Tampilkan postingan dengan label Cerita Misteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Misteri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Rahasia Kotak Kayu Jati








Dimuat di majalah Bobo (foto : Wylvera W)

Rahasia Kotak Kayu Jati
Oleh Wylvera W.

“Hoaaam ....” Dantis menguap sambil melihat jam dinding di kamarnya.
Baru jam enam pagi. Padahal setiap hari Minggu, Dantis selalu bangun lebih siang. Semalam Dantis tidak bisa tidur nyenyak. Ia terus teringat pada kotak kayu seukuran kotak sepatu.
Tanpa sengaja, Dantis sempat melihat kotak kayu itu di atas meja kerja Mama. Ia membawanya ke kamar. Dantis meletakkan kotak kayu jati itu di atas tempat tidurnya. Ia ingin membukanya setelah selesai mandi. Setelah Dantis keluar dari kamar mandi, kotak itu sudah tidak ada.
            Kira-kira apa ya, isi kotak itu? gumam Dantis untuk kesekian kalinya.

            “Dantis!” suara panggilan Mama mengejutkan Dantis.
Dantis bergegas melompat dari tempat tidurnya. Dengan sigap ia merapikan tempat tidur dan kamarnya. Dantis tidak mau Mama memergoki kamarnya yang berantakan.
Di liburan panjang ini Mama dan Papa memutuskan untuk tidak pergi ke mana pun. Mama meminta Dantis menghabiskan hari liburnya di rumah saja. Dantis sebenarnya sedih. Setiap kali liburan sekolah, orangtuanya tidak pernah mengajaknya ke rumah Nenek dan Kakek dari Mama. Setiap kali pula Dantis ingin bertanya, Mama selalu lebih dulu memberi alasan. Akhirnya Dantis tidak berani memaksa.
“Dantiiis...!” suara Mama terdengar lagi.
“Iya, Ma!” sahut Dantis sambil terburu-buru membuka pintu kamarnya.
            “Kamu sarapan dulu. Setelah itu temani Mama, ya!” ujar Mama.
            “Mau ke mana, Ma?” tanya Dantis bingung. 
“Sudah, ikut saja,” jawab Mama.  
Dantis terdiam. Matanya tertuju pada kotak yang terbuat dari kayu jati yang dipegang Mama. Sejak semalam kepalanya sudah dipenuhi oleh kotak kayu jati itu. Rasa penasaran Dantis semakin besar. Ia buru-buru menghabiskan sisa sandwich di tangannya. Dantis ingin tahu ke mana Mama akan mengajaknya bersama kotak kayu jati itu.
            “Kalau sudah selesai sarapan, kita berangkat sekarang!” ajak Mama sambil melangkah menuju pintu depan. Dantis mengikutinya.
Akhirnya Dantis dan Mama sudah ada di dalam mobil. Mama menghidupkan mesin mobilnya dan perlahan membawa mobil itu melaju.  Dantis merasakan keheningan di dalam mobil. Mama hanya menyetir sambil menatap lurus ke jalan. Sementara Dantis sesekali melirik ke arah Mama dan kotak kayu di jok belakang. Dantis ingin mengajak Mama mengobrol tapi ia ragu. Sejak pagi tadi Mama seolah menyimpan sesuatu.
            Setelah setengah jam di perjalanan, Dantis akhirnya bisa bernapas lega. Mobil Mama sudah sempurna terparkir di halaman sebuah rumah. Di halaman depan itu berdiri papan yang bertuliskan “PANTI ASUHAN MELATI”.
            Rasa penasaran Dantis kembali memuncak. Ia mengikuti langkah Mama. Belum sempat Mama memberi salam, Dantis terkejut saat melihat Miss Prita menyambut mereka.
            “Mari masuk. Ini kunjungan pertamamu ke panti kami ya, Dantis?” tanya Miss Prita semakin membuat Dantis sulit bicara.
            Miss Prita sudah menjadi guru les bahasa Inggris Dantis sejak setengah tahun lalu. Selama itu Dantis tidak pernah mendengar kalau Miss Prita punya panti asuhan. Mama dan Papa juga tidak pernah bercerita tentang Miss Prita.
            Miss Prita mengajak Dantis dan Mama masuk. Dantis sempat melihat Mama meletakkan kotak kayu jati yang dibawanya di atas meja.
            “Kotak itu ...,”  gumam Dantis spontan.
            Miss Prita membuka kotak kayu jati itu. Mata Dantis terbelalak melihat isinya.
            “Dantis, Miss. Prita ini adalah sahabat masa kecil Mama. Kami sama-sama dititipkan di sebuah panti asuhan. Kami tidak pernah mengenal siapa orang tua kami,” kata Mama dengan mata berkaca-kaca.
Dantis terdiam. Mama akhirnya bercerita kalau panti asuhan mereka dulu pernah terbakar. Karena peristiwa itu, Mama dan Miss. Prita pun terpisah. Mereka dibawa oleh orang tua asuhnya masing-masing ke kota yang berbeda.
            “Tuhan akhirnya mempertemukan kita kembali di sini. Sejak punya anak, saya memutuskan untuk berhenti ngantor. Uang yang saya kumpulkan saya gunakan untuk mendirikan panti asuhan ini,” tambah Miss. Prita melanjutkan cerita Mama.
            “Waktu kamu cerita tentang Miss Prita, guru lesmu, Mama sudah menebak-nebak dalam hati. Ciri dan karakternya sama dengan sahabat masa kecil Mama. Makanya Mama segera mencari tahu dan kembali membuka kotak kayu jati ini,” ujar Mama kembali melanjutkan ceritanya.
            Dantis memandangi Mama dan Miss Prita bergantian. Perasaan Dantis bercampur-aduk. Rasa penasarannya sejak semalam satu per satu mulai terjawab.
            “Maafkan Mama, ya,” ujar Mama tiba-tiba memelankan suaranya.
            “Mengapa harus minta maaf, Ma? Sekarang aku tahu jawabannya. Aku tidak malu kalau akhirnya tahu bahwa Mamaku adalah anak panti asuhan. Selama ini aku hanya heran dan sedih saja. Setiap kali aku mengajak ke rumah Kakek dan Nenek dari Mama, selalu saja ada alasan supaya aku tidak memaksa. Sementara kalau ke rumah Kakek dan Nenek dari Papa, Mama tidak pernah menolak,” ujar Dantis membuat Mama segera memeluknya.
Mama dan Miss Prita sama-sama menghela napas lega. Dantis tersenyum memandangi kotak kayu jati itu. Isinya ternyata foto-foto kenangan serta catatan-catatan masa kecil Mama dan Miss Prita.


