Tampilkan postingan dengan label tauladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tauladan. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 April 2013

2 MACAM BUAH JADI BONGKAHAN EMAS DAN INTAN

ilustrasi : agus karianto
         Dahulu kala, ada sebuah kerajaan dipimpin oleh raja yang jujur dan adil. Sang Raja memperlakukan seluruh rakyatnya sama kedudukannya di mata hukum. Raja menganggap bahwa setiap manusia adalah ciptaan Allah swt yang patut dihormati kedudukannya. Harta, pangkat, status sosial dan jabatan hanyalah hiasan hidup yang kebetulan hanya dimiliki oleh beberapa orang rakyatnya. Biarpun begitu, kejujuran dan keadilan sang rajalah yang membuat hidup rakyatnya tenang, tidak ada rasa iri dengki antara si kaya dan si miskin.
         Suatu hari, sang raja merasa bingung karena putri satu-satunya yang telah menginjak dewasa belum ada yang meminang juga. Padahal putri sang raja terkenal baik hati, cantik dan senantiasa disayangi seluruh rakyatnya. Oleh karena itu, sang raja memutuskan akan membuat sebuah sayembara yang ditujukan kepada seluruh rakyatnya untuk memilih calon pendamping putrinya.
         Sejak diumumkan sayembara tersebut ternyata yang mendaftar cukup banyak. Memang sang saja mengharuskan setiap pemuda untuk mengikutinya. Untuk itu, sang raja memerintahkan pengawal kerajaan untuk mendaftar semua pemuda yang ada di lingkungan kerajaan tanpa terkecuali.
        "Maaf sang Raja," kata salah satu petugas kerajaan. "Seluruh pemuda sudah kami daftar, namun ada seorang pemuda yang menolak untuk mengikuitinya."
        "Apa? Pemuda itu menolak mengikuti sayembaraku? Siapa pemuda itu, wahai pengawalku?"
        "Ampun sang raja. Pemuda itu bernama si Yatim. Dia menolak mengikuti sayembara dengan alasan tidak ingin meninggalkan ibunya yang sedang sakit. Dia ingin mendampingi ibunya yang sudah semakin tua dan sakit-sakitan."
         Sang raja merasa kagum dengan sikap sang pemuda itu. Betapa mulia dan setia pemuda itu dengan seorang wanita yang telah melahirkannya. Kalau si pemuda itu demikian setia dan menghormati ibunya maka sang raja yakin bahwa pemuda tersebut akan setia dengan istrinya. Tentu saja sang raja rela bila si pemuda tersebut menjadi pendamping putri satu-satunya. Namun, sang raja harus tetap pada pendiriannya akan menguji pemuda mana yang layak menjadi pendamping putri satu-satunya. Oleh karena itu. sang raja segera memerintahkan pengawalnya untuk mengikutsertakan pemuda tersebut mengikuti sayembara. Sedangkan  pihak kerajaan akan membawa serta ibunya untuk dirawat di kerajaan. Akhirnya si Yatim bersedia mengikuti sayembara yang diadakan kerajaan.
        Sayembara sang raja adalah masing-masing peserta mendapat bungkusan yang berisi 2 macam buah-buahan. Mereka diperintahkan untuk menghabiskan dua macam buah tersebut di suatu tempat tersembunyi dan tidak ada yang mengetahuinya. Maka siapa yang cepat menyelesaikan pekerjaannya akan menjadi juaranya. Oleh kerena itu, segera berhamburanlah para peserta membawa bungkusannya untuk menghabiskan buah yang dibawanya di tempat yang tersembunyi. Ada yang pergi ke tengah hutan, ada yang pergi ke lautan, ada yang pergi ke puncak gunung, ada yang masuk ke dalam goa.
        Menjelang siang, satu persatu peserta mulai kembali dengan membawa bukti biji buah yang telah mereka makan kepada sang raja. Mereka berkeyakinan bahwa dirinyalah yang menjadi pemenang sayembara karena berhasil makan buah ditempat yang jauh dan sama sekali tidak ada yang melihatnya. Tidak terkecuali para peserta lain juga berkeyakinan yang sama.
        "Aku pergi ke dasar samudra dan mustahil ada yang bisa mengikutiku. Disanalah aku memakan buah itu."
        "Aku memasuki lorong goa yang panjang dan gelap. Mustahil ada yang bisa mengikuti langkahku. Dan aku memakan buah itu di sana."
        "Aku pergi ke puncak gunung yang tertinggi. Jalannya terjal. Banyak hewan buas di sekelilingnya. Mustahil ada yang bisa mengikuti langkahku. Dan aku memakan buah itu di sana."
        Sang raja terkagum-kagum dengan usaha keras para rakyatnya. Namun beliau heran ketika melihat si Yatim masih tetap membawa bungkusannya. Sepertinya dia belum memakan buah yang dibawanya. Lalu sang raja memerintahkan si Yatim untuk menghadapnya.
       "Hei, kamu si Yatim. Kenapa bungkusanmu masih utuh? Kamu belum memakan buah itu, ya?"
       Dan seluruh peserta memperhatikan sikap si Yatim. Mereka keheranan dengan perbuatan si Yatim. Mereka menduga bahwa dia kesulitan menemukan tempat untuk bersembuyi.
       "Maaf, paduka Raja," kata si Yatim. "Bukan maksud hamba tidak menyukai buah-buahan ini. Hamba ingin sekali memakannya. Namun setiap kali  mau makan buah ini, hamba teringat pesan sang Raja untuk memakan buah ini di tempat yang tidak diketahui siapapun. Tetapi kenyataannya, dimanapun hamba mau makan buah ini ternyata selalu ada yang melihatnya. Jadi hamba mengurungkan niat makan buah ini."
       "Apa maksudmu, Yatim?" tanya sang raja penasaran.
       "Dimanapun hamba mau melaksanakan niat makan buah tersebut ternyata selalu ada yang melihatnya. Ada yang senantiasa mengawasi hamba. Dialah Allah SWT, paduka. Kemanapun hamba pergi di tempat sunyi namun Allah swt senantiasa mengawasi hamba. Dimanapun hamba bersembunyi namun Allah swt senantiasa melihat hamba. Oleh karena itu hamba tidak jadi makan buah pemberian paduka."
         Sang raja terkejut mendengar jawaban pemuda di depannya. Dia membenarkan apa yang diucapkannya. Ternyata pemuda yang dihadapannya adalah orang yang istimewa. Keimanannya begitu tinggi. Pemuda seperti ini yang layak menjadi seorang pemimpin. Seorang pemuda amanah dan begitu takut melanggar perjanjian yang telah disepakatinya. Kalau setiap tindakan senantiasa yakin ada yang mengawasinya yaitu Allah swt maka setiap tindakan yang dilakukan akan senantiasa jauh dari melanggar perbuatan yang kurang pantas dan tidak senonoh.
         Tidak terkecuali sang raja, namun seluruh peserta sayembara juga mengagumi kejujuan si Yatim. Dan seluruh peserta rela apabila yang menjadi pemenang sayembara adalah si Yatim. Lalu sang raja bertitah :
         "Sekarang aku tetapkan yang menjadi pemenang sayembara adalah si Yatim." kata sang raja yang diiringi tepuk tangan seluruh rakyat yang menyaksikan pengumuman pemenang sayembara.
         "Mohon maaf, paduka Raja," kata si Yatim. "Bukan maksud hamba menolak maksud paduka. Namun hamba merasa bahwa hamba hanyalah pemuda miskin. Hamba tidak layak menjadi pendamping putri paduka. Hamba tidak memiliki apa-apa sebagai maskawin pernikahan dengan putri paduka."
         "Hemmm....kejujuran dan sikap amanahmu itu sudah cukup sebagai syaratnya. Dan sebagai maskawinnya adalah dua macam buah yang ada dalam bungkusan itu. Nah, silahkan buka segera buah-buah itu."
         Kemudian si Yatim mengambil bungkusan buah pemberian raja. Lalu dia  segera  membukanya di hadapan seluruh rakyat dan sang putri raja. Dan betapa terkejutnya seluruh rakyat yang menyaksikan kejadian di hadapannya. Ternyata dua macam buah yang dibawa si Yatim telah berubah menjadi bongkahan emas dan bongkahan intan yang kemilauan.
         Sang raja dan sang putri tersenyum senang sebab tidak lama lagi sang putri akan berdampingan dalam pelaminan mendapatkan si Yatim yang jujur dan amanah.


