Kamis, 05 Januari 2017

Kembar Juga Berbeda

Ilustrasi : Diani Hapsari

                  
                   Kembar Juga Berbeda
                          Bambang Irwanto

Pili dan Lipi baru saja melangkah memasuki halaman sekolah kurcaci. Tiba-tiba Lala kurcaci berlari menghampiri mereka. Lala sampai terengah-engah.
“Pili, ayo ikut aku!” ajak Lala bersemangat.
“Ada apa, La?” tanya Pili. Tidak biasanya Lala bersemangat seperti  itu.
“Ayo!” Lala malah menarik tangan Pili. Lipi mengikuti Lala dan Pili.
Ternyata Lala mengajak Pili menuju majalah dinding sekolah. “Coba Lihat pengumuman ini!” tunjuk Lala.
Pili segera membaca pengumuman itu. “Wah... aku menang lomba baca puisi!” sorak Pili sambil meloncat-loncat kegirangan.
“Selamat ya, Pili! Kamu hebat!” puji Lala sambil menjabat tangan Pili.
“Wah, aku tidak menang,” ucap Lipi kecewa. Kemarin ia juga ikut lomba baca puisi bersama Pili.
Tidak berapa lama teman-teman lain ikut memberi selamat pada Pili. Tentu saja Pili senang sekali. Sedangkan Lipi hanya terdiam di samping Pili.
“Lipi, kamu kok tidak bisa baca puisi sebagus Pili?” tanya Sashi.
Lipi terkejut dengan pertanyaan Sashi. “Eh, aku bisa kok. Hanya tidak sebagus Pili,” jawab Lipi agak kesal.
“Kok bisa begitu? Kalian kan kembar?” tanya Merry.
Pili hendak menjawab, tapi bel emas berbentuk jamur sudah berbunyi. Lipi, Pili dan  teman-teman lain segera masuk kelas. Di kejauhan tampak Bu Guru Milika menuju kelas.
Begitulah, sepanjang hari itu teman-teman terus membicarakan kehebatan Pili yang menang lomba baca puisi. Mereka juga tidak henti-hentinya membandingkan antara Pili dan Lipi. Tentu saja Lipi semakin kesal.
“Kamu kok cemberut terus, Lip?” tanya Pili saat meraka pulang sekolah bersama.
“Aku kesal, Pil! Teman-teman selalu membanding-bandingkan kita. Aku kan tidak bisa baca puisi sebagus kamu,” jawab Lipi.
Pili mengangguk. Walau begitu, Lipi sudah berlatih keras juga waktu ikut lomba baca puisi.
Sehabis makan siang, Lipi mengurung diri dalam kamar. Lipi pasti masih memikirkan kejadian di sekolah tadi. Pili ikut sedih. Ia berpikir mencari cara menghibur Lipi.
“Lipi, majalah anak kurcaci terbaru sudah datang. Kamu boleh kok membaca duluan,” kata Pili.
“Tidak usah, Pil. Kamu baca aja duluan,” jawab Lipi dari dalam kamar.
Ehm, apa yang harus aku lakukan untuk menghibur Lipi, ya? pikir Pili sambil membuka-buka halaman majalah Anak Kurcaci.
Ah... ini dia. Aku tahu, Mata Pili berbinar saat membuka halaman 20. Kini ia tahu cara menghibur Lipi. Lipi pasti senang, gumam Pili dalam hati.
Esok harinya, ternyata Lipi masih sedih. Sepanjang perjalanan ke sekolah, ia diam saja.
“Sudah dong, Lip! Jangan sedih terus,” hibur Pili.
“Iya, Pil. Aku masih sedih, karena aku tidak bisa sehebat kamu membaca puisi. Kita kan kembar.”
Pili hanya tersenyum. “Ehm, sebentar lagi kamu juga akan senang, Lip!”
“Maksud kamu apa, Pil?” tanya Lipi heran.
Pili tidak menjawab. Ia malah mempercepat langkahnya agar segara sampai di sekolah.
Akhirnya Lipi dan Pili sampai di sekolah. Pili sengaja menunggu teman-teman berdatangan dulu.
“Teman-teman.. aku punya kabar gembira,” teriak Pili.Semua teman-teman menoleh heran kepada Pili.
“Berita apa, Pili?” teman-teman berlomba bertanya ingin tahu.
“Gambar Lipi dimuat di majalah Anak Kurcaci edisi terbaru,” jawab Pili.
“Wah.. hebat. Pasti gambar Lipi bagus sekali,” kata Carla.
Pili lalu mengeluarkan majalah Anak Kurcaci dari tasnya. Teman-teman berebut ingin melihat. Mereka semua memuji gambar Lipi.
“Jadi gambarku dimuat, Pil?” tanya Lipi tidak percaya.
Pili mengangguk. “Iya, gambar yang kamu kirim sebulan lalu,” jawan Pili.
“Wah, Lipi hebat. Aku saja berulang kali kirim gambar belum dimuat,” kata Dibo.
“Kamu juga bisa menggambar sebagus gambar Lipi, Pil?” tanya Merry pada Pili.
“Tentu saja tidak bisa,” jawab Pili.
“Kok tidak bisa, Kalian kan kembar?”
“Walau kami kembar, tapi kemampuan kami berbeda. Aku hebat baca puisi, Lipi hebat menggambar,” Pili menjelaskan.
Semua mengangguk setuju dan mengerti.
Lipi tersipu malu. Seharusnya ia tidak perlu iri dan sedih dengan kehebatan Pili baca puisi, karena ia juga punya kehebatan sendiri.
“Lip, bengong saja,” Pili menyenggol lengan kanan Lipi. “Jangan lupa, besok traktir aku bolu cokelat panggang, ya!”
Lipi tertawa. “Sip! Spesial dua untukmu,” Lipi mengedipkan mata kanannya pada Pili.




