Selasa, 23 Mei 2017

Rahasia Kate

                                               
Dimuat di Majalah Bobo
     
                                                     Rahasia Kate
                                                               Oleh  Dian Onasis

Cleo memasukkan tempat minumnya ke tas. Matanya melirik Kate yang duduk di sebelah kirinya.
“Wah, tempat minum baru lagi, Kate?” tanya Cleo. Hal ini menarik perhatian Cleo. Soalnya, dalam 2 bulan ini Kate menggunakan 3 tempat minum baru secara bergantian. Tentu menyenangkan punya tempat minum lebih dari satu. Tak perlu khawatir jika lupa mencucinya. Karena ada pengganti.
Tapi, Cleo tahu diri, tidak mungkin setiap bulan minta dibelikan tempat minum baru. Itu pemborosan namanya. Cleo teringat nasihat Mama untuk rajin berhemat dan menabung.
Kate tidak menjawab pertanyaan Cleo. Ia hanya tersenyum penuh rahasia. Kate sibuk merapikan isi meja, seperti yang diperintahkan Miss Rona. Cleo pun membuka bagian atas meja dan memastikan semua alat tulis dan bukunya sudah rapi
"Sssttt, Kate, bukannya bulan lalu, kamu baru beli tempat minum?” Cleo kembali bertanya.
Kate tidak menjawab. Ah, Kate sok misterius, batin Cleo kesal sambil memonyongkan bibirnya. Tumben Kate punya rahasia. Cleo lalu menjulingkan matanya ke hadapan wajah Kate. Kate tertawa geli
"Hihihi, kamu lucu, Cleo." Ujar Kate. Cleo nyengir. Cara seperti itu biasanya berhasil membuat Kate tertawa dan menceritakan rahasianya. 
"Ayolah Kate. Kuperhatikan, tempat minummu berganti terus. Apa Papa Mamamu tidak keberatan? Itukan buang-buang uang namanya?” Cleo sok menasihati. Padahal Cleo tak sabar, ingin mendengar rahasia Kate itu.
Sayangnya, Kate senang membuat sahabatnya itu kesal. Kate suka melihat mata Cleo yang berwarna coklat itu berbinar-binar, karena ingin tahu. Kate tetap tersenyum geli melihat Cleo berusaha memancing jawaban. Cleo sudah mengubah wajahnya jadi bermacam bentuk, mulai dari hidung dikembang-kempiskan, mulut digerakkan kiri-kanan, mata dijerengkan  hingga dipelototkan. Tapi ternyata tak sukses membuat Kate membuka rahasianya.
Cleo tak sempat bertanya lagi, karena Miss Rona memerintahkan semua anak untuk berdoa pulang. Ketika keluar kelas, Mama Cleo sudah berdiri dekat motornya dan tersenyum ke arah Cleo. Kesempatan Cleo untuk menanyakan rahasia Kate, hilang. Tapi bukan Cleo namanya, jika tidak mencari tahu. Cleo tak mau menyerah begitu saja. 
Sore hari, selepas mandi, Cleo segera mengeluarkan sepedanya. Setelah pamit pada mama, ia langsung ngebut bersepeda ke arah rumah Kate. Rumah mereka memang tidak jauh. Hanya butuh 5 menit naik sepeda, Cleo sudah berada di depan pagar rumah Kate. Cleo juga tidak memberitahu Kate, jika ia hendak main ke rumah Kate.
