Minggu, 01 September 2013

AKIBAT SI ANGSA JAGO GOSIP

illustrasi : agus karianto
      Konon, di sebuah kerajaan binatang ada sepasang Angsa laki-laki dan perempuan yang punya kebiasaan jelek yaitu suka gosip dan selalu ingin tahu urusan teman. Nyaris, seluruh temannya pernah menjadi bahan gosipnya. Selain bergosip kedua angsa ini sering membuat fitnah yang disebarkan kepada siapa saja yang ditemuinya. Mereka tidak sadar bahwa fitnahan yang tidak ada barang bukti bisa melukai hati teman-temannya. Bisa menjatuhkan harga diri teman yang difitnah. Bukankah fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.
       Seluruh hewan merasa jengkel dengan ulah sepasang angsa ini. Namun mereka kurang berani mengambil tindakan sendiri karena takut dikeroyok mereka berdua. Konon, si angsa memiliki sepasang sayap yang kuat dengan ukuran bulu-bulu yang panjang dan berlapis lilin. Benda sebesar apapun kalau dihempaskan dengan kedua sayapnya maka akan terlempar jauh.
        Siang itu, nampak si Penyu menangis di pinggir sungai. Di kejauhan nampak si kura-kura mendekati sahabatnya yang sedang menangis. Si kura-kura ingin mengetahui mengapa sahabatnya menangis.
        "Subhanallah, jadi sekarang kamu yang jadi bahan gosip dan fitnahnya?" tanya si kura-kura kepada si penyu.
        "Benar, kawan," jawab si penyu. "Mereka memfitnah kita kalau kita ini adalah hewan yang terlalu banyak dosa sehingga tubuh kita diberi beban berat agar kita tidak banyak melakukan dosa lagi. Bukankah sejak lahir kita diciptakan seperti ini. Bukankah bentuk tubuh kita memang sudah dikehendaki Allah swt seperti ini ?"
        " Wah !Keterlaluan sekali mereka! Kita bersyukur diciptakan Allah swt seperti ini, tapi mengapa mereka kok sewot dengan menyebarkan gosip murahan seperti itu ? Kita senantiasa bersyukur kok dikatakan banyak dosa? Seharusnya merekalah yang suka bergosip dan menyebarkan fitnah yang berdosa. Menyakiti hati teman itulah perbuatan dosa. Menjengkelkan hati teman itulah perbuatan dosa."
       "Kita harus memberi pelajaran mereka !!" lanjut si kura-kura
       "Benar....kita harus memberi pelajaran agar mereka menghentikan perbuatannya. Meskipun banyak teman kita takut menghadapi sepasang angsa itu, namun kalau kita bersatu melawannya tentu bisa mengalahkannya juga."
        Kemudian si kura-kura dan si penyu mulai menyusun siasat untuk bisa bertarung dan menghadapi sikap jelek sepasang angsa. Mereka sepakat akan menantang si angsa bertarung  di hutan bakau.
         Pagi hari, si kura-kura dan si penyu menemui si angsa yang kebetulan ada di pinggir pantai.
         "Assalamu'alaikum angsa," sapa si kura-kura dan si penyu. Namun kedua angsa tidak menjawab salamnya. Bahkan keduanya mencibir atas kedatangan si kura-kura dan si penyu. Mereka berlagak sombong dan angkuh.
         "Ada apa kalian menemuiku, heh?" bentak si angsa.
         "Aku minta pertanggungjawaban atas fitnahanmu kepada kami," jawab kura-kura.
         "Hahahahaha....pertanggungjawaban? Pertanggungjawaban apa, hewan jelek!?"
         "Ya atas tuduhanmu itu."
         "Ogahhh aahhhh....tak uuk...yaaa"
         "Hei, angsa! Kalau begitu kau menantang kami untuk melakukan kekerasan ya? Ayo kalau berani hadapi kami berdua!" tantang kura-kura dan penyu.
        Kedua angsa saling tertawa mendengar tantangan berkelahi si kura-kura dan si penyu. Mereka nampak meremehkan kekuatan fisiknya. Mereka merasa takabur dengan kekuatan sepasang sayap di tubuhnya. "Dengan sekali kibasan tubuh si kura-kura dan si penyu akan tewas," pikir kedua angsa.
          "Baiklah...ayoooo....serang aku dulu kawan....," kata si angsa meremehkan sambil tubuhnya melayang ke sana kemari menghindari kejaran si kura-kura dan si penyu.
          Ketika kedua angsa meledek dengan menjulurkan lehernya ke arah si kura-kura dan si penyu, maka tiba-tiba si kura-kura dan si penyu menggigit mulut mereka dan menghimpitnya diantara kedua cangkang kura-kura dan penyu. Kedua angsa kaget dan kesakitan karena mulutnya terhimpit cangkang kura-kura dan penyu. Mereka lari tunggang langgang ke sana kemari sambil mengerang kesakitan. Tubuhnya meronta-ronta agar si kura-kura melepaskan gigitannya, namun usahanya tidak berhasil. Kedua angsa berusaha terbang di antara pohon-pohon bakau di tepi pantai sambil memukul-mukulkan tubuh kura-kura dan penyu ke ranting-ranting pohon bakau. Namun semakin kuat usaha kedua angsa berusaha melepaskan diri dari gigitan si kura-kura dan si penyu justru gigitan si kura-kura dan si penyu semakin kuat. Kedua angsa akhirnya mencari celah-celah pohon, lalu meletakkan lehernya di sela-sela pohon. Kemudian dengan sekuat tenaga mereka berusaha menarik lehernya kuat-kuat agar si kura-kura dan penyu bisa melepaskan gigitannya. Dan ternyata usaha sepasang angsa berhasil. Gigitan si kura-kura dan si penyu mulai melemah dan akhirnya sepasang angsa bisa membebaskan diri dari gigitan mereka.
          Sepasang angsa merasa gembira bisa lepas dari gigitan si kura-kura dan si penyu. Mereka tertawa terbahak-bahak dan akan berteriak meluapkan kegembiraannya. Namun mereka terkejut saat mulutnya tidak bisa digunakan untuk mengucapkan kata sepatah katapun. Kata-kata yang keluar dari mulutnya hanya teriakan : NGAAAKKKK.....NGAAAAAAKKKK.....NGAAAKKKK.....NGAKKK...NGAKKK...
Ternyata pada saat mereka berusaha melepaskan gigitan si kura-kura dan si penyu mereka terlalu kuat menarik lehernya dari himpitan dahan pohon sehingga kini leher kedua angsa menjadi panjang dan sulit kembali seperti semula.
Mereka akhirnya menyesali diri.
          "Mungkin ini akibat perbuatan mereka suka bergosip dan suka memfitnah teman-temannya. Kini leherku jadi panjang dan sekarang aku tidak bisa bergosip dan memfitnah teman-teman lagi," kata sepasang angsa sambil  meneteskan air mata.


moral cerita : jangan suka bergosip dan memfitnah teman karena bisa berakibat fatal terhadap
                     diri sendiri.