Kisah Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)



Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati memiliki nama asli Syarif Hidayatullah. Di usianya yang baru menginjak 20 tahun, beliau sudah ditinggal mati ayahnya. Beliau didaulat menjadi Raja Mesir menggantikan ayahnya, namun Sunan Gunung jati tidak menyetujuinya, beliau lebih memilih berdakwah menyebarkan agama Islam bersama ibunya di tanah jawa. Kedudukan tersebut kemudian diberikan kepada adiknya

Kisah Sunan Muria (Raden Umar Said)



Sunan Muria

Sunan Muria mempunyai nama asli Raden Umar Said, beliau merupakan anak kandung dari Sunan Kalijaga (Raden Said) dan Dewi Saroh. Beliau mewarisi bakat ayahnya dalam berdakwah, cara yang dilakukan agar masyarakat memeluk agama Islam pun dengan cara yang halus. Beliau tinggal Gunung Muria.

Di Gunung Muria tersebut beliau melakukan dakwahnya. Letak Gunung Muria ini berada di sebelah

Selasa, 03 Januari 2017

Pawai Sepeda Hias

Dimuat di Harian Solopos

                                                         Pawai Sepeda Hias
                                                         Oleh : Dian Sukma Kuswarhani

Seminggu lagi akan ada pawai sepeda hias. Semua anak kelas lima yang memiliki sepeda, boleh ikut. Adit sebenarnya ingin ikut, tapi ia ragu saat memandangi sepedanya.
Adit yang mengayuh sepeda di samping Rino, menatap sepeda temannya itu. Sepeda Rino masih bagus. Catnya mulus. Warnanya hitam-merah. Keren sekali. Jauh berbeda dengan sepeda Adit.
Namun kemudian Adit ingat betapa gembira dirinya saat Bapak pulang membawa sepeda itu. Bapak memang membeli sepeda Adit di tukang loak. Bapak lalu memperbaikinya. Adit mengecat sepedanya dengan cat minyak agar tidak tampak bagian yang berkarat. Akhirnya ia bisa memiliki sepeda. Jadi Adit merasa tak perlu malu dengan sepedanya.
Keesokan hari di kelas, Bu Guru mendata anak-anak yang mau ikut sepeda hias. Adit ikut mengacungkan tangannya.
“Sepeda butut dilarang ikut, Dit!” celetuk Galih. Sebagian anak di kelas ikut tertawa.
“Tidak betul itu. Semua boleh ikut,” balas Bu Guru. Adit tersenyum lega.
“Setiap sekolah akan dinilai oleh panitia pawai. Sekolah dengan tim sepeda hias terbaik akan mendapat hadiah,” lanjut Bu Guru menambah semangat anak-anak.
Saat istirahat, Galih mendatangi meja Adit. Ia meminta Adit mengurungkan niatnya ikut sepeda hias.
“Sepeda BMX-mu model lama, Dit. Tidak sama dengan sepeda federal teman-teman. Sepedamu juga sudah jelek. Nanti kita tidak bisa menang,” bujuk Galih.
Adit sedih. Ia merasa ucapan Galih ada benarnya. Sepedanya yang berbeda itu bisa membuat tim sekolahnya tidak kompak. Tapi Adit benar-benar ingin ikut pawai.
“Tadi kata Bu Guru tidak apa-apa,” ucap Adit. Rino yang duduk di samping Adit ikut mengiyakan.
“Ya sudah, ikut saja kalau kamu mau sekolah kita kalah,” tukas Galih galak. Adit jadi serba salah.
