!” omelku sendiri.
“Kak Zerpima, kami datang,” ujar mereka hampir berbarengan. Mereka sangat gembira bertemu denganku. Dua kembar  itu membawakan makanan kesukaanku. Pempek ciri khas makanan dari kota mereka. Aku tak salah dengar mereka memanggilku Zerpima bukan Im.
“Main yuk!”ajak mereka.
“Gak ah, aku tak punya mainan, tuh lihat! gak ada kan?” jawabku membohongi mereka.
“Tenang kak! Kami bawa mainan yang banyak. Ada satu kardus di dalam mobil papa,” jawab Alin semangat.
“Ya, Kak. Biar kita bisa puas bermain, dan tak akan rebutan lagi,” Elen yang agak pendiam menimpali.
Aku terdiam, enam bulan tak bertemu sepupuku ini cepat sekali berubah. Mereka tak seperti yang aku duga. Maafkan aku yang telah berburuk sangka pada kalian, aku hanya bisa berkata dalam hati.
”Alin, Elen,” panggilku tak bisa menutupi kegembiraan. Aku memeluk mereka.



Sabtu, 03 Desember 2016

Bersin Cika Cemari

Dimuat di Majalah Bobo



Bersin Cika Cemari
*FiFadila*


Cika Cemari seekor kupu-kupu. Sayapnya berwarna biru cerah. Bulatan merah kuning putih mempercantik sayapnya. Namun dia memiliki masalah dengan hidung pilek. Bangsa kupu-kupu memiliki hidung dan mulut menyatu bernama probosis. Probosis ini gunanya seperti sedotan yang mengisap madu. Jika tidak sedang dipakai, hidung probosisnya akan menggulung.
Malang bagi Cika, tiap kali menyedot madu, dia bersin-bersin. Ingusnya sampai muncrat ke dasar bunga. Tentu saja bunga-bunga tak suka mendapat bonus itu. Cika dianggap mencemari bunga-bunga. Setiap bunga yang dilewati Cika selalu menguncup. Cika pun tidak bisa lagi mengisap madu.
            “Huhuhu… Semua bunga menguncup tiap kali aku lewat,” Cika menangis di sebuah dahan pohon. Tangisnya sungguh memilukan. Membuat Ayune, sahabatnya iba.
            “Kau harus hentikan pilekmu, Cika,” kata Ayumi hinggap di samping Cika. Sisa serbuk sari kuning menempel di kaki dan hidung probosisnya. Menandakan dia habis berburu madu.
            “Apa yang harus kulakukan, Ayune? Setiap kali mendekati bunga, aku selalu bersin,” tangis Cika. “Bahkan… haphaphapsyi..” Cika bersin tanpa henti. Padahal dia hinggap jauh dari bunga-bungaan. 
            Ayune terkejut. Dia terbang menjauh dari Cika. Dia hinggap di dahan pohon yang lebih rendah. Sobatnya itu pun berhenti bersin. Ayune mengangguk penuh dugaan.
            “Cika, sepertinya kau alergi serbuk sari tumbuhan,” duga Ayune. Dia mendekati Cika lagi. Serbuk sari yang menempel di tubuhnya tertiup angin dan mampir ke hidung probosis Cika. Bersamaan dengan itu Cika bersin tanpa henti sampai Ayune menjauh dari Cika.
            “Oh, Ayune. Jika alergi begini, aku tak bisa lagi minum madu bunga,” kata Cika sedih.
            “Sabar Cika. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Cobalah cari obat untuk alergimu,” hibur Ayune.
            Cika termenung. Yang harus dia cari sekarang adalah madu. Bukan obat. Jika tidak mengisap madu, dia bisa mati kelaparan. Dia harus melawan alerginya. Dengan keras kepala Cika mendatangi bunga sepatu terdekat. Seperti bunga lainnya, bunga sepatu mengatupkan mahkotanya.
            Cika tidak sabar. Dia memaksa bunga sepatu dengan menginjak kelopaknya supaya kegelian. Sepertinya usaha Cika berhasil.
            “Stop, stop, stop, Cika,” teriak bunga sepatu, “Baiklah aku akan membuka kelopakku.”
            Cika gembira. Dia menyiapkan hidung probosisnya di depan kelopak bunga sepatu.
            Saat bunga sepatu membuka kelopaknya, serbuk sari bunga beterbangan ke wajah dan hidung Cika.
            Hatsyi..hatsyi..hatsyi..Cika bersin tak tertahankan. Ia terbang menjauh dari serbuan serbuk sari bunga sepatu.
            Rupanya alergi Cika belum bisa dijinakkan. Seharian itu Cika tak bisa mengisap madu sama sekali. Tubuhnya lemah dan tak kuat terbang. Cika berjalan di tanah dengan ketakutan. Banyak bahaya predator yang sewaktu-waktu muncul. Berkali-kali Cika menengok kanan kiri belakang. Sampai-sampai tidak melihat sesuatu di depannya.
            Buk. Cika jatuh. Dia menabrak sesuatu yang basah dan dingin. Rupanya ada buah stroberi yang terlalu matang. Sehingga buah itu jatuh sendiri ke tanah. Cika menggerakkan kaki-kakinya ke arah buah stroberi yang sudah berwarna merah gelap. Kaki kupu-kupunya berfungsi sebagai indera perasa. Cika bisa merasakan manisnya buah itu semanis madu. Dengan bersemangat Cika menjulurkan hidung probosisnya ke buah stroberi. Cairan manis buah stoberi memasuki kerongkongan Cika dan membuatnya segar bertenaga kembali. Dia pun bisa kembali terbang dengan ringan.
Cika gembira sekali. Dia menemukan jalan keluar dari masalahnya. Alergi serbuk bunga bukan berarti dia tak bisa makan. Dia bisa mendapatkan madu pengganti dari sari buah-buahan yang sudah cukup matang. Betul kata Ayune. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Cika terbang mencari Ayune dan mengabarkan berita gembira itu. (*)




Kamis, 01 Desember 2016

Selamat Datang di Rumah Kurcaci Pos

Ilustrasi : Lily Zhai
                               


            Salam, teman-teman Kurcaci Pos.
            Selamat datang di rumah Kurcaci Pos.
            Rumah Kurcaci Pos berisi segala sesuai mengenai dunia anak. Teman-teman bisa membaca cerita anak, tips menulis seputar cerita anak, resensi buku anak, dan lainnya.
            Kurcaci Pos berharap, semoga teman-teman suka dengan rumah ini, ya. Bisa memberi motivasi dan semangat menulis cerita anak. Salam semangat menulis.

Kurcaci Pos

Selasa, 08 November 2016

Kisah Sunan Giri (Syekh Maulana Ishaq)

Sunan Giri mempunyai nama lain yaitu Syekh Maulana Ishaq. Beliau merupakan wali yang berasal dari Gujarat yang menetap di Pasai. Pasai ini sekarang lebih dikenal dengan nama Aceh. Syekh Maulana Ishaq ingin menyebarkan agama Islam didaerah Jawa Timur. Beliau pun datang menemui Sunan Ampel (Raden Rahmat) untuk meminta pertimbangan. Sunan Ampel masih sepupu dari Syekh Maulana Ishaq. Menurut Sunan