Setiba di depan pagar, Cleo mengintip ke halaman. Ia melihat Kate sedang berjongkok. Di sebelah Kate, ada Papanya. Mereka terlihat asyik membuat sesuatu.
"Selamat sore!" teriak Cleo dari depan pagar. Suara itu mengagetkan Kate. Kate melihat ke pagar, dan sedikit kaget melihat Cleo. Namun Kate langsung tersenyum lebar.
"Wah, kamu benar-benar penasaran ya!" Kata Kate sambil membukakan pintu pagar untuk Cleo. Cleo tertawa tanpa suara. Giginya yang ompong di bagian bawah, tak dipedulikannya.
"Sore Cleo, apa kabar?" tanya Papa Kate.
"Sore Om. Kabarku baik, Om.” Jawab Cleo. “Om dan Kate lagi ngapain?”
 "Oh Ini? Om sedang mengajari Kate melukis gambar baru pada botol bekas minuman.  Cleo tertarik?" Papa Kate menunjukkan hasil karyanya bersama Kate. 
Mata Cleo membelalak. Mulutnya sedikit terbuka. Ia terpukau melihat ada banyak  botol bekas minuman air mineral yang sudah dilukis. Ada gambar Olaf dari film Frozen, Doraemon, Kelinci Biru dan banyak lainnya. Cleo suka  semua tokoh kartun. Semuanya keren-keren.
“Wah, jadi ini rahasiamu, Kate?” Tanya Cleo sambil mendekat dan memperhatikan hasil karya Kate. Kate mengangsurkan kuas dan beberapa wadah cat kecil ke dekat Cleo.
“Ini, kau bisa coba memberi warna dasar untuk botol yang itu.” Kate menunjuk sebuah botol bekas yang paling besar. Cleo mengangguk dan langsung mewarnai botol tersebut dengan warna orange.
“Tapi, sebetulnya apa hubungannya botol bekas ini dengan tempat minuman baru yang kau punya, ya, Kate?” tanya Cleo sambil terus mengecat. Kate tersenyum. Ternyata Cleo masih penasaran.
“Kau ingat tidak, 2 bulan lalu, aku tidak ikut main sepeda ke rumah Miss Rona?” tanya Kate. Cleo mengangguk.
“Nah, waktu itu, aku bersama papa pergi membeli botol bekas dari tempat pemulung. Lalu aku diajari melukis oleh papa. Hasil dari melukis botol bekas ini kutitipkan Papa. Papaku punya teman yang suka mendaur-ulang benda. Ia menerima, kemudian menjual pot bunga untuk taman gantung. Potnya dibuat dari botol bekas minuman seperti ini,” jelas Kate. Cleo memandang beberapa botol yang sudah dikerjakan Kate.
“Aku diberi satu paket cat dari teman Papa. Lalu untuk setiap lukisan satu botol,  aku diberi uang Rp.2.000,- rupiah. Jika aku membuat 5 dalam seminggu. Aku sudah punya  Rp.10.000,- per minggu.  Dalam sebulan, aku sudah bisa menabung atau membeli benda kesukaanku. Iya kan Pa?” Kate meminta persetujuan pada Papanya. Papa Kate mengangguk
“Wah, kalau aku melukis botol juga, apakah aku boleh titip juga, Om?” harap Cleo. Papa Kate kembali mengangguk.
Senyum Cleo melebar. Tak lama Cleo sudah asyik menemani Kate melukis botol bekas. Mulut kecilnya bergerak-gerak lucu, saat melukis botol. Ia sudah membayangkan akan membeli tempat minum baru bulan depan, atau mungkin liontin kecil untuk mama, atau bisa jadi gelas minum teh untuk papa.