Anak-anak sepakat membuat hiasan dengan tema kebun.
Saat ditanya akan menghias sepedanya dengan model apa, Adit malah berkata, “Aku tidak jadi ikut.”
Galih tampak senang dengan keputusan Adit.
Sejak hari itu, teman-teman Adit sibuk menghias sepedanya. Tak terkecuali Rino. Rino meminta Adit membantunya. Rino akan membuat hiasan kepik merah.
Adit membuat kerangka kepik dari sebilah bambu. Rino menggunting-gunting kertas hiasnya sesuai dengan pola. Kertas hias itu lalu dilem pada kerangka bambu yang sudah dipasang di sepeda.
“Wah, bagus sekali. Cocok dengan warna sepedaku. Terimakasih ya, Dit,” ujar Rino.
Adit senang bisa membantu Rino. Meskipun tidak ikut pawai, setidaknya dia sudah terlibat mempersiapkannya.
“Nanti pas pawai, kamu ikut saja, Dit. Tidak perlu masuk barisan. Kamu bisa mengikuti di pinggir atau di belakang. Masa satu kelas cuma kamu saja yang tidak ikut,” usul Rino.
“Ide bagus. Kalau sekedar ikut meramaikan dari jauh kan tidak apa-apa. Kalian pakai seragam olahraga, ya? Aku pakai kaos bebas saja biar tidak disangka peserta,” sambut Adit.
Rino dan Adit lalu membereskan alat-alat dan kertas hias. Rino terlalu banyak membeli kertas hias. Kertas itu masih banyak tersisa. Adit memintanya untuk dibawa pulang.
***
Pawai sepeda hias diadakan di hari minggu pagi. Bu Guru meminta anak-anak berkumpul di sekolah terlebih dulu. Sekarang, halaman sekolah penuh dengan sepeda yang dihias aneka rupa. Ada yang berbentuk aneka macam bunga, kaktus, kupu-kupu, kepik, dan masih banyak lagi. Bu Guru mengabsen satu per satu sebelum mereka berangkat.
“Adit!” seru Bu Guru.
“Adit tidak ikut, Bu,” jawab Galih.
“Saya di sini, Bu,” sahut Adit tiba-tiba. Galih heran melihat Adit ikut berkumpul.
“Tenang saja. Aku hanya akan mengikuti dari jauh kok. Lihat, aku juga tidak pakai seragam,” ucap Adit pada Galih.
Bu Guru memperhatikan sekeliling. Ia melihat sepeda Adit yang disandarkan di bawah pohon mangga.
“Itu sepedamu kan, Dit? Sudah dihias juga. Kenapa tidak jadi ikut?” tanya Bu Guru heran. Teman-teman Adit ikut menoleh memperhatikan sepeda Adit.
Adit memakai kertas sisa dari Rino untuk menghias sepedanya. Ia membuat bentuk belalang. Cocok sekali dengan model sepeda BMX-nya.
“Kalau begitu, Adit ikut pawai saja,” celetuk Eno.
“Sepedaku kan beda dengan sepeda kalian. Nanti tidak kompak,” balas Adit.
“Siapa yang bilang begitu? Bu Guru kan sudah bilang tidak apa-apa. Yang penting tema hiasannya sama. Sudah sana cepat ganti kaosmu!” perintah Bu Guru.
Adit senang sekali mendengar ucapan Bu Guru. Ia segera kembali ke rumah untuk berganti seragam olahraga. Tidak sia-sia dia menghias sepedanya semalaman. Akhirnya Adit bisa ikut pawai sepeda hias. Adit melihat Rino mengacungkan kedua jempolnya. Adit tersenyum. Sedangkan Galih hanya diam, tak bisa protes lagi.