Rabu, 06 September 2017

Misteri Bau Daun Pandan

Dimuat di Majalah Bobo


Misteri Bau Daun Pandan
Sri Mulyani

Pulang sekolah Yogi melihat rumah Nek Gimo ramai sekali. Mama juga berada di sana. Rumah Nek Gimo berseberangan dengan rumah Yogi. Orang-orang yang datang ke rumah Nek Gimo mengenakan peci dan selendang.
“Ada apa, Ma?” Yogi berusaha mendekati Mama, menerobos kerumunan orang-orang.
“Nek Gimo sudah meninggal, Nak, baru saja.” Yogi melihat mata Mama kemerahan, habis menangis.
Kemarin memang Nek Gimo mengeluh demam. Yogi diminta Mama mengantarkan bubur untuk Nek Gimo. Selama ini Nek Gimo tinggal sendiri. Anak-anaknya tinggal di kota. Nek Gimo menolak tinggal di kota, tidak betah katanya, sewaktu ditanya Mama. Tetangga menyayangi Nek Gimo. Selalu ada yang datang ke rumahnya untuk menghantarkan makanan atau menemaninya ngobrol.



Nek Gimo orangnya rajin, rumahnya bersih, halamannya ditanami banyak pohon. Anak-anak suka bermain ke sana. Nek Gimo juga baik, anak-anak selalu diberi buah hasil panennya.
Yogi duduk diam-diam di sebelah Mama yang sedang meronce daun pandan dan bunga-bunga. Kalau ada orang meninggal, kegiatan ini selalu dilakukan oleh warga. Yogi suka bau daun pandan, mengingatkannya ketika Mama masak kolak pisang kesukaannya.
“Terimakasih banyak, Bu, Dik Yogi, selama ini sudah memperhatikan Ibu kami.” Salah seorang anak  Nek Gimo mengucapkan terimakasih pada Mama dan Yogi, sebelum keduanya pamit pulang, sesudah pemakaman nenek.
***
Yogi tiba-tiba terbangun dari tidur, di atap rumah terdengar berisik. Yogi mempertajam pendengarannya. Tak lama suara itu menghilang.
Ah, paling juga angin yang memainkan daun-daun, batin Yogi. Kembali dia merapatkan selimutnya, karena udara bertambah dingin. Malam ini hujannya tidak begitu deras, tapi disertai angin yang lumayan kencang.
Suara itu muncul lagi, kali ini seperti suara langkah kaki. Yogi terbangun dan langsung duduk di sisi tempat tidurnya. Suara langkah kaki itu menjauh, lalu muncul lagi, tepat di atap kamar yang Yogi tempati.
“Bau daun pandan?” tubuh Yogi merinding.
             Yogi teringat daun pandan yang sangat banyak tadi siang, yang dironce oleh mamanya, di rumah nek Gimo. Yogi takut, selimutnya ditarik menutupi sekujur tubuhnya, telinganya ditimpa bantal. Tak lama, Yogi kembali tertidur pulas.
***
“Tadi malam, di atap kamarku ada suara orang jalan, lho, Raf.” di kelas Yogi bercerita pada Rafi, teman semejanya, yang juga tetangganya. Rumah Rafi bersebelahan dengan rumah Nek Gimo.
“Ah, serius kamu?” Rafi penasaran.
“Serius. Lalu tidak lama tercium bau pandan. Kamu ingat, sewaktu Nek Gimo meninggal, kan daun pandan banyak dipakai?” Yogi berbisik di telingan Rafi. Rafi jadi ketakutan.
