Selasa, 13 Juni 2017

Celana yang Tertukar

                                                    
Dimuat di Majalah Bobo
     
                                                   Celana yang Tertukar
                                                                 Dian Onasis

Hari Senin telah tiba. Seperti biasa, Kurcaci Bimo masih saja terburu-buru menyiapkan baju sekolahnya.
“Bund, lihat baju olahraga Bimo nggak?” teriak Kurcaci Bimo dari kamar. Posisi kamarnya di bagian atas rumah pohon. Tak ada jawaban dari Bunda. Sepertinya Bunda sibuk mengurus kedua adik kembarnya. Kurcaci Bimo hanya tinggal berempat dengan ibu dan dua adik kembarnya di sebuah rumah pohon yang besar.
Kurcaci Bimo mencari baju olahraganya di lemari. Tidak ada. Eh, tapi tunggu dulu. Ah ini dia, terselip di antara baju mainnya. Segera Kurcaci Bimo masukkan ke tas sekolah. Hemmm, apalagi ya belum ya? pikirnya. Matanya melirik jam di dinding kamar. Waaah, sudah pukul 6 lewat. Seharusnya dia sudah mandi. Gara-gara mencari baju olahraga, Kurcaci Bimo banyak kehilangan waktu.
 Akhirnya, lagi-lagi Kurcaci Bimo tergopoh-gopoh melakukan semuanya. Sarapan jamur dan minum madu cair dilakuan cepat-cepat.
“Pelan-pelan ketika mengunyah sarapan, Nak,” ingat Bunda sambil menggeleng. Bunda sudah sering mengingatkan Kurcaci Bimo, agar menyiapkan semua keperluan sekolah di malam hari. Sayangnya, tidak didengar oleh Kurcaci Bimo.
Madu cair dalam gelas belum habis, Kurcaci Bimo sudah berjalan sambil minum, dan mengambil handuk. Lalu menghabiskan minuman di dalam kamar mandi. Kemarin-kemarin,  Kurcaci Bimo pernah lupa jika rambutnya masih bersampo , dan ia langsung keluar kamar mandi. Semuanya tergesa-gesa.
Selesai mandi, Kurcaci Bimo mengenakan seragamnya, yang terbuat dari lapisan kayu yang sudah diolah menjadi kain yang bagus.
“Bundaaa!” tiba-tiba Kurcaci Bimo berteriak dari kamar.
            Bunda segera meletakkan adik kembar Bimo ke dalam tempat tidur bayi yang terbuat dari  batok kelapa besar. Bunda berlari menuju kamar Kurcaci Bimo.
            “Ada apa, Nak?” tanya Bunda khawatir. Teriakan Kurcaci Bimo tadi seperti ada tupai yang hendak mencuri persediaan makanan mereka.
            “Ini… kenapa celana sekolah Bimo kekecilan?. Bimo jadi susah berjalan.” Wajah Kurcaci Bimo tampak merah. Apalagi bagian telinganya yang runcing. Selalu begitu jika Kurcaci Bimo kesal dan khawatir.
            “Coba buka, biar Bunda lihat!”
            Kurcaci Bimo lalu menyerahkan celana sekolah tersebut kepada Bunda.
            “Astaga ini milik Kurcaci Rafi!” kata Bunda kaget, sambil membaca nama yang tertulis di bagian bawah celana.
            “Eh, kok, bisa?” tanya Kurcaci Bimo bingung
            “Iya, bisa saja. Ini pasti karena kamu  terburu-buru memasukkan seragam ke dalam tas waktu ganti baju olahraga kegiatan ekskul minggu lalu,” duga Bunda.