Sabtu, 31 Desember 2016

Rahasia Arumi



Dimuat di Majalah Bobo 


              Rahasia Arumi 
                                                                 Oleh : Ruri Irawati
Sudah dua hari ini, Farah bingung sekali. Sejak ia memberikan kado ulang tahun untuk Arumi, sahabat barunya, sikap Arum jadi berubah. Arum seakan sengaja menghindarinya. Tapi Farah tak tahu apa salahnya. Hmm… apakah mungkin karena kado celengan ayam itu ya, pikir Farah.
Arumi Putri adalah siswi pindahan ke sekolah Farah sejak sebulan yang lalu. Pertama kali dia muncul di sekolah, dia sudah mencuri perhatian teman-teman satu sekolah. Arumi datang ke sekolah dengan diantar mobil mewah. Sepatunya hitam mengkilap. Rambut dan kulitnya pun tak kalah berkilau. Cantik dan terawat. Ia begitu sempurna seperti seorang putri.
***
“Arum, kamu marah ya dengan kado celengan ayam yang murah itu?” Farah mendekati Arumi dan bertanya pelan. Hari ini Farah memutuskan untuk berbicara dengan Arumi. Ia tak tahan dijauhi oleh sahabatnya tanpa tahu alasannya.
“Maaf ya, kalau kamu nggak suka, kamu boleh kembalikan ke aku,” lanjut Farah. Arum hanya terdiam. “Tapi kita berteman lagi ya,” ajak Farah berbaikan. Perlahan Arum mulai menengok ke arah Farah dan menggeleng.
“Bukan Far, bukan karena kado yang murah. Tapi karena ada sesuatu yang belum bisa aku ceritakan sama kamu,” jawab Arum membuat Farah heran. “Aku ingin ceritakan sejak pertama kita kenalan, tapi belum berani,” lanjut Arumi.
“Cerita apa?” kali ini Farah yang penasaran.
“Nanti kamu pulang sekolah bareng aku ya. Ada yang ingin aku tunjukkan ke kamu,” jawab Arumi. Ah… Farah semakin dibuat penasaran.
“Kita berteman lagi, kan?” tanya Farah sambil tersenyum. Arumi merangkulnya sambil tersenyum
“Kita, kan, tak pernah bermusuhan!”
***
Tak seperti biasanya, pulang sekolah ini Farah ikut duduk di samping Arumi di dalam mobil mewahnya. Hati Farah bertanya-tanya, kemanakah tujuan mereka.
“Aku ingin nunjukkan rumahku ke kamu, Far,” tiba-tiba Arumi berkata menjawab pertanyaan Farah yang tak terucap.
“Rumahmu? Aku kan sudah tahu dimana rumahmu, Rum,” jawab Farah. Hatinya sedikit kecewa. Apa Arumi mau memamerkan isi rumahnya kepadaku? Pasti karena celengan ayam murah itu. Mungkin Arumi ingin menunjukkan kalau celengan ayam itu tak pantas berada di rumahnya yang isinya serba mahal. Huh… Farah menghembuskan napas kesal sambil menatap jalan dari jendela mobil di sampingnya. Namun, tunggu dulu, ini bukan jalan ke arah komplek mewah perumahan Arumi! Farah semakin bingung.
“Mau kemana kita, Rum?” tanya Farah lagi, memastikan.
“Tenang, Far, sebentar lagi kita sampai,” jawab Arumi sambil tersenyum.
Tak lama mobil berhenti di pinggir jalan. Arumi mengajak Farah turun dan menggandengnya memasuki gang kecil yang diapit rumah-rumah kecil saling berdempetan. Seribu pertanyaan di kepala Farah. Sampai akhirnya Arumi mengetuk pintu sebuah rumah kecil dan sempit.
