Tampilkan postingan dengan label Serial Kurcaci Pili dan Lipi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serial Kurcaci Pili dan Lipi. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Januari 2017

Kue Cokelat Panggang untuk Ibu

                 
Ilustrasi Diani Hapsari

           Kue Cokelat Panggang untuk Ibu
                                      Bambang Irwanto

“Aduh... gosong lagi,” keluh Lipi saat mengeluarkan kue cokelat dari dalam oven.
Pili yang melihat asap mengepul-ngepul segera menghampiri saudara kembarnya itu.
“Yah..gosong.” seru Pili kecewa. “Padahal Ibu sudah mengajarimu cara memanggang kue.”
“Maafkan aku ya, Pi,” ucap Lipi menyesal. “Padahal aku sudah berusaha, tapi sayangnya aku lupa mengecilkan api kompor.”
“Ya, sudah. Tidak apa-apa kok. Yuk, kita membeli bahan kue lagi. Masih ada waktu kok, sebelum Ayah dan Ibu pulang.”
Lipi mengangguk.
Hari minggu ini, Lipi dan Pili berencana membuat kue bolu cokelat panggang untuk Ibu, sebagai hadiah ulang tahun. Makanya sejak pagi mereka sibuk di dapur. Ayah dan Ibu sedang pergi ke rumah Paman Kilu, adik Ibu.
Lipi dan Pili segera menuju toko Pak Hud di ujung desa. Bruk... Tiba-tiba Lipi dan Pili mendengar sesuatu, saat melewati kebun bunga Nenek Arita. Mereka bergegas melihat apa yang terjadi.
“Wah.. Nenek Arita terjatuh!” seru Pili sambil masuk ke kebun bunga dan membantu Nenek Arita berdiri. “Nenek tidak apa-apa?”
Nenek Arita menghapus keringat di dahinya. Iya, saya lelah sekali,” keluh Nenek Arita.
“Seharusnya Nenek beristirahat saja,” kata Lipi.
“Iya. Tetapi bunga-bunga di kebun harus segera dipetik. Sebentar lagi Pak Ron akan datang mengambil bunga untuk dijual di pasar.”
Pili menyenggol lipi. “Kita bantu Nenek Arita, yuk!”
Lipi terdiam sejenak. “Aduh...nanti kita telat membuatkan Ibu kue cokelat panggang.”
“Sebentar saja,” bujuk Pili.
Lipi akhirnya setuju. Ia dan Pili membantu Nenek Arita memotong bunga Lili. Ternyata bunga yang hendak dipanen banyak sekali. menjelang siang pekerjaan Lipi dan pili baru selesai.
“Wah.. Nenek Arita tertidur. Kita letakkan saja bunga-bunga Lili ini di teras,” kata Pili.
Setelah pekerjaan selesai, Lipi langsung menarik tangan Pili menuju toko  Pak Hud.
“Pak, kami ingin membeli bahan kue,” kata Lipi.