            “Duh, jadi, bagaimana nih, Bund?” Kurcaci Bimo mulai khawatir. Karena, seragamnya setiap hari berganti. Hari ini celananya berwarna putih. Setiap hari seragam sekolah Kurcaci Bimo memang berbeda. Ada 5 jenis seragam yang harus dikenakannya, selama sekolah.
            “Yaaah, Bunda jadi kasihan sama Rafi. Tubuh Rafikan kecil, pasti celananya kebesaran. Baiklah, sebentar, Bunda hubungi dulu Bunda Rafi, ya!” kata Bunda menahan tawa. Bunda segera turun ke bawah pohon, menarik sebuah akar tua yang telah diberi mantra oleh Penyihir bijak, sehingga seluruh penduduk, dapat saling berkomunukasi melalui akar pohon tersebut.
            Tak lama, Bunda naik ke kamar Bimo dan berkata, “Ya sudah, dipakai dulu saja celana Rafi, nanti tukeran di kelas,” kata Bunda menahan senyum dan mengelus kepala Bimo. “Sekarang Bimo cepat sekolah, itu Pak Hadi Kurcaci Besar, sudah menunggu untuk mengantarkanmu.”
            Bimo menunduk melihat celananya yang kekecilan. Ini semua gara-gara ia selalu terburu-buru, sehingga lalai mengecek seragam yang dimasukkannya ke dalam tas, minggu lalu.
            Sepanjang perjalanan dengan kereta yang ditarik sepasang kumbang raksasa yang jinak, teman-teman Kurcaci Bimo berbisik-bisik. Sejak awal, mereka menatapnya dengan takjub. Kurcaci Bimo yang berjalan seperti penguin, terlihat aneh dan hati. Dengan susah payah mereka berusaha menertawakan.  Pak Hadi Kurcaci Besar, bahkan menutup mulutnya rapat-rapat. Meski kumisnya bergerak-gerak karena menahan tawa.
            Telinga runcing Kurcaci Bimo kembali memerah. Ia kesal. Tapi ia berusaha menghibur diri, karena akan mempunyai teman senasib. Kurcaci Rafi sebentar lagi akan datang, mengenakan celana yang kebesaran. Karena memang, tubuhnya lebih besar serta lebih tinggi dari Rafi. Membayangkan hal itu, telinga Kurcaci Bimo tidak memerah lagi.
            Sesampai di sekolah, Kurcaci Bimo dengan hati-hati turun dari kereta. Ia khawatir celananya sobek. Setelah turun, Kurcaci Bimo berdiri di dekat pintu masuk sekolah, yang ditandai dengan sulur-sulur daun yang hijau terang. Ia tak sabar menunggu Rafi.
            Ternyata, tebakan Kurcaci Bimo salah. Kurcaci Rafi memilih tidak masuk sekolah, karena malu dengan celana kebesaran. Bimo terpaksa mengikuti upacara bendera dengan celana kekecilan.
            Kurcaci Bimo berusaha melupakan rasa malu dan tak nyamannya. Sebagai kurcaci , ia tak pernah bisa diam. Akhirnya ketika jam istirahat, teman-temannya bermain bola sepak, Kurcaci Bimo ikut berlari, dan lupa dengan celana sempitnya.
            “Sreet!” Terdengar suara kain robek.
            Kurcaci Bimo terdiam. Celana milik Rafi yang dipakainya robek. Tak lama, suara tawa teman-temannya pun meledak. Kali ini, Kurcaci Bimo ikut tertawa. Ia menertawakan dirinya. Kurcaci Bimo pun kapok. Selanjutnya ia akan selalu menyiapkan seragam dan menyimpannya dengan baik.