“Berarti Nek Gimo datang ke rumahmu, Yog?” Rafi hampir berteriak. Yogi mengangguk, menutup mulut Rafi agar tidak didengar teman yang lain.
Yogi tidak konsentrasi mengikuti pelajaran hari ini. Dia gelisah memikirkan apa yang akan terjadi nanti malam.
***
“Pa..Pa..Mama..”  Yogi mengetuk pintu sekeras-kerasnya. Tubuhnya menggigil ketakutan. Suara itu datang lagi, bau pandan membuat Yogi berkeringat dingin. Mama keluar, langsung memeluk tubuh Yogi, Papa segera memeriksa keadaan kamar Yogi.
“Apa yang terjadi, Nak? Tidak ada apa-apa di kamar Yogi, kok?” Papa juga ikutan khawatir, memegang bahu Yogi.
“Tadi..tadi..ada suara langkah kaki di atap rumah. Tidak lama tercium bau pandan, Maa...” wajah Yogi pucat sekali. “Kemarin kaaann...” Yogi  tidak meneruskan kalimatnya, menghambur ke pelukan papanya. Seperti tahu jawaban masalah Yogi, Mama tersenyum, lalu berjalan menuju dapur.
“Biar Papa saja, Ma!” Papa melepaskan pelukan Yogi, kemudian mengaduk isi laci lemari dapur, mencari senter.
“Papa mau ke mana, jangan keluar!!” teriak Yogi tiba-tiba.
             Papa merapatkan jari telunjuk ke bibirnya, meminta Yogi untuk tidak berbicara. Mama merangkul bahu Yogi, mengajaknya mengikuti Papa yang berjalan merunduk-runduk.
Papa membuka pintu belakang pelan-pelan. Yogi terus memegangi tangan mamanya. Tiba-tiba melompat seekor hewan dari atap menuju tembok belakang rumah.
“Binatang apa itu, Pa? Bukan kucing kan? Ekornya panjang sekali!!” Yogi berteriak tertahan.
            Papa menyorotkan lampu senter ke arah binatang itu, matanya berkilat-kilat tertimpa cahaya. Binatang itu melompat ke atap milik tetangga belakang rumah, dan berlari menghilang di kegelapan malam.
“Itu namanya musang pandan.” Papa memain-mainkan cahaya lampu senter ke segala arah, menghilangkan ketegangan Yogi.
“Musang pandan? Jadi binatang itu yang menyebabkan bau pandan, Pa?”
            Papa mengangguk, tertawa pelan. Yogi terheran-heran. Mama meminta Yogi meneruskan pertanyaannya besok pagi. Meskipun masih penasaran, Yogi masuk kamar, melanjutkan tidurnya.
***
“Di buku cerita, musang itu berburu ayam, Pa. Sedang di rumah kita tidak ada ayam kan?” Yogi duduk di samping Papa, sudah berpakaian rapi, siap untuk sarapan. Nasi goreng sosis buatan Mama aromanya sudah menggoda sejak tadi. Sambil menyendok nasi, Yogi melanjutkan pertanyaan tadi malam.
“Mungkin tetangga kita ada yang memelihara ayam, atau sedang berburu tikus.” terang Papa. Sambil sarapan, mereka bercerita tentang hewan yang bernama musang. Ada banyak pengetahuan tentang musang yang diterangkan Papa dan Mama pada Yogi pagi ini.
Yogi sedih, saat menatap rumah Nek Gimo. Yogi membaca doa dalam hati. Kata Papa dan Mama, bila kita mengingat orang yang sudah meninggal, bacakanlah doa untuknya.
Selamat jalan, Nek!