     

Rabu, 24 April 2013

SI ALGAKA PENYELAMAT TERUMBU KARANG

foto : wikipedia-terumbu karang di pulau edenbury




          Sore itu, di pojok rumah Pak Po, berpuluh-puluh karang sedang menangis. Mereka merasa tersiksa karena ulah para nelayan yang sering merusak habitatnya. Merusak tempat hidupnya. Para nelayan sering mencari ikan dengan menggunakan bom. Akibat ledakan bom nelayan itulah yang mengakibatkan tubuh terumbu karang terpotong-potong. Bahkan, potongan-potongan tubuh terumbu karang diambil para nelayan untuk dijual. Hal inilah yang membuat para terumbu karang sedih dan senantiasa menangis.
          "Huhuu..huhu...tubuhku terpotong separuh."
          "Huhuhuhu...iya tanganku juga terpotong."
          "Huhuhuhu...para nelayan memang kejam...tubuhku dipasangi bom...dan tubuhku akhirnya porak poranda akibat ledakannya."
          "Iya para nelayan sungguh bodoh...mereka tidak mengerti fungsi kita."
          "Benar...para nelayan terlalu ceroboh...terlalu sembrono....dengan merusak terumbu karang maka ikan-ikan akan kesulitan mendapatkan makanan karena plankton-plankton kabur semua dan produksi oksigen dari si Alga akan berkurang."
          "Memang sungguh bodoh mereka mengambil jalan pintas demi mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan mengorbankan kepentingan jangka panjangnya."
          "Dengan mengebom dan merusak terumbu karang maka cadangan makanan mereka dalam jangka panjang akan semakin menipis...akhirnya mereka akan menderita paceklik makanan dari laut."
          "Memang para nelayan itu sungguh TER...LA...LU....!"
          "Lalu bagaimana dengan nasib kita...huhuhuhu..."
          Seorang anak nelayan terharu melihat terumbu karang-terumbu karang sedang menangis. Maka dia berusaha menghampirinya.
         "Selamat sore, terumbu karang," sapa anak nelayan. "Kenapa kamu menangis? Ada yang bisa aku bantu?"
         "Huhuhuhuhu....selamat sore, anak nelayan," jawab si terumbu karang. "Kami sangat sedih sekali karena para nelayan telah merusak rumah kami di laut. Mereka mencari ikan dengan menggunakan bom. Akibatnya tubuh-tubuh kami jadi terpotong-potong seperti ini. Bahkan, mereka mau menjual kami untuk hiasan. Itulah yang membuat kami menangis."
         "Sungguh kasihan kamu. Memang benar. Para orang tua kami selalu menggunakan bom untuk menangkap ikan. Mereka memasang bom di sela-sela terumbu karang agar.saat bom itu meledak maka  ikan-ikan akan mati. Padahal kata bapak dan ibu guru, kalau kita menangkap ikan menggunakan bom maka akan merusak terumbu karang dan habibat laut. Padahal terumbu karang sangat dibutuhkan ikan-ikan untuk berkembang biak dan mencari makanan. Kalau terumbu karang rusak maka ikan-ikan akan pergi ke tempat lain yang masih banyak makanannya."
         "Wah...benar itu, kawan. Terkadang manusia tidak menyadari akan keberadaan dan manfaat terumbu karang di dalam laut. Sebenarnya kalau mereka mengerti maka seharusnya terumbu-terumbu karang dilindungi dan dilestarikan. Bila habitat terumbu karang dijaga maka cadangan oksigen dan cadangan makanan ikan akan berlimpah ruah. Ikan-ikan akan semakin senang berkembangbiak dan berkumpul di sana. Para nelayan tentunya akan semakin mudah mendapatkan ikan-ikan karang yang besar-besar serta lezat rasanya."
         "Wah Benar, kawan. Akhir-akhir ini orang tua kami semakin putus asa. Sepanjang hari mereka mencari ikan namun selalu tidak mendapatkan seekor tangkapan sama sekali. Ikan-ikan sepertinya menghilang dan menjauh dari laut sekitar sini."
         "Itulah akibat ulah mereka sendiri akhirnya ikan-ikan pergi menjauh semua." kata terumbu karang.
          "Lalu, apa yang bisa aku bantu, kawan?" tanya si anak nelayan..
          "Begini, anak nelayan," kata terumbu karang. "Kami minta bantuanmu agar kamu mengembalikan potongan-potongan tubuhku ke habitatnya lagi. Aku kasihan kepada sahabatku si Alga yang kesulitan mendapat tempat tinggal karena tubuhku diangkat ke darat oleh para nelayan. Dan aku berjanji apabila tubuhku dikembalikan ke laut maka tidak berapa lama lagi ikan-ikan akan kembali lagi ke perairan laut desa sekitar sini. Namun kami berpesan agar para nelayan tidak mencari ikan dengan menggunakan bom atau merusak terumbu karang tempat kami melangsungkan kehidupan."
        Akhirnya, saat malam tiba...si anak nelayan mengembalikan batu karang-batu karang ke habitatnya semula. Si anak nelayan juga menyampaikan pesan si batu karang kepada para nelayan agar tidak mencari ikan dengan menggunakan bom lagi. Selain itu si anak nelayan juga melarang para nelayan merusak batu karang yang berada di terumbu karang di pantai mereka, melarang para nelayan mencemari pantai dengan sampah maupun zat kimia yang  dapat mencemari laut.
        Dan tidak berapa lama kemudian, para nelayan mencoba mencari ikan ke laut lagi.
        "Wah....aku dapat ikan kerapu....wah besar sekali ikan ini...tentu harganya mahal....hahahahhaha...."
        "Hoiiiiii....aku juga mendapat ikan kerapu yang besar...." teriak nelayan yang lain.
        Dan sejak saat itu setiap  hari para nelayan senantiasa mendapatkan hasil tangkapan ikan yang besar-besar. Kehidupan para nelayan berangsur-angsur membaik. Cadangan makanan mereka mulai tercukupi. Mereka kini menyadari bahwa menangkap ikan menggunakan bom adalah tindakan yang bodoh dan tidak terpuji yang mengakibatkan malapetakan bagi perairan mereka.  Malapetaka itu terjadi tidak dalam waktu sehari dua hari, namun berlangsung dalam waktu yang berkepanjangan.
       Si anak nelayan merasa senang dengan perubahan kebiasaan para nelayan. Demikian juga si batu karang dan si alga kini mulai hidup tenteram lagi di habitatnya tanpa diganggu oleh ulah manusia lagi. Dan untuk menyampaikan rasa terima kasihnya maka si batu karang dan si alga memberi nama si anak nelayan yang telah menyelamatkan terumbu karang dengan sebutan SI ALGAKA....singkatan dari kata si Alga dan Si Karang....


selesai....

pesan moral : mari kita lestarikan terumbu karang dunia demi kelestarian alam semesta...


sumenep, 25 April 2013...