Kamis, 08 Juni 2017

Misteri Rumah Kaca


Dimuat di Majalah Bobo

Misteri Rumah Kaca
Melani Putri

            Phil menarik selimutnya rapat-rapat. Perlahan diliriknya jam dinding yang menunjukkan pukul 11.30 malam. Bayangan pohon cemara menari-nari di dinding kamarnya. Kriit..sesekali bunyi derit terdengar samar dari rumah kaca di halaman belakang. Masih jelas di mata Phil bayangan yang baru saja dilihatnya di rumah kaca. Ia bisa mengintip bangunan tua itu dari jendelanya.
            Siapa malam-malam begini di rumah kaca? Gumam Phil sambil menggigil. Ia urungkan niatnya untuk membangunkan Bibi Clara dan Nenek Emma. Mereka pasti sudah tertidur lelap, pikirnya. Lewat dari tengah malam Phil baru berhasil tidur.
            “Pagi Phil,” sapa Bibi Clara. Di dapur, Nenek sedang menyiapkan bubur ayam kesukaan Phil. Ia  sangat senang jika ada cucunya yang datang menginap di rumahnya. “Kok seperti masih mengantuk?” Tanya Bi Clara.
            “Pagi Bi,” jawab Phil sambil mengucek mata. Ia lalu bercerita mengenai peristiwa semalam.
            “Hmm aneh,” ujar Bibi Clara. “Sejak kakek meninggal setahun yang lalu, rumah kaca itu tidak ada yang mengurus.” sambungnya. Di rumah ini Nenek Emma hanya tinggal berdua dengan Bibi Clara yang belum menikah. Bibi Clara adalah adik ayah Phil, mereka hanya dua bersaudara.
            “Pagi ini aku akan mengecek ke sana,” ujar Phil.
            “Boleh saja, tapi semalam anginnya memang kencang. Mungkin yang kamu lihat cuma bayangan pohon yang bergerak.” Bibi Clara pamit berangkat kerja. Biasanya ia baru akan pulang setelah jam makan malam.
            Phil menatap bangunan rumah kaca di hadapannya. Dinding kacanya buram berlapis debu. Tanaman rambat menjalar liar menutupi sisi sampingnya. Semasa hidupnya, kakek Phil sangat suka berkebun. Dulu saat masih kecil, Phil sering bermain di rumah kaca ini.
            Ragu-ragu Phil berjalan mendekat. Tiba-tiba ia melihat bagian bawah pintu kaca pecah. Nampaknya masih baru, gumam Phil mengamati kaca yang berserakan.
            “Aku bisa membantu memperbaiki,” tiba-tiba suara berat terdengar. Phil meloncat saking kagetnya. Ia berpaling dan melihat sosok berjanggut sudah berdiri di belakangnya.
            “Astaga, Pak Ronal!” seru Phil.
            “Maaf, tadi saya sudah memanggil dari depan. Mungkin kamu tidak mendengar.” PakRonal menuju ke gudang kecil dan mengambil kotak alat. Dengan cekatan ia menutup bagian bawah pintu kaca dengan papan tipis. Pak Ronal adalah teman Kakek Phil. Dulu ia sering datang dan membantu Kakek merawat tanaman di rumah kaca. “Aku bermaksud menemui Clara,” ujarnya.
            “Bibi sudah berangkat kerja,” sahut Phil.      
“Sayang sekali, harusnya rumah kaca ini bisa dimanfaatkan.” Seru Pak Ronal seakan tidak mendengar jawaban Phil.
Phil mengamati lelaki tua itu. Pak Ronal tinggal di sebelah rumah. Ia juga sangat hapal dengan rumah kaca ini. Mungkinkah yang semalam ia lihat adalah bayangan Pak Ronal?
Jam menunjukkan pukul 11 malam. Sebentar-sebentar Phil mengamati rumah kaca dari balik jendelanya. Tiba-tiba ia melihat sekilas bayangan bergerak di sana. Phil bergegas ke kamar Bibi Clara dan mengetuk pintunya. Siang tadi Phil sudah menelepon bibi dan menceritakan tentang kaca yang pecah serta Pak Ronal yang mencurigakan. Bibi Clara menyetujui rencananya, mereka akan menguak misteri bayangan di rumah kaca.
Lampu senter Phil menyorot pintu kaca yang sedikit terbuka. Perlahan-lahan ia masuk ke dalam. Bibi Clara bersiaga di luar pintu sambil bersiap menelepon polisi dengan ponselnya.
Phil mematikan senter. Ia bisa melihat isi ruangan itu samar-samar. Sinar bulan purnama menerobos masuk melalui atap rumah kaca. Beberapa rak kayu berisi pot kosong berdiri di sisi ruangan. Seketika ia menatap bayangan sedang duduk di kursi di tengah ruangan. Phil tercekat dan  tanpa sengaja tangannya menyenggol pot yang ada di sebelahnya. Bruk!
“Siapa itu?” seru bayangan tadi. Phil kaget mendengar suara yang tidak asing di telinganya.
“Nenek?” seru Phil.
Bibi Clara berlari masuk. Mereka menghampiri nenek yang sama terkejutnya.
“Ibu sedang apa?” tanya Bibi Clara.
“Sedang melihat bintang” jawab Nenek. “Saat langit terang, kadang ibu ke sini untuk mengenang Ayahmu” sambungnya sambil menitikkan air mata.
Bibi Clara memeluk nenek sambil menangis. Phil merasa sedih sekaligus lega, karena bayangan yang dilihatnya ternyata adalah neneknya sendiri. Kaca yang pecah pun akibat terbentur tongkat nenek. Rupanya sejak ditinggal kakek, nenek sangat kesepian.
Pagi ini Bibi Clara yang membuat sarapan. Nenek Emma duduk menikmati tehnya di teras depan. Liburan Phil di rumah Nenek akan segera berakhir. Ia sedang menunggu ayah dan ibu datang menjemputnya.
Pak Ronal datang bersama istrinya. Siang hari Ia akan bekerja merawat rumah kaca peninggalan kakek. Istrinya akan bekerja membantu sekaligus menemani nenek di rumah. Phil merasa bersalah sudah sempat mencurigainya. Ternyata kemarin Pak Ronal bermaksud menceritakan ke bibi Clara bahwa ia  melihat nenek berjalan ke rumah kaca tengah malam.
“Jangan khawatir, Phil” seru Bibi Clara. “Mulai sekarang, Bibi akan pulang kerja lebih cepat, agar bisa menemani Nenek makan malam. Bibi juga akan lebih sering mengajak Nenek berjalan-jalan,” ucapnya tersenyum. Phil merasa lega, dalam hati ia juga berjanji akan lebih sering datang ke sini mengunjungi neneknya.        


