Tampilkan postingan dengan label Fabel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fabel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

Kue Miche Bu Kitty


 
Dimuat di Majalah Bobo

Kue Miche Bu Kitty
Oleh: Suci Shofia

Pussy dan Mio asyik bermain kejar-kejaran di halaman rumah. Kedua anak kucing ini suka sekali bercanda. Saat Mio sedang tidur, Pussy iseng mencolek telinga Mio. Pernah ketika Pussy sedang asyik makan, ekor Pussy dibuat mainan sama Mio. Kadang mereka saling tabrak satu sama lain.
“Pus, lihat! Ada kue Miche!” teriak Mio.
Mio segera berlari ke depan rumah. Dia mengigit kue rasa keju tersebut, lalu membawanya ke halaman.
“Wah, untung ada kue Miche. Kalau tidak, bakalan kelaparan kita,ucap Mio.
“Iya, Mio, stok makanan kita habis,” balas Pussy.
Namun, Pussy sempat ragu saat hendak memakan kue Miche. Jangan-jangan kue Miche terjatuh bukan sengaja dibuang. Mio meyakinkan Pussy, kalau ada yang mencari kue, tinggal menggantinya saja.
Akhirnya Pussy dan Mio melahap kue hangat dengan ukuran cukup besar. Setelah kekenyangan, mereka pun tertidur di atas kursi taman yang empuk.
***
Mata Mio tiba-tiba melihat Bu Kitty seperti sedang mencari sesuatu di jalan. Dia
yang baru bangun tidur meregangkan badannya.
 “Mio!” panggil Bu Kitty.
Mio bergegas mendekati Bu Kitty. Pussy yang terbangun berjalan malas dari belakang.
“Ada apa, Bu Kitty?” tanya Mio.
“Kamu melihat Kue Miche terjatuh tidak? Kue Miche pesanan Bu Selly hilang.  Aku merasa sudah membawa pesanan pelanggan sesuai catatan,” cerita Bu Kitty.
Mio berpikir jangan-jangan kue yang dia makan tadi milik Bu Kitty.
          “Kue Miche yang di depan pagar, Bu Kitty?” kata Pussyyang tiba-tiba sudah berada di samping Mio.
Mio segera menyenggol kaki Pussy. “Kami tidak melihatnya, Bu Kitty. Nanti kalau lihat, kami segera memberitahu Bu Kitty,” ucap Mio.
“Terima kasih, ya, Mio, Pussy. Saya permisi dulu,” ujar Bu Kitty.
Mio tersenyum ke Bu Kitty.
“Kenapa kamu berbohong, Mio?” sergah Pussy.
“Tidak apa-apa. Kan cuma satukali,” balas Mio santai.
Pussy merasa kasihan pada Bu Kitty yang berjualan kue sejak pagi. Pussy teringat masih mempunyai uang. Dia segera masuk ke rumah, lalu membuka dompet miliknya. Di sana hanya tersisa sedikit uang.
***
Pussy membuka pintu toko kue Pak Tomci. Aroma wangi kue Miche menyambut kedatangannya. Pussy disambut oleh Pak Tomci.
“Pak, saya mau beli kue Miche yang biasa dibeli sama Bu Kitty,” ucap Pussy.
“O, kalau Bu Kitty suka membeli kue Miche yang ini,” Pak Tomci menunjukkan kue Miche pada Pussy.
“Aduh mahal sekali. Uangku tidak cukup,” kata Pussy sedih.
“Memangnya kamu kenapa, Pussy?”
Pussy lalu menceritakan semuanya pada Pak Tomci. Pak Tomci pun menawarkan ke Pussy untuk menjaga tokonya. Dia hendak mengambil bahan kue yang tertinggal di rumah. Pussy segera mengiyakan tawaran Pak Tomci.
Toko kue Pak Tomci laris sekali. Di kotak warna kuning tersisa tiga buah kue Miche. Pussy khawatir. Bagaimana kalau kue Miche habis? batin Pussy. Tak lama datang Bu Selly. Dia mengatakan ke Pussy kalau sore ini keponakan kembarnya datang. Dia butuh 3 buah kue Miche. Pussy segera mengambil tiga kue Miche terakhir dengan kecewa.
“Terima kasih, Pussy,” kata Bu Selly.
Tidak lama Pak Tomci sudah datang.
“Wah, kue Miche-nya habis, ya, Pus?” tanya Pak Tomci.
“Iya, Pak,” ucap Pussy sedih.
“Tolong kamu jaga toko sebentar ya, Pus!” pinta Pak Tomci tersenyum. Lalu dia pun berjalan menuju dapur. Pussy kembali melayani pembeli.
Beberapa saat kemudian Pussy mencium aroma wangi kue Miche.
“Wah, wangi sekali,” ucap Pussy.
Pussy melihat Pak Tomci keluar dari dapur tokonya. “O ya, kue Miche ini untukmu, Pussy. Terima kasih, ya, sudah membantu  saya,” ucap Pak Tommy sembari memberikan sekotak kue Miche isi 6, dan 3 keping uang perak.
“Terima kasih, Pak Tomci,” ucap Pussy senang. Dia lalu membagi kue Miche itu. Dua untuk Bu Kitty, dua untuk Mio, dan dua lagi untuknya.