selesai
sumenep, 16 april 2013

Senin, 04 Maret 2013

KAKEK SENO YANG BIJAKSANA

gambar : agus karianto
       Mbah Seno, begitulah cara kami menyapa kepada seorang lelaki tua yang hidup sebatang kara di gubuk pinggir pantai.  Umurnya sudah menginjak tujuh puluh tahunan namun tenaganya masih kuat berjalan menyusuri  pantai setiap pagi hari. Dia orangnya ramah dan penyabar sehingga kami senang bila bermain bersamanya. Ada saja nasehat mulia yang dia sampaikan kepada anak-anak. Memang Mbah Seno senantiasa memegang prinsip hidup bahwa bila kita ingin hidup mulia maka selagi hidup kita harus senantiasa bermanfaat bagi siapa saja dan dimanapun berada.
        Sore itu, kami sengaja ingin berkunjung ke rumah Mbah Seno. Sudah tiga minggu sejak kami menghadapi ujian sekolah, memang kami jarang bisa keluar rumah. Kami harus bekerja keras. Kami harus berjihad dan bertarung mati-matian mempelajari pelajaran sekolah agar nilai ujian menjadi baik. Kata mbah Seno berjihadnya anak pelajar yaitu dengan cara mempelajari pelajaran sekolah. "Jadi belajar sungguh-sungguh termasuk ibadah dan berpahala juga lho," kata mbah seno beberapa waktu yang lalu.
        "Assalamu'alaikum," kata kami sewaktu tiba di rumah mbah Seno. Namun tidak ada jawaban salam kami dari dalam rumah Mbah Seno. Dan kami berusaha mengulangi mengucapkan salam lagi.
         "Assalamu'alaikum, Mbah Seno"
          Namun ucapan salam kedua kami juga tidak mendapat jawaban dari dalam rumah. Kami mulai resah dan saling bertanya.
          "Hei...ada nggak ya, mbah Seno? Kok sudah dua kali kita ucapkan salam tapi belum mendapat jawaban juga."
           "Iya nih, aneh, tidak biasanya Mbah Seno begini. Atau jangan-jangan beliau sakit?"
            Wah kami semakin resah dan panik kalau saja mbah seno benar-benar sakit. Lalu kami berusaha mencoba melongok ke dalam rumah untuk melihat kondisi mbah Seno. Namun kami semakin kecewa karena ternyata di dalam rumah mbah Seno juga tidak ada.
          "Kemana perginya Mbah Seno? Bukankah saat ini hari sudah sore, seharusnya beliau sudah berada di rumahnya...Wah pergi kemana beliau?"
          "Ini gara-gara kamu sih, Agus," kata Andik menyalahkan.
          "Lho kok aku dibawa-bawa? Memangnya salahku apa?"
          "Kamu kan tidak mau diajak keluar untuk mengunjungi Mbah Seno beberapa hari yang lalu? Beliau kan hidup sebatang kara, sehingga karena tidak ada teman akhirnya dia pergi entah kemana."
          "Lho...ya tidak bisa begitu, kawan. Bukankah kita sudah sepakat mentaati nasehat Mbah Seno untuk berjihad mati-matian mempelajari pelajaran kita agar nilainya bagus. Nah, resikonya ya kita memanfaatkan semaksimal mungkin waktu kita. Setiap detik waktu kita sangat berguna untuk belajar. Oleh karena itu, saya enggan membuang-buang waktu percuma hanya untuk sekedar bermain-main yang tidak ada gunanya."
           "Iya...tapi mengunjungi Mbah Seno kan berguna juga, Gus! Bukankah dia hidup sendirian...nah..."
           "Sudah..sudah...sudah..kita tidak usah berlama-lama berdebat...kita berpikir positif saja. Kita jangan menduga-duga sesuatu yang belum tentu kebenarannya. Lebih baik kita segera mencari ke sekitar pantai...biasanya Mbah Seno khan senang menyusuri pantai."
           "Ya iyalah...ayuk kita cari beliau bersama-sama..." dan kami serentak menyusuri tepian pantai sambil mencari keberadaan Mbah Seno. Setiap tempat dimana Mbah Seno sering menyendiri telah kami singgahi, namun Mbah Seno belum ketemu juga. Kami nyaris putus ada. Dan hari semakin sore, namun usaha kami tidak membawa hasil. Mbah seno sepertinya telah menghilang. Mbah Seno hilang. Mbah Seno hilang. Kami semakin merasa bersalah.
            Berita tentang hilangnya Mbah Seno cepat tersebar ke seluruh sudut kampung. Masyarakat mulai ramai memperbincangkan tentang hilangnya Mbah Seno. Dan atas  kesepakatan aparat desa, maka seluruh masyarakat dikerahkan untuk mencari keberadaan Mbah Seno. Oleh karena itu, sejak pagi hari  tanpa dikomando dan dengan sukarela seluruh masyarakat mulai menyebar ke seluruh pantai untuk mencari keberadaan Mbah Seno. Namun belum begitu lama, tiba-tiba salah satu warga berteriak kencang-kencang :
           "Hoiiiii....saya sudah menemukan Mbah Seno...saya sudah menemukan Mbah Seno...!!!"
           Seluruh warga segera menghentikan pencariannya. Dan mereka segera  berlarian menuju ke arah warga yang telah menemukan keberadaan Mbah Seno.
           "Ternyata  Mbah Seno masih segar bugar," kata beberapa warga. "Mbah Seno kemana saja semalaman? Kami seluruh warga merasa panik atas hilangnya Mbah Seno."
           "Maafkan Mbah Seno, cucu-cucuku," kata Mbah Seno "Memang semalaman Mbah Seno tidak pulang ke rumah. Mbah sengaja pergi ke kampung sebelah untuk mencari ini," kata Mbah Seno sambil menunjukkan sekeranjang bibit-bibit bakau.
          "Hah?! Apa ini Mbah?"
          "Lho...itu khan bibit bakau, Mbah "
          "Memangnya untuk apa mencari bibit bakau, Mbah ?"
          Mbah Seno terdiam. Dia mengambil nafas panjang berkali-kali. Lalu beliau mengambil sebuah bibit bakau untuk diperlihatkan kepada warga masyarakat.
         "Begini cucu-cucuku," kata Mbah Seno mulai bercerita. "Kalian kan tahu, kalau akhir-akhir ini desa kita sering sekali diterjang air laut. Sudah banyak rumah warga yang rusak. Bahkan saat terjadi ROB yaitu air laut pasang maka nyaris beberapa tempat tergenangi air laut. Kita kebanjiran. Dampaknya aktifitas warga akan terganggu. Belum lagi para nelayan sekarang semakin berkurang mendapatkan hasil tangkapan. Mbah ingat, dulu kita mudah mendapatkan udang, kepiting dan ikan-ikan. Namun sejak hutan bakau kita porak poranda, berantakan, banyak pemotongan liar dan nyaris pantai kita gundul maka kita semakin susah mendapatkan udang. Kita semakin sudah mendapatkan kepiting. Kita semakin susah meningkatkan hasil tangkapan di laut. Ikan-ikan senantiasa kita tangkap sedangkan habitat tempat udang, ikan dan kepiting bertelur tidak ada, sehingga wajarlah hidup kita semakin susah begini."
        "Tapi, Mbah, yang menurunkan rejeki itu khan Allah SWT...kalau memang rejeki kita cuma segitu ya kita terima saja."
        "Benar cucuku, namun sebagai manusia kita tidak boleh pasrah begitu saja. Apa karena Allah sudah menentukan rejeki kita maka kita pasrah begitu saja dengan kehidupan pantai yang rusak karena ulah kita?
Ini hukum alam. Ini sunatullah, cucuku. Barang siapa yang merawat lingkungannya maka Allah akan menurunkan nikmat sehatnya dan barang siapa yang mencoba merusak alam sekitarnya maka Allah juga akan menurunkan malapetaka bagi kehidupannya. Dan seperti yang kita saksikan di kampung kita ini. Banyak masyarakat sudah tidak perduli dengan lingkungan. Pohon bakau ditebang semaunya. Para nelayan mengambil semua hasil tangkapan tanpa memperdulikan ikan bibit tetap dia tangkap. Kita semakin jorok dengan membuang sampah sembarangan. Dan dampaknya dapat kita saksikan sekarang ini."
        Mendengar penjelasan Mbah Seno yang masuk akal membuat seluruh masyarakat sadar akan kesalahannya selama ini. Bapak kepala desa merasa senang atas sikap Mbah Seno yang masih perduli dengan kampungnya.
       "Lalu, sekarang apa yang harus kita lakukan, Mabh Seno?" kata masyarakat.
       "Begini, cucu-cucuku. Mbah semalam telah mengumpulkan sekarung bibit-bibit bakau. Nah, mbah minta kesadaran seluruh warga untuk menanami sepanjang pantai kita dengan bibit bakau ini. Dan marilah kita rawat dan kita hijaukan sepanjang pantai dengan pohon bakau. Karena dengan hutan bakau ini, insyaallah allah akan menurunkan rahmat dan rezekinya buat seluruh masyarakat. Bila sepanjang pantai kita telah menghijau dengan hutan bakau maka kita akan semakin sehat, para nelayan akan meningkat hasil tangkapannya dan ibu-ibu akan semakin mudah mendapatkan udang, kepiting dan ikan-ikan segar yang lezat."
        "Okey...okey...siap Mbah...siap Mbah...siap Mbah..." kata seluruh masyarakat spontan dan penuh kesadaran sambil mengambil bibi-bibit bakau untuk ditanamkan ke sepanjang pantai desa mereka.
Melihat masyarakatnya dengan senang hati berusaha menghijaukan kawasan pantai membuat Bapak kepala desa merasa senang dan diapun segera ikut terjun bersama warga mengambil bibit bakau untuk ditanamkan ke sepanjang pantai sambil berkata kepada Mbah Seno
       "Terima kasih, Mbah Seno. Kau layak mendapat julukan pahlawan sejati. Seorang pahlawan tidak memperdulikan apakah pengabdiannya dihargai orang atau tidak. Seorang pahlawan adalah pejuang yang mengabdikan dirinya agar bermanfaat bagi masyarakat banyak sekecil apapun nilainya."

