Tampilkan postingan dengan label Cerita dari Kelas Kurcaci Pos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita dari Kelas Kurcaci Pos. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Februari 2018

Boneka Baru Fiona



Dimuat di Majalah Bobo


Boneka Baru Fiona
Nurul Hidayati

         
          Fin gelisah, hari ini Fiona akan ulang tahun. Fin takut, Fiona akan mendapatkan boneka baru, yang akan menggantikan posisinya
          Saat ini, Fin sedang duduk di meja biru di kamar Fiona. Hari ini Fiona merayakan ulang tahunnya yang ke enam. Fin melihat keluar. Dari jendela yang terbuka di kamar Fiona, Fin melihat kesibukan Papa dan Mama Fiona mempersiapkan hari istimewa ini.
          “Fiona! Telepon, buat kamu! Dari Tante Anna!” seru Mama. Tante Anna, adik Mama yang tinggal di luar kota.
          “Waah, asyiik!” mata Fiona berbinar saat mengangkat telepon genggam Mama.
Hmm, Fiona pasti membayangkan, betapa senangnya kalau Tante Anna datang di hari ulang tahunnya. Fiona keponakan kesayangan Tante Anna. Tak heran, Fiona tak sabar mengetahui kado apa yang diberikan Tante Anna kali ini.
Dari jendela, Fin melihat Fiona berjingkrak. Tampaknya Tante Anna akan datang, seperti harapan Fiona. Kegelisahan Fin semakin bertambah, karena Fiona menerima telepon dari Tante Ana. Tante Ana benar-benar akan datang. Fin bertambah yakin, kalau dirinya akan tergantikan.
          Apakah Fiona akan memperoleh hadiah yang banyak dan bagus-bagus? Fin bertanya dalam hati.
          Krieeek…
          Derit pintu kamar Fiona mengagetkan Fin. Fin nyaris terjatuh dari meja.
          “La… La… La… “ Fiona berdendang riang. Ia terlihat sangat gembira.
          Fiona mendekati Fin, lalu memeluk Fin erat-erat. Kembali ia mendendangkan lagu. Diajaknya Fin menari mengelilingi kamar.
          Fin menatap Fiona. Fin senang melihat gadis kecil berpita kuning itu begitu ceria hari ini. Namun rasa khawatir menyelinap di hati Fin.
          “Apakah kali ini Fiona juga akan memperoleh hadiah boneka baru? Dan apakah boneka baru Fiona akan menjadi boneka kesayangannya yang baru?” bisik Fin, khawatir.
          Fin melihat Fiona telah berganti baju. Ia tampak cantik, dengan baju baru dengan motif bunga lonceng biru. Sepasang pita kecil berwarna biru tersemat di rambutnya. Fiona sunguh ceria dan tampak memesona hari ini!
          “Fiona! Tante Anna sudah datang, Sayang!” terdengar suara Mama.
          Fin kian dag dig dug mendengar kedatangan Tante Anna.
          Fiona membuka pintu kamar dan bergegas keluar. Langkahnya  ringan dan penuh semangat.
          “Oh, tunggu! Aku kelupaan!” pekik Fiona. Ia kembali masuk kamar. Tangannya terulur meraih Fin.
          “Oh!” Fin terkejut. Namun ia merasa senang, Fiona membawanya ke pesta hari ini.
          Di ruang tamu, pesta telah siap dimulai. Fiona meletakkan Fin di kursi kecil, lalu menghambur ke pelukan Tante Anna.
          “Tante Anna, Fiona kangeen!” seru Fiona.
          “Tante Anna juga kangen sekali!” balas Tante Anna.
        “Waah, apa itu Tante?” mata Fiona membulat. Penasaran dengan kado Tante Anna.
      Fin gelisah. “Jangan-jangan itu boneka! Boneka baru yang akan menjadi kesayangan Fiona..”
          Acara pesta ulang tahun Fiona berlangsung seru dan meriah. Meskipun yang diundang hanya keluarga dan teman-teman dekat Fiona, suasananya sangat menyenangkan.
          Detik-detik yang mendebarkan. Fiona mulai membuka kado ulang tahun. Satu per satu bungkus kado dibukanya. Dan tiba saat membuka sebungkus kado berpita merah, dari Tante Anna.
          “Wow, cantiknya! Boneka kuda nil yang lucu sekali!” Fiona menjerit. Senyumnya lebar. Ia tampak sangat senang.
          Fin tertunduk. “Boleh jadi ini hari terakhirku menjadi boneka kesayangan Fiona..” lirih ia berkata.
Teringat olehnya Leon, boneka singa bersurai cokelat. Boneka kesayangan Fiona yang digantikan Fin. Dulu, saat Fin dibawa masuk kamar Fiona, Fin melihat Leon memandangnya dengan tatapan sedih. Namun Fin terlalu bahagia. Ia tak sempat bertanya, apa yang membuat Leon menangis.
          Sekarang, Fin benar-benar ingin menangis. Dan sepertinya, ia akan bernasib seperti Leon.
          Fiona memeluk boneka kuda nil barunya erat-erat.
          Fin kian tertunduk, lesu.
          Tante Anna berpamitan. “Maaf, Tante tidak bisa lama. Ada acara penting lainnya.”
          Fiona mengantar Tante Anna hingga depan pintu. Lalu berbalik, dengan boneka kuda nil baru di tangan kanannya.
          “Aah..” Fin berseru, tertahan.
          Fiona meraih Fin, lalu membawa Fin di tangan kirinya.
          “Sampai jumpa, Tante Anna!” seru Fiona. Kedua tangannya membawa Fin dan boneka kuda nil.
          Tante Anna telah berlalu dari pandangan. Fin melirik boneka kuda nil merah muda itu.
          “Halo!” sapa Fin, ramah. Kekhawatirannya perlahan menguap.
          “Hai, Fin!” sahut boneka kuda nil, malu-malu. “Namaku Nilo!” lanjutnya, memperkenalkan diri.
          Fin dan Nilo senang. Kini mereka berdua menjadi dua teman baru. Dan bersama-sama, mereka menjadi boneka kesayangan Fiona.