Rabu, 17 Mei 2017

Rumah Jamur Tarra

Dimuat di majalah Bobo 

RUMAH JAMUR TARRA
*FiFadila*

TARRA bosan tinggal di desa kurcaci. Pemandangannya tidak menarik. Hanya ada gunung, sawah dan rumah-rumah jamur yang tumbuh di tanah. Beda dengan pemandangan kerlap kerlip di kota. Seperti yang sering dia lihat di siaran tv kurcaci. Kurcaci di kota punya rumah balon yang beraneka bentuk. Anggur, apel, jeruk, melon dan bentuk lainnya. Berwarna-warni pula. Ia pun bertekad pergi ke kota. Semua tabungannya dipecah untuk pindah ke kota.
“Kenapa harus pindah, Kak? Desa kita sangat tenang. Di kota ramai. Biaya hidup di sana juga lebih mahal,” kata Risti berusaha mencegah kakaknya.
            “Aku akan cari kerja yang lebih baik di kota,” bela Tarra.
            “Kalau begitu bawa saja bibit jamur untuk tempat tinggal kakak di kota.”
            “Kamu aneh. Rumah jamur itu hanya ada di desa. Di kota ada banyak jenis rumah dari balon. Bentuknya macam-macam bisa terbang pula. Tinggal tiup, ujung talinya diikat di pohon, jadi, deh. Kalau pakai bibit jamur, bisa jenggotan nunggu jamurnya tumbuh,” protes Tarra.
            Akhirnya Tarra pergi ke kota tanpa memedulikan usul adiknya. Dia hanya membawa bekal makanan untuk di perjalanan. Keperluan lainnya bisa dia beli di kota. Uang tabungannya cukup banyak untuk biaya hidup di kota nanti. Saat tiba di pinggiran kota, Tarra merasa kelelahan. Namun dia tidak mau berhenti sejenak pun. Kerlap-kerlip lampu kota membuat Tarra semakin semangat melangkah.
            “Lihat, kota tinggal sejengkal lagi sampai,”Tarra menyemangati dirinya sendiri.
            Setiba di kota, Tarra kegirangan. Kota benar-benar seperti yang dia bayangkan. Ramai, indah dan penuh hiburan. Dia yakin tidak akan pernah bosan tinggal di kota. Pertama-tama dia membeli rumah balon yang paling unik. Bentuknya seperti anggur. Harganya ternyata mahal. Uang tabungannya hanya sisa sedikit saja untuk beli makanan.
            “Tak apa. Besok aku akan segera cari pekerjaan. Sekarang aku mau istirahat di rumah baruku dulu. Aku capek sekali.”
Tarrapun mencari tempat untuk memasang rumah balonnya. Tapi dia kebingungan. Setiap jengkal ranting pohon sudah ada pemiliknya. Tarra berputar-putar di setiap penjuru kota dengan rasa lelah yang luar biasa. Dia tidak mungkin meninggalkan rumah balonnya tanpa ditambatkan terlebih dulu. Bisa terbang hilang rumah barunya yang mahal.
Di ujung keputusasaannya, Tarra melihat ada satu tempat kosong. Di pucuk tertinggi pohon cemara. Dengan susah payah, Tarramemanjat pohon cemara. Lebih susah lagi mengikat tali rumahnya di ujung tertinggi pohon. Angin di puncak pohon lebih kencang daripada di bawah.
Dengan susah payah, akhirnya pemasangan rumah itu selesai juga. Tarra segera masuk ke dalam rumah balon itu. Rasanya seperti terbang. Tiupan angin membuat rumah balonnya tidak pernah diam. Tarra bergoyang-goyang seperti terbang.
“Ah, lama-lama aku akan terbiasa juga,” Tarra menenangkan hatinya yang bimbang.
Dia menuju kasur dan merebahkan diri untuk istirahat. Tapi goyangan balon sepertinya semakin kencang. Di ujung pohon cemara, hembusan angin terasa sangat kencang. Bahkan terdengar berisik. Ingin hati punya rumah cantik, apadaya angin mengguncang-guncang rumah balonnya. Hingga membuatnya susah tidur.
            Tarra berkali-kali melirik jendela. Dia berharap ikatan yang dia buat tadi sudah cukup kuat sehingga tarikan angin tidak membuat ikatannya lepas. Tapi ternyata perkiraannya salah. Tali pengikat balonnya semakin lama semakin kendor. Tiupan angin berikutnya membuat tali pengikatnya lepas sama sekali. Rumah balonnya melayang-layang. Menjauh dari kota.
            Tarra menangis ketakutan. Dia teringat rumah jamurnya yang di desa. Kuat tertancap di tanah dan tidak mudah terbawa angin. Jauh berbeda dengan rumah balon. Meski unik berwarna-warni tapi mudah terbawa angin. Tarra ingin pulang tapi dia tidak tahu dimana dia sekarang. Sepanjang malam dia terjaga di langit terbuka.Sampai pagi menjelang.
            Tiba-tiba Tarra merasa rumah balonnya kempes dan turun pelan-pelan. Tarra panik. Dia takut jatuh dari ketinggian. Dipejamkannya mata erat-erat.
            Pluk. Tarradan rumah balonnya mendarat di sesuatu yang empuk. Dia segera keluar dari rumah balonnya yang kempes. Dilihatnya keadaan sekeliling.
            “Kak Tarra, kakak baik-baik saja?”
Tarra mendengar suara yang dia kenal baik.Tarra ternyata jatuh di atas atap rumah jamur Risti. Dengan bantuan tangga tali Risti, Tarra turun dari atap.
Tarra memeluk adiknya sambil menangis, “Kamu benar, kota sangat padat. Rumah balonku sampai tidak dapat ruang tambatan yang aman. Sampai-sampai rumah balonku terbawa angin dan kempes. Tabunganku sudah habis. huhuhu…”
            “Kakak kan masih punya rumah jamur. Aku selalu membersihkannya saat kakak tak ada.”
            Tarra berterima kasih pada adiknya. Sejak saat itu Tarra sangat mencintai rumah jamurnya. Menurutnya rumah jamur lebih cantik dan menarik daripada rumah balon. Ia yakin rumah jamurnya sangat kuat meski di terjang angin puting beliung sekalipun. (*)



               