“Sayang sekali. tepung terigu baru saja habis. Nyonya Amelia memborong sekarung, karena besok ada pesta kecil di rumahnya,” kata Pak Hud.
Lipi langsung kecewa. “Aduh bagaimana ini, Pi?” semua gara-gara kamu yang membatu Nenek Arita.”
“Ya, mau bagaimana lagi. Masa kamu tega melihat Nenek Arita,” bela Pili.
Lipi berjalan pulang. Pili mengikuti langkah Lipi. Sepanjang perjalanan Lipi diam saja. Ia kesal sekali pada Pili.
“Lipi, Pili... ayo kemari!” panggil Nenek Arita saat Lipi dan Pili melintas di depan rumahnya.
Uh, pasti Nenek Arita meminta bantuan lagi, gumam Lipi kesal. Wajahnya langsung cemberut.
Lipi ingin berjalan pulang, tetapi Pili sudah menarik tangannya untuk menghampiri Nenek Arita yang berdiri di depan rumahnya.
“Nenek sudah sehat?” tanya Pili.
“Iya, Nenek tadi tertidur. Maaf ya, kalian pulang saat Nenek tidur. Padahal kalian sudah membantu Nenek.”
“Tidak apa-apa, Nek. Kami memang harus segera ke toko Pak Hud membeli bahan kue.”
“Oh ya. kalian ingin membuat apa?” tanya Nenek Arita.
Pili segera menceritakan pada Nenek Arita.
“Aduh, kasihan sekali. Gara-gara Nenek, kalian kehabisan tepung terigu. Ehm tapi Nenek ada akal. Ayo masuk!” nenek Arita membuka pintu lebih lebar.
Pili segera mengikuti Nenek Arita, sedangkan Lipi di luar saja.
“Lipi, ayo masuk!” ajak Pili.
“Uh.. pasti Nenek Arita ingin meminta bantuan kita lagi,” keluh lipi.
Lipi dan Pili menyusul Nenek Arita di dapur. Nenek Arita segera membuka lemari dapurnya. Ia mengeluarkan terigu, mentega, telur, cokelat.
“Nenek mau membuat kue?” tanya Lipi.
Nenek Arita mengangguk. “Iya, kue untuk Ibu kalian.”
“Betulkah, Nek?” tanya Lipi tidak percaya. Wajahnya langsung ceria.
“Iya, kalian kan, sudah membantu nenek. Kalian mau membantu nenek membuat kue kan?”
“Mau, Nek!” jawab Lipi dan Pili kompak.
Lipi membantu mengocok telur, sedangkan Pili membantu mengolesi margarin. Sebentar saja kue cokelat panggag sudah jadi.
“Wah... harumnya, Nek.” Puji Lipi
“Pulanglah, Ibu kalian pasti sudah menunggu.”
Setelah mengucapkan terima kasih, Lipi dan Pili pulang dengan gembira.
“Untung ada Nenek Arita ya, Pi. Kita bisa memberikan kue cokelat panggang untuk Ibu,” kata Lipi gembira.
“Iya dan dijamin rasanya enak dan tidak gosong,” goda Pili.
“Ah... Pili,” pipi Lipi bersemu merah.