Rabu, 31 Januari 2018

Si Belly

                                   
Dimuat di Harian Lampung Pos
                         

                                                           Si Belly
                                                          Oleh: Suwanda

         “Uhuk... Uhukkk...” Belly terbatuk-batuk. 
         Belly adalah sepeda mini berwarna merah muda bergambar Hello Kitty dengan keranjang kecil berwarna putih yang berhias pita merah muda. Di stang sebelah kanan menempel bel berwarna emas, dan di ujung kedua stangnya terdapat rumbai-rumbai berwarna merah muda.
        “Uhhh... Banyak sekali debu di sini.” Belly menggerutu sambil membersihkan debu di tubuhnya. 

         Belly melihat sekelilingnya. Penuh barang-barang. Tiba-tiba Belly menangis sesenggukan. Ia takut berada di tempat yang gelap. Apalagi, di tempat itu tidak ada yang dikenalnya.
          “Huuu... Kenapa aku ada di sini? Tempat ini kotor sekali,” isak Belly. 
          “Hei, kamu siapa?” tanya sebuah monitor komputer.
          “Boleh kami kenalan denganmu?” sebuah lemari menambahi. 
          “Aku ada di mana?” Belly masih sesenggukan.
         “Kamu ada di gudang, tempat barang-barang tak terpakai,” jawab monitor komputer.
        “Iya, Kenalkan, namaku Alma. Ini Moni dan Memei,” Almari itu mengenalkan diri sambil menunjuk kedua temannya. “Tenanglah. Kamu di sini tidak sendirian kok. Ada kami yang siap menemanimu.”
        “Iya. Kamu jangan sedih. Walau tempat ini kotor, kita bisa bermain bersama,” Memei, si meja yang kakinya tinggal tiga ikut menyapa dengan riang.
        “Terima kasih. Namaku Belly,” tangis Belly mulai mereda.
        “Kenapa kamu bisa di sini? Ini kan gudang?” tanya Memei.
         Belly lalu bercerita. Kemarin Ane dibelikan sepeda baru oleh Papa dan Mamanya. Menurut papa Ane, sepeda itu lebih bagus dari diriku dan model terbaru. Padahal Belly merasa dia lebih bagus daripada sepeda baru itu.
         “Tenanglah, Bel. Memang tugas kita membantu manusia. Dulu kami juga membantu keluarga Ane. Ketika mereka membeli yang baru lalu menyimpan kami di sini. Awalnya kami merasa sedih. Kami merasa tak berguna lagi. Tapi lama-lama kami sadar. Tidak mungkin selamanya kami akan bersama mereka,” Moni menjelaskan panjang lebar.
          Belly hanya mengangguk. Tapi sebenarnya, Belly masih sangat sedih sekali.
                                                             ***
            Sudah lima hari Belly berada di gudang. Teman-teman barunya selalu berusaha menghibur dan mengajaknya bermain. Tapi ia masih enggan untuk ikut bermain. Belly masih sedih. Ia ingin sekali Ane mengendarainya pergi ke taman.
            Kreeekkkkk.... Pintu gudang terbuka. Sesosok wajah menyembul dari balik pintu. Itu Ane, gumam Belly. Mau apa dia datang ke sini, Belly bertanya-tanya dalam hati.
            Ane menghampiri Belly. Lalu mengelus-elus Belly sejenak. Ane membawa Belly keluar dari gudang, lalu menuju pohoh mangga yang tumbuh rindang di halaman samping. Di sana sudah ada ember hitam berisi air dan sikat kecil yang biasa digunakan Ane untuk membersihkan Belly.
             Hore! Ane ternyata masih sayang padaku, teriak Belly dalam hati. Ane membersihkan debu yang menempel di tubuh Belly. Kemudian mencucinya hingga terlihat bersih dan mengilap.
           “Hai, Kak Ane!” sapa seorang anak perempuan. Belly mengamatinya. Ternyata itu Andrena, sepupu Ane.
           “Halo, Andrena! Sepupu manisku!”
          “Wah... Sepedanya keren, Kak. Boleh aku mencobanya?” tanya Andrena penuh harap.
          “Tentu saja boleh,” jawab Ane dengan ramah.
          Andrena mengitari pohon mangga dengan mengendarai Belly.
          “Andrena! Ayo kita pergi sekarang,” teriak Ane sambil mengendarai sepeda barunya.
          “Ayo! Siapa takut,” jawab Andrena penuh semangat.
           Mereka mengendarai sepeda beriringan. Andrena mengendarai Belly, dan Ane mengendarai sepeda barunya. 
          Belly sedih, ia tidak suka kalau Ane memberinya pada Andrena. Anak itu kan ceroboh. Ane sering kesal pada Andrena, karena sepupunya itu sering menghilangkan mainannya. Belly takut Andrena tidak menyayanginya. Belly menangis sesenggukan.
            Tak lama kemudian mereka berhenti di depan sebuah rumah papan. Halamannya ditumbuhi bunga berwarna-warni yang indah sekali. Seorang anak kecil bergegas menyambut mereka.
          “Hei, Elsie. Apa kabar?” sapa Ane ketika memasuki halaman rumah itu.
           “Hei, Kak Ane. Baik-baik saja. Ayo masuk,” jawab Elsie dengan riang. Ia sedikit terkejut melihat kedatangan Ane dan Andrena.
          Mereka bertiga begitu asyik mengobrol di dalam rumah. Tapi, tak lama kemudian mereka keluar dan berjalan mendekati Belly.
            “Sepeda ini untukmu, Elsie,” ucap Ane sambil mengelus-elus Belly. 
            Gadis cilik itu hanya diam. Matanya mulai berkaca-kaca.
            “Terima kasih, kak Ane. Kakak baik sekali padaku,” Elsie membuka suara. Ia mengelus-elus Belly sambil mengusap air matanya dengan jarinya. Seketika Elsie memeluk Ane dengan erat.
          “Sepeda ini pasti sangat bermanfaat untukmu, Elsie. Aku yakin, kau tidak akan terlambat lagi datang ke sekolah. Dan mulai sekarang, kau bisa berkeliling kompleks menjajakan kue buatan ibumu dengan sepeda ini.”
         “Iya, Kak Ane. Sepeda ini akan aku rawat dengan baik,” kaata Elsie.
           Belly sangat terharu mendengar ucapan Elsie. Belly berjanji akan membantu Elsie. Kini Belly bahagia, karena sudah menemukan teman baru yang baik hati.