***
“Mio...!” panggil Pussy saat melihat Mio bermain di dekat rumah Bu Kitty.
“Eh, Pussy. Kamu Bawa apa?”
Pussy menceritakan semuanya pada Mio. “Kita antarkan dulu kue Miche untuk Bu Kitty. Baru kita makan kue Miche bagian kita.”
“Kenapa tidak sekarang saja makannya, Pussy?”
“Kita minta maaf dulu pada Bu Ketty, Mio! Bu Kitty kan, selalu baik pada kita.”
Mio terlihat ragu-ragu. Namun akhirnya dia mau ikut Pussy masuk ke halaman rumah Bu Ketty.
Tingtong.. Pussy membunyikan bel rumah Bu Kitty.
“Eh, Pussy, Mio. Kalian bawa apa?”
Pussy menceritakan semuanya pada Bu Kitty. Bu Kitty mengangguk mengerti.
“Kami minta maaf, Bu Kitty!” kata Pussy.
Bu Kitty tersenyum. “Iya, saya maafkan. Tapi jangan diulangi lagi, ya!”
“Baik, Bu!” jawab Pussy dan Mio serempak.
“Yuk, masuk! Saya sedang membuat susu jahe. Kue Miche akan enak dimakan bersama susu jahe hangat.”
“Horeee...!” Pussy dan Mio berseru bersamaan.



Rabu, 20 September 2017

Kisah si Pongo

Dimuat di halaman Kompas Anak harian Kompas Minggu, 24 januari 2016 

Kisah si Pongo
Oleh : Vina Maria. A

Pongo adalah anak Orangutan Sumatera, usianya baru lima tahun. Setahun lagi Pongo sudah  bisa mandiri. Sekarang Pongo masih tinggal bersama induknya.
Hoa-hem,” Pongo menguap sambil meregangkan tangannya. Enak sekali rasanya bangun tidur setelah lelah bermain. Lho, Ibu belum pulang dari mencari makanan? Seharusnya tadi aku ikut dengan Ibu untuk belajar mencari makan. Gara-gara terlalu asyik bermain, aku malah tidur.
Tak beberapa lama, Ibu Pongo datang. “Halo, Pongo. Ini Ibu membawa pisang. Pongo pasti sudah lapar.”
Pongo mengangguk. Tapi kenapa Ibu lama mencari makanannya?” tanya Pongo sambil mulutnya penuh dengan  pisang.
“Oh, karena Ibu harus berjalan agak jauh dari biasanya,” jawab Ibu Pongo.