Sabtu, 03 Juni 2017

Pencuri Warna

Dimuat di Majalah Bobo

Pencuri Warna
Oleh: Agnes Dessyana

 “Warnanya memudar!” Ratu Pelangi menjerit. “Apa yang terjadi?”
“Kristal prisma hilang dicuri!” teriak Wila, sang penyihir warna.
Anggi, cucu Penyihir Wila, ikut berteriak. “Seseorang meninggalkan pesan di dekat roda warna!”
Aku mengambil kristal prisma dan aku sembunyikan di Hutan Kelabu. Bila ingin mendapatkannya, carilah aku di Hutan Kelabu! Salam, Pencuri Warna.
Penyihir Wila membaca surat itu.
“Siapa yang akan ke sana?” tanya Ratu Pelangi.
“Biar aku yang pergi, Bunda,” ucap Pangeran Collin.
“Aku akan menemanimu, Kak Collin,” timpal Pangeran Lori.
Ratu Pelangi terlihat ragu.
“Aku akan ikut. Meski masih pemula, aku tetap penyihir,” sela Anggi, cucu Kakek Wila. “Kakek telah mengajarkan semua tentang warna padaku.”
Ratu Pelangi terdiam sejenak. “Baiklah. Semoga kalian berhasil.”
Berangkat lah Pangeran Collin, Pangeran Lori, dan Anggi untuk mencari Pencuri Warna. Untuk sampai ke Hutan Kelabu, mereka harus melewati Gerbang Cokelat dan Taman Kabut. Mereka sangat bersemangat dan bersenda gurau sepanjang perjalanan.
Setelah berjalan kaki selama satu jam, ketiga anak itu tiba di Gerbang Cokelat. Mereka bertiga langsung waspada karena mengetahui tentang adanya raksasa penjaga gerbang. Ketiganya berjalan perlahan menuju pintu gerbang. Mereka menelan ludah ketika melihat raksasa yang sangat besar duduk menutupi pintu gerbang.
“Mau apa kalian?” tanya raksasa.
“Kami mau melewati gerbang dan menuju Hutan Kelabu,” jawab Pangeran Collin.
“Kami mencari kristal prisma,” timpal Pangeran Lori.
Anggi mengangguk. “Kristal prisma itu sumber warna Kerajaan Pelangi.”
“Kalian boleh lewat jika berhasil memecahkan teka-teki dariku,” kata raksasa. “Ini pertanyaannya. Bagaimana Bunga Mawar, Bunga Telang, dan Bunga Matahari bisa menjadi cokelat?”
Ketiga anak itu mengerutkan dahi. Mereka berdiskusi dan berbisik untuk mencari jawaban.
“Kenapa bunga bisa berwana cokelat?”
“Karena layu?” usul Pangeran Lori.
“Tidak mungkin semudah itu jawabannya,” ujar Pangeran Collin.
Kedua pangeran itu lalu tertunduk lesu. Mereka kebingungan dan tidak bisa mendapatkan jawaban ketika mendengar teriakan Anggi.
“Aku tahu,” senyum Anggi lalu membisikkan kepada kedua pangeran. Keduanya mengangguk-angguk. Lalu, mereka bertiga menghadap raksasa dan berseru bersama.
“Warnanya!”
Sang raksasa bersiul. “Kalian benar. Bunga mawar itu merah, bunga telang berwarna biru, dan bunga matahari berwarna kuning. Ketiga warna itu menjadi cokelat ketika dicampur,” ucap raksasa sambil menunjukkan ketiga bunga di tangannya.
"Horeee..." Pangeran Colin, Pangeran Lori, dan Anggi bersorak kegirangan bersama.
“Kalian boleh lewat. Semoga berhasil menangkap pencuri warna,” kedip sang raksasa.