Minggu, 21 Januari 2018

Toko Bunga Pak Gerald

Dimuat di Majalah Bobo

Toko Bunga Pak Gerald
Oleh: Suci Shofia

Sore itu Pak Gerald sibuk bersiap untuk pergi ke kota Valens. Dia diminta Pak Walikota untuk menghias salah satu taman kota di sana. Pak Gerald terkenal dengan kepandaiannya menata dan merawat bunga. Selama seminggu berada di kota, dia ingin memastikan toko bunganya G Flowers tetap terjaga dengan baik.
“Hans, selama aku di kota, tanggung jawab toko ini aku serahkan padamu. Jaga baik-baik dan pastikan pelanggan puas dengan pelayanan kita,” Pak Gerald mengingatkan Hans anak buahnya.

Baik, Pak Gerald!” jawab Hans.
Ini kesempatan emas untukku untuk belajar menjadi pemilik toko bunga, ucap Hans dalam hati sambil mengantar Pak Gerald sampai keluar toko.
Pak Gerald sebenarnya kurang percaya dengan orang baru seperti Hans. Dia khawatir toko bunganya tidak terurus dengan baik. Namun Pak Gerald tidak punya pilihan lain. Dia berharap G Flowers tetap ramai pengunjung.
***
Siang itu G Flowers terlihat ramai. Koleksi bunga yang indah dan beragam menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi setiap bulannya, selalu ada kejutan untuk pengunjung. Bonus pot cantik, pupuk terbaik, dan tempat menyiram bunga lucu bisa dibawa pulang oleh pembeli.
Koleksi bunga G Flowers pun beragam. Di sana terdapat bermacam-macam jenis bunga dengan aneka warna. Ada bunga Mawar, bunga Aster, bunga Anggrek, bunga Asoka, bunga Azalea, bunga Melati, bunga Matahari, dan masih banyak jenis bunga lainnya. Musim liburan seperti ini toko bunga Pak Gerald selalu ramai pembeli.
“Wah, banyak sekali uang yang kudapatkan hari ini. Kalau setiap hari seperti ini, G Flowersakan semakin maju,” kata Hans.
Sampai hari ketiga, toko bunga Pak Gerald masih ramai pengunjung. Hans sibuk menghitung uang. Dia berjanji akan bekerja lebih giat lagi. Hans mulai paham cara kerja seorang pemilik bunga. Dia harus ramah kepada pengunjung. Hans juga perlu memastikan bunga-bunga terawat dengan baik. Susunan penataan bunga pun harus terlihat indah dan menarik. Jangan sampai bunga-bunga terlihat layu. Pembeli bisa kecewa dengan kondisi bunga yang tidak dirawat dengan baik.
***
“Kenapa hari ini sepi sekali? Pengunjung hanya melihat dari luar lalu pergi begitu saja.” Gumam Hans keesokan harinya.
Hans melongok keluar toko. Terlihat di depan toko G Flowers dibuka toko bunga yang baru. Penataan dan tampilannya sangatlah menarik. Pengunjung yang biasa ke toko Pak Gerald mulai berpindah ke sana.
“Aku harus menyusun strategi baru,ucap Hans.
Hans segera mengambil buku tentang bisnis tanaman yang ada di meja Pak Gerald. Karenatoko sedang sepi, diabisa konsentrasi membaca.
“Kita ke toko yang baru saja. Terlihat menarik dari luar,Hans mendengar ucap pengunjung dari luar toko.
Hans melirik ke depan toko. Dia semakin tertantang membuat toko bunga Pak Gerald ramai kembali.