**
Keesokan paginya, sayup-sayup Pongo mendengar suara menderu. Suara apakah itu? Pongo tidak pernah mendengar suara seperti itu sebelumnya di hutan. Tiba-tiba badannya diguncang-guncangkan oleh Ibu.
“Pongo, Bangun! Kita harus segera pergi dari sini!” teriak Ibu.
Pongo mengikuti saja perintah Ibu. Mereka pun keluar dari sarang dan mulai bergelayutan dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Beberapa Orangutan juga ikut berpindah tempat. Kini suara menderu yang Pongo dengar sebelumnya berhenti. Pongo menoleh ke belakang. Sebuah pohon besar di ujung sana, perlahan-lahan tumbang.
Bum…Suaranya sangat keras ketika menghantam tanah. Pongo terlonjak kaget, kenapa pohon besar itu bisa tumbang?
“Ayo, Pongo! Cepat!” teriak Ibu.
Beberapa lama kemudian Pongo dan Ibunya sudah sampai di hutan yang lebat.  “Sepertinya di sini aman.” Kata Ibu.
Ibu Pongo lalu membuat sarang dari ranting-ranting pohon untuk mereka berdua.
 “Ibu, kenapa kita harus cepat-cepat pindah? Lalu kenapa pohon-pohon besar bisa tumbang?” tanya Pongo kemudian.
Ibu menghela napas panjang, “Itu karena ulah manusia. Jika kita tidak segera pindah, pohon yang kita tinggali juga akan tumbang. Lalu Ibu dan Pongo  akan ditangkap oleh manusia.”
“Kenapa mereka menebang pohon, Bu? Pohon kan bisa menghasilkan buah, menampung air, buat udara sejuk, juga tempat Pongo bermain,” Pongo bingung.
Ibu tidak menjawab dan hanya menggeleng pelan.
Pongo masih penasaran, “Lalu kenapa kita ditangkap manusia, Bu?”
“Entahlah, yang Ibu tahu, mereka juga menangkap Harimau dan Macan Tutul. Oleh karena itu, kita jarang melihat mereka sekarang.” kata Ibu sedih.
Hm, berarti manusia itu sangat kuat, Harimau saja bisa mereka tangkap. Tapi, apakah semua manusia itu jahat?” Pongo bertanya-tanya. Pongo akhirnya pergi tidur. Dalam tidurnya, Pongo bermimpi makan beraneka macam buah segar.
**
Sudah beberapa hari ini Pongo  hanya makan dedaunan dan sedikit serangga. Karena banyak pohon ditebang, mencari buah-buahan jadi semakin sulit. Mau tidak mau Pongo harus makan apa yang ada.
“Ibu, kapan Pongo bisa makan buah-buahan lagi?” tanya Pongo.
“Ibu juga belum tahu. Yuk, ikuti Ibu,” ajak Ibu.
Pongo pun mengikuti Ibu yang memanjat sampai ke puncak pohon.
“Itu, lihat di sana. Itu hutan tempat tinggal kita yang dulu!” Ibu menunjuk ke hamparan lahan di kejauhan. Hutan tempat tinggal Pongo dulu kini sudah menjadi hamparan tanah yang luas.  Lalu Pongo menengok ke sisi lain. Di sana ada banyak pohon buah-buahan.
“Itu, Bu, di sana! Kita bisa mengambil buah-buahan!” Pongo berteriak kegirangan.
 Ibu terdiam sejenak, “Tapi, itu kebun buah milik manusia, Pongo.”
“Ayo kita ke sana, Bu. Pongo sudah lama tidak makan buah-buahan,” bujuk Pongo.
Pongo senang, Ibu berhasil dibujuk untuk mengambil buah-buahan dii kebun manusia. Hanya saja Pongo tidak boleh ikut. Pongo harus menunggu di sarang karena mengambil buah di kebun manusia sangat berbahaya.
**
Sudah lama Pongo menunggu, tetapi Ibu belum juga pulang dari mencari makanan. Padahal hari mulai gelap. Pongo panik, jangan-jangan terjadi apa-apa sama Ibu. Hari semakin larut, Pongo pun tertidur.
Besoknya, Ibu masih belum pulang. Pongo nekat  menyusul Ibu ke perkebunan. Sampai disana, Ibu tidak juga ditemukan. Pongo malah melihat sosok manusia yang membawa benda panjang. Apa itu? Tiba-tiba…“Dooor!”
Pongo kaget. Ia lari ketakutan. Tetapi, lengan bagian atas Pongo mulai terasa sakit. Dengan lengannya yang sakit Pongo tidak kuat lagi memanjat pohon. Akhirnya Pongo tak sadarkan diri.
**
Saat membuka mata, Pongo berada di tempat yang asing. membuka matanya.
“Aku ada di mana?” kata Pongo.
Dilihatnya luka di lengannya sudah dibalut kain putih. Tak lama datanglah seorang manusia. Pongo ketakutan, tapi manusia itu tersenyum ramah pada Pongo. Manusia itu menggendong Pongo dengan sayang lalu membawa Pongo keluar.
Di luar,  Pongo melihat banyak pohon dan banyak Orangutan sedang bergelayutan dengan gembira. Rupanya saat ini, Pongo berada di tempat perlindungan Orangutan, tepatnya di Taman Nasional Gunung Leuser, Sumatera Utara.
Pongo mencari-cari induk Orangutan. Adakah ibu Pongo di sana?  (Vin)
**
Naskah ini pernah dimuat di harian Kompas Minggu, 24 januari 2016, pada halaman Kompas Anak.