Seseorang membuka pintu dari dalam. Farah kaget, ia mengenalinya! Bapak penjual celengan ayam, teriak Farah dalam hati. Farah membeli celengan ayam untuk Arumi dari bapak itu. Belum hilang kekagetan Farah, tiba-tiba Arumi mencium tangan si Bapak dan mengucapkan salam.
“Pak, ini temanku di sekolah. Farah namanya,” kata Arumi, “Farah, kenalkan ini bapakku, pengrajin dan penjual celengan ayam,” lanjutnya. Farah mencoba mengerti apa yang dikatakan Arumi.
“Ayo, masuk dulu. Sepertinya temanmu masih bingung, Arum,” ajak Bapak Arum. Segera Arumi memasuki rumah yang sempit itu diikuti dengan Farah. Farah memperhatikan isi ruangan yang penuh dengan celengan-celengan ayam yang siap untuk dijual. Tampak foto Arumi kecil yang diapit oleh bapak ibunya tergantung di dinding yang kusam.
“Silakan duduk, Farah. Maaf ya, rumah Bapak sempit. Bapak ambilkan minum dulu ya,” kata Bapak Arum dengan senyum ramah. Farah menganguk sopan.
“Pasti kamu bingung kan, kalau bapakku penjual celengan ayam?” tanya Arumi bercanda. Farah mengangguk menunggu penjelasan Arumi.
“Kuceritakan ya … Ini adalah rumah bapak dan ibu kandungku, Farah. Aku lahir dari keluarga sederhana. Ibuku meninggal 6 tahun yang lalu karena kecelakaan lalu lintas. Sejak itu aku diadopsi oleh Papa Mama yang sekarang. Papaku teman baik Bapak. Mereka baik dan mengajak aku tinggal di rumah mereka. Agar punya kamar sendiri dan belajar dengan baik. Kebetulan, Papa Mama tidak punya anak. Aku dirawat seperti anak Papa Mama sendiri,” Arumi bercerita panjang. “Sementara, Bapak ingin tetap tinggal di rumah ini. Aku diizinkan menengok Bapak kapanpun aku mau. Aku juga sering menginap di sini,” lanjutnya.
“Oh … begitu,”  kata Farah, mulai paham.
“Nah, aku kaget sekali saat kamu memberiku kado celengan ayam. Aku pikir, kamu tahu tentang rahasiaku. Aku takut kamu tak mau berteman lagi denganku,” lanjut Arumi.
“Bagaimana mungkin?” tanya Farah Bingung.
“Di sekolah yang dulu aku sempat punya sahabat. Dia menjauhiku ketika tahu aku hanya anak seorang penjual celengan ayam,” jelas Arumi lagi, “Aku berharap bisa tetap jadi temanmu, walaupun kamu tahu keadaanku, Far,” kata Arum pelan.
“Tentu saja Arum! Kau adalah sahabatku terbaik, tak peduli apa pekerjaan Bapakmu,” seru Farah sambil memeluk sahabatnya.
Ah… leganya hati Farah.  Masalah celengan ayam tak akan memisahkan persahabatan mereka.

Jumat, 30 Desember 2016

Proses Belajar di Kelas Kurcaci Pos

Mungkin banyak teman yang bertanya-tanya, bagaimana proses belajar di kelas menulis Kurcaci Pos. Ada sih, yang langsung inbox bertanya, dan senang hati saya akan jawab. Tapi bagaimana yang penasaran, tapi malu bertanya? Hehehe. Nah, biar teman-teman mengetahui proses kelas Kurcac i Pos, maka saya beberkan di sini. Biar tidak penasaran lagi hehehe...