***
Hans mulai melancarkan strateginya. Dia menata ulang penempatan bunga. Bunga Mawar, bunga Melati, bunga Asoka berjejer berselang seling. Informasi detail tentang masing-masing bunga, Hans tempelkan di dinding. Dia menuliskan testimoni pembeli di kertas warna warni, sesuai yang pernah Hans dengar. Lalu dia menempelkannya di depan pintu masuk. Hans juga menempelkan tulisan di kaca depan. Isi tulisan itu “Toko G Flowers terpilih sebagai toko bunga penghias taman kota Valens. Hans juga menambah bonus-bonus menarik.
“Semoga hari ini toko Pak Gerald ramai pengunjung,doa Hans.
Sampai siang, toko masih sepi. Hans mulai khawatir. Padahal penataan ulang sudah dia lakukan supaya tidak monoton.
 Aduh, semoga Pak Gerald tidak kecewa, kata Hans dalam hati.
Tiba-tiba pintu bernyanyi. Bu Sarah, pelanggan setia Pak Gerald datang. Dia kagum dengan penataan bunga dan tempelan informasi di G Flowers.
“Sebulan ini saya tidak sempat ke sini. Ada yang beda. Pasti akan semakin banyak pengunjung, ya,” ucap Bu Sarah kepada Hans.
Hans mengamini ucapan Bu Sarah.
Tidak lama, para pembeli lain mulai berdatangan. Mereka semua kagum dengan penataan baru toko bunga Pak Gerald. Hans pun mulai sibuk kembali melayani pembeli.
“Terima kasih sudah berkunjung ke toko bunga G Flowers!” ucap Hans ramah.
Tiba-tiba Pak Gerald datang.  Ternyata Pak Geralddatang sehari lebih cepat. Dia kaget mengetahui apa yang terjadi dengan tokonya. Hans menceritakan semuanya kepada Pak Gerald.
“Maafkan saya karena lancang mengubah penataan toko, Pak Gerald,” Hans menunjukkan wajahnya. Hans cemas. Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya. Lidahnya kelu.
“Terima kasih sudah membuat tampilan baru di toko saya,” kata Pak Gerald. Ternyata kamu sangat kreatif. Memang seperti itu dunia bisnis. Kita harus kreatif supaya bisa tetap bertahan juga tentunya semakin maju,” jelas Pak Gerald.
Hans mengangkat wajahnya. Dia senang sekali.
 “Lihat! Semua karena kerja kerasmu untuk toko G Flowers. Ambil ini sebagai ucapan terima kasih saya,” ucap Pak Gerald.
Hans membuka amplop dari Pak Gerald. Isinya sejumlah uang dan tiket untuk menginap di penginapan terbaik di Kota Valens.
“Terima kasih, Pak Gerald,” kata Hans sambil tersenyum.


Sabtu, 13 Januari 2018

Kebun Bunga Floreta

                                                   
Dimuat di Majalah Bobo

                               Kebun Bunga Floreta                                                  
                                        Melani Putri

            Di atas bukit Hildia berdiri sebuah rumah mungil yang indah. Rumah itu milik Floreta, si kurcaci perangkai bunga. Ia menanam aneka bunga yang cantik dan harum di pekarangan rumahnya. Floreta bekerja keras merawat kebun bunganya sendiri. Ia merasa bangga karena bunga-bunganya paling indah di seluruh desa Hildia.
Suatu pagi Floreta terkejut ketika menemukan kebun bunganya berantakan. Di rumpun pohon bunga peony, beberapa ranting tampak patah. Bunga peony yang harusnya dipanen hari ini sudah hilang. Floreta menangis tersedu-sedu. Dodi kurcaci pengantar surat yang mendengar tangisan Floreta segera menghampirinya.