Senin, 15 April 2013

2 MACAM BUAH JADI BONGKAHAN EMAS DAN INTAN

ilustrasi : agus karianto
         Dahulu kala, ada sebuah kerajaan dipimpin oleh raja yang jujur dan adil. Sang Raja memperlakukan seluruh rakyatnya sama kedudukannya di mata hukum. Raja menganggap bahwa setiap manusia adalah ciptaan Allah swt yang patut dihormati kedudukannya. Harta, pangkat, status sosial dan jabatan hanyalah hiasan hidup yang kebetulan hanya dimiliki oleh beberapa orang rakyatnya. Biarpun begitu, kejujuran dan keadilan sang rajalah yang membuat hidup rakyatnya tenang, tidak ada rasa iri dengki antara si kaya dan si miskin.
         Suatu hari, sang raja merasa bingung karena putri satu-satunya yang telah menginjak dewasa belum ada yang meminang juga. Padahal putri sang raja terkenal baik hati, cantik dan senantiasa disayangi seluruh rakyatnya. Oleh karena itu, sang raja memutuskan akan membuat sebuah sayembara yang ditujukan kepada seluruh rakyatnya untuk memilih calon pendamping putrinya.
         Sejak diumumkan sayembara tersebut ternyata yang mendaftar cukup banyak. Memang sang saja mengharuskan setiap pemuda untuk mengikutinya. Untuk itu, sang raja memerintahkan pengawal kerajaan untuk mendaftar semua pemuda yang ada di lingkungan kerajaan tanpa terkecuali.
        "Maaf sang Raja," kata salah satu petugas kerajaan. "Seluruh pemuda sudah kami daftar, namun ada seorang pemuda yang menolak untuk mengikuitinya."
        "Apa? Pemuda itu menolak mengikuti sayembaraku? Siapa pemuda itu, wahai pengawalku?"
        "Ampun sang raja. Pemuda itu bernama si Yatim. Dia menolak mengikuti sayembara dengan alasan tidak ingin meninggalkan ibunya yang sedang sakit. Dia ingin mendampingi ibunya yang sudah semakin tua dan sakit-sakitan."
         Sang raja merasa kagum dengan sikap sang pemuda itu. Betapa mulia dan setia pemuda itu dengan seorang wanita yang telah melahirkannya. Kalau si pemuda itu demikian setia dan menghormati ibunya maka sang raja yakin bahwa pemuda tersebut akan setia dengan istrinya. Tentu saja sang raja rela bila si pemuda tersebut menjadi pendamping putri satu-satunya. Namun, sang raja harus tetap pada pendiriannya akan menguji pemuda mana yang layak menjadi pendamping putri satu-satunya. Oleh karena itu. sang raja segera memerintahkan pengawalnya untuk mengikutsertakan pemuda tersebut mengikuti sayembara. Sedangkan  pihak kerajaan akan membawa serta ibunya untuk dirawat di kerajaan. Akhirnya si Yatim bersedia mengikuti sayembara yang diadakan kerajaan.
        Sayembara sang raja adalah masing-masing peserta mendapat bungkusan yang berisi 2 macam buah-buahan. Mereka diperintahkan untuk menghabiskan dua macam buah tersebut di suatu tempat tersembunyi dan tidak ada yang mengetahuinya. Maka siapa yang cepat menyelesaikan pekerjaannya akan menjadi juaranya. Oleh kerena itu, segera berhamburanlah para peserta membawa bungkusannya untuk menghabiskan buah yang dibawanya di tempat yang tersembunyi. Ada yang pergi ke tengah hutan, ada yang pergi ke lautan, ada yang pergi ke puncak gunung, ada yang masuk ke dalam goa.
        Menjelang siang, satu persatu peserta mulai kembali dengan membawa bukti biji buah yang telah mereka makan kepada sang raja. Mereka berkeyakinan bahwa dirinyalah yang menjadi pemenang sayembara karena berhasil makan buah ditempat yang jauh dan sama sekali tidak ada yang melihatnya. Tidak terkecuali para peserta lain juga berkeyakinan yang sama.
        "Aku pergi ke dasar samudra dan mustahil ada yang bisa mengikutiku. Disanalah aku memakan buah itu."
        "Aku memasuki lorong goa yang panjang dan gelap. Mustahil ada yang bisa mengikuti langkahku. Dan aku memakan buah itu di sana."
        "Aku pergi ke puncak gunung yang tertinggi. Jalannya terjal. Banyak hewan buas di sekelilingnya. Mustahil ada yang bisa mengikuti langkahku. Dan aku memakan buah itu di sana."
        Sang raja terkagum-kagum dengan usaha keras para rakyatnya. Namun beliau heran ketika melihat si Yatim masih tetap membawa bungkusannya. Sepertinya dia belum memakan buah yang dibawanya. Lalu sang raja memerintahkan si Yatim untuk menghadapnya.
       "Hei, kamu si Yatim. Kenapa bungkusanmu masih utuh? Kamu belum memakan buah itu, ya?"
       Dan seluruh peserta memperhatikan sikap si Yatim. Mereka keheranan dengan perbuatan si Yatim. Mereka menduga bahwa dia kesulitan menemukan tempat untuk bersembuyi.
       "Maaf, paduka Raja," kata si Yatim. "Bukan maksud hamba tidak menyukai buah-buahan ini. Hamba ingin sekali memakannya. Namun setiap kali  mau makan buah ini, hamba teringat pesan sang Raja untuk memakan buah ini di tempat yang tidak diketahui siapapun. Tetapi kenyataannya, dimanapun hamba mau makan buah ini ternyata selalu ada yang melihatnya. Jadi hamba mengurungkan niat makan buah ini."
       "Apa maksudmu, Yatim?" tanya sang raja penasaran.
       "Dimanapun hamba mau melaksanakan niat makan buah tersebut ternyata selalu ada yang melihatnya. Ada yang senantiasa mengawasi hamba. Dialah Allah SWT, paduka. Kemanapun hamba pergi di tempat sunyi namun Allah swt senantiasa mengawasi hamba. Dimanapun hamba bersembunyi namun Allah swt senantiasa melihat hamba. Oleh karena itu hamba tidak jadi makan buah pemberian paduka."
         Sang raja terkejut mendengar jawaban pemuda di depannya. Dia membenarkan apa yang diucapkannya. Ternyata pemuda yang dihadapannya adalah orang yang istimewa. Keimanannya begitu tinggi. Pemuda seperti ini yang layak menjadi seorang pemimpin. Seorang pemuda amanah dan begitu takut melanggar perjanjian yang telah disepakatinya. Kalau setiap tindakan senantiasa yakin ada yang mengawasinya yaitu Allah swt maka setiap tindakan yang dilakukan akan senantiasa jauh dari melanggar perbuatan yang kurang pantas dan tidak senonoh.
         Tidak terkecuali sang raja, namun seluruh peserta sayembara juga mengagumi kejujuan si Yatim. Dan seluruh peserta rela apabila yang menjadi pemenang sayembara adalah si Yatim. Lalu sang raja bertitah :
         "Sekarang aku tetapkan yang menjadi pemenang sayembara adalah si Yatim." kata sang raja yang diiringi tepuk tangan seluruh rakyat yang menyaksikan pengumuman pemenang sayembara.
         "Mohon maaf, paduka Raja," kata si Yatim. "Bukan maksud hamba menolak maksud paduka. Namun hamba merasa bahwa hamba hanyalah pemuda miskin. Hamba tidak layak menjadi pendamping putri paduka. Hamba tidak memiliki apa-apa sebagai maskawin pernikahan dengan putri paduka."
         "Hemmm....kejujuran dan sikap amanahmu itu sudah cukup sebagai syaratnya. Dan sebagai maskawinnya adalah dua macam buah yang ada dalam bungkusan itu. Nah, silahkan buka segera buah-buah itu."
         Kemudian si Yatim mengambil bungkusan buah pemberian raja. Lalu dia  segera  membukanya di hadapan seluruh rakyat dan sang putri raja. Dan betapa terkejutnya seluruh rakyat yang menyaksikan kejadian di hadapannya. Ternyata dua macam buah yang dibawa si Yatim telah berubah menjadi bongkahan emas dan bongkahan intan yang kemilauan.
         Sang raja dan sang putri tersenyum senang sebab tidak lama lagi sang putri akan berdampingan dalam pelaminan mendapatkan si Yatim yang jujur dan amanah.