Kamis, 14 September 2017

Si Hitam di Tengah Malam

Dimuat di Majalah Bobo


Si Hitam di Tengah Malam
Oleh : Bonita Irfanti

Malam tiba. Angin dingin berembus. Di dalam sarangnya, Geri si Burung Gereja merapatkan tubuh kecilnya pada sang ibu. Di sampingnya, ada Gepi, saudaranya yang sudah tertidur lelap.
“Hoaahem,” Geri menguap. “Bu, aku tidur dulu, ya?”
“Tidur yang nyenyak, Nak.” Ibu mengecup kepala Geri. Tak lama, terdengar suara dengkuran Geri. Ibu Geri juga menyusul tidur setelah membetulkan selimut Geri dan Gepi.
Kresekk! Kresekk! Weerrrr!
Geri terbangun mendengar suara gemerisik daun-daun dan kepakan sayap. Ia melongok keluar. Gelap. Hanya ada temaram lampu rumah Pak Pendi di kejauhan. Jaraknya sekitar tiga ratus meter dari rumah kosong tempat sarang Geri berada.
“Bu, aku mendengar suara kepakan. Suara hewan apa, ya, Bu,” Geri mengguncang tubuh ibunya pelan. Ia sedikit takut. Namun ibunya bergeming. Sepertinya Ibunya tidur sangat pulas malam itu.
Krresekk! Kresssek! Weerrr!
Suara itu terdengar lagi dan lagi. Sambil menggigil ketakutan, Geri memutuskan untuk kembali tidur. Tapi suara-suara itu membuatnya terus terjaga. Akhirnya Geri tertidur saat hari menjelang pagi.
***
“Geri, bangun, Nak!Sudah pagi. Saatnya mencari makan.” Ibu membangunkan Geri keesokan paginya.
Sebetulnya Geri ingin membuka mata. Tapi rasanya berat sekali.
“Ibu dan Gepi pergi duluan saja. Nanti aku menyusul,” gumam Geri dengan mata setengah mengantuk.
“Ya sudah,” kata Ibu.
Geri baru terbangun ketika matahari mulai tinggi. Sinarnya yang hangat membuat matanya jadi silau.
“Hari yang cerah untuk mencari makan.” Geri meregangkan otot-otot sayapnya, lalu bersiap-siap untuk terbang. Namun tiba-tiba, Geri mendengar suara seseorang dari arah bawah sarangnya.
Setelah melompat-lompat menuju tepian atap genteng, Geri melihat Pak Pendi tampak mengomel di bawah pohon kelengkeng.
“Kelengkeng-kelengkeng ini harus cepat dipanen. Kalau tidak, aku bisa rugi!” Pak Pendi memungut beberapa buah kelengkeng yang berserakandi tanah. “Benar-benar pencuri yang menyebalkan!” sungutnya sembari berjalan pergi.
Geri jadi ingat kejadian semalam. Sepertinya suara yang ia dengar adalah suara pencuri. Namun Geri heran, kenapa si pencuri beraksi saat malam? Saat siang pun, belum tentu Pak Pendi melihatnya. Rumah Pak Pendi cukup jauh dari pohon kelengkeng ini.
Krucuk, krucuk!
“Ya ampun, aku kan belum makan. Pantas perutku bunyi.” Geri segera terbang mencari serangga lezat di sawah.
“Kamu ke mana saja. Kenapa baru terlihat?” Ibu Geri hinggap di pohon kapuk tempat Geri bertengger kekenyangan.
“Tadi aku lihat Pak Pendi mengomel, jadi aku penasaran ingin tahu ada apa.”