“Ada pencuri yang mengambil bunga peonyku, Dodi” seru Floreta sambil merapikan rumpun bunga peony yang patah. “Padahal bunga itu akan kupakai untuk berlatih merangkai bunga” sambungnya.
“Wah sayang sekali, Floreta. Tapi kamu masih bisa menggunakan bunga yang lainnya” Sahut Dodi sambil menunjuk bunga-bunga lain yang ada di kebun Floreta.
            “Kamu benar, tapi bunga peonyku itu amat istimewa” jawab Floreta. Ia teringat ketika mendapat juara 1 lomba merangkai bunga tahun lalu. Floreta berhasil mendapatkan piala dan sekantong koin emas berkat rangkaian peonynya yang menakjubkan. Tahun ini ia bertekad untuk menjuarai lomba merangkai bunga lagi.
 “Hmm..Tadi pagi-pagi sekali, aku mengantar surat untuk Kepala Desa dan lewat sini. Aku melihat bayangan kurcaci sedang memetik bunga. Aku pikir itu kamu, Floreta” Ujar Dodi sambil mengingat-ingat. “Aku menyapamu, tapi tidak ada jawaban. Yah..sama seperti biasanya” lanjut Dodi pelan.
            Floreta menunduk malu mengingat kebiasaannya yang kadang suka malas menjawab sapaan kurcaci lain.
            “Maaf Floreta, Aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Semoga kebun bungamu tidak dicuri lagi” Kata Dodi sambil berlalu.
Floreta melihat kelopak bunga peony yang rontok di tanah. Kelopak lainnya terlihat berjatuhan menuju ke arah jalan setapak kecil. Ia terus mengikuti jejak kelopak bunga itu sampai ke lembah bukit. Jejak itu berakhir di sebuah rumah mungil yang terbuat dari batang pohon yang mulai lapuk.
Floreta mengintip ke dalam rumah itu dan melihat kurcaci berbaju kuning sedang menyuapi seseorang yang terbaring di tempat tidur. Tak lama kemudian kurcaci berbaju kuning itu tampak sibuk di mejanya. Ia sedang merangkai bunga. Floreta melihat bunga peony miliknya di antara bunga-bunga yang lain.
“Dengan bunga ajaib ini, aku pasti bisa memenangkan lomba selanjutnya” sayup-sayup terdengar ucapan kurcaci tadi.
Floreta yang sudah tidak bisa menahan amarah langsung menggedor pintu rumah kayu. Pintu yang sudah lapuk itu langsung terbuka dan Floreta menerjang masuk.
“Ternyata kamu yang mencuri bungaku!” seru Floreta.
Kurcaci berbaju kuning terkejut dan segera berlutut di hadapan Floreta. Ia mengakui perbuatannya dan meminta maaf.
“Siapa kamu? mengapa kamu mencuri peonyku?” Tanya Floreta.
“Nama saya Daisy. Saya minta maaf karena telah mencuri bungamu, Floreta. Saya ingin berlatih merangkai bunga. Saya memakai bunga milikmu supaya menang di lomba yang akan datang. Saya butuh hadiah lomba itu untuk mengobati ibu saya yang sedang sakit” ucap Daisy.
Floreta menatap sosok kurcaci tua yang terbaring lemah di tempat tidur. Timbul rasa iba dalam hatinya. Ia memperhatikan hasil rangkaian bunga milik Daisy. Sungguh tidak indah, batin Floreta. Dengan spontan ia membetulkan rangkaian bunga milik Daisy.
“Pertama-tama tangkai bunga ini harus dipotong serong agar mudah menyerap air” Floreta memotong tangkai-tangkai bunga dengan hati-hati. “Lalu tata dulu bunga yang paling besar, sedang, kemudian yang paling kecil untuk mengisi bidang yang kosong” lanjut Floreta. Daisy memperhatikan cara Floreta merangkai bunga. Ia kagum dengan kepiawaian Floreta. Tak lama rangkaian bunga peony sudah jadi. Floreta dan Daisy tersenyum senang.
“Rangkaian bungamu sangat indah” ucap Daisy tulus. Floreta tertegun. Ia merasa bahagia bisa mengajarkan ilmu merangkai bunga.
“Maukah engkau memaafkanku Floreta?” Tanya Daisy penuh harap. “Saya akan menebus kesalahan saya karena sudah mengambil bungamu tanpa izin” lanjutnya.
Floreta berpikir sejenak dan teringat pada kebun bunganya. “Baiklah saya akan memaafkanmu, tapi engkau harus memperbaiki kebun bungaku yang kau rusak” ujarnya.
“Baik, terima kasih Floreta” ucap Daisy sungguh-sungguh.
Suatu pagi yang cerah, Floreta sedang membuat pesanan rangkaian bunga gerbera untuk Kepala Desa. Di kebun terlihat Daisy sedang sibuk menyiram tanaman bunga. Daisy kini bekerja merawat kebun bunga milik Floreta. Ia bekerja dengan rajin sehingga bisa mengobati ibunya yang sakit dari hasil upahnya. Floreta puas dengan hasil pekerjaan Daisy. Di saat senggang, Floreta mengajarkan ilmu merangkai bunga agar kelak Daisy bisa menghasilkan uang sendiri.
“Untuk membuat rangkaian bunga yang indah, kita harus rajin berlatih dan terus menambah wawasan tentang bunga” ucap Floreta. “Bunga yang kugunakan selama ini bukanlah bunga ajaib. Tapi bunga yang sudah aku tanam dan rawat dengan kasih sayang” lirik Floreta pada Daisy yang tersenyum malu.
Kebun bunga Floreta makin rimbun dengan bunga-bunga cantik yang subur. Bukit Hildia menjadi semakin indah.