Senin, 18 Februari 2013

KISAH SANG PENULIS CILIK

Illustrasi : agus karianto
     Rumah berdinding bambu itu adalah tempat terindah bagi Seno. Walau kepergian ayahnya 2 tahun yang lalu menyisakan kesedihan yang mendalam namun semangat hidupnya tetap membara. Ibunya yang menderita sakit berkepanjangan tetap menyayangi anak satu-satunya yang masih duduk di kelas 3 sekolah dasar. Seno adalah anak yang pantang menyerah, tekun dalam belajar dan memiliki bakat terpendam sebagai seorang penulis.
     Bakat menulis Seno adalah warisan dari mendiang ayahnya yang juga seorang penulis cerita handal di negeri ini. Meskipun usia Seno masih kecil, namun hasil karya tulis ceritanya telah mengisi beberapa rubrik cerita di berbagai majalah dan surat kabar di daerahnya. Dan dari honor menulis tersebut Seno bisa digunakan untuk membantu keuangan ibunya. Setiap kali ibu Seno menerima uang honor menulis anaknya senantiasa diiringi isak tangis karena bangga melihat anaknya yang masih kecil namun sudah bisa berbakti kepada orang tuanya.
      "Sudahlah, Seno. Kamu jangan terus menerus melakukan itu," kata ibunya "Usiamu masih kecil. Kamu tidak pantas bersusah payah mencari uang untuk ibumu."
       "Hehehe...bu, Seno tidak merasa kecil. Seno merasa tidak capek. Seno merasa tidak mencari uang untuk ibu. Seno merasa senang kok menulis," jawab Seno sambil larut dalam pelukan ibunya.
       "Lho, kamu ini bagaimana. Kan setiap hari kamu menulis lalu pergi ke penerbit surat kabat dan majalah untuk menyerahkan tulisanmu. Dan kamu dapat duit. Kan itu namanya kerja, anakku."
       "Bu, kata ayah seorang penulis itu adalah orang yang bebas seperti burung rajawali. Semakin dia mengepakkan sayapnya maka terbangnya akan semakin tinggi. Nah, kalau sudah terbang tinggi maka dia bisa bebas pergi kemana saja sambil bebas memilih jenis makanan yang dia suka. Dan Seno ingin seperti burung Rajawali itu, ibu. Seno ingin senantiasa mengepakkan sayap dengan memperbanyak latihan menulis dan Seno ingin terbang tinggi sekali."
       "Oh, anakku," bisik ibunya sambil memeluk erat-erat tubuh si Seno. "Ternyata sifatmu seperti ayah yang senantiasa memiliki cita-cita tinggi. Baiklah, ibu ikut mendukung cita-citamu, Nak. Tetapi, untuk hari ini berhenti dulu menulis dan besok lanjutkan lagi, ya."
Kemudian Seno dan ibunya pergi tidur karena hari sudah larut malam.