Ketiga anak itu bingung bagaimana raksasa tahu tentang pencuri warna padahal mereka tidak memberitahukannya. Tapi mereka mengabaikannya dan langsung berjalan melewati gerbang. Mereka merasa sangat senang bisa selangkah lebih dekat menangkap pencuri warna. Satu jam kemudian, mereka tiba di Taman Kabut.
“Ergh, aku tidak dapat melihat jelas,” gerutu Pangeran Lori.
Pangeran Collin mengerjapkan matanya. “Bagaimana kita bisa melewati taman ini?”
Anggi yang sedang berjalan tiba-tiba terjatuh karena tersandung batu. Di saat membantu Anggi, mereka menemukan secarik kertas di atas tanah.
Ia berwarna putih dan tinggi. Tapi, ia menjadi pendek ketika memakai topi merah. Tebak siapa dia dan kalian bisa melewati taman dengan mudah. Salam sayang, pencuri warna. Pangeran Lori membaca keras.
Sekali lagi, ketiga anak itu berdiskusi untuk mencari jawaban.
“Kenapa menjadi pendek saat memakai topi?” tanya Pangeran Lori.
“Entahlah, bukannya harusnya jadi makin tinggi,” ucap Pangeran Collin.
Mereka bertiga mencoba mencari jawaban sambil berusaha berjalan dalam kabut.
“Coba ada cahaya, kita bisa lebih mudah melewati taman ini,” gerutu Pangeran Lori.
“Itu dia jawabannya!” teriak Anggi.
“Apa?”
“Jawabannya lilin!” seru Anggi dan kertas itu bersinar. Kertas itu menghilang digantikan dengan tiga buah lilin kecil. Mereka menggunakan lilin dan berjalan keluar dari Taman Kabut dengan cepat.
Beberapa langkah kemudian, mereka tiba di Hutan Kelabu. Mereka takjub melihat hutan itu. Semua yang ada di sana berwarna kelabu, dari pohon, daun, air sungai, tanah, hingga langit yang juga berwarna kelabu.
“Tempat yang aneh tapi indah,” celetuk Anggi.
Pangeran Collin dan Pangeran Lori mengangguk setuju. Mereka terdiam untuk menikmati pemandangan sebelum mulai mencari kristal prisma dan pencuri warna. Mereka mencari di dalam lubang pohon, di antara semak, hingga memanjat ke atas pohon. Tapi, mereka tidak menemukan petunjuk apapun.
“Di mana si pencuri warna?” teriak Pangeran Collin.
Tepat setelah kalimat itu diutarakan, sebuah benda menimpuk badan Pangeran Collin.
“Apa ini? Bola kertas?” ucap Pangeran Collin sambil membuka gulungan kertas itu. Sesuatu terjatuh dari dalam kertas membuat Pangeran Collin terkejut.
Pangeran Collin kemudian memanggil Anggi dan adiknya. Keduanya ikut terkejut.
Selamat kalian telah menemukan kristal prisma. Bagaimana perjalanannya? Sudah tidak merasa bosan kan? Kalian bisa kembali ke istana, kakek menyiapkan kue bolu kesukaan kalian.
Tertanda,
Penyihir Wila.
“Ternyata kakek mendengar keluhan kita kemarin,” tawa Anggi sambil memegang kristal prisma di tangannya.
Pangeran Collin mengangguk. “Penyihir Wila memang paling tahu cara menghilangkan kebosanan.”
“Ayo kembali, kita sudah berhasil menemukan kristalnya. Sekarang mari kita tangkap pencurinya,” kedip Pangeran Lori.