Kamis, 27 Juli 2017

Bau Wangi di Rumah Kosong

Dimuat di Majalah Bobo

Bau Wangi di Rumah Kosong
Krismariana

“Doni, kamu berani kan ke rumah Nenek sendiri?” tanya Mama kepadaku. Mama mengulurkan rantang kepadaku.
“Sendiri?” tanyaku.
Mama mengangguk. “Papa masih ada rapat di kantor.”
Sebenarnya aku ingin menggeleng. Tapi kalau bukan aku yang mengantar makan malam Nenek, siapa lagi? Tidak mungkin Mama pergi yang mengantar. Kalau Mama pergi, Dik Alya yang masih bayi mesti diajak. Repot dan lama persiapannya. Padahal makan malam untuk nenek harus segera diantar. Biasanya Papa yang mengantar makan malam Nenek. Uh, kenapa sih Papa rapat segala?
“Tapi, Ma...” aku berusaha menolak.
Mama memandangku. Aku tahu, kali ini Mama tidak bisa dibantah. “Ayo, Don... Nenek sudah menunggu. Lagi pula, kalau kamu tidak segera berangkat, keburu hujan,” ujar Mama. “Nanti pulangnya biar Papa yang menjemputmu. Tunggu saja di rumah Nenek.”
“Baik, Ma,” jawabku, lalu kuterima rantang berisi lauk untuk Nenek.
Rumah Nenek tak terlalu jauh dari rumahku. Hanya tinggal lurus ke barat dari rumahku, lalu belok ke kiri sedikit. Yang membuatku enggan ke rumah Nenek adalahaku mesti lewat satu rumah kosong berpagar tinggi dan berhalaman luas. Kalau lewat sana siang hari, masih lumayan. Tapi kalau hari sudah gelap begini? Hii... Kata orang-orang rumah itu angker. Perutku melilit.
Dulu Mama pernah bercerita, rumah kosong itu milik seorang dokter. Dokter itu dulu teman Kakek dan beliau sudah lama meninggal. Tapi sayangnya dokter itu tak punya anak, jadi tak ada yang mewarisi rumah itu. Akhirnya rumah itu dibiarkan kosong begitu saja.
Dengan perasaan tak keruan, aku memakai sandal, lalu keluar halaman. Baru beberapa langkah keluar pagar, aku teringat cerita Randi, teman sebangkuku. Dia bilang pernah melihat sekelebat orang berbaju putih, masuk ke tanah kosong itu.
Randi cerita, kalau rumah itu sudah lama kosong.Tidak mungkin manusia biasa yang masuk ke situ. Bahkan kabarnya, akhir-akhir ini sering tercium bau wangi dari rumah itu.
 Dalam hati aku kesal, kenapa di saat aku harus ke rumah Nenek saat hari gelap begini, yang kuingat malah cerita seram Randi.
Kenapa sih Papa pulang malam? keluhku. Kalau ke rumah Nenek bersama Papa, aku tidak takut. Rasanya aneh pergi sendirian ke rumah Nenek saat petang seperti ini. Ini pengalamanku yang pertama. Kalau sudah malam, biasanya aku pergi ke rumah Nenek bersama Papa atau Mama.
Dari jauh, kulihat rumah kosong itu tampak muram. Di kiri kanannya tampak beberapa pohon menjulang. Perutku semakin melilit.
Jalan di depanku kosong. Jalanan redup. Sepertinya ada satu lampu jalan yang mati.
Sekarang aku berada di ujung timur tembok rumah kosong itu. Tanganku dingin. Aku betul-betul berharap ada Papa. Aku merasakan angin bertiup agak kencang. Mungkin sebentar lagi hujan turun. Samar-samar aku teringat lagi kata-kata Randi: “...akhir-akhir ini sering tercium bau wangi dari rumah itu.” Benar, mendadak hidungku mencium bau yang wangi. Hiyaaaa...
Aku berusaha berlari. Hosh... hosh! Seandainya aku tidak membawa rantang, aku bisa berlari lebih kencang lagi.
Untung rumah Nenek tidak terlalu jauh lagi. Di ujung jalan, aku berbelok ke kiri.
Kulihat pintu rumah Nenek terbuka. Aku langsung menghambur masuk.
“Nek! Nenek!” seruku dengan napas terengah-engah.
“Eh, Doni,” Nenek menyambutku dan menerima rantang yang kuulurkan. “Kamu seperti dikejar hantu.”
“Memang iya, Nek.” Napasku masih tersengal. “Hantu itu baunya wangi sekali!”
Tapi hei, bau wangi yang tercium dari arah rumah kosong itu sekarang semakin kuat! Aku langsung memeluk Nenek.
“Wangi bagaimana?” tanya Nenek.
“Pokoknya wangi!” aku mengeratkan pelukan.
Pelan-pelan Nenek melepaskan pelukanku, lalu berjalan ke arah meja tamu. “Baunya seperti ini?” Di telapak tangan Nenek ada dua kuntum bunga yang belum pernah kulihat. Bentuknya lonjong dengan ujung lancip. Baunya harum sekali.
“Ini apa, Nek?”
“Ini bunga cempaka. Wangi, ya?” jawab Nenek.
Rasa takutku perlahan-lahan mulai reda. “Kok Nenek bisa dapat bunga ini?” tanyaku lagi.
“Iya, tadi dibawakan Om Rahmat. Pohon bunga ini tumbuh di halaman rumah putih yang tadi kamu lewati. Kebetulan sekarang sedang berbunga.”
“Om Rahmat siapa?” Belum pernah kudengar nama itu.
“Oiya, Nenek lupa belum mengenalkannya padamu. Yuk ikut Nenek ke ruang makan.”
Aku mengekor Nenek dengan bingung.
“Ini Om Rahmat,” kata Nenek sambil menunjuk lelaki kurus berbaju putih. “Dia keponakan Dokter Tejo, pemilik rumah putih dekat ujung jalan situ. Sudah beberapa kali Om Rahmat menengok rumah Dokter Tejo. Katanya rumah itu akan diperbaiki.”
“Halo, Doni!” Lelaki itu tersenyum lebar.
“Tadi Nenek bercerita tentang kamu kepada Om Rahmat, Don,” Nenek menjelaskan. “Ayo, beri salam dulu.”
Aku mendekat dan bersalaman dengan Om Rahmat.