“Memangnya ada apa?” Gepi yang baru bergabung ikut penasaran. Dengan singkat, Geri menceritakan apa yang dilihatnya. Taklupa ia  menceritakan kejadian tadi malam.
Mendengar cerita Geri, Ibu terbahak. “Pak Pendi, Pak Pendi. Kenapa marah-marah? Harusnya ia berterima kasih.”
Geri dan Gepi berpandangan bingung. “Kok berterima kasih sama pencuri?” tanya Geri.
Belum juga Ibu menjawab, terlihat beberapa anak kecil membawa ketapel.
“Sebaiknya kita pulang sebelum anak-anak itu melihat kita,” ajak Ibu sedikit panik. Geri dan Gepi menurut. Mereka kembali ke sarang.
***
Kressekk! Kressek! Weerrr!
Geri kembali terbangun. Suara-suara itu lagi!
“Bu, Bu, ada suara-suara itu lagi!” Geri mengguncang tubuh ibunya agak keras agar terbangun. Tubuh Gepi sampai ikut terguncang.
Ibu mengucek matanya. Gepi juga. “Ada apa?” tanya Ibu agak lesu.
“Ssstt, dengerin, deh,” kata Geri.
Kressek! Weerrr! Kressek! Weeerrr!
“Oh, itu suara-suara codot, si kelelawar buah,” kata Ibu. “Kalian tahu, codot itu hebat. Penciumannya sangat tajam. Ia bisa tahu, di mana ada buah yang sudah masak. Makanya tadi siang Ibu bilang, seharusnya Pak Pendi berterima kasih pada codot-codot itu. Secara tidak langsung, ia memberitahu Pak Pendi kalau buah kelengkengnya sudah ranum.”
Geri dan Gepi mengangguk mengerti.
“Codot juga membantu penyebaran biji-biji kelengkeng. lho. Soalnya, codot memakan daging buah-buah itu di tempat lain.” Ibu mengakhiri penjelasan panjangnya.
Geri menyimak kata-kata Ibu dengan seksama. Ia benar-benar tertarik dengan hewan yang diceritakan Ibu itu.
Weerrr! Dug!
“Aduh!” Terdengar suara mengaduh. Geri dan Gepi segera melompat keluar sarang. Sesosok makhluk hitam kecil tampak bergerak-gerak di atas genteng.
“Halo.” Geri mencoba menyapa. Sosok itu menengok. Geri dan Gepi terkejut bersamaan, saat melihat dua mata besar yang berkilat. Untung Ibu sudah memberitahunya soal mata itu.
“Halo juga.” Sosok itu menatap Geri dan Gepi dengan heran.
“Apa kamu yang bernama Codot?” tanya Gepi.
Dan aku Geri.”
“Ya, namaku Codi Codot. Aku mengganggu tidurkalian, ya? Maaf, ya. Aku sedang agak pusing, jadi menabrak genteng, deh.”
“Kenapa kamu tidak cari makan saat siang?” tanya Geri lagi.
Codi tertawa. “Kami ini hewan malam. Jadi siang hari kami gunakan untuk tidur.”
Oh, begitu rupanya. Ibu pasti lupa memberitahunya soal ini,” Gepi melirik Geri
Tiba-tiba Geri menguap. Gepi ikut menguap. Sudah waktunya mereka tidur.
“Codi, kami sudah mengantuk. Kami tidur dulu, ya? Selamat malam dan selamat makan, kata Geri. Ia lalu mengajak Gepikembali ke sarangnya.
“Selamat tidur, Geri dan Gepi. Semoga mimpi indah.”