                                                                ***
        Pagi hari, seperti biasa Seno pergi ke sekolah sambil berjalan kaki. Sebenarnya letak sekolahnya cukup jauh. Namun Seno lebih senang menuju sekolahnya dengan berjalan kaki sebab banyak ide-ide cerita yang bisa dia dapatkan sepanjang perjalanan. Dan setiap ide cerita yang dia dapatkan senantiasa ditulis dalam kertas seadanya agar tidak lupa dan bisa dibaca kembali saat akan membikin cerita. Sebab kata ayahnya : "Tangkaplah kupu-kupu ketika menghampirimu. Tulislah segera bila kita dapat  ide sebelum kita melupakannya"
        "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....Selamat pagi anak-anak," demikian kata Kepala Sekolah mengawali sambutan ketika memimpin upacara bendera di sekolah Seno.
"Hari ini ada sebuah berita penting yang akan bapak sampaikan. Hari ini kami Kepala Sekolah juga para Guru menyesal dan membuat kami terkejut. Hal ini dikarenakan ulah salah satu murid sekolah kita. Beberapa hari yang lalu Bapak didatangi oleh beberapa wartawan sehubungan dengan hal ini. "
        Dan betapa terkejutnya seluruh siswa mendengar pemberitahuan kepala sekolah mereka. Sesama siswa saling pandang dan saling berbisik untuk mengetahui maksud kepala sekolahnya. Mereka dihinggapi perasaan takut bila hal ini menyangkut mereka karena mereka takut mendapat sanksi dari sekolah.
        "Coba dengarkan anak-anak. Langsung saja saya akan memanggil salah seorang siswa yang bapak maksud. Ananda Seno silahkan maju ke hadapan Bapak."
         "Hah?!" seluruh siswa spontan mengarahkan pandangannya ke arah Seno berdiri. Ada yang memandang penuh curita. Ada yang berprasangka buruk. Ada yang mengolok-oloknya. "Dasar, anak miskin aja bikin ulah, uh!" Bahkan ada yang belum mengetahui  persolannya sudah menuduh hina : "Rasain tuh. budak kecil sialan."
          Kemudian si Seno melangkah menuju ke podium. Dia sama sekali tidak takut menghadap kepala sekolah sebab selama ini ia tidak pernah merasa bersalah baik di sekolah maupun dimana saja.
         "Ayo mendekat di samping kanan Bapak, Seno," lanjut kepala sekolah. "Coba kalian diam sebentar anak-anakku. Perlu kalian tahu Si Seno ini telah membikin Kepala Sekolah dan para guru gemes, menyesal, terkejut dan sekaligus kami dibuat bangga. Sebab apa? Beberapa hari yang lalu kami didatangi beberapa wartawan untuk wawancara. Dan ternyata Si Seno ini diam-diam telah membawa nama harum sekolah kita. Ya... Si Seno ini diam-diam ternyata telah ikut mengukir tinta emas nama sekolah kita. Walaupun dia masih kecil, ternyata dia memiliki bakat yang luar biasa. Ternyata tanpa sepengetahuan sekolah ia telah mengikuti kejuaraan menulis tingkat nasional. Dan dia dinobatkan menjadi juara utama kategori anak.anak."
        "Horeeee,,,,,horee.....hore.....hidup Seno...Hidup Seno....Seno...Seno...Seno..!!!." demikian terdengar teriakan seluruh peserta upacara pagi itu.
       "Dan dalam beberapa hari lagi Bapak beserta beberapa guru, Seno dan ibunya akan mendampingi dalam penyerahan hadiahnya. Dan perlu kalian ketahui bahwa hadiah yang akan diperoleh Seno adalah uang pembinaan sebesar Lima belas Juta Rupiah dan piala kejuaraan untuk Seno dan pihak sekolah. Terima kasih Seno," kata Kepala Sekolah sambil menepuk-nepuk pundak siswanya ini.
       Tiada henti-hentinya seluruh teman si Seno berdecak kagum terhadap prestasinya. Mereka tidak menyangka anak sekecil itu sudah berprestasi ke tingkat nasional.
       "Nah, Seno. Sekarang kamu coba ceritakan kesan dan pesanmu kepada kita agar anak-anak yang lain ikut termotivasi mengikuti jejakmu," kata kepala sekolah. Lalu si Seno maju ke depan sambil merendahkan posisi mikrophone agar sejajar ke mulutnya.
      "Bapak kepala sekolah, guru-guruku dan teman-temanku. Seno mengucapkan terima kasih atas sambutan yang luar biasa. Sebenarnya Seno cuma sekedar menyalurkan bakat saja dan mengikuti nasehat Bapak. Bapak Seno berpesan Bila kita punya bakat maka asahlah, bekerja keraslah, tekunlah berusaha untuk mengasah bakat kita. Bagaikan burung Rajawali bila dia tekun mengepakkan sayapnya maka akan bisa mencapai tempat yang tinggi. Penulis adalah sebuah profesi yang tidak mengenal batas umur, agama, ras dan semua orang berhak serta bebas menapaki profesi lewat penulisan ini. Seorang penulis akan senantiasa memanfaatkan waktunya untuk kegiatan yang positif seperti membaca dan menuliskannya dalam karya tulis apa saja. Dan keuntungan selanjutnya, dari hasil menulis kita akan mendapatkan uang untuk biaya sekolah kita. Demikian Bapak Kepala sekolah, guru-guru serta teman-temanku"
       Bapak kepala sekolah, guru-guru dan seluruh siswa tidak menyangka kalau seorang penulis cilik seusia Seno ternyata sudah memiliki wawasan yang luas. Mereka semakin bangga terhadap Seno meskipun si Seno tergolong anak yang miskin namun ternyata kaya akan wawasan jauh melebihi teman-teman seusianya.
        Dan setelah upacara usai, maka spontan seluruh guru dan siswa saling berebutan ingin menyalami si Seno yang sekarang terkenal dengan sebutan SI PENULIS CILIK
            