Pembukaan kelas Baru
        Biasanya, setiap ada kelas baru Kurcaci Pos, maka saya akan umumkan di postingan facebook.  Setelah itu, bagi yang berminat, bisa inbox untuk mendaftar. Banyak juga yang awalnya komen di postingan. Hanya biasanya, langsung saya ajak lanjut di inbox.
       Dulu kelas kurcaci Pos itu maksimal 10 orang tiap kelas. Kemudian ada sistem pesan tempat. Nah, biar maksimal, maka kelas-kelas terakhir ini, cukup maksimal 6 orang saja, dan tidak ada pemesan tempat.  Jadi siapa yang duluan daftar, dia yang saya ikutkan. Bila lebih, maka saya masukkan daftar tunggu.

Postingan di Facebook
        Tapi saya juga memperhatikan keseriusan dan semangat yang mendaftar. Jadi kalau misalnya ada teman yang dulu daftar, terus batal tanpa konfirmasi, maka tidak akan saya terima. Soalnya selama ini alasannya karena lupa hehehe. Saya lebih suka memberi kesempatan teman-teman yang baru ikut, tapi dengan semangat menulis yang tinggi. 
         Nah, Setelah ada 6 orang mendaftar, maka otomatis pendaftaran saya tutup. Saya pun segera menghubungi mereka via inbox bersama. Selain konfirmasi untuk info kelas, saya juga mengkonfirmasikan nomor rekening saya untuk transfer fee kelas hehehe.
       Saya sengaja menetapkan waktu transfernya. Karena pengalaman dulu-dulu, sudah pesan tempat dan waktunya masuk kelas, ada yang tidak konfirmasi lagi. Setelah saya hubungi, katanya dia batal ikut. Kalau sudah begini, kasihan teman lain yang ingin ikut dan saya tolak kemarin. Jadi kalau sekarang ada batas waktunya, maka yang tidak transfer, saya anggap batal, dan masih bisa diganti teman lain.

Masuk kelas
      Setelah semua transfer, maka saya segera memasukkan teman-teman ke kelas yang memang sudah saya siapkan sebelumnya, yaitu di grup rahasia FB. Jadi hanya saya dan anggota yang bisa melihat hehehe.
        Biasanya, beberapa hari sebelum kelas. Selain bisa saling kenalan, teman-teman juga bisa melihat-lihat isi kelas. Saya memang selalu memposting duluan, contoh-contoh cerita saya yang dimuat di media anak. Jadi teman-teman sudah ada bayangan, cerita-cerita seperti apa yang sesuai dengan media yang akan dituju.
      
Contoh Postingan Cerita di Kelas
      Selanjutnya, prosesnya sama. Sebelum materi berlangsung, saya selalu posting contoh-contoh cerita dulu. Misalnya kelas senin depan materi fabel, maka hari sabtu atau minggu, saya sudah posting contoh fabel-fabel.

Proses belajar
      Proses belajar di kelas Kurcaci Pos, setiap materi diawali sharing dulu. Misalnya materi pertama adalah cerpen realis, maka kita akan sharing cerpen realis. Jadi saya posting materi singkat, teman-teman mengajukan pertanyaan, saya menjawab.
    Tentu saja, pertanyaannya tidak terbatas pada materi yang sedang disharing. Teman-teman boleh bertanya lainnya seputar dunia menulis cerita anak. Semakin banyak bertanya, malah semakin bagus, karena materi akan berkembang. Jadi kalau ikut kelas Kurcaci Pos, jangan ragu dan malu bertanya. Malu bertanya, sesat saat mengerjakan tugas hehehe...
         Setelah sharing selesai, maka teman-teman harus mengerjakan tugas sesuai materi. Misalnya materi sharing dongeng, maka teman-teman harus mengerjakan tugas menulis dongeng. Biar seru dan ada tantangannya, maka setiap tugas ada clue-nya. Jadi teman-teman terlatih mencari ide dari tantangan yang saya berikan. Waktu pengerjaan tugas seminggu. Yang penting sebelum materi baru berlangsung.
Beginilah Bentuk Koreksian Tugas