selesai
sumenep, 16 april 2013

Sabtu, 13 April 2013

BUAH KESABARAN SI KAYU DAN SANG PAKU

ilustrasi : agus karianto
     Siang itu, di gudang nampak si kayu sedang menangis tersedu-sedu. Selama ini si kayu senantiasa menyesali diri. Ia menyesal menjadi kayu karena tubuhnya senantiasa dilukai oleh manusia. Terkadang digergaji, dipotong-potong dan bila tubuhnya sudah tidak berguna maka dijadikan kayu bakar. Hal inilah yang membuat dirinya senantiasa marah-marah. Seluruh teman yang ada di dekatnya senantiasa menjadi pelampiasan kemarahannya.
      Kebetulan saat itu si pemilik gudang sedang membuat meja kursi yang belum selesai.
      "Hoi, Paku! Kamu itu makin menyengsarakan aku saja!" bentak si kayu.
      "Lho...apa maksudmu, kayu?" jawab sang paku.
      "Eeee...kura-kura dalam perahu...pura pura tidak tahu, lagi...dasar."
      "Lha iya...kenapa kamu bilang aku menyengsarakanmu? Kok bisa?" tanya sang paku tidak mengerti maksud pembicaraan si kayu.
      "Sejak kedatanganmu, aku semakin sengsara. Tubuhku sebelumnya sudah dipotong-potong, digergaji dan sekarang kamu melukai tubuhku dengan ujung pakumu. Sakit, tahu !!!!"
        Sang paku cuma bisa terdiam mendengar penuturan si kayu.
        "Aku sendiri tidak bisa menolak ketika ujung pakuku menancap di tubuhmu," kata sang paku. "Bukankah yang menancapkan aku ke tubuhmu adalah pemilik gudang ini...jadi bukan aku yang salah....aku tidak bisa menolaknya"
         "Omong kosong....pokoknya sejak kedatangamu aku semakin menderita....itu salahmu!!! kata si kayu.
         "Wuah...ya tidak bisa begitu...aku sendiri juga menderita tetapi aku tidak berteriak-teriak seperti kamu."
        "Hoi jangan membelokkan masalah, kamu," bentak si kayu. "Aku yang menderita kamu kok ikut-ikutan menderita...memangnya apa penderitaanmu?"
        Sang paku mencoba menjawab si kayu sambil mengelus-elus kepalanya.
        "Memangnya kamu saja yang merasakan tubuhmu sakit? Tidakkah kamu lihat kepalaku selalu dipukul palu terus menerus sampai  botak begini....aku pusing....aku pusing setiap kepalaku dipukul-pukul palu."
        Dan Si kayu tertawa terbahak-bahak melihat kepala sang paku yang botak mengkilap akibat pukulan palu.
        "Hahahahahhahahahaha....hahahahahahah....hahahahaha....kepalamu lucu?" kata si kayu sambil terus tertawa terbahak-bahak.
         Sang paku ikut tertawa. Ia senang melihat si kayu mulai bisa melupakan rasa sedihnya. Kini si kayu berhenti menyalahkan diri sendiri karena ada temannya yang ikut menderita seperti dirinya.
         "Sebenarnya kamu harus merasa bangga, Kayu," kata sang paku.
         "Apa maksudmu,  paku?" tanya si kayu tidak mengerti.
         "Sebenarnya semua pengorbananmu itu tidak seberapa dibandingkan dengan besarnya jasamu untuk seluruh dunia ini."
         "Hahahaha...jasa katamu? Jasa apa?!" tanya si kayu.
         "Begini, teman. Selama ini tubuhmu selalu dipotong-potong, digergaji, dihaluskan. Setelah itu tubuhmu direkatkan satu sama lain menggunakan paku. Dan setelah itu jadilah aneka jenis meja, kursi dan peralatan rumah tangga lain dengan bentuk yang indah. Namun, tidakkah kamu tahu bahwa dengan pengorbananmu ini kamu sudah menjadi bagian melahirkan para pahlawan, para ilmuwan, para peneliti, doktor, dokter, profesor dan masih banyak lagi profesi yang lain. Mereka bisa cerdas karena sebelumnya menuntut ilmu di bangku sekolah. Setiap hari mereka menuntut ilmu menggunakan tubuhmu. Coba bayangkan andai saja kamu tidak mengorbankan tubuhmu untuk dijadikan bangku dan kursi sekolah, maka mereka akan kesulitan menulis ilmu-ilmunya. Tentunya dunia keilmuan akan tidak bisa berkembang secepat ini."
          Si kayu hanya bisa diam mendengar penuturan sang paku. Dia kini sadar bahwa tidak seharusnya setiap hari dia menyesali diri. Seharusnya dia bangga karena sedikit pengobanannya ternyata bisa berperan serta memajukan perkembangan ilmu pengetahuan dunia.
          "Benar katamu, teman. Buat apa kita menyesali diri sendiri pada setiap pengorbanan yang kita kerjakan. Ternyata setiap pengorbanan  tentu akan menghasilkan kebaikan yang tidak kita sadari sebelumnya," kata si kayu sambil merelakan tubuhnya dipaku untuk dijadikan bangku-bangku sekolah.