***

Minggu, 06 Agustus 2017

Juara Sesungguhnya

Dimuat di majalah Bobo

Juara Sesungguhnya
Oleh: Agnes Dessyana

            “Nek, ajarkan kami memasak,” pinta Fluffy kelinci dengan mata bulat berbinar-binar. Floppy, saudaranya, mengangguk di sebelahnya.
            Nenek Fifi menghampiri kedua cucunya dan bertanya lembut. “Apa yang ingin kalian masak?”
            “Kue Wortel!” Kedua anak kelinci berseru dengan semangat.
            “Kue wortel nenek adalah yang paling enak," ucap Fluffy sambil melompat gembira.
            “Kami yakin kue itu akan jadi pemenang lomba.” Floppy menambahkan dengan tidak kalah semangatnya.
            Nenek Fifi mengangguk mengerti. “Ah, lomba masak Pekan Raya Rimba."
            Kedua anak kelinci itu mengangguk sambil melompat kegirangan. Nenek Fifi tertawa melihat semangat keduanya.
            “Baiklah, Nenek akan mengajarkan kalian memasak, tapi dengan satu syarat.”
            “Syarat?” Fluffy berhenti melompat.
            Floppy ikut berhenti. “Syarat apa?”
            Nenek Fifi tersenyum. “Kalian harus tetap semangat untuk belajar.”
            Fluffy dan Floppy tertunduk. Mereka terkenal dengan sebutan ‘si kembar pemalas’. Mereka tidak pernah selesai melakukan sesuatu dan selalu berhenti di tengah jalan. Maka, Nenek Fifi mengajukan syarat tersebut. Ingin tahu seberapa besar semangat kedua cucunya untuk memenangkan lomba.
            “Oke,” sahut Fluffy. “Aku setuju.”
            “Aku juga,” timpal Floppy. “Seberapa susah sih membuat kue? Kami pasti bisa.”
            "Nenek akan ajarkan kalian untuk membuat kue wortel."
            “Hore!” seru keduanya dan memeluk Nenek Fifi.
            Sejak itu, Fluffy dan Floppy selalu datang ke rumah nenek. Mereka belajar memilih wortel terbaik, mengolah tepung, memecahkan telur, menakar gula, dan memanggang kue.
“Argh, kuenya gosong,” ucap Fluffy sedih sambil meratapi kuenya yang berwarna hitam.
“Tidak apa, kita bisa ulang lagi dari awal.”
Keesokan harinya, giliran Floppy yang mengalami kegagalan.
“Nek, kuenya tidak mengembang.”
Sekali lagi, Nenek Fifi hanya tersenyum dan menghibur cucunya.
Begitu seterusnya, selama seminggu mereka belajar masak bersama Nenek Fifi. Selalu saja ada kegagalan, seperti kurang manis, gosong, ataupun keras. Ada saat dimana kedua kelinci itu lelah dan hilang semangat tapi janji mereka pada nenek membuat mereka berusaha untuk tetap memasak.
            Berhari-hari mereka belajar untuk menyempurnakan kue wortel tersebut. Hingga akhirnya, mereka pun berhasil membuat kue wortel yang rasa dan bentuknya sama persis dengan buatan nenek.
            “Enak sekali,” sorak kedua anak kelinci itu dengan riang ketika mencicipi kue wortel buatan mereka.
            Nenek Fifi tersenyum. “Kalian siap ikut lomba?”
            “Tentu saja.” Fluffy menjawab dengan yakin.
            Floppy menambahkan sambil menjilati sendok yang dipegangnya. “Besok kami pasti menang. Kue wortel ini enak sekali.”