       Setelah mengerjakan tugas, teman-teman langsung setor ke saya. Tugas akan saya periksa. Bila masih ada koreksian, maka tugas saya posting di kelas dalam bentuk file. Tugas itu diunduh oleh si pemilik tugas, untuk dilihat balon-balon komentar dan catatan pada tugasnya. Dari masukan saya itu, teman-teman kembali merevisi tugasnya. Selesai merevisi, setor lagi ke saya. Tugas kembali saya periksa. Bila sudah saya ACC, maka tugas akan saya posting secara utuh di kelas. Tugas bisa dikirim ke media anak.
      Tugas ini, bisa diunduh siapa saja. Misalnya tugas si A, bisa diunduh oleh si B, C, D, E, dan F. Begitu juga sebaliknya. Jadi setiap ada tugas, teman-teman bisa mempelajari 6 tugas. Jadi bisa dijadikan pelajaran, agar semakin bagus saat mengerjakan tugas selanjutnya.
     Nah, begitulah proses kelas Kurcaci Pos. Simpel saja. Jadi saya tidak mengajarkan teori menulis ini dan itu. Tapi lebih pada pengalaman menulis saya. Berminat ikut kelas Kurcaci Pos? Silakan..
Kurcaci Pos


Rabu, 28 Desember 2016

Kelas Kurcaci Pos

Awal Mula Membuka kelas

       Kelas Kurcaci Pos adalah kelas menulis cerita anak online. saya membuka kelas ini, karena keinginan saya untuk berbagi pengalaman saya menulis cerita anak. Banyak sekali teman yang bertanya saya via inbox, bagaimana caranya menembus media anak, termasuk syarat mengirim naskah. Walau pengalaman saya cuma sedikit, tapi semoga bisa bermanfaat bagi teman lain.
       Awalnya, saya membuka kelas gratis. Namanya pun bukan kelas Kurcaci Pos itu gratis. Saya sengaja membuka audisi. Setiap orang mengirim naskah cerita anak yang ia tulis, lalu saya seleksi. Audisi ini pun berlaku hanya bagi teman yang baru belajar menulis, belum mempunyai buku, termasuk ceritanya belum pernah dimuat di media. Dari naskah yang masuk, saya memilih 3 peserta saja. Kelasnya pun hanya 4 kali, setiap minggu, dan 2 jam setiap pertemuan. Lalu setelah selesai materi, akan ada tugas menulis cerita.
       Saya membuka kelas  gratis ada 4 kali. Ada yang berhasil mengikuti kelas ini, namun lebih banyak yang usai kelas, kabarnya tidak ada. Bahkan ada yang saya keluarkan, karena tidak mengerjakan tugas, dengan alasan sibuk dan tidak punya waktu. padahal kalau memang niat menulis, maka waktu bukan masalah. Kita yang mengatur waktu menulis, bukan waktu menulis yang mengatur kita.
 

Kelas Kurcaci Pos

       Setelah itu, saya memutuskan untuk jeda sejenak membuka kelas. Namun beberapa teman menginbox saya. Mereka menanyakan, kapan buka kelas lagi. Termasuk yang pernah belajar di kelas Kurcaci Pos Gratis. karena saya melihat minat mereka besar, maka saya pun membuka kembali Kelas  kembali. Nah, biar seru, saya mencari nama kelas yang unik. Maka terpikirlah memberi nama kelas Kurcaci Pos. Namanya dari julukan saya, si "Kurcaci Pos" hehehe.
        Tapi saya tidak membuka pengumuman umum. Saya hanya mengontak teman-teman yang kemarin bertanya pada saya, dan memang serius belajar menulis cerita anak. Maka kelas pertama Kurcaci Pos online berbayar saya buka. Yang ikut hanya 6 orang. Ada 8 pertemuan.
Namun sayangnya, saat berlangsung, 2 orang tidak menunjukkan progres. Bahkan jarang masuk kelas. maka saya pun keluarkan. Apalagi mereka belum membayar uang kelas hehehe. Maka 4 orang kurcaci inilah yang melaju dan menyelesaikan kelas sampai selesai.
        Alhamdulillah, kelas Kelas Kurcaci pertama, ternyata banyak yang inbox saya. Mereka juga ingin ikut kelas kurcaci. Ternyata, 4 orang ini mempromosikan kepada teman yang lainnya. Maka Saya pun dengan senang hati membuka postingan umum. Tapi saya hanya menerima 6 orang saja. Akhirnya semakin lama, kuota kelas saya tambah, dan sekarang maksimal 10 orang tiap kelas. Dan sudah selesai 15 kelas. Sekarang masuk kelas ke 16.