Senin, 18 Desember 2017

Resep Rahasia Bu Edwina

Dimuat di majalah Bobo


RESEP RAHASIA BU EDWINA
Oleh: Ruri Ummu Zayyan

Di ujung jalan desa Wolden terdapat toko roti dan kue milik Bu Flora. Sayangnya,Bu Flora merasa makin hari tokonya makin sepi saja.
“Cobalah kau pergi ke toko kue di desa Winsbury. Aku dengar toko itu sangat laris. Toko itu milik sahabatmu, Edwina kan?” saran Pak Arthur, suami Bu Flora suatu hari.
“Ah, barangkali ada sesuatu yang bisa aku pelajari di sana. Mungkin Edwina punya resep rahasia. Semoga ia tidak keberatan membaginya denganku,” pikir Bu Flora. Dengan menumpang kereta kuda Pak Peter, petani yang akan mengantar wortel ke desa Winsbury, sampailah Bu Flora di toko Bu Edwina pagi-pagi sekali.
“Flora sahabatku, apa yang membawamu kemari?” tanya Bu Edwina ramah sambil menghidangkan secangkir cokelat panas.
“Edwina, aku ingin toko rotiku ramai seperti tokomu. Mungkin ada resep yang bisa kau bagi denganku?” tanya Bu Flora sambil tersipu. “Apakah kau punya resep baru?” lanjutnya.
“Wah, sayangnya tidak ada, Flora. Resepku sama saja dengan roti yang biasa dibuat semua orang,” jawab Bu Edwina terus terang.
“Mungkin selainya? Kata orang selaimu sangat enak.”
“Itu kata orang, Flora. Mungkin karena mereka menyukainya. Tapi resepnya sama saja dengan selai biasa.” Bu Edwina meyakinkan.
“Benarkah? Ah, kau hanya merendah, Edwina.”
“Baiklah, aku akan mencatatkan resepnya untukmu. Kau mau?”
“Tentu saja aku mau!” Bu Flora bersemangat sekali.
Tak lama kemudian Bu Edwina sudah selesai menuliskan resep selainya. Bu Flora membacanya dengan teliti.
“Bahan-bahan, stroberi segar, gula tebu murni,” Bu Flora bergumam sendiri membaca resep Bu Edwina.
“Kau juga boleh melihatku membuatnya, Flora!” tambah Bu Edwina.
“Benarkah? Terima kasih Edwina!” Bu Flora berseru kegirangan. Ia masih yakin Bu Edwina memiliki resep selai rahasia.
Mereka pun pergi ke dapur untuk membuat selai. Bu Flora menyimak dengan hati-hati. Ia takut ada langkah yang terlewat.
“Pastikan kualinya bersih.”
“Aduk terus supaya tidak menggumpal tak rata.”
“Gunakan api kecil.”
Bu Edwina terus memberi petunjuk. Tetapi semua caranya sama saja dengan yang biasa dilakukan Bu Flora. Ketika Bu Flora mencicipinya, memang selainya sedikit lebih enak. Mungkin karena bahan-bahannya yang segar.
“Kau benar-benar tidak memakai cara khusus ya?”
“Tadi sudah kukatakan. Ah ya, sekarang saatnya aku membuka toko,” kata Bu Edwina sambil beranjak.
Di luar toko sudah menunggu dua anak perempuan berbaju compang-camping. Mantel mereka penuh tambalan.
“Mereka Hannah dan Mary. Yatim piatu yang tinggal di seberang jalan,” bisik Bu Edwina pada Bu Flora.
“Selamat pagi, Nyonya. Kami ingin membeli pancake,” anak perempuan yang lebih besar menyodorkan beberapa keping uang logam.
“Simpan saja uangmu, Hannah. Sekarang duduklah dengan adikmu, nikmati pancake hangat ini!” Bu Edwina menghidangkan pancake yang terlihat sangat lezat. “Kau ingin selai apa? Aku membuat selai dari sayuran. Cobalah! Bagus untuk Mary yang susah makan sayur,” lanjutnya.
Bu Flora memperhatikan semua yang dilakukan Bu Edwina.
Tak lama kemudian, sebuah kereta kuda bertirai berhenti di depan toko Bu Edwina. Pasti pemiliknya orang kaya.
“Selamat pagi, Tuan Richard. Ingin membeli roti apa hari ini?” sapa Bu Edwina ramah.
“Seperti biasa, Edwina. Pie apel dengan selai stroberi, kesukaan Claire,” jawab Tuan Richard.
“Ah, sayang sekali, Tuan. Persediaan apel kami habis. Tak ada pie apel untuk hari ini. Mungkin Claire akan menyukai kue yang lain?” Bu Edwina menawarkan beberapa jenis kue.
“Oh, sepertinya tidak,” jawab Tuan Richard. Tiba-tiba ia melihat Hannah dan Mary yang sedang memakan pancake dengan lahapnya.
“Kelihatannya sangat enak. Aku ingin membeli kue yang seperti itu untuk Claire,” kata Tuan Richard.
“Baiklah,” Bu Edwina sangat senang.
“Tambahkan juga roti yang itu, ini juga, dan yang di sana itu. Lebih banyak pilihan lebih baik bukan? Aku tidak tahu Claire akan menyukai yang mana,” Tuan Richard menunjuk beberapa kue. Akhirnya ia keluar toko membawa banyak sekali kue. Bu Flora takjub dibuatnya.
Setelah Tuan Richard pergi, datanglah sepasang suami istri. Bu Edwina menyapa mereka dengan ramah.
“Selamat pagi Liz dan Henry. Sepertinya kalian mau pergi ke suatu tempat?”
“Betul, Nyonya. Kami akan pergi ke kota asal Liz. Kami ingin membeli kue untuk bekal di kereta api,” jawab Henry.
“Benarkah? Kalau begitu bawalah beberapa kue untuk oleh-oleh. Tenang saja, ini gratis. Sampaikan salamku pada keluarga Liz,” Bu Edwina membungkus beberapa kue. Henry dan Liz meninggalkan toko dengan senang. Sementara Bu Flora kagum pada kemurahan hati Bu Edwina.
Tak lama kemudian, Henry dan Liz kembali ke toko.
“Nyonya, kami ingin memberikan oleh-oleh untuk keluarga nenek dan bibi juga. Kali ini jangan gratis. Kami akan membelinya,” kata Henry.
Bu Flora manggut-manggut. Akhirnya ia menemukan resep rahasia Bu Edwina, yaitu keramahan dan kemurahan hati.