Minggu, 25 November 2012

TANAMAN EMAS SI YATIM

gambar : agus karianto


       Sejak orang tuanya meninggal dunia, kini si Yatim tinggal bersama kakak laki-lakinya. Kakaknya terkenal serakah, apalagi terhadap harta benda peninggalan orang tuanya. Dia ingin memiliki semua harta
benda yang diwariskan orang tuanya untuk kedua anaknya. Si Yatim tidak bisa berbuat banyak dengan kelakuan kakaknya. Semua perintah dan kemauan kakaknya selalu ia turuti. Ia tidak ingin melawan perintahnya. Hal ini dilakukan si Yatim karena ingin menuruti amanah orang tuanya agar mereka berdua tidak saling bertengkar. Sehingga apapun perintah, caci maki, bentakan, sumpah serapah kakaknya yang ditujukan padanya selalu diterima dengan ikhlas dan sabar.
       Hidup si Yatim semakin merana. Semua pekerjaan rumah menjadi tanggung jawabnya. Menyapu, membersihkan halaman rumah serta mencuci dan memasak. Sedangkan kakaknya hanya bisa berfoya-foya menghabiskan harta benda kedua orang tuanya tanpa memberi sepeserpun bagiannya kepada si yatim. Oleh karena itu, setiap hari si yatimlah yang bekerja keras di rumah. Bila ada kesalahan sedikit saja dalam melakukan pekerjaannya maka kakak si yatim tidak segan-segan memberikan hukuman yang diluar batas. Si yatim sering tidak diberi makan seharian. Terkadang untuk mengisi perutnya yang lapar maka ia mencari nasi-nasi sisa kakaknya.
       Para tetangga banyak yang menaruh iba kepada si yatim. Tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak. Mereka takut mencampuri urusan rumah tangga orang. Namun kebanyakan dari tetangga ikut mendoakan semoga si yatim kelak akan mendapatkan kebahagiaan.
       Hari itu, kakak si yatim marah besar. Sebab niatnya berfoya-foya bersama teman-temannya gagal. Harta benda di rumahnya telah habis ia jual. Kini tidak ada harta yang bernilai yang bisa ia jual. Dan demi melampiaskan kejengkelannya ia memaki si yatim habis-habisan.
       "Anak sialan !" katanya. "Kamu jangan mencoba-coba menyembunyikan harta milik orang tua kita, ya! Kamu masih kecil tidak tahu apa-apa dengan harta itu. Ayo cepat keluarkan harta yang telah kamu sembunyikan."
       "Ampun, Kak. Yatim sama sekali tidak menyembunyikan harta itu. Yatim tidak berani, Kak."
       "Alah...dasar pembohong kamu. Adik sialan....ayo keluarkan harta itu. Aku sedang membutuhkannya."
       "Sumpah, Kak. Demi Allah saya tidak menyembunyikan harta-harta itu. Bukankah Kakak sendiri yang telah menjualnya satu persatu harta-harta itu. Dan aku tidak mendapat bagian sama sekali."
        Mendengar ucapan si Yatim membuat kakaknya terdiam. Dia merasa memang selama ini semua harta peninggalan orang tuanya telah ia jual satu persatu untuk berfoya-foya dan sepeserpun ia tidak berikan kepada si Yatim.
       "Diam kamu...kamu mau protes ya...kamu masih kecil tahu apa dengan harta benda, heh?! bentak Kakak Yatim sambil berjalan keluar rumah. Tidak henti-hentinya ia jengkel terhadap adiknya. "Sialan, ternyata dia tidak menyembunyikan harta juga. Duuuh, harta apa lagi yang bisa aku jual yaaa? Darimana aku bisa mendapatkan uang lagi?"
       Tiba-tiba di kejauhan datanglah seorang kakek-kakek mendekati rumah si yatim dan kakaknya. Dia berjalan sambil membawa sebuah bungkusan kain berwarna putih.
       "Assalamu'alaikum, cucu-cucuku," sapanya.
       "Wa'alaikumussalam warahmatullahiwabarokatuh, kakek," jawab si Yatim.
       "Heh, kakek ini siapa kok pagi-pagi begini sudah datang ke rumahku," bentak Kakak si Yatim.
       Kakek-kakek itupun kaget mendengar perbedaan sifat yang ditunjukkan adik dan kakaknya. Dia merasakan sesuatu ketidak adilan yang terjadi di rumah tersebut. Dia merasakan ada sebuah kedholiman yang ditunjukkan  seorang kakak terhadap adiknya. Namun, dia cepat tanggap dan bisa menguasai perasaannya. Kemudian dia memberitahu mereka tentang kedatangannya di rumah tersebut.
      "Kakek sebenarnya petani kepercayaan orang tuamu. Dan sebelum beliau meninggal pernah titip harta karun yang tidak ternilai besarnya yang harus saya berikan kepada kalian apabila kalian sudah dewasa. Nah, karena sekarang kalian telah dewasa maka sudah saatnya kakek membagi harta karun ini kepada kalian."
      "Wuaaaahhhh harta karun....mana harta itu, orang tua," kata Kakak si Yatim berapi-api ingin merampas bungkusan yang dibawa kakek di hadapannya.
      "Husshhh....sabar, den. Jangan serakah begitu. Kakek akan membagi harta ini sesuai pesan orang tuamu. Kakek akan bersikap adil. Tidak ada seorangpun yang dirugikan."
       Kakak si Yatim semakin jengkel. Niatnya merampas peninggalan orang tuanya yang dibawa kakek di hadapnya tidak terlaksana. Akhirnya, ia menuruti saja pembagian harta yang dilakukan kakek tersebut.
       "Begini, cucu-cucuku," kata si kakek mulai membagi harta karunnya."Kedua orang tuamu sengaja meninggal dua jenis harta karun kepadamu. Kamu berdua disuruh memilih salah satu diantaranya. Sebenarnya orang tuamu meninggalkan kepingan-kepingan emas yang sungguh berlimpah ruah banyaknya di
lahan yang ditinggalkannya. Lahan ini ada dua macam. Yang pertama sangat luas yang berada di kanan dan kiri rumahmu ini dan satunya lagi sepetak lahan kecil subur yang ada di sebelah sungai di belakang rumah ini. Nah, untuk mengeluarkan kepingan-kepingan emasnya kalian harus memancingnya dengan butiran-butiran jagung yang kakek bawa ini. Nah, sekarang kalian bisa memilih salah satu diantaranya."
       Betapa senang kakak si yatim mendengar bahwa di lahan orang tuanya ternyata menyimpan kepingan. "Hanya dengan memancing memakai butiran jagung ternyata harta itu bisa keluar? Ouw sunggung senang bila bisa memiliki lahan yang luas tentu harta yang aku punya semakin banyak. Biar saja si Yatim dapat lahan yang kecil di pinggir sungai itu," kata kakak Yatim dalam hati.
       "Hoi, orang tua. Aku pilih lahan yang luas di samping kiri dan kanan rumah orang tuaku. Biarlah lahan kecil di pinggir sungai menjadi milik si Yatim. Dan Yatim harus keluar dari rumah ini karena semua akan menjadi milikku," kata kakak si Yatim menunjukkan keserakahannya.
       Si kakek hanya bisa mengelus dada. Ia kasihan dan prihatin dengan keserakahan kakak si Yatim.
       "Hoi, orang tua...ayo serahkan juga biji-biji jagungnya agar aku segera memancing harta warisan orang tuaku."
       "Sabar, cucuku. Di dalam kantong ini ada seratus biji. Dan aku akan membagi rata untuk kalian."
       "Wahhh....tidak bisa begitu, orang tua. Aku yang memilih lahan luas tentu harus mendapat bagian biji yang banyak juga dibandingkan si yatim yang memiliki lahan kecil. Ayo serahkan kantongmu itu, biar aku sendiri yang membaginya secara adil." kata kakak Yatim sambil merampas kantong yang dibawa kakek di hadapannya.
      "Nah, karena lahanku luas maka aku ambil 90 biji jagung. Dan biarlah 10 biji jagung menjadi milik si Yatim."
      "Wah, kamu tidak adil, cucuku," kata kakek kemudian.
      "Tidak adil bagaimana, orang tua," bentak kakak si yatim. "Justru aku bertindak adil sekali. Siapa yang memiliki lahan luas tentu mendapatkan bagian yang banyak. Hehehehehe......adil khan?!"
       Dan si Yatim tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menerima begitu saja pembagian harta milik kedua orang tuanya. Ia tidak mau bertengkar dengan kakaknya gara-gara harta warisan. Ia cukup senang melihat kakaknya bisa ceria seperti dulu lagi. Ia tetap bersyukur masih mendapat lahan peninggalan orang tuanya walaupun ukurnnya kecil. Oleh karena itu, setelah menerima pembagian jatahnya, maka si Yatim diajak kakek tersebut tinggal di gubuknya dekat lahan milik si Yatim. Betapa senang si yatim ternyata masih ada orang yang peduli dengan dirinya. "Terima kasih, Kek. Yatim senang bisa tinggal bersama Kakek."
     
                                                                ***
       Setelah berhasil merebut harta peninggalan orang tuanya berupa lahan yang luas, kini kakak si yatim merasa bahagia. Ia membayangkan akan mendapatkan kepingan-kepingan emas yang berlimpah ruang di lahannya. "Dengan lahan yang luas begini tentu kepingan-kepingan emasnya akan semakin banyak. Uhuyyy...dasar si Yatim bodoh bisa saja aku bohongi," kata kakak yatim sambil memasang biji-biji jagung di alat pancing yang telah ia siapkan. Ada puluhan alat pancing yang telah dipasangi biji jagung.
      "Nah, malam nanti aku akan memancing kepingan emas agar tidak kelihatan orang. Kalau sampai orang-orang tahu aku mendapat berkeping-keping emas di lahanku ini bisa gawat. Aku tidak mau bila orang-orang mencuri kepingan-kepingan emasku."
Dan malam harinya, kakak si Yatim mulai memasang alat pancingnya di setiap sudut lahan yang menjadi miliknya. Ia juga telah menyiapkan keranjang besar sebagai tempat kepingan-kepingan emas hasil tangkapannya.
       Satu jam, dua jam, tiga jam, enam jam, namun tidak sekeping emaspun yang berhasil ia dapatkan. Kakak di yatim merasa kecewa dan jengkel. "Ah, mungkin emas-emas itu belum mau keluar. Besok aku akan mencoba memancingnya lagi. Siapa tahu mereka akan muncul juga."
       Dan besok harinya kakak si yatim mencoba memasang alat pancingnya lagi. Namun seharian ia tunggui alat pancingnya namun tidak sekeping emaspun yang berhasil didapatnya. Dan berhari-hari, berminggu-minggu hingga berbulan-bulan pekerjaan itu tetap ia lakukan dengan harapan ia mendapatkan berkeping-keping emas dari lahan peninggalan orang tuanya, namun usahanya tetap nihil. Tidak ada sekeping emaspun yang berhasil ia dapatkan. Lahan miliknya makin tidak terurus. Semak belukar tumbuh di sana sini. Kakak si yatim semakin jengkel. Perbekalan makanan di rumahnya semakin habis. Ia kesulitan mendapatkan makanan lagi. Sementara harapan mendapatkan kepingan emas dari alat pancingnya tetap berlanjut. Namun, harapan tinggal menjadi harapan. Tubuh kakak si yatim menjadi kurang terurus. Ia semakin jarang makan. Tubuhnya menjadi kurus kering. Dan untuk sekedar menyambung hidup akhirnya tanpa malu-malu ia minta-minta makanan ke setiap rumah yang ia jumpainya.