 Sistem Belajar Kelas Kurcaci Pos  

        Mekanisme belajar kelas Kurcaci Pos sederhana saja. Setiap kelas, saya akan posting materi. lalu Kurcacies bertanya seputar materi. tentu saja boleh bertanya hal-hal lain, yang penting berhubungan dengan dunia menulis cerita anak. Curhat juga boleh. Misalnya kendala apa yang dihadapi saat sedang menulis cerita anak. karena itu, saya selalu menekankan, saat sharing berlangsung, terus bersemangat dan terus bertanya. manfaatkan waktu yang ada. Saya pun sesekali bercanda, "Ayo, terus semangat. Jangan biarkan saya makan honor buta!" atau "Semangat semua, biar nanti saya makan bakso tidak keselek, karena makan honor buta."
Saya juga selalu mengingatkan. Ikut kelas Kurcaci Pos jangan mau rugi. Bayar 350 ribu, harus bisa menghasilkan 3,5 juta, atau 10 cerita dengan honor 350 ribu.
         nah, selesai tiap materi, ada tugas. Tentu saja ada deadlinenya. Misalnya kelasnya senin, maka deadlinenya kamis atau jumat. Biar ada seru, tiap tugas ada tantangannya. Bisa hanya clue, nama tokoh, atau gambar. Kemudian saya akan koreksi dan posting di kelas. Yang belum pas, harus revisi. Yang sudah pas, bisa langsung kirim ke majalah anak. Bahkan d luar kelas, kurcacies tetap bisa inbox saya untuk bertanya.
        Alhamdulillah... sudah banyak cerita kurcacies dari hasil tugas yang dimuat.







                 
                                         Koreksian Tugas yang menggunakan balon Komentar


          Ahamdulillah, hasil tugas-tugas kelas Kurcaci Pos, sudah dimuat di berbagai media anak Indoensia. Bila teman-teman ingin membacanya, silakan mampir ke RUMAH KURCACI POS. Kebetulan sudah ada beberapa yang saya posting.


Kelas Kurcaci Pos Agustus 2017

       Kelas Kurcaci Pos akan kembali membuka kelas baru.

Inilah materi yang akan kita sharing :
1. Cerpen anak realis
2. Dongeng
3. Fabel
4. Cerita misteri dan cerita detektif

Kelas akan berlangsung, Mulai selasa 1 Agustus, pukul 19.00 - 21.00 wib.
selanjutnya, kelas akan berlangsung setiap hari dan jam yang sama.

setiap materi akan ada tugas dan ada deadlinenya. Jadi yang ikut, harus terus bersemangat. usahakan semua naskah tugas selesai. Jadi siapa kirim ke media.
Ikut kelas Kurcaci Pos jangan mau rugi.
Bayar 250 ribu, harus minimal menghasilkan uang 1 juta.
Hanya ada 6 kursi yang tersedia.

Tidak ada sistem pemesanan tempat. Ini untuk menghindari, menutup kesempatan bagi teman lain. Karena biasanya, ada yang sudah memesan tempat jauh hari, namun menjelang kelas dibatalkan.

Biaya kelas 250 ribu dan dibayar di depan

Silakan yang ingin ikutan.
Bisa langsung inbox.
Ingat ya, yang berminat harus serius, dan terus bersemangat belajar menulis cerita anak.
Salam semangat menulis, teman-teman...