Rabu, 03 Mei 2017

Rumah di Atas Bukit

Dimuat di Majalah Bobo edisi 47, 21 September 2016


RUMAH DI ATAS BUKIT
Oleh: Yulina Trihaningsih

            Semalam, hujan deras kembali mengguyur tubuhku. Aku tahu, kulitku akan semakin mengelupas diterpa angin kencang. Jamur-jamur kecil seperti titik-titik hitam akan bertambah subur di kulitku yang lembab dan kusam.
Sudah lama tidak ada manusia yang mau tinggal bersamaku. Mungkin, karena penampilanku yang kotor, kusam, dan bau.
“Tapi, aku senang bermain-main di sini bersamamu,” seru Geji si burung gereja yang sedang berjemur di terasku. Sinar matahari yang hangat membuatnya senang berlenggang lenggok menjemur bulu-bulunya yang basah.
Aku tersenyum. “Terima kasih sudah mau menjadi temanku, Geji. Tapi, sebentar lagi kau pun akan terbang mencari makan, dan aku akan kembali kesepian.”
Geji menatapku prihatin. “Kau rumah tua yang malang. Aku harap, akan ada yang menempatimu. Kau tahu? Sebuah keluarga sudah mengisi rumah baru bertingkat di ujung jalan. Kemarin sore mereka berpesta! Ada banyak cahaya lampu, balon, dan remah-remah kue. Aku akan ke sana setelah selesai berjemur.”
Tanpa menunggu lama, Geji langsung terbang, meninggalkan kotorannya di lantai terasku. Ya ampun, aku pasti akan semakin kotor dan bau.
Tapi, sesuatu terjadi di siang itu. Sebuah mobil kecil berhenti di depan pagarku. Gadis kecil dengan dua kuncir di kepalanya melongok ke luar jendela. Matanya yang bulat indah terlihat bersinar. Dan ia tersenyum padaku!
“Apakah kita akan tinggal di sini, Ayah?” suara anak itu terdengar bersemangat.
“Benar, Zara sayang,” seorang pria berkacamata turun dari pintu depan.
Dia membantu seorang wanita cantik turun dari mobil. “Apa kau suka rumah baru kita, Nyonya Arman?” pria itu bercanda.
“Tentu saja, Tuan Arman,” balas wanita itu sambil tertawa.
Sementara, Zara, gadis kecil itu, sudah berlari ke luar mobil terlebih dahulu. Ia meloncat-loncat di halaman dan menatapku ingin tahu.
“Apakah kita tidak akan kebanjiran lagi di sini, Ayah? Rumah ini sepertinya sudah tua,” Zara mengerutkan keningnya, seperti berpikir.
Tuan Arman tertawa. “Semoga, Sayang. Rumah ini ada di atas bukit. Saat malam, kau bisa melihat kota yang penuh cahaya dari jendela kamarmu.”
“Terlihat tua, mungkin karena tidak ada yang merawat dan menyayanginya, Zara,” Nyonya Arman berkata sambil tersenyum.
“Oh, aku akan menyayangi rumah ini, Bu,” Zara berkata pasti, membuatku senang mendengarnya.
*
            Beberapa hari berikutnya, adalah saat-saat yang membahagiakan untukku. Aku tidak lagi sendirian dan kesepian, karena banyak teman yang mengunjungiku. Bukan Geji, tentu saja. Burung gereja itu justru tidak berani lagi mendekat sejak keramaian mulai terlihat di sini.
            Tuan Arman mengajak beberapa temannya untuk membersihkan kulitku yang kotor. Dan, hei, mereka juga memberi warna baru di kulitku. Tidak itu saja. Tuan Arman juga mengganti pelapis kayu tubuhku yang mengelupas. Atapku yang pecah atau bergeser juga diperbaiki.
            Sementara itu, Nyonya Arman dan Zara membersihkan halamanku yang ditumbuhi rumput yang tinggi. Nyonya Arman juga menanam bunga-bunga yang cantik untuk menemani pohon mangga tua di sudut halaman. 
Oh, aku harap, gadis kecil itu dan orangtuanya akan betah tinggal di sini. Siapa tahu, seperti rumah baru bertingkat di ujung jalan, Zara juga akan mengundang teman-temannya dan membuat pesta! Wah, mereka pasti akan bergembira dan bersenang-senang di sini.
“Jadi, kapan kita akan mulai tidur di rumah ini, Bu?” tanya Zara tidak sabar.
Nyonya Arman tersenyum. “Besok, Zara, kita akan pindah dan tinggal di sini.”
Gadis kecil itu lalu melompat ke pelukan ibunya dengan gembira.
*
            Sudah sebulan Zara tinggal, dan aku selalu bahagia melihat dan mendengar tawanya. Tapi, siang ini, Zara pulang sekolah sambil menangis. Oh, apa yang terjadi denganmu, Zara?
            “Tidak ada teman-temanku yang mau datang ke rumah kita, Bu. Mereka takut. Kata Sheila, yang tinggal di rumah tingkat di ujung jalan, rumah ini dulu berhantu.”
            Nyonya Arman tersenyum. “Kenapa Sheila bilang begitu?”
            “Karena rumah ini dulu jelek, tua, dan kotor.”
            “Oh, tapi, sekarang tidak lagi, kan?” kata Nyonya Arman sambil tertawa.
Zara menatapku lama. “Tentu saja tidak. Sekarang, rumah ini, kan, cantik dan bersih.”
“Mungkin, kamu bisa memikirkan sebuah cara untuk memberitahukan hal itu kepada mereka,” kata Nyonya Arman sambil tersenyum penuh arti.
Zara terus menatap dinding-dindingku. Lalu, tiba-tiba, ia tersenyum lebar sambil bertepuk tangan. “Aku ada ide!” serunya.
*
            Sabtu ini, Zara pulang sekolah tidak sendiri. Ia datang bersama teman-temannya. Mereka terlihat bergembira di bawah pohon mangga yang rindang. Tuan Arman sudah menggelar tikar lebar di sana.
“Wah, Zara, taman bacamu keren sekali,” kata seorang anak perempuan berkacamata sambil asyik membaca buku.
            “Rumahmu juga cantik, Zara. Persis seperti di foto-foto yang kamu bawa ke sekolah, kemarin,” timpal seorang anak perempuan lain dengan jepit di rambutnya.
            Zara tersenyum ke arahku. “Terima kasih, teman-teman. Aku memang senang sekali tinggal di rumah ini.”
            Aku bisa merasakan perasaan sayang yang diberikan gadis itu untukku. Dan kuharap, ia pun bisa merasakan hal yang sama dariku. [*]