selesai,'
sumenep, 6 April 2013
         

Jumat, 08 Maret 2013

SI SEMUT YANG JUARA

gambar : agus karianto
         Malam itu, terjadi kegaduhan di kerajaan semut. Salah satu warganya bernama Mumut memberanikan diri mengikuti pemilihan pengganti Raja Hutan yang sebentar lagi akan habis masa tugasnya. Memang seluruh warga semut mengakui bahwa kepemimpinan si Mumut selama ini patut diacungi jempol. Prestasi si Mumut sangat banyak. Setiap kali ada kegiatan di kerajaan semut, maka si Mumutlah yang menjadi pemimpinnya. Walaupun prestasi si Mumut selangit di kalangan mereka, namun seluruh warga semut merasa cemas dan ragu bila dia bertindak nekad mengikuti pemilihan raja hutan.
         "Ide gila, Mut," kata teman-teman si Mumut. "Sebaiknya batalkan saja ikut pemilihan raja hutan."
        "Iya, Mut. Urungkan saja niatmu yang tidak masuk akal itu," seru teman si Mumut yang lain.
       "Benar, Mut. Kalau kamu mencalonkan diri menjadi raja di kerajaan semut pasti aku dukung. Tapi...kalau mencalonkan diri menjadi Raja Hutan aku meragukan kemampuanmu."
       Namun si Mumut  tersenyum  mendengar kekhawatiran teman-temannya. Si Mumut enggan mengurungkan niatkan, bahkan tekadnya semakin kuat menjadi raja hutan. Dia tidak menyangkan ternyata banyak teman-temannya yang sangat perduli dengan keselamatannya.
       "Mut, hentikan niatmu!" kata semut merah. "Kami sesungguhnya khawatir dengan keselamatanmu. Kami khawatir kamu akan celaka bila harus bertarung dengan musuhmu. Musuhmu sangat berat, Mut. Kami khawatir kamu tidak sanggup melawannya." 
       "Benar, Mut. Lawan tandingmu adalah Si Gajah!! Tubuh Gajah sangat besar, Mut! Sekali injak dengan kakinya maka tubuhmu akan hilang ditelan bumi," kata semut yang lain meyakinkan.
Sementara itu, beratus-ratus semut yang ikut mendengarkannya perdebatan itu ikut resah dan gelisah dengan kenekatan si Mumut. Semuanya khawatir seandainya si Mumut tewas maka mereka kehilangan calon pemimpin terbaiknya.
       "Teman-teman," kata si Mumut mulai menjawab keresahan teman-temannya. "Saya ucapkan terima kasih karena kalian begitu peduli dan mengkhawatirkan keselamatanku. Sebenarnya, kekhawatiran teman-teman itu berlebihan. Kita tahu khan setiap warga memiliki hak yang sama untuk menduduki posisi Raja Hutan. Nah...selama ini Raja Hutan selalu dimonopoli oleh yang memiliki kekuatan besar. Warga yang kuat senantiasa diunggul-unggulkan menduduki posisi penting. Tetapi, kali ini aku akan merubah pola pikir itu. Aku percaya dan telah memiliki taktik untuk memenangkannya. Aku akan buktikan bahwa rakyat kecil seperti kita layak menjadi raja hutan"
        "Hah? Kamu yakin memiliki taktik untuk memenangkannya, Mut?" tanya teman-temannya agak ragu.
        "Benar, asal kita bersatu maka aku akan mampu mengalahkan lawanku."
        "Maksudmu kita bersatu itu bagaimana, Mut?"
        "Begini, teman-teman. Untuk mengalahkan Gajah, aku perlu bantuan kalian. Aku butuh kekompakan kita. Aku butuh persatuan kita. Aku butuh kebersamaan kita. Maka aku yakin kalau kita bersatu pasti si gajah dapat aku kalahkan. Maukah kalian berjuang bersama-sama aku?" tanya si Mumut bersemangat.
        Dan tanpa dikomando seluruh semut menjawab : "Mauuuuuuuuuuuuuu.....mau...mau...kita bersatu melawan si Gajah."
        "Terimakasih teman-teman." kata si Mumut. "Nah, sekarang kita mulai menyusun strategi."
        Kemudian si Mumut mulai membagi tugas kepada seluruh semut. Sebagian semut diperintahkan untuk mengumpulkan buah merica sebanyak-banyaknya. Dan sebagian semut bertugas menumbuk setiap merica yang telah disetorkankannya. Sebagian semut bertugas menyaring merica yang telah ditumbuk. Kemudian merica yang telah halus ditempatkan pada sebuah kantong yang akan dibawa si Mumut bertarung melawan si Gajah.
        "Okey, kalau semua sudah siap maka aku akan pergi menemui si  Gajah  untuk  memulai pertarungan," kata si Mumut sambil mengangkat kantong berisi bubuk merica. Sementara itu semua semut mengiringinya dari kejauhan. Si Mumut terus berjalan menuju tempat pertandingan.
         Di tempat pertandingan, si Mumut nampak berdiri tegap sambil menunggu si gajah datang. Sementara itu, teman-teman si Mumut menyaksikannya dari kejauhan. Seluruh semut saling bergandengan tangan sambil berdo'a agar si Mumut diberi kekuatan untuk menghadapi si gajah.
         Tidak berapa lama,  di kejauhan nampak debu-debu beterbangan. Terdengar suara yang nyaring seperti bunyi terompet. "Toeeeeettttt....toeeeettt....toeeetttt." Ternyata yang datang adalah si gajah yang akan menjadi lawan tanding si Mumut. Si gajah datang diiringi teman-temannya seperti sapi, kerbau, kuda nil, dan hewan-hewan besar lainnya.
        "Aduh bagaimana ini?" kata teman si Mumut mulai merasa resah. "Bagaimana mungkin si Mumut bisa menghadapi lawan sebesar itu? Aduh...bagaimana ini?" Namun keresahan para semut tiba-tiba terhenti ketika terdengar suara si gajah yang menggelegar.
        "Jadi yang menjadi lawan tandingku hanyalah seekor semut?!!!! Huuuahahahahahahaha....huuuahahaha....huuuahahaha...nekat benar kamu, Mut!" bentak si gajah sambil berkacak pinggang menunjukkan keangkuhan dan ketakaburannya.
       "Urungkan saja niatmu, Mut! Percuma kamu menghadapi kekuatanku! Kamu hewan kecil apa yang bisa kamu andalkan untuk bisa melawanku...hah?!"
       "Jangan takabur begitu, Gajah," kata si Mumut. "Setiap ketakaburan dan kesombongan tentu akan mencelakakan diri sendiri. Kamu jangan takabur dengan kekuatan yang kamu miliki sat ini. Semua kemungkinan bisa terjadi. Dan sebaiknya mari kita memulai pertandingan ini."
      "Puih ! Bukan sombong, Mut! Tapi ini kenyataan? Tubuhmu kecil, lalu mana bisa mengalahkan keperkasaanku. Sekali aku injak dengan kakiku maka tubuhmu akan masuk ke dalam tanah."
       "Berhenti menyombongkan diri, Gajah! Ayo segera hadapi aku!" kata semut sambil berlari menghampiri si gajah. Dan si gajah diam saja tidak menggerakkan tubuh sama sekali. Si gajah tahu bahwa dibutuhkan berpuluh-puluh langkah si  Mumut untuk bisa mendekati tubuhnya. Oleh karena itu sambil menunggu si semut berjalan di tubuhnya, si gajah memejamkan mata sambil tiduran di atas tanah. Si gajah benar-benar menganggap enteng kecerdikan si Mumut. Dan tidak berapa lama si Mumut telah berada di dekat belalai si gajah. Kemudian dia  mengeluarkan kantong yang berisi tumbukan merica halus dan secepat kilat merica halus tersebut ditaburkan ke kedua lobang hidung si Gajah. Sebelum si Gajah menyadari apa yang dilakukannya, maka si Mumut secepat kilat berlari memasuki telinga kanan si Gajah. Lalu dia menggigitnya kuat-kuat di beberapa tempat.
        "Toeeetttt...toeeettt...toeeett....aduh sakit..sakit...sakit...!!.telingaku sakit....hasiiihhhh....hasiihhh !!!," teriak si gajah menahan rasa sakit sambil berkali-kali bersin. Si gajah mencoba berusaha mengeluarkan hewan yang telah menggigit telinganya dengan belalainya, namun usahanya selalu gagal karena hidungnya telah dipenuhi oleh bubuk merica yang ditaburkan si Mumut sehingga hal inilah yang mengakibatkan dirinya senantiasa bersin terus menerus.
        Si gajah semakin resah merasakan telinganya sakit. Sementara itu hidungnya tidak henti-hentinya bersin. Akhirnya untuk meredakan rasa sakitnya, si  gajah berguling-guling ke atas tanah. Berkali-kali telinga kanannya dibentur-benturkan ke benda apa saja yang ada di dekatnya, namun rasa sakit di telinganya tidak hilang juga. Sementara itu, seluruh teman si Gajah tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka ingin menolong si gajah, namun si gajah terus meronta-ronta dan berlarian kesana kemari. Akhirnya, lama kelamaan tenaga si gajah mulai habis dan tubuhnya jatuh ke atas tanah tanpa bisa bergerak lagi. Si gajah sudah tidak berdaya. Dia akhirnya menyerah dan mengakui kekalahannya melawan si Mumut. "Aku mengaku kalah, Mut. Kamu memang hewan kecil namun amat cerdik." kata si gajah.
         "Horeee.....hore...hore...hore....hidup Mumut...Hidup Mumut...hidup Mumut," teriak para semut sambil berlarian mendekati si Mumut. "Hore...si Mumut yang cerdik kini berhak menjadi Raja Hutan....!"
         Si Gajah tertunduk malu. Dia malu telah meremehkan kecerdikan si Mumut. Ia menyesal telah bersikap takabur dan sombong dengan kekuatan diri sendiri. Setelah mengucapkan selamat atas kemenangan si Mumut, kemudian ia  pergi menjauh diikuti teman-temannya.