            Nenek Fifi kemudian memberikan resep kue wortel pada kedua cucunya. Mereka pun menerimanya dan kemudian pulang sambil membawa kue wortel buatan mereka.
            Keesokan harinya, kedua kelinci itu bangun pagi. Mereka membawa gula, wortel terbesar dan terbaik, tepung, telur, dan tidak lupa memasukkan resepnya ke dalam keranjang. Fluffy dan Floppy membawa semua bahan itu dengan hati-hati.
            Dalam perjalanan menuju Pekan Raya Rimba, langkah kedua anak kelinci itu terhenti. Mereka melihat Ibu Beruang sedang kebingungan.
            “Ada apa, Bu Beruang?” tanya Fluffy.
            “Aku kehabisan telur untuk membuat telur dadar kesukaan putraku. Padahal putraku akan segera bangun.”
            Fluffy dan Floppy berbisik-bisik. Akhirnya mereka pun menyerahkan dua butir telur milik mereka. Ibu Beruang langsung memeluk mereka dan mengucapkan terima kasih. Kedua anak kelinci itu pun melanjutkan perjalanan mereka.
            Mereka sudah dapat melihat spanduk lomba ketika tiba-tiba sebuah kantong tepung jatuh di atas kepala Floppy.
            “Kalian tidak apa?” tanya Ibu Elang yang mendarat turun di depan mereka.
            Fluffy dan Floppy mengangguk. Ibu Elang bernapas lega.
            Ibu Elang menatap sedih kantong tepungnya yang telah jatuh. “Bagaimana ini? Tanpa tepung, aku tidak mungkin bisa ikut lomba.”
            Fluffy dan Floppy kembali berbisik. Mereka pun mengangguk bersamaan. Fluffy memberikan sebagian tepung mereka pada Ibu Elang.
            “Benarkah tidak apa? Bukankah kalian juga akan ikut lomba?” tanya Ibu Elang sambil menunjuk ke arah keranjang bawaan mereka.
            “Tidak apa Bu Elang,” jawab Fluffy.
            “Ini cukup untuk kue buatan kami,” timpal Floppy.
            Ibu Elang pun memeluk mereka dan berterima kasih. Ketiganya lalu berjalan beriringan menuju ke tempat lomba.
            Setelah mendaftarkan diri, mereka pun menuju meja untuk mempersiapkan diri. Ketika lomba dimulai, Fluffy dan Floppy mulai memasak seperti yang diajarkan Nenek Kelinci. Mereka memerlukan beberapa tambahan waktu untuk mengukur ulang takaran resep, karena kekurangan tepung dan telur. Tapi, akhirnya mereka pun berhasil membuat kue wortel.
            Dewan juri kemudian berunding setelah mencicipi semua masakan peserta. Fluffy dan Floppy menunggu dengan hati berdebar. Tapi, ternyata pemenangnya adalah Ibu Elang dan kue apelnya. Melihat itu, kedua anak kelinci tersebut tertunduk sedih. Mereka sudah berjuang keras dan melakukan yang terbaik. Fluffy dan Floppy baru saja akan berjalan pergi ketika tiba-tiba Ibu Elang datang menghampiri keduanya.
            “Ini semua berkat kalian. Terima kasih,” ucap Ibu Elang dan kemudian menyerahkan pita pemenang lomba pada mereka. “Kalian lah juara yang sesungguhnya.”
            Para penonton bertepuk tangan dan bersorak riang. Nenek Fifi yang datang pun tersenyum bangga. Meski kedua cucunya tidak menang. Mereka telah memenangkan hal lain. Mereka mendapat pengakuan dari para penghuni hutan rimba bahwa mereka bukanlah lagi anak kelinci yang malas.