             

Kamis, 27 April 2017

Chiko Takut Gelap

Dimuat di Majalah Bobo


CHIKO TAKUT GELAP
*FiFadila*

Matahari terbenam. Gelap pun merayap. Chiko mempercepat kepak sayapnya agar segera sampai di rumah pohonnya. Berkali-kali Chiko menengok ke belakang. Takut jika ada musuh memangsanya.
Chikomengunci pintu rumah pohonnya rapat-rapat. Ia pun menyalakan lilin di setiap sudut ruangan. Dia duduk di kursi dengan wajah pucat. Ia menyalahkan dirinya karena terlalu asyik berlatih tari. Sehingga lupa bahwa malam yang menyeramkan sudah datang.
Tok Tok Tok. Suara ketukan pintu membuat Chiko bersembunyi di bawah meja.
            “Chiko, aku Vania. Buka pintunya.”
            Chikolega. Dia segera membuka pintu dan menarik Vania masuk, “Cepat masuk sebelum kelelawar datang.”
            “Aduh Chiko, panas sekali rumahmu,” protes Vania memasuki rumahnya.
            Di rumah Chiko banyak lilin. Tapi pintu dan jendela tertutup semua.
            “Ratu Frilia memintamu menari di pesta Kerajaan besok. Kau tahu kan Ratu mengundang tamu dari kerajaan lain. Dia selalu memuji tarianmu yang gemulai.”
            Chikoternganga. Pesta ulangtahun kerajaan selalu diadakan pada malam hari. Sedangkan dia takut keluar malam. Banyak hal buruk bisa terjadi dalam gelap. Ada perangkap sarang laba-laba. Ada kodokpemakan serangga. Ada jurai pohon beringin yang membuat serangga kecil sepertinya tersesat.
            Chikobersedih, “Aku tidak mungkin datang. Bisakah kau cari kunang-kunang yang bisa menggantikanku?”
            “Astaga, kau masih takut keluar malam?”
            Celia menunduk malu.
            “Chiko, kau aneh. Kita ini kunang-kunang. Tubuh kita mengeluarkan cahaya dalam gelap.”  
            “Justru itu yang membuatku takut. Cahaya kita menarik perhatian para mangsa. Bagaimana kalau ada kelelawar menelanku?”
            “Ketakutanmu sangat berlebihan.Cobalah sekali saja kau keluar malam. tidak akan terjadi apa-apa padamu. Ratu  akan kecewa jika kau tidak datang.”   
            “Tolong jangan paksa aku. Kuharap Ratu mengerti,” Chiko memelas.
            “Sayang sekali,” seru Vania sebelum pulang, “Susah mencari penggantimu. Kau harus ijin sendiri pada Ratu.”
            Malam itu Chiko tidak bisa tidur. Dia kecewa tidak bisa hadir di pesta ulangtahun kerajaan. Tapi ketakutannya pada gelap lebih besar dari kekecewaannya. Chiko mondar-mandir. Dia memikirkan hadiah untuk Ratu. Dia berharap sebuah hadiah istimewa bisa mengobati kekecewaan Ratu.
            Di tengah kebingungannya, Chiko mendengar sesuatu. Ada suara tangis di luar. Awalnya dia mengira itu kucing hutan. Tapi ada sebuah nama yang menarik perhatiannya. Chikomencari sumber suara. Persis di jendela.
            “Huhuhu… Ibunda Ratu, Zalia tersesat. Huhuhu…”
            Chikomengenal suara itu. Zalia adalah putri termuda kerajaan kunang-kunang. Istana pasti panik. Chiko segera mengajak Putri Zalia masuk.