Kamis, 05 Januari 2017

Kembar Juga Berbeda

Ilustrasi : Diani Hapsari

                  
                   Kembar Juga Berbeda
                          Bambang Irwanto

Pili dan Lipi baru saja melangkah memasuki halaman sekolah kurcaci. Tiba-tiba Lala kurcaci berlari menghampiri mereka. Lala sampai terengah-engah.
“Pili, ayo ikut aku!” ajak Lala bersemangat.
“Ada apa, La?” tanya Pili. Tidak biasanya Lala bersemangat seperti  itu.
“Ayo!” Lala malah menarik tangan Pili. Lipi mengikuti Lala dan Pili.
Ternyata Lala mengajak Pili menuju majalah dinding sekolah. “Coba Lihat pengumuman ini!” tunjuk Lala.
Pili segera membaca pengumuman itu. “Wah... aku menang lomba baca puisi!” sorak Pili sambil meloncat-loncat kegirangan.
“Selamat ya, Pili! Kamu hebat!” puji Lala sambil menjabat tangan Pili.
“Wah, aku tidak menang,” ucap Lipi kecewa. Kemarin ia juga ikut lomba baca puisi bersama Pili.
Tidak berapa lama teman-teman lain ikut memberi selamat pada Pili. Tentu saja Pili senang sekali. Sedangkan Lipi hanya terdiam di samping Pili.
“Lipi, kamu kok tidak bisa baca puisi sebagus Pili?” tanya Sashi.
Lipi terkejut dengan pertanyaan Sashi. “Eh, aku bisa kok. Hanya tidak sebagus Pili,” jawab Lipi agak kesal.
“Kok bisa begitu? Kalian kan kembar?” tanya Merry.
Pili hendak menjawab, tapi bel emas berbentuk jamur sudah berbunyi. Lipi, Pili dan  teman-teman lain segera masuk kelas. Di kejauhan tampak Bu Guru Milika menuju kelas.
Begitulah, sepanjang hari itu teman-teman terus membicarakan kehebatan Pili yang menang lomba baca puisi. Mereka juga tidak henti-hentinya membandingkan antara Pili dan Lipi. Tentu saja Lipi semakin kesal.
“Kamu kok cemberut terus, Lip?” tanya Pili saat meraka pulang sekolah bersama.
“Aku kesal, Pil! Teman-teman selalu membanding-bandingkan kita. Aku kan tidak bisa baca puisi sebagus kamu,” jawab Lipi.
Pili mengangguk. Walau begitu, Lipi sudah berlatih keras juga waktu ikut lomba baca puisi.
Sehabis makan siang, Lipi mengurung diri dalam kamar. Lipi pasti masih memikirkan kejadian di sekolah tadi. Pili ikut sedih. Ia berpikir mencari cara menghibur Lipi.
“Lipi, majalah anak kurcaci terbaru sudah datang. Kamu boleh kok membaca duluan,” kata Pili.
“Tidak usah, Pil. Kamu baca aja duluan,” jawab Lipi dari dalam kamar.
Ehm, apa yang harus aku lakukan untuk menghibur Lipi, ya? pikir Pili sambil membuka-buka halaman majalah Anak Kurcaci.
Ah... ini dia. Aku tahu, Mata Pili berbinar saat membuka halaman 20. Kini ia tahu cara menghibur Lipi. Lipi pasti senang, gumam Pili dalam hati.
Esok harinya, ternyata Lipi masih sedih. Sepanjang perjalanan ke sekolah, ia diam saja.
“Sudah dong, Lip! Jangan sedih terus,” hibur Pili.
“Iya, Pil. Aku masih sedih, karena aku tidak bisa sehebat kamu membaca puisi. Kita kan kembar.”
Pili hanya tersenyum. “Ehm, sebentar lagi kamu juga akan senang, Lip!”
“Maksud kamu apa, Pil?” tanya Lipi heran.
Pili tidak menjawab. Ia malah mempercepat langkahnya agar segara sampai di sekolah.
Akhirnya Lipi dan Pili sampai di sekolah. Pili sengaja menunggu teman-teman berdatangan dulu.
“Teman-teman.. aku punya kabar gembira,” teriak Pili.Semua teman-teman menoleh heran kepada Pili.
“Berita apa, Pili?” teman-teman berlomba bertanya ingin tahu.
“Gambar Lipi dimuat di majalah Anak Kurcaci edisi terbaru,” jawab Pili.
“Wah.. hebat. Pasti gambar Lipi bagus sekali,” kata Carla.
Pili lalu mengeluarkan majalah Anak Kurcaci dari tasnya. Teman-teman berebut ingin melihat. Mereka semua memuji gambar Lipi.
“Jadi gambarku dimuat, Pil?” tanya Lipi tidak percaya.
Pili mengangguk. “Iya, gambar yang kamu kirim sebulan lalu,” jawan Pili.
“Wah, Lipi hebat. Aku saja berulang kali kirim gambar belum dimuat,” kata Dibo.
“Kamu juga bisa menggambar sebagus gambar Lipi, Pil?” tanya Merry pada Pili.
“Tentu saja tidak bisa,” jawab Pili.
“Kok tidak bisa, Kalian kan kembar?”
“Walau kami kembar, tapi kemampuan kami berbeda. Aku hebat baca puisi, Lipi hebat menggambar,” Pili menjelaskan.
Semua mengangguk setuju dan mengerti.
Lipi tersipu malu. Seharusnya ia tidak perlu iri dan sedih dengan kehebatan Pili baca puisi, karena ia juga punya kehebatan sendiri.
“Lip, bengong saja,” Pili menyenggol lengan kanan Lipi. “Jangan lupa, besok traktir aku bolu cokelat panggang, ya!”
Lipi tertawa. “Sip! Spesial dua untukmu,” Lipi mengedipkan mata kanannya pada Pili.