Sekarang aku mengerti, kurasa Om Rahmat itu yang dilihat Randi. Dan bau wangi yang tercium Randi itu pasti bau bunga cempaka. 

Kamis, 08 Juni 2017

Misteri Rumah Kaca


Dimuat di Majalah Bobo

Misteri Rumah Kaca
Melani Putri

            Phil menarik selimutnya rapat-rapat. Perlahan diliriknya jam dinding yang menunjukkan pukul 11.30 malam. Bayangan pohon cemara menari-nari di dinding kamarnya. Kriit..sesekali bunyi derit terdengar samar dari rumah kaca di halaman belakang. Masih jelas di mata Phil bayangan yang baru saja dilihatnya di rumah kaca. Ia bisa mengintip bangunan tua itu dari jendelanya.
            Siapa malam-malam begini di rumah kaca? Gumam Phil sambil menggigil. Ia urungkan niatnya untuk membangunkan Bibi Clara dan Nenek Emma. Mereka pasti sudah tertidur lelap, pikirnya. Lewat dari tengah malam Phil baru berhasil tidur.
            “Pagi Phil,” sapa Bibi Clara. Di dapur, Nenek sedang menyiapkan bubur ayam kesukaan Phil. Ia  sangat senang jika ada cucunya yang datang menginap di rumahnya. “Kok seperti masih mengantuk?” Tanya Bi Clara.
            “Pagi Bi,” jawab Phil sambil mengucek mata. Ia lalu bercerita mengenai peristiwa semalam.
            “Hmm aneh,” ujar Bibi Clara. “Sejak kakek meninggal setahun yang lalu, rumah kaca itu tidak ada yang mengurus.” sambungnya. Di rumah ini Nenek Emma hanya tinggal berdua dengan Bibi Clara yang belum menikah. Bibi Clara adalah adik ayah Phil, mereka hanya dua bersaudara.
            “Pagi ini aku akan mengecek ke sana,” ujar Phil.
            “Boleh saja, tapi semalam anginnya memang kencang. Mungkin yang kamu lihat cuma bayangan pohon yang bergerak.” Bibi Clara pamit berangkat kerja. Biasanya ia baru akan pulang setelah jam makan malam.
            Phil menatap bangunan rumah kaca di hadapannya. Dinding kacanya buram berlapis debu. Tanaman rambat menjalar liar menutupi sisi sampingnya. Semasa hidupnya, kakek Phil sangat suka berkebun. Dulu saat masih kecil, Phil sering bermain di rumah kaca ini.
            Ragu-ragu Phil berjalan mendekat. Tiba-tiba ia melihat bagian bawah pintu kaca pecah. Nampaknya masih baru, gumam Phil mengamati kaca yang berserakan.
            “Aku bisa membantu memperbaiki,” tiba-tiba suara berat terdengar. Phil meloncat saking kagetnya. Ia berpaling dan melihat sosok berjanggut sudah berdiri di belakangnya.
            “Astaga, Pak Ronal!” seru Phil.
            “Maaf, tadi saya sudah memanggil dari depan. Mungkin kamu tidak mendengar.” PakRonal menuju ke gudang kecil dan mengambil kotak alat. Dengan cekatan ia menutup bagian bawah pintu kaca dengan papan tipis. Pak Ronal adalah teman Kakek Phil. Dulu ia sering datang dan membantu Kakek merawat tanaman di rumah kaca. “Aku bermaksud menemui Clara,” ujarnya.