selesai

sumenep, 8 maret 2013      

Rabu, 06 Maret 2013

PERSAHABATAN GAJAH DAN KERBAU

gambar : agus karianto
         Dahulu kala, ada seorang petani yang memiliki hewan gajah dan kerbau. Hewan-hewan itulah yang membantunya dalam menggarap tanah pertaniannya. Gajah dan kerbau dengan senang hati bekerjasama membantu pak tani mengolah tanah pertanian. Setiap selesai mengolah tanah, mereka selalu mendapat jatah rumput yang segar dari pak tani. Dan mereka dengan senang hati memakan rumput itu bersama-sama.
         Namun, persahabatan gajah dan kerbau sedikit terganggu dengan kebiasaan jorok yang dimiliki kerbau. Si kerbau ternyata malas kalau disuruh mandi, sehingga setiap si gajah berdekatan dengannya maka akan tercium bau tidak enak yang sangat menusuk hidung si gajah. Mula-mula si gajah bisa tahan dan menyadari kekurangan temannya itu, tetapi lama kelamaan timbul rasa jengkelnya juga. "Kalau dibiarkan terus maka selera makanku akan hilang," pikir si gajah. Maka pada saat yang tepat si gajah menegur kebiasaan jorok temannya.
        "He, Kerbau. Tubuhmu bau...ayo sana mandi dulu ke sungai!" protes si gajah.
        Namun si kerbau pura-pura tidak dengar kata-kata si gajah.
        "Hei, kerbau. Tubuhmu bau...sudah lama kamu belum mandi!"
        "Oaaawww....malas," jawab si kerbau
         "Walah...walah...walah....jangan jorok begitu, ah! Badanmu bau...aku jadi malas kalau berdekatan dengan kamu."
         "Biar saja...aku malas mandi...dingin...badanku nanti bisa masuk angin...kamu mau kerokin tubuhku?"
         Dan si gajah tidak mau lagi berdebat karena takut merusak persahabatan mereka. Akhirnya dia pergi meninggalkan si kerbau sendirian.
         "Ya sudahlah kalau kamu bertahan dengan kemalasanmu...maka mulai besok aku enggan berdekatan dengan kamu lagi," demikian ancam si gajah.
         "Siapa takut.....siapa takut....oawwww," ejek si kerbau kepada si hajah.
         Pada keesokan hari setelah mereka menyelesaikan pekerjaan membajak sawah, sebagaimana biasa mereka mendapat jatah makan rumput dari pak tani. Dan sebagaimana kesepakatan sebelumnya si gajah enggan berdekatan dengan kerbau lagi. Si gajah berdiri di sebelah utara kotak makanan, sedang si kerbau berdiri di ujung sebelah selatan kotak makanan. Mereka berdiri berjauhan. Karena si gajah memiliki belalai yang panjang sehingga dengan enaknya dia meraih rumput-rumput yang letaknya jauh dari tempatnya berdiri. Sedangkan si kerbau hanya menikmati rumput yang ada di hadapannya saja. "Aduh...ini tidak adil," pikir si kerbau. "Aku cuma kebagian rumput sedikit, sedang si gajah mendapat jatah banyak? Ini tidak adil."
         "He he he he he.....kamu curang, Gajah! Kamu dapat rumput yang banyak sedangkan aku cuma mendapat jatah sedikit. Ini tidak adil'," protes si kerbau.
         "Ya adil kan! Kita berdiri berjauhan...siapa yang dapat meraih rumput sebanyak-banyaknya ya dia boleh menikmati sepuasnya. Ini kan perjanjian kita kemarin<' kata si gajah.
         Si kerbau akhirnya menyadari kesalahannya. "Kalau aku tidak segera mandi maka si gajah akan merebut jatah makanku setiap hari," kata si kerbau dalam hati. Dan sejak saat itu si kerbau senantiasa pergi ke sungai untuk membersihkan diri ke kali agar tubuhnya tidak bau lagi.
        Di kejauhan, si gajah tersenyum senang karena temannya sudah merobah kebiasaan joroknya. "Mulai besok aku akan memiliki teman yang hilang bau badannya. Dan aku akan membagi sama rata jatah makan rumputku dengan si kerbau."
        "Hoi, Gajah...kalau aku masuk angin maka kamu bertanggung jawab untuk menggosok tubuhku dengan minyak kayu putih yaaa....'" teriak si kerbau sambil terus berendam di dalam air sungai