            Sambil menangis Putri Zalia menceritakan kecerobohannya, “Aku sedang cari bunga paling cantik untuk Ibunda Ratu. Sepertinya aku keluar istana terlalu jauh. Dan sekarang aku tersesat. Huhuhu… aku mau pulang.”
            Chikokasihan pada putri kecil itu. Pendar cahaya PutriZalia sedikit pudar karena kebanyakan menangis. Chikoingin mengantarkan Putri Zalia pulang. Tapi, dia sendiri takut keluar malam. Namun, jika putri tidak pulang, Ratu dan seluruh istana pasti panik.Chiko cemas memikirkan Ratu Frilia bersedih karena putrinya hilang.
            “Cup..cup.. jangan nangis. Aku akan mengantar Putri pulang,” kata Chikoakhirnya.
            Tangis Putri Zalia langsung sirna. Wajahnya cerah mendengar tawaran Chiko.
Chikomembuka pintu. Jantungnya mendadak berdegub kencang. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah gelap. Chikobergidik. Dia kembali menutup pintu.
            “Bagaimana kalau kuantarkan besok pagi?” tanya Chikogemetaran.
            Wajah cerah Putri Zalia kembali murung. Isakan kecil Putri Zalia kembali terdengar.
            “Baiklah, baiklah. Aku antar Putri sekarang. Jangan menangis lagi.”
Chiko menggandeng Putri Zalia erat-erat. Dengan jantung berdegub, Chiko terbang mengarungi malam.Chiko sangat hati-hati memilih jalan.
“Awas, ada sarang laba-laba di pohon itu,” Chiko menghindar dengan lincah,
“Kakak hebat melihat sarang itu. Pendar cahaya kakak terang sekali sih,” puji Putri Zalia.
Tiba-tiba di atas mereka melintas bayangan hitam. Chiko ketakutan. Itu adalah kelelawar. Satu kelelawar terbang cepat ke arah mereka. Chiko cepat menghindar ke sebuah pohon dan hampir menangis ketakutan.
“Kakak, lihat. Kelelawar makan buah jambu,” seru Putri Zalia.
Chikomelihat melihat seekor kelelawar menempel di pohon mangga. Dilihatnya Putri Zalia sama sekali tidak takut pada kelelawar. Ia merasa malu. Ternyata kelelawar makan buah. Bukan makan kunang-kunang.
Chikomengajak Putri melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka melewati sebuah kolam yang luas. Kawanan kodok berkwok-kwok di bawah mereka. Chiko terbang sangat tinggi. Dia takut lidah panjang kodok-kodok menangkapnya.
“Daag kodok. Kalian makan nyamuk saja ya. Kak Chiko punya cahaya terang untuk menghindari lidah panjang kalian,” Putri Zalia meleletkan lidah ke arah kolam.
Chikomerasa lega setelah menyeberangi kolam. Dia bisa melihat istana Ratu Frilia di depan mereka. Tak berapa lama kemudian mereka sudah berada di istana.
Ratu Frilia memeluk putrinya dengan erat. Ia sangat berterima kasih pada Chiko. Tidak lupa Ratu menyampaikan undangan padanya untuk menari di pesta kerajaan besok malam.
Tanpa raguChiko menerima undangan itu. Ternyata tidak ada yang perlu ditakutkan dalam gelap. Benar kata Vania, dia kan kunang-kunang. Pendar cahayanya bisa membantunya menghindari musuh dengan mudah.(*)