            “Bibi sudah berangkat kerja,” sahut Phil.      
“Sayang sekali, harusnya rumah kaca ini bisa dimanfaatkan.” Seru Pak Ronal seakan tidak mendengar jawaban Phil.
Phil mengamati lelaki tua itu. Pak Ronal tinggal di sebelah rumah. Ia juga sangat hapal dengan rumah kaca ini. Mungkinkah yang semalam ia lihat adalah bayangan Pak Ronal?
Jam menunjukkan pukul 11 malam. Sebentar-sebentar Phil mengamati rumah kaca dari balik jendelanya. Tiba-tiba ia melihat sekilas bayangan bergerak di sana. Phil bergegas ke kamar Bibi Clara dan mengetuk pintunya. Siang tadi Phil sudah menelepon bibi dan menceritakan tentang kaca yang pecah serta Pak Ronal yang mencurigakan. Bibi Clara menyetujui rencananya, mereka akan menguak misteri bayangan di rumah kaca.
Lampu senter Phil menyorot pintu kaca yang sedikit terbuka. Perlahan-lahan ia masuk ke dalam. Bibi Clara bersiaga di luar pintu sambil bersiap menelepon polisi dengan ponselnya.
Phil mematikan senter. Ia bisa melihat isi ruangan itu samar-samar. Sinar bulan purnama menerobos masuk melalui atap rumah kaca. Beberapa rak kayu berisi pot kosong berdiri di sisi ruangan. Seketika ia menatap bayangan sedang duduk di kursi di tengah ruangan. Phil tercekat dan  tanpa sengaja tangannya menyenggol pot yang ada di sebelahnya. Bruk!
“Siapa itu?” seru bayangan tadi. Phil kaget mendengar suara yang tidak asing di telinganya.
“Nenek?” seru Phil.
Bibi Clara berlari masuk. Mereka menghampiri nenek yang sama terkejutnya.
“Ibu sedang apa?” tanya Bibi Clara.
“Sedang melihat bintang” jawab Nenek. “Saat langit terang, kadang ibu ke sini untuk mengenang Ayahmu” sambungnya sambil menitikkan air mata.
Bibi Clara memeluk nenek sambil menangis. Phil merasa sedih sekaligus lega, karena bayangan yang dilihatnya ternyata adalah neneknya sendiri. Kaca yang pecah pun akibat terbentur tongkat nenek. Rupanya sejak ditinggal kakek, nenek sangat kesepian.
Pagi ini Bibi Clara yang membuat sarapan. Nenek Emma duduk menikmati tehnya di teras depan. Liburan Phil di rumah Nenek akan segera berakhir. Ia sedang menunggu ayah dan ibu datang menjemputnya.
Pak Ronal datang bersama istrinya. Siang hari Ia akan bekerja merawat rumah kaca peninggalan kakek. Istrinya akan bekerja membantu sekaligus menemani nenek di rumah. Phil merasa bersalah sudah sempat mencurigainya. Ternyata kemarin Pak Ronal bermaksud menceritakan ke bibi Clara bahwa ia  melihat nenek berjalan ke rumah kaca tengah malam.
“Jangan khawatir, Phil” seru Bibi Clara. “Mulai sekarang, Bibi akan pulang kerja lebih cepat, agar bisa menemani Nenek makan malam. Bibi juga akan lebih sering mengajak Nenek berjalan-jalan,” ucapnya tersenyum. Phil merasa lega, dalam hati ia juga berjanji akan lebih sering datang ke sini mengunjungi neneknya.        