       Hal ini beda dengan kehidupan si Yatim. Setelah mendapat jatah lahan dan 10 biji jagung dari kakaknya. Ia bersama di kakek menggarap lahan suburnya. Seluruh tanah mereka olah. Biji jagung mereka tanam. Setiap rumput liar dan hama tanaman  mereka buang. Si Yatim dan Kakek bekerja dengan riang. Mereka bersyukur dengan karunia Allah swt. Setiap pohon jagung yang mereka tanam menghasilkan jagung yang banyak dengan ukuran yang amat besar. Si Yatim dan kakek merasa senang. Dari hasil panen jagungnya ternyata bisa ditukarkan dengan kepingan-kepingan emas yang begitu banyak.
       Ternyata benar kata orang tuanya. Harta warisan orang tuanya yang berupa kepingan-kepingan emas di lahan suburnya bisa dipancing dengan biji jagung hanya dengan cara bekerja keras mengolah lahan dan menanaminya dengan butiran-butiran. Nah, dari hasil panen jagungnya kita bisa membelikannya dengan kepingan-kepingan emas.
Untuk mendapat kepingan-kepingan emas kita tidak bisa memancingnya dengan sikap malas-masalan saja.

      

selesai

sumenep, Senin,29 Nopember 2012


Moral cerita : Untuk mendapatkan kepingan-kepingan emas dimanapun berada kita tidak bisa 
                      memancingnya dengan sikap malas-malasan. Tapi bekerja keraslah dimanapun
                      berada. Dan bersyukurlah apapun yang anda peroleh.
      

Senin, 12 November 2012

PEJUANG 1945

Gambar : agus karianto
         Pak Tomo, demikian orang sekampung memanggilnya. Seorang laki-laki yang tubuhnya semakin renta namun semangat hidupnya tetap menyala-nyala. Konon, dia adalah seorang tokoh pejuang di Republik Indonesia ini. Piagam perhargaan pejuang yang menempel di dinding ruang tamunya menjadi saksi sejarah baginya. Meskipun kini ia hidup sebatang kara, namun hampir tiap hari selalu ada saja orang yang mengunjunginya.
         Banyak cerita perjuangan yang bisa digali dari Pak Tomo. Dan dia selalu semangat menceriterakan tentang bagaimana suka dukanya berperang melawan para penjajah yang menguasai negeri Indonesia. Kami bisa tahan berjam-jam mendengarkan cerita-ceritanya. Cerita sinetron dan film di TV seakan-akan tidak bisa menandingi serunya cerita perjuangan Pak Tomo. Siapa saja yang mendengarkan ceritanya pasti seakan terhipnotis, larut dalam ceritanya, seakan-akan mereka mengalami sendiri berada di medan pertempuran. Seru. Emosi kami membara, dan kita semakin benci terhadap ketidak adilan, penjajahan, perampasan hak orang lain. Sungguh luar biasa semangat Pak Tomo.
         Siang itu, setelah pulang dari upacara peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 Nopember, anak-anak beramai-ramai pergi ke rumah Pak Tomo.
          "Tentu cerita perjuangannya kali ini akan semakin seru, kawan-kawan" kata salah satu di antara  mereka.
          "Ya, pastilah...hari ini khan tepat hari Pahlawan 10 Nopember."
          "Asyiikkkk."
          Namun, setibanya mereka di rumah Pak Tomo, ternyata beliau sedang menangis di hadapan Televisi yang ditontonnya. Sesekali beliau menundukkan kepala sambil mengusap air matanya. Dan kamipun terheran-heran. Tidak biasanya beliau bersikap begitu. Kami saling pandang dan bertanya, "Ada peristiwa apa sehingga beliau sampai menangis?" "Mungkinkah Pak Tomo terkenang  saat perjuangan 1945 dulu?" Dan untuk menghilangkan rasa penasaran kami segera mengetuk pintunya.
         "Assalamu'alaikum," sapa kami hampir bersamaan.
         "Wa alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Pak Tomo dari dalam rumah. Dan kami lihat beliau cepat-cepat mengeringkan air matanya.
         "Eeee....cucu-cucuku," kata beliau.  "Ayo..ayoo masuk. Wah, nampaknya kalian belum pulang ke rumah ya? Kok masih pada memakai seragam sekolah begitu? Jangan-jangan kalian bolos sekolah ya??"
         "Wah, ya nggak, Pak. Kami pejuang-pejuang muda penerus perjuangan Pak Tomo kok bolos sekolah. Tidak ada ceritanya seperti itu, Pak."
         "Iyaaa....bapak percaya. Namun, hari ini khan belum waktunya pulang sekolah kok kalian sudah datang ke rumah bapak?"
         "Tadi ada upacara Hari Pahlawan 10 Nopember , pak. Nah, setelah upacara usai, kami diperbolehkan pulang karena di sekolah tidak ada kegiatan belajar lagi. Oleh karena itu kami mampir ke sini."
         "Ooooo begitu tho ceritanya? Lalu kenapa harus ke rumah Bapak?"
         "Pak, kami ingin mendengar cerita perjuangan lagi. Boleh khan, Pak?" rayu kami.
         Dan, Pak Tomo nampak terdiam. Kedua matanya kembali digenangi air mata. Nampaknya beliau makin bersedih. Tapi kami tidak tahu apa penyebabnya.
         "Memangnya ada apa, kok Pak Tomo sedih begitu?" tanya kami memberanikan diri.
         Pak Tomo tidak segera menjawab pertanyaan kami. Ia kembali menyeka air matanya. Dan setelah bernapas dalam-dalam dia mendekati kami.
         "Begini cucu-cucuku," kata Pak Tomo memulai cerita. "Bapak akhir-akhir ini merasa sedih. Sedih sekali melihat kelakuan generasi penerus anak negeri ini. Bapak sering melihat berita di Televisi banyak sekali para pelajar, para mahasiswa, masyarakat, anggota Dewan Perwakilan Rakyat kita dan para pejabat negeri Indonesia saling berkelahi. Mereka saling hantam. Mereka saling caci, saling fitnah, saling ingin menunjukkan kepandaian mereka sendiri. Melihat semua kejadian ini bapak jadi sedih. Sedih cucu-cucuku. Sepertinya menyelesaikan semua persoalan harus dengan pertengkaran tiada akhir. Masyarakat semakin jauh meninggalkan nilai-nilai kemanusiaannya. Masyarakat semakin meninggalkan nilai-nilai persatuan. Masyarakat semakin meninggalkan cara-cara bermusyawarah dalam menyelesaikan sebuah persoalan. Para pemimpin negeri ini banyak yang kurang amanah dalam mengemban tugasnya. Penyelewengan jabatan terjadi dimana-mana. Korupsi. Manipulasi seakan sudah bukan barang tabu lagi. Dan semua ini yang membuat bapak sedih.Sedih cucu-cucuku."
          Kami tidak membantah apa-apa yang disampaikan Pak Tomo. Semua kata-katanya benar. Banyak para pelajar kita saling berkelahi satu sama lain hanya karena perkara sepele. Terkadang dalam perkelahian mereka membawa senjata tajam. Uh...ngeri.
          "Benar, Pak."
          "Rasanya perjuangan bapak tahun 1945 menjadi sia-sia. Seakan tetesan darah dan air mata dalam memperjuangkan kemerdekaan menjadi sesuatu yang sia-sia saja. Kalau boleh bapak berkata bahwa mereka para penerus perjuangan ini telah mengkhianati perjuangan para pahlawan negeri ini. Mereka telah berkhianat menyia-nyiakan potensi mereka untuk melanjutkan perjuangan kami. Mereka berusaha meruntuhkan bangunan Kemerdekaan yang telah dirintis para pejuang ibu pertiwi ini."
         "Tapi, kami bukan termasuk kelompok pengkhianat ibu pertiwi itu, khan Pak?"
         "Hahahahaha....iya...iya...kalian khan cucu-cucuku yang senantiasa peduli dengan arti perjuangan kami. Kalian bukan termasuk kelompok pengkhianat apabila kalian berjuang sungguh-sungguh sesuai tugas kalian sebagai pelajar. Perjuangan kalian yaitu belajar menggali ilmu setinggi-tingginya. Kejarlah cita-cita kalian. "
         "Tapi, kenapa mereka sampai berbuat begitu ya, Pak?"
         "Iya, perbuatan mereka amat memalukan. Memalukan, Pak!" kata teman kami yang lain.
         "Benar cucuku. Beda dengan saat bapak masih berjuang dulu. Kalau jaman Bapak berjuang tidak ada yang namanya perbedaan suku, agama, Ras dan perbedaan-perbedaan yang lain. Bukan berarti tidak pernah ada konflik antara kami. Konflik itu pasti ada. Namun semua konflik itu bisa diselesaikan dengan cara musyawarah. Tidak ada yang saling merasa benar sendiri. Tidak ada yang sok jagoan. Kita saling menghargai satu sama lain. Sebab tujuan kami saat itu sama yaitu bagaimana bisa mengusir para penjajah ibu pertiwi ini."
         "Iya, Pak. Pelajar, mahasiswa atau masyarakat sekarang sepertinya  mudah sekali emosi. Perkara kecil bisa menjadi besar dan ujung-ujungnya bisa memicu konflik yang berakhir dengan bentrok massal. Ngeriiii.... padahal kalau salah satu pihak bisa menahan diri tentu konflik di antara mereka tidak akan bisa terjadi."
        "Wah...bapak bangga dengan kalian. Ternyata cara pandang cucu-cucuku sudah lebih dewasa. Dan mudah-mudahan kalian-kalian ini bisa menjadi pemimpin negeri ini di masa mendatang." kata Pak Tomo.
        "Hahahahaha....tentu saja Pak. Siapa dong pahlawannya? Pak Tomo..."
        "Hahahahaha....kalian ini ada-ada saja, cucuku."
        Baru kali ini kami lihat Pak Tomo tertawa senang. Sepertinya dari sorot matanya ada sebuah harapan besar terhadap kami untuk bisa meneruskan cita-cita beliau.
        "Jadi untuk membangun bumi Nusantara. Membangun Ibu Pertiwi Indonesia. Kalian harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Banyak-banyaklah belajar sejarah. Indonesia itu negeri yang besar dan kaya raya. Bagaikan Untaian Jamrud di Khatulistiwa. Indonesia itu negeri yang subur makmur. Indonesia itu terdiri dari beribu-ribu suku bangsa dan bahasanya, bermacam-macam keyakinan, beraneka adat istiadat yang berbeda satu sama lain. Tidak mungkin suatu Pemimpin mengistimewakan satu suku bangsa atau satu agama lalu merendahkan suku bangsa atau agama yang lain. Kita harus bisa membangun negeri ini dengan memanfaatkan potensi perbedaan yang ada. Kalau kalian jadi pemimpin jangan sampai memaksa orang lain mengikuti kehendak kalian agar tidak terjadi konflik di masyarakat.Fanatik terhadap keyakinanmu itu perlu, namun jangan sampai kamu memaksa orang lain berprinsip seperti kalian. Membangun Indonesia itu perlu kebersamaan. Perlu kerja keras semua pihak. Tanpa mengenal Suku, Agama dan  Rasnya. Setiap manusia yang berstatus warga negara Indonesia memiliki kedudukan yang sama dalam memajukan Bumi Nusantara ini menuju tercapainya tujuan negara Indonesia yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur."
         Kami semakin paham arti hidup bernegara seperti yang dituturkan Pak Tomo. Kami makin kagum dengan cara pandang Pak Tomo tentang hidup bernegara di Bumi Nusantara ini. Pak Tomo benar-benar seorang pahlawan. Dan kamipun akhirnya menyadari betapa bodohnya apabila kami selaku pelajar menyelesaikan persoalan dengan cara perkelahian massal. Semua itu buang-buang waktu dan kesempatan saja.Betapa bodohnya seseorang yang mengisi kemerdekaan dengan cara melakukan korupsi dan manipulasi uang rakyat.
        "Kami tidak mau dijuluki sebagai PENGKHIANAT PERJUANGAN BANGSA, pak," kata kami sambil berpamitan Pak Tomo untuk segera pulang.