Jumat, 21 April 2017

Pak Weling

Dimuat di Majalah Bobo - Foto Yulina 


PAK WELING
Oleh: Yulina Trihaningsih

            Pak Weling adalah kurcaci tua dengan kerut-kerut tebal di wajahnya. Jenggot panjang berwarna kelabu tampak menghiasi dagunya. Sepasang mata hijaunya tampak awas melihat sekelilingnya. Pak Weling jarang tersenyum, sehingga banyak kurcaci yang enggan menyapanya.
            Sebenarnya, Pak Weling tidak jahat. Ia hanya tidak suka keramaian dan berkumpul bersama kurcaci lain. Ia lebih suka menghabiskan waktunya di rumah mungil dan kebun apel miliknya, yang terletak di ujung desa kurcaci.
            Pagi ini, Pak Weling sudah berada di kebun apelnya. Ia berjalan perlahan-lahan di antara pohon-pohon apel yang rimbun. Buah apelnya jenis istimewa. Berwarna putih keperakan, dan rasanya manis dan renyah bila digigit.
Dua hari lagi waktunya panen. Apel-apel itu harus dipetik tepat sebelum salju pertama turun. Karena, apel-apel itu akan langsung membusuk bila terkena salju.
            “Selamat pagi, Pak Weling,” sebuah sapaan ramah terdengar dari pinggir pagar kebunnya. Pak Weling melihat siapa yang datang. Oh, ternyata Gus, si kurcaci pos.
            “Pagi,” balas Pak Weling singkat.
            “Aku membawa surat undangan kerja bakti besok pagi, Pak,” Gus tersenyum sambil menyerahkan selembar kertas putih.
            Pak Weling menerimanya sambil cemberut. “Terima kasih, Gus. Tapi, akhir-akhir ini aku mudah lelah, dan sakit kakiku sering kumat.”
            “Oh, semoga engkau cepat sembuh, Pak Weling. Nanti akan aku sampaikan pada Pak Kepala Desa.” Gus berlalu sambil mendorong gerobaknya yang berisi surat dan paket untuk warga desa kurcaci.
            Begitulah selalu sikap Pak Weling bila diundang.
Minggu lalu, ia menolak ajakan Bu Tapsi tetangganya untuk menjenguk Nyonya April yang sudah seminggu sakit. Pak Weling beralasan sibuk membasmi ulat yang terlihat ada di beberapa pohon apelnya. Bahkan, saat ada undangan perayaan ulang tahun desa kurcaci di balai desa, Pak Weling pun tak datang.
            “Masih banyak hal lain yang bisa kukerjakan di rumah. Aku bisa menyiangi rumput liar, atau menambal baju kerjaku,” begitu kata Pak Weling kepada dirinya sendiri. “Aku senang melakukan semua hal sendirian. Lagipula, aku, kan tidak pernah merepotkan kurcaci lain.”
            Hari panen telah tiba. Pak Weling sudah menyiapkan setumpuk keranjang untuk tempat menyimpan apel-apelnya. Pak Weling memandang barisan apel yang ranum dan berjuntai rendah di tangkai pohon dengan puas.
            Dengan bantuan tangga, Pak Weling memutuskan untuk memetik buah apel yang letaknya tinggi terlebih dahulu. Ketika sudah hampir berada di puncak tangga, Pak Weling terpeleset dan jatuh dari ketinggian.
            Gedebuk! Suara tubuh Pak Weling ketika beradu dengan tanah yang tertutupi rumput terdengar kencang.
            “Wadooow ...” Pak Weling menjerit kencang. Oh, Pak Weling yang malang! Pasti sakit sekali rasanya. Langkah kaki berlari terdengar mendekat. Gus terbelalak menatap Pak Weling yang meringis kesakitan di tanah.
            “Ya ampun, Pak Weling, mari aku bantu,” Gus bergegas memapah Pak Weling. Pak Weling berteriak ketika berusaha berdiri. Wajahnya memerah, dan matanya berair. Dengan cepat, Gus memapah Pak Weling menuju gerobaknya. Ia langsung membawa Pak Weling ke rumah Dokter Ryu di tengah desa.
            “Sepertinya, kau harus beristirahat selama dua hari di sini, Pak Weling,” kata Dokter Ryu tenang sambil membalut kaki Pak Weling dengan perban.
            “Dua hari? Tidak mungkin! Aku harus memanen kebun apelku!” seru Pak Weling tidak sabar.
            “Tapi, kau juga tak bisa memanen kebun apelmu dengan kaki terkilir seperti ini.”
            Pak Weling kecewa sekali. Ia terus memikirkan kebun apel yang sangat dicintainya.
            Dua hari kemudian, dengan naik gerobak Gus, Pak Weling pulang ke rumah. Wajahnya muram dan hatinya murung. Sepanjang jalan, desa kurcaci tampak indah berkilauan tertutup lapisan berwarna putih. Ya, salju pertama telah turun semalam.
Pak Weling sedih memikirkan apel-apelnya yang tentunya sudah membusuk di pohon. Ia juga teringat belum memasukkan kayu bakar untuk membuat perapian. Rumahnya tentulah dingin dan sunyi.
Ketika sampai, Gus membantu memapah Pak Weling untuk berjalan. Begitu memasuki pintu rumahnya, Pak Weling terbelalak. Lidah api menari-nari di perapian, mengirimkan udara hangat ke seluruh ruangan. Di dapur, tampak Nyonya April, ibu Gus, mondar-mandir sedang memanggang kue. Aroma manis ini... tak salah lagi, ini pasti tart apel kesukaannya!
“Warga desa kurcaci membantu memanen kebun apelmu kemarin, Pak Weling,” Gus berkata bersemangat. “Semua apelmu sudah aman di gudang, sekarang.”
“Oh, selamat datang Pak Weling,” Nyonya April menyambut ramah. “Aku harap, kau tidak keberatan aku buatkan tart apel dari beberapa butir apelmu yang terjatuh di kebun.”
Pak Weling berterima kasih sambil tersenyum malu. Ternyata, tak selamanya ia mampu hidup sendiri. Bantuan kurcaci lain sangat berharga pada saat ia sedang sakit.
***