Minggu, 25 Desember 2016

Lipi Tak Mengulangi Lagi

                                    
Ilustrasi : Diani Apsari

     Pili  dan Lipi adalah dua kurcaci  kembar. Walau wajah mereka hampir sama, tetapi sifat mereka berbeda. Pili kalem, ramah, penolong dan suka bernyanyi, sedangkan Lipi ceria, lincah dan suka tertawa, namun kadang cepat marah.
     Hari ini, Nyonya Pilo menyuruh kedua anak kembarnya itu pergi ke hutan jamur. Selain mencari jamur untuk persediaan seminggu, Pili dan Lipi akan mencari buah-buahan segar, juga bunga-bunga cantik utuk hiasan rumah. Terkadang, Pili membagikan bunga-bunga cantik itu pada Nyonya Molia, tetangga mereka.
       Hutan jamur itu letaknya di dekat air terjun dan sungai dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Pili dan Lipi juga harus melewati hutan buah. Perjalanan lumayan jauh. Makanya, Pili dan Lipi harus berangkat pagi-pagi sekali, agar mereka tidak kemalaman sampai di rumah.
     Lalala…Lilili… sepanjang jalan Pili bersenandung riang, Keranjang rotan di tangannya bergoyang-goyang. Sementara Lipi hanya asyik memperhatikan burung-burung yang sedang berkicau di dahan pohon. Sesekali, Lipi mengambil bunga liar, lalu menyelipkan di cupingnya. Lipi dan Pili tidak perlu khawatir, karena di hutan buah tidak ada hewan buas.
     Setelah satu jam berjalan, Pili dan Lipi memutuskan berhenti. Mereka beristirahat  sejenak di bawah pohon mangga yang rindang.
     “Wah, pohon mangga ini lagi berbuah!seru Pili.
     Lipi lalu mencari sebatang ranting untuk dijadikan galah mengambil mangga. Hup..hup.. Lipi menyodok-nyodok sebutir mangga. Pluk, akhirnya satu buah mangga itu jatuh. Lipi langsung memakannya.
    “Rasanya manis sekali, kata Lipi gembira.
     Pili ikut menyodok sebuah mangga. Tanpa kesulitan, Pili berhasil menjatuhkan satu buah mangga.
     “Iya, manis,” kata Pili lalu kembali mengunyah daging mangga.
     Lili menyodok mangga lagi. Kali ini ia tidak menjatuhkan sebutir, tapi ada tiga biji mangga yang berhasil ia jatuhkan. Dengan cepat, Lili menghabiskan satu biji mangga
     “Lipi, jangan terlalu banyak makan mangga. Perutmu bisa sakit,” Pili mengingatkan Lipi.
      “Ah, tak apa-apa. Mangga ini sangat manis, tukas Lipi.
     “Tapi jangan berlebihan. Karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik,” kata
Pili.
     “Memangnya kenapa? Kalau kamu mau, makan saja mangga ini juga.”
     “Bila kamu tidak mau sakit, maka kamu harus menjaga kesehatanmu sendiri,” kata Pili lagi.
     Lipi tidak menghiraukan nasihat Pili. Ia terus saja memakan dua mangga yang tersisa. Bahkan Lipi menyodok beberapa buah mangga lagi.
     Ehm,  rasanya manis sekali. Kapan lagi bisa makan buah mangga semanis ini, gumam Lipi.
      “Lipi, kita harus bergegas sampai ke hutan jamur,” Pili mengingatkan saudara kembarnya, karena sinar matahari yang menerobos hutan terasa terik.
      “Iya, ayo kita berangkat. Perutku juga sudah kenyang. Tenagaku pasti kuat memetik jamur,’ kata Lipi bersemangat sambil mengikuti Pili.    
     Namun baru beberapa meter berjalan, mereka menemukan pohon rambutan. Pili langsung memetik 1 biji rambutan.
     “Wah, rambutan ini manis sekali,” kata Pili.
    
Lipi tidak mau kalah. Ia memetik satu. “Iya, manis. Ayo kita makan rambutan dulu, Pili!” ajak Lipi sambil memetik beberapa rambutan.
   
 Pili menggeleng.
     “Kenapa?” tanya
Lipi heran.
     “Aku takut sakit perut. Tadi aku sudah makan mangga.”
      “Ah, tak apa-apa. Biar perut kita yang mengaturnya,” canda Lipi
     Pili memilih diam dan memperhatikan saudara kembarnya asyik makan buah rambutan.
      “Aduh, perutku.” Tiba-tiba Lipi mengaduh
     Pili bingung melihat Lipi mengadu terus. Akhirnya Pili memutuskan mengajak pulang Lipi, dan tidak jadi ke hutan jamur.
     “Apa yang terjadi pada
Lipi?” tanya Nyonya Pilo khawatir.
     Pili menceritakan pada Ibunya.
     “Tadi Aku sudah mengingatkanmu, Lipi
! Bila kamu tidak mau sakit, maka kamu harus menjaga badanmu,” kata Pili.
      Akhirnya, sepanjang sisa hari itu, Pili hanya berbaring di tempat tidur. Berkali-kali Pili harus ke kamar mandi. Untunglah Nyonya Molia berbaik hati meminjamkan persediaan jamurnya. Nyonya Pilo pun bisa membuatkan sup jamur untuk Lipi
     “Pili, maafkan aku, ya! Gara-gara aku, kita tidak jadi memetik jamur,” ucap Lipi menyesal.
     “Sudahlah, tidak apa-apa! Yang penting, jangan kamu ulangi lagi. Kamu sendiri kan, yang rugi,” kata Pili
     Lipi mengangguk lalu memeluk Plili. Ia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya itu lagi, karena hanya merugikan dirinya sendiri..