selesai

sumenep, 13 Nopember 2012

         
        


        

Kamis, 19 Januari 2012

SAPAAN KHAS PAK ZUL SI TUKANG POS

foto : holydayinsight.com
       Pak Zul, demikian panggilan akrabnya. Dia adalah seorang tukang pos di kampungku. Namanya cukup keren lho. Mirip nama seorang raja yang tercantum dalam al-Qur'an. Raja yang telah membangun tembok Ya'juj dan Ma'juj. Namanya Iskandar Zulkarnain. Tapi, seluruh  warga kampungku lebih akrab memanggilnya Pak Zul saja.
       Sore itu, seperti hari-hari sebelumnya, Pak Zul asyik merawat sepedanya. Sepeda kuno itu telah menemaninya tugas selama 30 tahun. Sudah sebulan Pak Zul dan sepedanya tidak pernah kelihatan mondar-mandir lagi di jalanan kampungku. Kata orang tuaku, sekarang beliau sudah pensiun. Dan tugas mengantar surat di kampungku kini digantikan oleh orang baru. Usianya lebih muda dan dalam menjalankan tugas sudah tidak memakai sepeda lagi tetapi sudah memakai sepeda motor. Aku merasa kehilangan Pak Zul. Aku kehilangan sapaan khasnya. Aku kehilangan senyum tulus layaknya kakek kepada cucunya. Aku kehilangan orang, yang setiap beliau mengantar surat kerumah selalu menghadiahkan sebutir permen gula asem kepadaku. Warga sekampung merasa kehilangan beliau.
         Sore itu, aku dan dua temanku mau bersilaturahmi ke rumahnya.
        "Assalamu'alaikum, Pak Zul," sapaku memberanikan diri ketika sore itu aku sampai di rumahnya.
        Mendengar salamku, Pak Zul seketika menghentikan kesibukannya membersihkan sepedanya. Sambil membetulkan letak kacamatanya. dia bergegas menemui kami.
        "Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu," jawabnya "Eeee...cucu-cucuku. Ayo masuk, jangan cuma berdiri didepan pintu saja. Hoi..hoi..hoiiiiiiiiiiii....Ayoo...ayooo...duduk dulu, cucuku."
        Mendengar sapaan khas dan keakraban Pak Zul, terasa terobati rasa kangenku seperti ketika beliau masih aktif mengantar surat ke setiap rumah kami.
         "Terima kasih, Pak Zul. Tapi... sepertinya kita enak ngobrol di teras sini saja, Pak. Udaranya lebih sejuk."
         "Eitsss....cucu-cucuku nggak mau menikmati permen gula asem yang ada di dalam rumah lagi, ya?" demikian rayunya.
         "Enak di luar saja, Pak, lebih santai dan bebas ngobrolnya." pinta kami.
          Nampaknya Pak Zul  tidak mau terus memaksaku lagi. Dia masuk rumah sebentar, lalu keluar menemui kami sambil sambil membawa setoples permen gula asem.
           "Asyiiiikkkk," pikir kami sambil terus memperhatikan dan membayangkan kelezatan setoples permen gula asem yang dibawa Pak Zul.
        "Memangnya ada keperluan apa... jauh-jauh kok menemui Bapak?" tanya Pak Zul kemudian.
        "Pak Zul, kenapa sih tidak mengantar surat lagi ke kampung kami? Kami kehilangan orang baik seperti bapak. Kami kangen sapaan bapak. Kami....,"
        "Hoi...hoi...hoiiiiiiii...." kata Pak Zul memotong ucapanku "Kamu ini lucu, cucuku. Bapak ini sudah tua dan telah mencapai batas usia pensiun seperti yang telah ditetapkan pemerintah kita. Semua pegawai negeri juga mengalami seperti yang bapak alami yaitu masa pensiun. Bapak sudah pensiun. Dan tugas bapak sudah selesai. Tugas bapak sekarang digantikan oleh orang yang usianya lebih muda. Pegawai yang punya semangat baru. Dalam bertugas, mereka menggunakan sepedamotor sehingga surat akan lebih cepat sampai ke alamat tujuan."
        "Tapi, Pak. Seharusnya ada pengecualian buat orang sebaik bapak!" kataku dengan penuh harap   "Orang sebaik bapak, seharusnya mendapat prioritas tambahan masa kerja. Sebab bagi kami, bapak adalah panutan kami. Bapak adalah pemberi semangat kami. Bapak adalah segalanya buat kami."
        "Hoi...hoi...hoiii....astaghfirullah...kamu nggak boleh bilang begitu, cucuku. Dalam masalah tugas, memang aturan pemerintah kita seperti itu. Tidak ada pengecualian terhadap siapapun juga. Kalau sudah sampai batas umur pensiun... yaaa mereka harus segera pensiun apapun alasannya. Bapak selalu taat peraturan. Dan lagi, bapak tidak mau dikultuskan atau dipuja-puja, cucuku. Memang menurut kalian, bapak adalah orang baik, perhatian dan sebagainya. Tetapi perlu kalian diketahui, bahwa bapak ini adalah manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan."
         "Tapi...pak, kami merasa kehilangan bapak...!!"
         Pak Zul terdiam sesaat. Menarik nafas dalam dalam-dalam.Lalu, beliau duduk di sebelahku. Aku lihat air matanya  mengalir membasahi pipi. Aku tak kuasa menahan rindu layaknya cucu kepada kakeknya. Dan, segera aku peluk tubuhnya erat-erat. Demikian pula Pak Zul memelukku erat-erat.
        "Pak Zul, kami rindu keakraban, sapa, dan  tawa seperti saat bapak bertugas dulu."
         Pak Zul masih memelukku semakin erat. Dan dengan nada yang terbata-bata dia mencoba menghiburku.
        "Baiklah, cucuku. Insyaallah mulai besok, bapak akan mengunjungi kalian lagi. Bapak akan melakukan hal-hal seperti yang bapak lakukan saat bertugas dulu. Bapak akan memberi kalian permen gula asem setiap kali berkunjung ke rumah kalian"
        Mendengar ucapan Pak Zul membuat kami senang. Pak Zul mau mengunjungi rumah kami lagi, katanya.
        "Jadi bapak mau mengunjungi kami lagi? Mau ke rumah kami lagi?Alhamdulillah....horeeee....horeeee....terimakasih, Pak Zul" kata kami kegirangan.
        "Tapi ingat, cucuku. Kali ini, Bapak tidak akan mengantar surat kepada kalian lagi lho! Dan perlu diingat, bapak mau melakukan hal ini karena bapak menginginkan kalian menjadi anak pintar, menjadi anak sholeh dan sholehah berbakti kepada orang tua Bapak ingin agar kelak kalian bisa menjadi generasi penerus bangsa yang bisa bersaing dengan bangsa-bangsa besar di dunia. Kalian berjanji?!"
        "Terimakasih, Pak...insyaallah kami berjanji akan melakukan apa yang bapak cita-citakan."
          Pak Zul tersenyum. Kami tertawa riang sambil menikmati permen gula asem bikinannya.
          "Akhirnya, besok kami akan bisa mendengar sapaan khas Pak Zul si tukang pos :   
           "HOI....HOI....HOIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII......"