Ketiga anak itu tertawa bersama dan berlari pulang menuju istana. Mereka tidak sabar untuk menceritakan petualangan mereka mencari warna yang hilang.

Selasa, 23 Mei 2017

Rahasia Kate

                                               
Dimuat di Majalah Bobo
     
                                                     Rahasia Kate
                                                               Oleh  Dian Onasis

Cleo memasukkan tempat minumnya ke tas. Matanya melirik Kate yang duduk di sebelah kirinya.
“Wah, tempat minum baru lagi, Kate?” tanya Cleo. Hal ini menarik perhatian Cleo. Soalnya, dalam 2 bulan ini Kate menggunakan 3 tempat minum baru secara bergantian. Tentu menyenangkan punya tempat minum lebih dari satu. Tak perlu khawatir jika lupa mencucinya. Karena ada pengganti.
Tapi, Cleo tahu diri, tidak mungkin setiap bulan minta dibelikan tempat minum baru. Itu pemborosan namanya. Cleo teringat nasihat Mama untuk rajin berhemat dan menabung.
Kate tidak menjawab pertanyaan Cleo. Ia hanya tersenyum penuh rahasia. Kate sibuk merapikan isi meja, seperti yang diperintahkan Miss Rona. Cleo pun membuka bagian atas meja dan memastikan semua alat tulis dan bukunya sudah rapi
"Sssttt, Kate, bukannya bulan lalu, kamu baru beli tempat minum?” Cleo kembali bertanya.
Kate tidak menjawab. Ah, Kate sok misterius, batin Cleo kesal sambil memonyongkan bibirnya. Tumben Kate punya rahasia. Cleo lalu menjulingkan matanya ke hadapan wajah Kate. Kate tertawa geli
"Hihihi, kamu lucu, Cleo." Ujar Kate. Cleo nyengir. Cara seperti itu biasanya berhasil membuat Kate tertawa dan menceritakan rahasianya. 
"Ayolah Kate. Kuperhatikan, tempat minummu berganti terus. Apa Papa Mamamu tidak keberatan? Itukan buang-buang uang namanya?” Cleo sok menasihati. Padahal Cleo tak sabar, ingin mendengar rahasia Kate itu.
Sayangnya, Kate senang membuat sahabatnya itu kesal. Kate suka melihat mata Cleo yang berwarna coklat itu berbinar-binar, karena ingin tahu. Kate tetap tersenyum geli melihat Cleo berusaha memancing jawaban. Cleo sudah mengubah wajahnya jadi bermacam bentuk, mulai dari hidung dikembang-kempiskan, mulut digerakkan kiri-kanan, mata dijerengkan  hingga dipelototkan. Tapi ternyata tak sukses membuat Kate membuka rahasianya.
Cleo tak sempat bertanya lagi, karena Miss Rona memerintahkan semua anak untuk berdoa pulang. Ketika keluar kelas, Mama Cleo sudah berdiri dekat motornya dan tersenyum ke arah Cleo. Kesempatan Cleo untuk menanyakan rahasia Kate, hilang. Tapi bukan Cleo namanya, jika tidak mencari tahu. Cleo tak mau menyerah begitu saja. 
Sore hari, selepas mandi, Cleo segera mengeluarkan sepedanya. Setelah pamit pada mama, ia langsung ngebut bersepeda ke arah rumah Kate. Rumah mereka memang tidak jauh. Hanya butuh 5 menit naik sepeda, Cleo sudah berada di depan pagar rumah Kate. Cleo juga tidak memberitahu Kate, jika ia hendak main ke rumah Kate.
Setiba di depan pagar, Cleo mengintip ke halaman. Ia melihat Kate sedang berjongkok. Di sebelah Kate, ada Papanya. Mereka terlihat asyik membuat sesuatu.
"Selamat sore!" teriak Cleo dari depan pagar. Suara itu mengagetkan Kate. Kate melihat ke pagar, dan sedikit kaget melihat Cleo. Namun Kate langsung tersenyum lebar.
"Wah, kamu benar-benar penasaran ya!" Kata Kate sambil membukakan pintu pagar untuk Cleo. Cleo tertawa tanpa suara. Giginya yang ompong di bagian bawah, tak dipedulikannya.
"Sore Cleo, apa kabar?" tanya Papa Kate.
"Sore Om. Kabarku baik, Om.” Jawab Cleo. “Om dan Kate lagi ngapain?”
 "Oh Ini? Om sedang mengajari Kate melukis gambar baru pada botol bekas minuman.  Cleo tertarik?" Papa Kate menunjukkan hasil karyanya bersama Kate. 
Mata Cleo membelalak. Mulutnya sedikit terbuka. Ia terpukau melihat ada banyak  botol bekas minuman air mineral yang sudah dilukis. Ada gambar Olaf dari film Frozen, Doraemon, Kelinci Biru dan banyak lainnya. Cleo suka  semua tokoh kartun. Semuanya keren-keren.
“Wah, jadi ini rahasiamu, Kate?” Tanya Cleo sambil mendekat dan memperhatikan hasil karya Kate. Kate mengangsurkan kuas dan beberapa wadah cat kecil ke dekat Cleo.
“Ini, kau bisa coba memberi warna dasar untuk botol yang itu.” Kate menunjuk sebuah botol bekas yang paling besar. Cleo mengangguk dan langsung mewarnai botol tersebut dengan warna orange.
“Tapi, sebetulnya apa hubungannya botol bekas ini dengan tempat minuman baru yang kau punya, ya, Kate?” tanya Cleo sambil terus mengecat. Kate tersenyum. Ternyata Cleo masih penasaran.
“Kau ingat tidak, 2 bulan lalu, aku tidak ikut main sepeda ke rumah Miss Rona?” tanya Kate. Cleo mengangguk.
“Nah, waktu itu, aku bersama papa pergi membeli botol bekas dari tempat pemulung. Lalu aku diajari melukis oleh papa. Hasil dari melukis botol bekas ini kutitipkan Papa. Papaku punya teman yang suka mendaur-ulang benda. Ia menerima, kemudian menjual pot bunga untuk taman gantung. Potnya dibuat dari botol bekas minuman seperti ini,” jelas Kate. Cleo memandang beberapa botol yang sudah dikerjakan Kate.
“Aku diberi satu paket cat dari teman Papa. Lalu untuk setiap lukisan satu botol,  aku diberi uang Rp.2.000,- rupiah. Jika aku membuat 5 dalam seminggu. Aku sudah punya  Rp.10.000,- per minggu.  Dalam sebulan, aku sudah bisa menabung atau membeli benda kesukaanku. Iya kan Pa?” Kate meminta persetujuan pada Papanya. Papa Kate mengangguk
“Wah, kalau aku melukis botol juga, apakah aku boleh titip juga, Om?” harap Cleo. Papa Kate kembali mengangguk.
Senyum Cleo melebar. Tak lama Cleo sudah asyik menemani Kate melukis botol bekas. Mulut kecilnya bergerak-gerak lucu, saat melukis botol. Ia sudah membayangkan akan membeli tempat minum baru bulan depan, atau mungkin liontin kecil untuk mama, atau bisa jadi gelas minum teh untuk papa.