Selasa, 11 April 2017

Obat untuk Raja

Dimuat di Majalah Bobo

Obat Untuk Raja
Oleh : Liza Erfiana
           
Langkah dua kurcaci terhenti, keraguan mulai menyelimuti. Beberapa kurcaci pernah diutus untuk mencari kaktus merah dan bunga lidah sepuluh semuanya tak menemukan hasil.
Aku tak yakin akan mendapatkannya,” Popo yang berbadan tegap membuka percakapan.
“Sama, aku juga sangat ragu, tapi demi kesembuhan baginda raja, amanat ini harus kita jalankan,” timpal Godi kurcaci yang lebih muda.
“Sesuai mimpiku kita harus ke utara. Ramuan itu ada di negeri manusia,” papar Godi sedikit gelisah.
“Aduh, manusia itukan jahat! Tak ada yang bisa pulang jika sudah terjebak di sana,” Popo semakin ketakutan. Soalnya cerita yang berkembang di negeri mereka, manusia itu adalah makhluk yang menyeramkan.
Kemudian kedua kurcaci itu melanjutkan perjalanannya lagi. Semak belukar, duri, binatang buas tak jadi penghalang buat mereka. Akhirnya tempat  tersebut ditemukan, tanaman kaktus merah dan bunga lidah sepuluh tumbuh subur.
“Wawwwww....indahnya negeri manusia!” Popo berdecak kagum.
 “Ayo cepat, jangan terlena!” ucap Godi menepuk bahu sahabatnya.
Keduanya dengan cepat menghambur ke tempat tumbuh-tumbuhan itu. Dengan sigap mereka memetiknya kemudian memasukkannya ke dalam tas yang terbuat dari kulit kayu.
 “Heyyyyyyy... jangan ambil tanamanku!” tiba-tiba jeritan lantang seorang perempuan tua keluar dari rumah.
 Keduanya panik bukan kepalang. Kaki mereka sangat gemetar, tak bisa dibawa lari.
“Maafkan kami, Nenek!” Godi menjurah hormat.
 “Sekarang ikut aku ke rumah! sebelum aku berteriak, dan orang-orang di sekitar sini menangkap kalian!”
Godi mencoba mantra Dumplek Tungtung yang terkenal di negeri mereka, tapi mulutnya terasa kaku, dia juga tak bisa menggerakkan tangannya.
“Ilmu kalian hambar di sini!”
Mereka saling pandang, Keduanya sangat pucat. Tak ada yang bisa dilakukan, selain menuruti perintah nenek itu.
“Aku tak bisa melihat negeri kita lagi,” bisik Popo. Godi mengangguk pasrah Negeri Kurcaci telah tertutup kabut tebal.
“Kenapa kalian lancang mengambil tanamanku?”  nenek itu menatap tajam.
“Hampir sebulan raja kami, Baginda Rendarf Alasarf sakit. Obatnya hanya kaktus merah dan bunga lidah sepuluh. Kami hanya mengikuti petunjuk mimpiku, bahwa tanaman ini ada di sini,”papar Godi sedih.
“Apapun alasan kalian, yang bersalah tetap harus dihukum.”
***
Akhirnya, kedua kurcaci itu menjalani hukuman. Mereka harus membantu merawat bunga-bunga tersebut. Lama kelamaan,  mereka merasa kasihan pada Nek Selme yang tinggal sendirian. Dengan senang hati mereka kemudian membantu Nek Selme mengerjakan pekerjaan yang lain. Seperti menyapu, menimba air dan membelah kayu bakar.
Aku ingin pulang! Aku rindu rumahku," keluh Popo suatu malam.
"Ya, aku juga memikirkan kesehatan baginda," timpal Godi.
“Tapi, bagaimana lagi? kita tidak berhasil menemukan jalan pulang. Mungkin setelah hukuman kita selesai, kita bisa pulang, makanya kita harus terus semangat dan tulus menjalaninya" sambung Godi lagi.
"Oleoo...wakaka...tur..tur..wket..wket...lala...lala...wket...wket...”Popo menyanyikan lagu bangsa kurcaci. Agar rindunya sedikit berkurang. Godi  kemudian ikut bernyanyi.
Karena asiknya mereka tak menyadari Nek Selme telah berada diantara mereka,  mulut Nek Selme bergerak-gerak mengikuti nyanyian itu.Walaupun sedikit sumbang tapi Nek Selme masih hapal dengan liriknya.
“Apakah Welang Biru raja kalian?” tanya Nek Selme, membuat mereka berhenti menyanyi. Keduanya melongoh heran.
“Ya, itu adalah nama raja kami. Karena sangat bijaksana dan baik, kami rakyatnya memberi gelar Rendarf Alasarf atau berhati mulia,” Godi menjelaskan.
 “Pulanglah, Nenek rela kalian membawa tanaman-tanaman tersebut. Selamatkan sahabatku,” tutur Nek Selme sedih. Keduanya kembali melongoh.
Nek Selme menceritakan awal kisah persahabatan mereka, karena asiknya berburu Welang Biru tersesat sampai ke negeri manusia. Dia menjadi incaran orang-orang  untuk dijadikan pemain sirkus. Nek Selme kemudian menyelamatkannya. Selama pencarian jalan keluar menuju Negeri Kurcaci, Welang Biru mengajari Nek Selme bernyanyi Oleo Wakakaka.
Welang Biru juga memberinya sebuah gelang simbol Negeri Kurcaci yaitu akar pohon berulir sisik naga.
Usai bercerita Nek Selme buru-buru ke halaman depan. Dia sendiri yang memetik bunga-bunga tersebut. Mereka harus kembali secepatnya, supaya sahabatnya bisa selamat.
Nek Selme merapal mantera kemudian menyuruh keduanya menggeser sebuah batu hitam berbentuk kepala singa. Perlahan-lahan kabut tebal itu menghilang, tampaklah perbatasan negeri kurcaci.
“Hanya yang berhati tulus bisa menggeser batu itu, kembalilah! Sampaikan salamku pada Welang Biru,” Nek Selme memberikan bungkusan bunga-bunga itu.
            Keduanya saling pandang. Tak lupa mereka mengucapkan terimakasih atas kebaikan Nek Selme.Walaupun sedih, mereka harus pulang. Kapanpun mereka hendak berkunjung pintu selalu terbuka.
            “Selamat tinggal Nek Selme!” ucap mereka, kemudian tubuh keduanya menghilang seiring bergesernya batu hitam tersebut.
            Sambil tersenyum, Nek Selme membalas dengan lambaian tangan,” selamat jalan sahabatku.”