selesai,-

MENIKMATI SHOLAT

          Sepulang sekolah, Untari bergegas menuju rak buku ayahnya. Baju seragam masih melekat di tubuhnya. Di rak buku, diambilnya beberapa buku tuntunan sholat milik ayahnya. Lalu selembar demi selembar buku  yang membahas tentang sholat dibacanya. Setiap kali selesai membaca buku ia menaruhnya dengan wajah cemberut. Ada rasa kecewa di wajahnya. Sepertinya apa yang dicarinya tidak ditemukan juga.
           "Uuuh...dimana sih?" gumam Untari berkali-kali, sampai-sampai dia tidak menyadari kalau ibunya sudah berada di hadapannya.
          "Lho...Untari masih belum ganti baju, belum makan dan belum sholat kok sudah baca-baca buku?" sapa ibunya "Hayoo...gak mau jadi anak sholehah lagi ya?
          "Iya, sebentar Bu... lagi tanggung nih. Tinggal satu buku lagi!" jawab Untari.
          "Duuh...sayangku lagi cari apa sih kok sampai lupa makan dan sholat?" sapa ibunya sambil duduk disamping Untari. Rambut Untari yang nampak kusut dibelai-belai sambil dirapikannya. Tidak lupa kecupan sayang ibunya mendarat di kedua pipi Untari.
          "Bu, tadi guru agama Untari bilang kita disuruh menikmati sholat. Nah...Untari jadi penasaran. Apa benar sholat bisa dinikmati? Emangnya sholat itu makanan ya?
          Mendengar penuturan Untari membuat ibunya tersenyum dalam hati. Dia bangga ternyata anak gadisnya sangat perhatian dalam masalah sholat yang menjadi kewajiban setiap muslim.
          "Kamu itu lucu, Untari. Sholat kok disamakan dengan makanan."
          "Tapi......"
          "Iya deh...begini saja, sekarang kamu ganti baju dulu, sholat lalu jangan lupa makan. Biarlah nanti kita tanyakan ayah saja ya."
          "Baik, Bu" jawab Untari sambil memunguti buku ayahnya untuk dikembalikan ke tempatnya. Dan secepat kilat ia masuk ke kamarnya untuk ganti baju, lalu mengambil air wudlu dan mengerjakan sholat.

***

          Sore hari, setelah sholat ashar, Untari bergegas hendak menemui ayahnya di ruang keluarga. Di sana sudah berkumpul ayah, ibu dan kakaknya. Ketika Untari datang, ayahnya sudah tersenyum dan mengetahui maksud anaknya sebab istrinya telah menceritakan kejadiannya.
         "Jadi...anak ayah mau menikmati sholat ya," kata ayah Untari sebelum anaknya menyampaikan maksudnya.
         "Iiih, ayah...tahu aja maksud kedatanganku," jawab Untari sambil merangsekkan tubuhnya diantara ayah dan ibunya. "Tapi benar khan  pak, kalau sholat itu tidak sama dengan makanan? Kok pak guru bilang menikmati sholat? Apa sholat sama dengan martabak bisa dinikmati?"
         "Hahahahaha.....bisa saja kamu!" kata ayah, ibu dan kakak hampir bersamaan.
         "Awas dosa lho kalau kamu bilang sholat sama dengan martabak," kakaknya menyela pembicaraan mereka.
         "Tapi aku khan gak salah. Bapak guru yang bilang begitu," jawab Untari tidak mau kalah.
         "Begini Untari, apa yang dibilang gurumu itu tidak salah. Memang seorang muslim harus bisa menikmati sholatnya. Bukankah di dalam Al-qur'an ada ayat yang mengatakan bahwa kita dianjurkan mengerjakan sholat dengan khusyuk yaitu sholat yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran bahwa kita berhadapan dengan Alloh SWT. Dalam Al-qur'an surat Al-mu'minun ayat 1 dan 2 disebutkan bahwa "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sholatnya". Jadi melaksanakan sholat sebaiknya tidak dilakukan dengan tergesa-gesa, tapi harus tumakninah."
         "Apa bisa dikatakan menikmati sholat itu sama dengan khusyu' dalam melaksanakannya, pak?"
         "Insyaaloh demikian maksud bapak gurumu," lanjut ayahnya.
         "Oooo jadi begitu. Alhamdulillah akhirnya rasa penasaranku terjawab sudah. Terimakasih, ayah."
         "Nah, kalau Untari sudah mengerti cara menikmati sholat, sekarang gantian kita menikmati oleh-oleh ayah," kata ibu Untari sambil membuka kotak bertuliskan Martabak spesial.
         "Alhamdulillah.....horeee....horeeee....horeeee...kita menikmati martabak spesial!" teriak Untari dan kakaknya kegirangan. Dan sore itu mereka menikmati Martabak spesial bersama-sama.


selesai-