Rabu, 17 Mei 2017

Rumah Jamur Tarra

Dimuat di majalah Bobo 

RUMAH JAMUR TARRA
*FiFadila*

TARRA bosan tinggal di desa kurcaci. Pemandangannya tidak menarik. Hanya ada gunung, sawah dan rumah-rumah jamur yang tumbuh di tanah. Beda dengan pemandangan kerlap kerlip di kota. Seperti yang sering dia lihat di siaran tv kurcaci. Kurcaci di kota punya rumah balon yang beraneka bentuk. Anggur, apel, jeruk, melon dan bentuk lainnya. Berwarna-warni pula. Ia pun bertekad pergi ke kota. Semua tabungannya dipecah untuk pindah ke kota.
“Kenapa harus pindah, Kak? Desa kita sangat tenang. Di kota ramai. Biaya hidup di sana juga lebih mahal,” kata Risti berusaha mencegah kakaknya.
            “Aku akan cari kerja yang lebih baik di kota,” bela Tarra.
            “Kalau begitu bawa saja bibit jamur untuk tempat tinggal kakak di kota.”
            “Kamu aneh. Rumah jamur itu hanya ada di desa. Di kota ada banyak jenis rumah dari balon. Bentuknya macam-macam bisa terbang pula. Tinggal tiup, ujung talinya diikat di pohon, jadi, deh. Kalau pakai bibit jamur, bisa jenggotan nunggu jamurnya tumbuh,” protes Tarra.
            Akhirnya Tarra pergi ke kota tanpa memedulikan usul adiknya. Dia hanya membawa bekal makanan untuk di perjalanan. Keperluan lainnya bisa dia beli di kota. Uang tabungannya cukup banyak untuk biaya hidup di kota nanti. Saat tiba di pinggiran kota, Tarra merasa kelelahan. Namun dia tidak mau berhenti sejenak pun. Kerlap-kerlip lampu kota membuat Tarra semakin semangat melangkah.
            “Lihat, kota tinggal sejengkal lagi sampai,”Tarra menyemangati dirinya sendiri.
            Setiba di kota, Tarra kegirangan. Kota benar-benar seperti yang dia bayangkan. Ramai, indah dan penuh hiburan. Dia yakin tidak akan pernah bosan tinggal di kota. Pertama-tama dia membeli rumah balon yang paling unik. Bentuknya seperti anggur. Harganya ternyata mahal. Uang tabungannya hanya sisa sedikit saja untuk beli makanan.
            “Tak apa. Besok aku akan segera cari pekerjaan. Sekarang aku mau istirahat di rumah baruku dulu. Aku capek sekali.”
Tarrapun mencari tempat untuk memasang rumah balonnya. Tapi dia kebingungan. Setiap jengkal ranting pohon sudah ada pemiliknya. Tarra berputar-putar di setiap penjuru kota dengan rasa lelah yang luar biasa. Dia tidak mungkin meninggalkan rumah balonnya tanpa ditambatkan terlebih dulu. Bisa terbang hilang rumah barunya yang mahal.
Di ujung keputusasaannya, Tarra melihat ada satu tempat kosong. Di pucuk tertinggi pohon cemara. Dengan susah payah, Tarramemanjat pohon cemara. Lebih susah lagi mengikat tali rumahnya di ujung tertinggi pohon. Angin di puncak pohon lebih kencang daripada di bawah.
Dengan susah payah, akhirnya pemasangan rumah itu selesai juga. Tarra segera masuk ke dalam rumah balon itu. Rasanya seperti terbang. Tiupan angin membuat rumah balonnya tidak pernah diam. Tarra bergoyang-goyang seperti terbang.
“Ah, lama-lama aku akan terbiasa juga,” Tarra menenangkan hatinya yang bimbang.
Dia menuju kasur dan merebahkan diri untuk istirahat. Tapi goyangan balon sepertinya semakin kencang. Di ujung pohon cemara, hembusan angin terasa sangat kencang. Bahkan terdengar berisik. Ingin hati punya rumah cantik, apadaya angin mengguncang-guncang rumah balonnya. Hingga membuatnya susah tidur.
            Tarra berkali-kali melirik jendela. Dia berharap ikatan yang dia buat tadi sudah cukup kuat sehingga tarikan angin tidak membuat ikatannya lepas. Tapi ternyata perkiraannya salah. Tali pengikat balonnya semakin lama semakin kendor. Tiupan angin berikutnya membuat tali pengikatnya lepas sama sekali. Rumah balonnya melayang-layang. Menjauh dari kota.
            Tarra menangis ketakutan. Dia teringat rumah jamurnya yang di desa. Kuat tertancap di tanah dan tidak mudah terbawa angin. Jauh berbeda dengan rumah balon. Meski unik berwarna-warni tapi mudah terbawa angin. Tarra ingin pulang tapi dia tidak tahu dimana dia sekarang. Sepanjang malam dia terjaga di langit terbuka.Sampai pagi menjelang.
            Tiba-tiba Tarra merasa rumah balonnya kempes dan turun pelan-pelan. Tarra panik. Dia takut jatuh dari ketinggian. Dipejamkannya mata erat-erat.
            Pluk. Tarradan rumah balonnya mendarat di sesuatu yang empuk. Dia segera keluar dari rumah balonnya yang kempes. Dilihatnya keadaan sekeliling.
            “Kak Tarra, kakak baik-baik saja?”
Tarra mendengar suara yang dia kenal baik.Tarra ternyata jatuh di atas atap rumah jamur Risti. Dengan bantuan tangga tali Risti, Tarra turun dari atap.
Tarra memeluk adiknya sambil menangis, “Kamu benar, kota sangat padat. Rumah balonku sampai tidak dapat ruang tambatan yang aman. Sampai-sampai rumah balonku terbawa angin dan kempes. Tabunganku sudah habis. huhuhu…”
            “Kakak kan masih punya rumah jamur. Aku selalu membersihkannya saat kakak tak ada.”
            Tarra berterima kasih pada adiknya. Sejak saat itu Tarra sangat mencintai rumah jamurnya. Menurutnya rumah jamur lebih cantik dan menarik daripada rumah balon. Ia yakin rumah jamurnya sangat kuat meski di terjang angin puting beliung sekalipun. (*)



               