Selasa, 23 Mei 2017

Rahasia Kate

                                               
Dimuat di Majalah Bobo
     
                                                     Rahasia Kate
                                                               Oleh  Dian Onasis

Cleo memasukkan tempat minumnya ke tas. Matanya melirik Kate yang duduk di sebelah kirinya.
“Wah, tempat minum baru lagi, Kate?” tanya Cleo. Hal ini menarik perhatian Cleo. Soalnya, dalam 2 bulan ini Kate menggunakan 3 tempat minum baru secara bergantian. Tentu menyenangkan punya tempat minum lebih dari satu. Tak perlu khawatir jika lupa mencucinya. Karena ada pengganti.
Tapi, Cleo tahu diri, tidak mungkin setiap bulan minta dibelikan tempat minum baru. Itu pemborosan namanya. Cleo teringat nasihat Mama untuk rajin berhemat dan menabung.
Kate tidak menjawab pertanyaan Cleo. Ia hanya tersenyum penuh rahasia. Kate sibuk merapikan isi meja, seperti yang diperintahkan Miss Rona. Cleo pun membuka bagian atas meja dan memastikan semua alat tulis dan bukunya sudah rapi
"Sssttt, Kate, bukannya bulan lalu, kamu baru beli tempat minum?” Cleo kembali bertanya.
Kate tidak menjawab. Ah, Kate sok misterius, batin Cleo kesal sambil memonyongkan bibirnya. Tumben Kate punya rahasia. Cleo lalu menjulingkan matanya ke hadapan wajah Kate. Kate tertawa geli
"Hihihi, kamu lucu, Cleo." Ujar Kate. Cleo nyengir. Cara seperti itu biasanya berhasil membuat Kate tertawa dan menceritakan rahasianya. 
"Ayolah Kate. Kuperhatikan, tempat minummu berganti terus. Apa Papa Mamamu tidak keberatan? Itukan buang-buang uang namanya?” Cleo sok menasihati. Padahal Cleo tak sabar, ingin mendengar rahasia Kate itu.
Sayangnya, Kate senang membuat sahabatnya itu kesal. Kate suka melihat mata Cleo yang berwarna coklat itu berbinar-binar, karena ingin tahu. Kate tetap tersenyum geli melihat Cleo berusaha memancing jawaban. Cleo sudah mengubah wajahnya jadi bermacam bentuk, mulai dari hidung dikembang-kempiskan, mulut digerakkan kiri-kanan, mata dijerengkan  hingga dipelototkan. Tapi ternyata tak sukses membuat Kate membuka rahasianya.
Cleo tak sempat bertanya lagi, karena Miss Rona memerintahkan semua anak untuk berdoa pulang. Ketika keluar kelas, Mama Cleo sudah berdiri dekat motornya dan tersenyum ke arah Cleo. Kesempatan Cleo untuk menanyakan rahasia Kate, hilang. Tapi bukan Cleo namanya, jika tidak mencari tahu. Cleo tak mau menyerah begitu saja. 
Sore hari, selepas mandi, Cleo segera mengeluarkan sepedanya. Setelah pamit pada mama, ia langsung ngebut bersepeda ke arah rumah Kate. Rumah mereka memang tidak jauh. Hanya butuh 5 menit naik sepeda, Cleo sudah berada di depan pagar rumah Kate. Cleo juga tidak memberitahu Kate, jika ia hendak main ke rumah Kate.