selesai

sumenep, 7 maret 2013

Senin, 04 Maret 2013

KAKEK SENO YANG BIJAKSANA

gambar : agus karianto
       Mbah Seno, begitulah cara kami menyapa kepada seorang lelaki tua yang hidup sebatang kara di gubuk pinggir pantai.  Umurnya sudah menginjak tujuh puluh tahunan namun tenaganya masih kuat berjalan menyusuri  pantai setiap pagi hari. Dia orangnya ramah dan penyabar sehingga kami senang bila bermain bersamanya. Ada saja nasehat mulia yang dia sampaikan kepada anak-anak. Memang Mbah Seno senantiasa memegang prinsip hidup bahwa bila kita ingin hidup mulia maka selagi hidup kita harus senantiasa bermanfaat bagi siapa saja dan dimanapun berada.
        Sore itu, kami sengaja ingin berkunjung ke rumah Mbah Seno. Sudah tiga minggu sejak kami menghadapi ujian sekolah, memang kami jarang bisa keluar rumah. Kami harus bekerja keras. Kami harus berjihad dan bertarung mati-matian mempelajari pelajaran sekolah agar nilai ujian menjadi baik. Kata mbah Seno berjihadnya anak pelajar yaitu dengan cara mempelajari pelajaran sekolah. "Jadi belajar sungguh-sungguh termasuk ibadah dan berpahala juga lho," kata mbah seno beberapa waktu yang lalu.
        "Assalamu'alaikum," kata kami sewaktu tiba di rumah mbah Seno. Namun tidak ada jawaban salam kami dari dalam rumah Mbah Seno. Dan kami berusaha mengulangi mengucapkan salam lagi.
         "Assalamu'alaikum, Mbah Seno"
          Namun ucapan salam kedua kami juga tidak mendapat jawaban dari dalam rumah. Kami mulai resah dan saling bertanya.
          "Hei...ada nggak ya, mbah Seno? Kok sudah dua kali kita ucapkan salam tapi belum mendapat jawaban juga."
           "Iya nih, aneh, tidak biasanya Mbah Seno begini. Atau jangan-jangan beliau sakit?"
            Wah kami semakin resah dan panik kalau saja mbah seno benar-benar sakit. Lalu kami berusaha mencoba melongok ke dalam rumah untuk melihat kondisi mbah Seno. Namun kami semakin kecewa karena ternyata di dalam rumah mbah Seno juga tidak ada.
          "Kemana perginya Mbah Seno? Bukankah saat ini hari sudah sore, seharusnya beliau sudah berada di rumahnya...Wah pergi kemana beliau?"
          "Ini gara-gara kamu sih, Agus," kata Andik menyalahkan.
          "Lho kok aku dibawa-bawa? Memangnya salahku apa?"
          "Kamu kan tidak mau diajak keluar untuk mengunjungi Mbah Seno beberapa hari yang lalu? Beliau kan hidup sebatang kara, sehingga karena tidak ada teman akhirnya dia pergi entah kemana."
          "Lho...ya tidak bisa begitu, kawan. Bukankah kita sudah sepakat mentaati nasehat Mbah Seno untuk berjihad mati-matian mempelajari pelajaran kita agar nilainya bagus. Nah, resikonya ya kita memanfaatkan semaksimal mungkin waktu kita. Setiap detik waktu kita sangat berguna untuk belajar. Oleh karena itu, saya enggan membuang-buang waktu percuma hanya untuk sekedar bermain-main yang tidak ada gunanya."
           "Iya...tapi mengunjungi Mbah Seno kan berguna juga, Gus! Bukankah dia hidup sendirian...nah..."
           "Sudah..sudah...sudah..kita tidak usah berlama-lama berdebat...kita berpikir positif saja. Kita jangan menduga-duga sesuatu yang belum tentu kebenarannya. Lebih baik kita segera mencari ke sekitar pantai...biasanya Mbah Seno khan senang menyusuri pantai."
           "Ya iyalah...ayuk kita cari beliau bersama-sama..." dan kami serentak menyusuri tepian pantai sambil mencari keberadaan Mbah Seno. Setiap tempat dimana Mbah Seno sering menyendiri telah kami singgahi, namun Mbah Seno belum ketemu juga. Kami nyaris putus ada. Dan hari semakin sore, namun usaha kami tidak membawa hasil. Mbah seno sepertinya telah menghilang. Mbah Seno hilang. Mbah Seno hilang. Kami semakin merasa bersalah.
            Berita tentang hilangnya Mbah Seno cepat tersebar ke seluruh sudut kampung. Masyarakat mulai ramai memperbincangkan tentang hilangnya Mbah Seno. Dan atas  kesepakatan aparat desa, maka seluruh masyarakat dikerahkan untuk mencari keberadaan Mbah Seno. Oleh karena itu, sejak pagi hari  tanpa dikomando dan dengan sukarela seluruh masyarakat mulai menyebar ke seluruh pantai untuk mencari keberadaan Mbah Seno. Namun belum begitu lama, tiba-tiba salah satu warga berteriak kencang-kencang :
           "Hoiiiii....saya sudah menemukan Mbah Seno...saya sudah menemukan Mbah Seno...!!!"