Rabu, 03 Mei 2017

Rumah di Atas Bukit

Dimuat di Majalah Bobo edisi 47, 21 September 2016


RUMAH DI ATAS BUKIT
Oleh: Yulina Trihaningsih

            Semalam, hujan deras kembali mengguyur tubuhku. Aku tahu, kulitku akan semakin mengelupas diterpa angin kencang. Jamur-jamur kecil seperti titik-titik hitam akan bertambah subur di kulitku yang lembab dan kusam.
Sudah lama tidak ada manusia yang mau tinggal bersamaku. Mungkin, karena penampilanku yang kotor, kusam, dan bau.
“Tapi, aku senang bermain-main di sini bersamamu,” seru Geji si burung gereja yang sedang berjemur di terasku. Sinar matahari yang hangat membuatnya senang berlenggang lenggok menjemur bulu-bulunya yang basah.
Aku tersenyum. “Terima kasih sudah mau menjadi temanku, Geji. Tapi, sebentar lagi kau pun akan terbang mencari makan, dan aku akan kembali kesepian.”
Geji menatapku prihatin. “Kau rumah tua yang malang. Aku harap, akan ada yang menempatimu. Kau tahu? Sebuah keluarga sudah mengisi rumah baru bertingkat di ujung jalan. Kemarin sore mereka berpesta! Ada banyak cahaya lampu, balon, dan remah-remah kue. Aku akan ke sana setelah selesai berjemur.”
Tanpa menunggu lama, Geji langsung terbang, meninggalkan kotorannya di lantai terasku. Ya ampun, aku pasti akan semakin kotor dan bau.
Tapi, sesuatu terjadi di siang itu. Sebuah mobil kecil berhenti di depan pagarku. Gadis kecil dengan dua kuncir di kepalanya melongok ke luar jendela. Matanya yang bulat indah terlihat bersinar. Dan ia tersenyum padaku!
“Apakah kita akan tinggal di sini, Ayah?” suara anak itu terdengar bersemangat.
“Benar, Zara sayang,” seorang pria berkacamata turun dari pintu depan.
Dia membantu seorang wanita cantik turun dari mobil. “Apa kau suka rumah baru kita, Nyonya Arman?” pria itu bercanda.
“Tentu saja, Tuan Arman,” balas wanita itu sambil tertawa.
Sementara, Zara, gadis kecil itu, sudah berlari ke luar mobil terlebih dahulu. Ia meloncat-loncat di halaman dan menatapku ingin tahu.
“Apakah kita tidak akan kebanjiran lagi di sini, Ayah? Rumah ini sepertinya sudah tua,” Zara mengerutkan keningnya, seperti berpikir.
Tuan Arman tertawa. “Semoga, Sayang. Rumah ini ada di atas bukit. Saat malam, kau bisa melihat kota yang penuh cahaya dari jendela kamarmu.”
“Terlihat tua, mungkin karena tidak ada yang merawat dan menyayanginya, Zara,” Nyonya Arman berkata sambil tersenyum.
“Oh, aku akan menyayangi rumah ini, Bu,” Zara berkata pasti, membuatku senang mendengarnya.
*
            Beberapa hari berikutnya, adalah saat-saat yang membahagiakan untukku. Aku tidak lagi sendirian dan kesepian, karena banyak teman yang mengunjungiku. Bukan Geji, tentu saja. Burung gereja itu justru tidak berani lagi mendekat sejak keramaian mulai terlihat di sini.
            Tuan Arman mengajak beberapa temannya untuk membersihkan kulitku yang kotor. Dan, hei, mereka juga memberi warna baru di kulitku. Tidak itu saja. Tuan Arman juga mengganti pelapis kayu tubuhku yang mengelupas. Atapku yang pecah atau bergeser juga diperbaiki.
            Sementara itu, Nyonya Arman dan Zara membersihkan halamanku yang ditumbuhi rumput yang tinggi. Nyonya Arman juga menanam bunga-bunga yang cantik untuk menemani pohon mangga tua di sudut halaman. 
Oh, aku harap, gadis kecil itu dan orangtuanya akan betah tinggal di sini. Siapa tahu, seperti rumah baru bertingkat di ujung jalan, Zara juga akan mengundang teman-temannya dan membuat pesta! Wah, mereka pasti akan bergembira dan bersenang-senang di sini.
“Jadi, kapan kita akan mulai tidur di rumah ini, Bu?” tanya Zara tidak sabar.
Nyonya Arman tersenyum. “Besok, Zara, kita akan pindah dan tinggal di sini.”
Gadis kecil itu lalu melompat ke pelukan ibunya dengan gembira.
*
            Sudah sebulan Zara tinggal, dan aku selalu bahagia melihat dan mendengar tawanya. Tapi, siang ini, Zara pulang sekolah sambil menangis. Oh, apa yang terjadi denganmu, Zara?
            “Tidak ada teman-temanku yang mau datang ke rumah kita, Bu. Mereka takut. Kata Sheila, yang tinggal di rumah tingkat di ujung jalan, rumah ini dulu berhantu.”
            Nyonya Arman tersenyum. “Kenapa Sheila bilang begitu?”
            “Karena rumah ini dulu jelek, tua, dan kotor.”
            “Oh, tapi, sekarang tidak lagi, kan?” kata Nyonya Arman sambil tertawa.
Zara menatapku lama. “Tentu saja tidak. Sekarang, rumah ini, kan, cantik dan bersih.”
“Mungkin, kamu bisa memikirkan sebuah cara untuk memberitahukan hal itu kepada mereka,” kata Nyonya Arman sambil tersenyum penuh arti.
Zara terus menatap dinding-dindingku. Lalu, tiba-tiba, ia tersenyum lebar sambil bertepuk tangan. “Aku ada ide!” serunya.
*
            Sabtu ini, Zara pulang sekolah tidak sendiri. Ia datang bersama teman-temannya. Mereka terlihat bergembira di bawah pohon mangga yang rindang. Tuan Arman sudah menggelar tikar lebar di sana.
“Wah, Zara, taman bacamu keren sekali,” kata seorang anak perempuan berkacamata sambil asyik membaca buku.
            “Rumahmu juga cantik, Zara. Persis seperti di foto-foto yang kamu bawa ke sekolah, kemarin,” timpal seorang anak perempuan lain dengan jepit di rambutnya.
            Zara tersenyum ke arahku. “Terima kasih, teman-teman. Aku memang senang sekali tinggal di rumah ini.”
            Aku bisa merasakan perasaan sayang yang diberikan gadis itu untukku. Dan kuharap, ia pun bisa merasakan hal yang sama dariku. [*]