Jumat, 03 November 2017

Kerucut Bibi Karen

Dimuat di majalah Bobo


KERUCUT BIBI KAREN
Oleh: Ruri Ummu Zayyan

Putri Amelia sedang bersedih.Bibi Karen, pengasuh yang sangat disayanginya baru saja meninggal. Saat sakit parah, dengan terbata-bata, Bibi Karen hanya mengucapkan, “kerucut..., perdamaian..., kamu dan Adrian pasti bisa” sambil memberikan sebuah kerucut dari kertas.
Putri Amelia dan Bibi Karen berencana akan menghias kerucut itu untuk topi karnaval musim panas. Tapi Bibi Karen keburu meninggal.
“Mungkin Bibi Karen ingin kau menyelesaikan hiasan topi itu,” kata Pangeran Adrian, kakak Putri Amelia.
Lalu apa maksud Bibi Karen dengan kata perdamaian? Putri Amelia bertanya-tanya.
“Kak, apa kerucut bisa membawa perdamaian?” tanya Putri Amelia pada Pangeran Adrian.
“Hmm.. Mungkin kau bisa menghiasnya dengan kata “perdamaian”. Kau ajak teman-temanmu juga. Sambil berdoa semoga perang segera berakhir. Tuhan suka mengabulkan doa anak-anak,” jawaban Pangeran Adrian membuat mata Amelia berbinar.
Pangeran Adrian memang selalu brilian. Putri Amelia jadi punya ide tema untuk karnaval musim panas. Siapa tahu, dengan karnaval bertema perdamaian, perang dengan kerajaan Zeos akan segera berakhir.
Perang itu tidak enak. Putri Amelia banyak berteman dengan anak-anak prajurit yang meninggal di peperangan. Sedih sekali mereka. Selain itu, seluruh kerajaan jadi gelisah kalau sewaktu-waktu ada serangan. Raja George, ayah Putri Amelia tidak pernah bisa tidur nyenyak. Pokoknya, suasana istana jadi muram.
Putri Amelia mengajak teman-temannya menghias topi dengan kata perdamaian. Saat karnaval mereka berkeliling kota sambil menyebarkan selebaran perdamaian
Perdana menteri dan panglima perang juga mendapatkan selebaran itu. Mata mereka berkaca-kaca. Memang perang itu melelahkan. Anak-anak juga sedih.
Usai karnaval, perang belum ada tanda-tanda akan berakhir.
“Bibi Karen, maafkan aku. Kerucut itu tidak bisa membawa perdamaian,” keluh Putri Amelia di pusara Bibi Karen.
Pangeran Adrian yang melihat Putri Amelia jadi iba. Ia mengajak Putri Amelia berkeliling perbukitan dengan berkuda.
“Kak, sebenarnya apa yang menyebabkan kita berperang dengan kerajaan Zeos?” tanya Putri Amelia di perjalanan.
“Kata Ayah, kita memperebutkan wilayah pegunungan Marino.”
Putri Amelia pernah mengunjungi pegunungan Marino. Memang indah sekali. Ada beberapa desa di sana. Putri Amelia ingat, ada desa unik yang seluruh bangunannya memiliki atap berbentuk kerucut. Kakak Bibi Karen ada yang tinggal di desa itu. Namanya Pak Henry. Mereka punya anak bernama Alexander, sebaya dengan Pangeran Adrian. Putri Amelia menghentikan kudanya.
“Desa kerucut!”
“Ada apa, Amelia?”
“Kak, mungkinkah perdamaian yang dimaksud Bibi Karen ada hubungannya dengan desa kerucut di pegunungan Marino?” wajah Putri Amelia serius.
Pangeran Adrian berpikir sejenak.