Setiba di depan pagar, Cleo mengintip ke halaman. Ia melihat Kate sedang berjongkok. Di sebelah Kate, ada Papanya. Mereka terlihat asyik membuat sesuatu.
"Selamat sore!" teriak Cleo dari depan pagar. Suara itu mengagetkan Kate. Kate melihat ke pagar, dan sedikit kaget melihat Cleo. Namun Kate langsung tersenyum lebar.
"Wah, kamu benar-benar penasaran ya!" Kata Kate sambil membukakan pintu pagar untuk Cleo. Cleo tertawa tanpa suara. Giginya yang ompong di bagian bawah, tak dipedulikannya.
"Sore Cleo, apa kabar?" tanya Papa Kate.
"Sore Om. Kabarku baik, Om.” Jawab Cleo. “Om dan Kate lagi ngapain?”
 "Oh Ini? Om sedang mengajari Kate melukis gambar baru pada botol bekas minuman.  Cleo tertarik?" Papa Kate menunjukkan hasil karyanya bersama Kate. 
Mata Cleo membelalak. Mulutnya sedikit terbuka. Ia terpukau melihat ada banyak  botol bekas minuman air mineral yang sudah dilukis. Ada gambar Olaf dari film Frozen, Doraemon, Kelinci Biru dan banyak lainnya. Cleo suka  semua tokoh kartun. Semuanya keren-keren.
“Wah, jadi ini rahasiamu, Kate?” Tanya Cleo sambil mendekat dan memperhatikan hasil karya Kate. Kate mengangsurkan kuas dan beberapa wadah cat kecil ke dekat Cleo.
“Ini, kau bisa coba memberi warna dasar untuk botol yang itu.” Kate menunjuk sebuah botol bekas yang paling besar. Cleo mengangguk dan langsung mewarnai botol tersebut dengan warna orange.
“Tapi, sebetulnya apa hubungannya botol bekas ini dengan tempat minuman baru yang kau punya, ya, Kate?” tanya Cleo sambil terus mengecat. Kate tersenyum. Ternyata Cleo masih penasaran.
“Kau ingat tidak, 2 bulan lalu, aku tidak ikut main sepeda ke rumah Miss Rona?” tanya Kate. Cleo mengangguk.
“Nah, waktu itu, aku bersama papa pergi membeli botol bekas dari tempat pemulung. Lalu aku diajari melukis oleh papa. Hasil dari melukis botol bekas ini kutitipkan Papa. Papaku punya teman yang suka mendaur-ulang benda. Ia menerima, kemudian menjual pot bunga untuk taman gantung. Potnya dibuat dari botol bekas minuman seperti ini,” jelas Kate. Cleo memandang beberapa botol yang sudah dikerjakan Kate.
“Aku diberi satu paket cat dari teman Papa. Lalu untuk setiap lukisan satu botol,  aku diberi uang Rp.2.000,- rupiah. Jika aku membuat 5 dalam seminggu. Aku sudah punya  Rp.10.000,- per minggu.  Dalam sebulan, aku sudah bisa menabung atau membeli benda kesukaanku. Iya kan Pa?” Kate meminta persetujuan pada Papanya. Papa Kate mengangguk
“Wah, kalau aku melukis botol juga, apakah aku boleh titip juga, Om?” harap Cleo. Papa Kate kembali mengangguk.
Senyum Cleo melebar. Tak lama Cleo sudah asyik menemani Kate melukis botol bekas. Mulut kecilnya bergerak-gerak lucu, saat melukis botol. Ia sudah membayangkan akan membeli tempat minum baru bulan depan, atau mungkin liontin kecil untuk mama, atau bisa jadi gelas minum teh untuk papa.