           Seluruh warga segera menghentikan pencariannya. Dan mereka segera  berlarian menuju ke arah warga yang telah menemukan keberadaan Mbah Seno.
           "Ternyata  Mbah Seno masih segar bugar," kata beberapa warga. "Mbah Seno kemana saja semalaman? Kami seluruh warga merasa panik atas hilangnya Mbah Seno."
           "Maafkan Mbah Seno, cucu-cucuku," kata Mbah Seno "Memang semalaman Mbah Seno tidak pulang ke rumah. Mbah sengaja pergi ke kampung sebelah untuk mencari ini," kata Mbah Seno sambil menunjukkan sekeranjang bibit-bibit bakau.
          "Hah?! Apa ini Mbah?"
          "Lho...itu khan bibit bakau, Mbah "
          "Memangnya untuk apa mencari bibit bakau, Mbah ?"
          Mbah Seno terdiam. Dia mengambil nafas panjang berkali-kali. Lalu beliau mengambil sebuah bibit bakau untuk diperlihatkan kepada warga masyarakat.
         "Begini cucu-cucuku," kata Mbah Seno mulai bercerita. "Kalian kan tahu, kalau akhir-akhir ini desa kita sering sekali diterjang air laut. Sudah banyak rumah warga yang rusak. Bahkan saat terjadi ROB yaitu air laut pasang maka nyaris beberapa tempat tergenangi air laut. Kita kebanjiran. Dampaknya aktifitas warga akan terganggu. Belum lagi para nelayan sekarang semakin berkurang mendapatkan hasil tangkapan. Mbah ingat, dulu kita mudah mendapatkan udang, kepiting dan ikan-ikan. Namun sejak hutan bakau kita porak poranda, berantakan, banyak pemotongan liar dan nyaris pantai kita gundul maka kita semakin susah mendapatkan udang. Kita semakin sudah mendapatkan kepiting. Kita semakin susah meningkatkan hasil tangkapan di laut. Ikan-ikan senantiasa kita tangkap sedangkan habitat tempat udang, ikan dan kepiting bertelur tidak ada, sehingga wajarlah hidup kita semakin susah begini."
        "Tapi, Mbah, yang menurunkan rejeki itu khan Allah SWT...kalau memang rejeki kita cuma segitu ya kita terima saja."
        "Benar cucuku, namun sebagai manusia kita tidak boleh pasrah begitu saja. Apa karena Allah sudah menentukan rejeki kita maka kita pasrah begitu saja dengan kehidupan pantai yang rusak karena ulah kita?
Ini hukum alam. Ini sunatullah, cucuku. Barang siapa yang merawat lingkungannya maka Allah akan menurunkan nikmat sehatnya dan barang siapa yang mencoba merusak alam sekitarnya maka Allah juga akan menurunkan malapetaka bagi kehidupannya. Dan seperti yang kita saksikan di kampung kita ini. Banyak masyarakat sudah tidak perduli dengan lingkungan. Pohon bakau ditebang semaunya. Para nelayan mengambil semua hasil tangkapan tanpa memperdulikan ikan bibit tetap dia tangkap. Kita semakin jorok dengan membuang sampah sembarangan. Dan dampaknya dapat kita saksikan sekarang ini."
        Mendengar penjelasan Mbah Seno yang masuk akal membuat seluruh masyarakat sadar akan kesalahannya selama ini. Bapak kepala desa merasa senang atas sikap Mbah Seno yang masih perduli dengan kampungnya.
       "Lalu, sekarang apa yang harus kita lakukan, Mabh Seno?" kata masyarakat.
       "Begini, cucu-cucuku. Mbah semalam telah mengumpulkan sekarung bibit-bibit bakau. Nah, mbah minta kesadaran seluruh warga untuk menanami sepanjang pantai kita dengan bibit bakau ini. Dan marilah kita rawat dan kita hijaukan sepanjang pantai dengan pohon bakau. Karena dengan hutan bakau ini, insyaallah allah akan menurunkan rahmat dan rezekinya buat seluruh masyarakat. Bila sepanjang pantai kita telah menghijau dengan hutan bakau maka kita akan semakin sehat, para nelayan akan meningkat hasil tangkapannya dan ibu-ibu akan semakin mudah mendapatkan udang, kepiting dan ikan-ikan segar yang lezat."
        "Okey...okey...siap Mbah...siap Mbah...siap Mbah..." kata seluruh masyarakat spontan dan penuh kesadaran sambil mengambil bibi-bibit bakau untuk ditanamkan ke sepanjang pantai desa mereka.
Melihat masyarakatnya dengan senang hati berusaha menghijaukan kawasan pantai membuat Bapak kepala desa merasa senang dan diapun segera ikut terjun bersama warga mengambil bibit bakau untuk ditanamkan ke sepanjang pantai sambil berkata kepada Mbah Seno
       "Terima kasih, Mbah Seno. Kau layak mendapat julukan pahlawan sejati. Seorang pahlawan tidak memperdulikan apakah pengabdiannya dihargai orang atau tidak. Seorang pahlawan adalah pejuang yang mengabdikan dirinya agar bermanfaat bagi masyarakat banyak sekecil apapun nilainya."