“Tentu saja kalau kita tidak memperebutkan desa kerucut, kita jadi damai. Tapi apa mungkin?”
“Lagipula, apa yang bisa dilakukan oleh anak-anak seperti kita?” lanjut Pangeran Adrian.
“Tapi Kak, kata Bibi Karen, kita pasti bisa.”
“Kita masih anak-anak. Sudahlah, kamu jangan berpikir yang tidak-tidak.”
Putri Amelia terdiam. Kakak benar, apa yang bisa dilakukan anak-anak untuk membawa perdamaian di desa kerucut? ucap Putri Amelia dalam hati.
“Kak, bagaimana kalau kita ke desa kerucut. Mungkin ada petunjuk di sana?”
“Itu sangat berbahaya!”
“Kita menyamar saja, Kak.” Putri Amelia memang selalu ingin menyamar. Pasti seru ya, berada di tengah rakyat tanpa diketahui kalau ia seorang putri raja.
“Aku bilang, itu sangat berbahaya! Tidak mungkin Ayah mengijinkan.”
“Kalau begitu, kita tidak usah minta ijin Ayah.”
“Sudahlah. Mungkin maksud Bibi Karen, kita bisa saat kita dewasa nanti!”
“Kalau menunggu dewasa, perang jadi terlalu lama, Kak.” Amelia bersikeras.
“Ayolah, Kak!”
Berhari-hari, Putri Amelia membujuk Pangeran Adrian. Akhirnya, Pangeran Adrian menyerah. Meskipun berbahaya, sebagai putra mahkota, ia harus jadi pemberani.
Pada suatu hari, Pangeran Adrian dan Putri Amelia menyelinap keluar istana. Kuda dan perbekalan sudah disiapkan di sebuah gua di lereng bukit tempat mereka biasa bermain. Sebelumnya mereka membawa perbekalan secara bertahap agar tak dicurigai pengawal.
Sesampainya di desa kerucut, mereka segera menuju rumah Pak Henry. Untung Putri Amelia masih ingat dengan baik jalan menuju ke sana. Keluarga Pak Henry sangat baik. Alexander juga cepat akrab dengan mereka berdua. Mereka tidak membocorkan identitas Puri Amelia dan Pangeran Adrian yang sebenarnya
Beberapa hari mencari petunjuk tanpa hasil, Putri Amelia mulai putus asa. Pagi itu ia dan Pangeran Adrian berniat pamit.
“Sebelum kalian pulang, bisakah aku minta tolong?” kata Pak Henry.
“Tentu Pak. Apa yang bisa kami bantu?” kata Adrian.
“Ada sebuah rahasia tentang Alexander. Sebetulnya ia bukan anak kandung kami,” kata Pak Henry mengejutkan Putri Amelia dan Pangeran Adrian.
“Dulu, kami menemukan bayi Alexander di dalam hutan. Setelah beberapa tahun, baru kami tahu, Alexander adalah pangeran kerajaan Zeos yang hilang diculik. Ada tanda lahir di punggungnya. Tapi waktu itu kami tidak ingin kehilangan Alexander. Begitu kami siap mengembalikan Alexander pada keluarganya, perang keburu berkecamuk,” cerita Pak Henry.
Putri Amelia dan Pangeran Adrian berpandangan. Mereka tersenyum puas.
Selang beberapa hari, perdamaian benar-benar terwujud. Raja George mengirimkan utusan untuk mengabarkan bahwa Pangeran Alexander telah ditemukan. Ia diasuh dengan baik di desa kerucut. Raja dan ratu Zeos sangat berterimakasih. Mereka memutuskan menghentikan peperangan. Putri Amelia menyimpan kerucut Bibi Karen dengan bahagia.

“Terima kasih, Bibi Karen.”