Rabu, 30 Januari 2013

PERSAHABATAN KUCING DAN TIKUS

     Dahulu kala, kucing dan tikus bersahabat. Mereka hidup serumah. Kemanapun kucing pergi   si tikus ikut serta.Begitu pula bila si tikus berjalan-jalan maka si kucing selalu menjaganya. Si kucing menjadi pelindung si tikus yang bertubuh kecil.               Setiap ada hewan yang akan mengganggu si tikus maka si kucing akan membelanya. Dan sebagai tanda eratnya persahabatan mereka, si kucing memberi julukan si tikus dengan namanya,  yaitu SI MEONG  dan sebaliknya si kucing diberi nama SI MOUSE disingkat SI PUS.
       Dalam pergaulan mereka selalu bersama-sama, begitu pula dalam hal pembagian makanan. Setiap ada makanan mereka senantiasa membagi sama rata.
       Suatu malam, si tikus merasa perutnya lapar. Ia ingin mengajak si kucing untuk mencari makanan. Namun, si tikus kecewa sebab si kucing telah tidur pulas. Ia tidak ingin membangunkannya. Maka si tikus pergi sendirian mencari makanan. Ia berjalan kemana saja. Ia berharap bisa mendapatkan sepotong makanan untuk mengisi perutnya yang lapar.

       "Aduuh, kemana lagi aku harus mencari makanan?" kata si tikus. "Hampir sepanjang jalan yang kulalui tidak kutemui sepotong makanan pun....huu..huu..huuuuu."

        Si tikus semakin bersedih. Perutnya semakin terasa lapar. Namun ia tidak berputus asa. Dia terus berusaha mendapatkan makanan.
        Sejurus kemudian, tiba-tiba si tikus berteriak kegirangan. Dia melihat sepotong daging tergeletak di perempatan jalan.

         "Horee...akhirnya aku mendapatkan makanan!" teriak si tikus kegirangan.

        "Wah besar sekali ukurannya, bisa untuk jatah makan selama seminggu, nih."

Kemudian ia cepat-cepat menyeret daging itu dan membawanya pulang. Meskipun dengan susah payah, namun si tikus melakukannya dengan penuh gembira. Sehingga rasa capek, lelah dan lapar tidak dirasakannya lagi. Sepanjang jalan ia  bernyanyi-nyanyi sambil menyeret sepotong daging.

         "Hoiii....Pus...ayo kemari....ada kabar gembira !" teriak si tikus ketika sampai di depan rumahnya. "Hoii...Puuss ...bangun...ada kabar gembira, nih!"

        Si kucing terkejut mendengar teriakan si tikus. Ia segera menghampiri temannya.

        "Wow...sepotong daging segar...mantab," pikir si kucing. "Kebetulan sudah sebulan aku tidak makan daging. Sekarang aku akan menikmati kelezatannya," pikir si kucing mulai timbul rasa serakahnya.

        "Wah...daging segar...terima kasih sahabatku," kata si kucing

        "Lho...lho...lho...apa maksudmu dengan ucapan terima kasih itu, Pus?" tanya si tikus.

        "Ah tidak...maksudku...terimakasih kamu telah mendapatkan sepotong daging untuk kita makan berdua khan?"

        "Iya...kan perjanjian kita seperti itu. Apapun makanan yang kita dapatkan harus kita bagi rata. Benar, khan?" kata si tikus.

         "Iya  ya...," jawab si kucing sambil terus memperhatikan sepotong daging segar di hadapannya.

         "Okey kalau begitu mari kita bagi sama rata ya. Ayo berikan daging itu, Meong...biar aku yang bertugas membaginya."

         Kemudian si tikus memberikan daging yang dibawanya kepada si kucing. Dan si kucing berusaha memotong daging di hadapannya sama rata. Setelah daging terpotong menjadi dua, lalu si kucing dan si tikus memperhatikan ukuran dagingnya.

        "Wah...ternyata daging bagianmu terlalu besar, Tikus," kata si kucing. "Harus dipotong sedikit nih agar bagian kita sama besar."

Kemudian si kucing memotong daging milik si tikus agar potongan dagingnya sama besar. Namun si kucing bertindak curang, ternyata potongan sisa daging yang dipotongnya tidak ditambahkan ke potongan daging miliknya, namun potongan daging itu langsung dimakannya.

        "Waduh...kini daging bagianku yang kelihatannya agak besar, teman." kata si kucing. "Sabar ya saya akan memotongnya lagi agar ukurannya sama besar" kata si kucing sambil memotong dagingnya untuk disamakan dengan ukuran daging milik si tikus.

Dan lagi-lagi si kucing berbuat curang. Sisa potongan daging tersebut langsung dimakannya juga. Demikian, berkali-kali si kucing berbuat curang di hadapan si tikus. Akibat kecurangan si kucing, akhirnya potongan daging milik si tikus dan si kucing semakin bertambah kecil. Si tikus menyadari bahwa temannya telah berbuat curang kepadanya. Ia diam saja. Ia mulai menyusun siasat untuk menyadarkan perbuatan curang sahabatnya.
         Ketika si kucing merasa kehausan setelah berkali-kali makan potongan-potongan daging maka ia minta ijin si tikus untuk mengambil air minum. Dan kesempatan ini tidak disia-siakan oleh si tikus. Ia segera mengambil cabe rawit, lalu mengoles-oleskan cabe rawit keatas potongan daging milik si kucing. Setelah itu si tikus kembali ke tempat duduk semula sambil menunggu si kucing datang.

       "Nah...kini rasa hausku telah hilang," kata si kucing.

       "Dan sekarang pembagian daging ini kita lanjutkan yaa...O ya kelihatannya daging bagianku kelihatannya tidak sama dan terlalu besar dibanding dengan milikmu...oke saya potong ya..."

Lalu si kucing segera memotong daging miliknya. Dan seperti kejadian sebelumnya, ia langsung memasukkan potong daging tersebut ke dalam mulutnya. Si kucing tidak sadar bahwa potongan daging miliknya telah diolesi cabe rawit oleh si tikus.

       "Wuaahhh aduh...ooooh...aaaah...ooooh...aaaahhh....pedas...pedas......pedas...ada apa dengan daging ini?  Ampun..ampun....ampuunnnn....panas.....panasss......"  teriak si kucing sambil berlari kesana kemari merasakan mulutnya terasa panas akibat makan potongan daging yang telah diolesi cabe rawit oleh si tikus.

       "Hahahahahaha....itulah hukuman bagi sang curang!" teriak si tikus sambil tertawa terbahak-bahak. Lalu si tikus lari sambil meraih sisa potongan daging yang menjadi haknya.

        "Alhamdulillah masih bisa menikmati daging walaupun ukurannya semakin kecil," kata si tikus. Si tikus tetap bersyukur karena masih bisa menikmati sisa daging segar yang menjadi haknya. Kemudian, ia berusaha lari sejauh-jauhnya meninggalkan si kucing yang telah melanggar perjanjian persahabatan mereka.
        Sebaliknya si kucing terus berteriak-teriak menahan rasa panas di mulutnya akibat makan potongan daging yang telah diolesi cabe rawit oleh si tikus. Ia terus berlari kesana agar rasa panas di mulutnya hilang, namun rasa panas  di mulutnya sulit hilang dalam sekejap.

       "Awas kamu si tikus...aku akan mencarimu kemana saja kamu lari. Pokoknya aku akan membuat perhitungan dengan kamu!! Aku pasti akan menemukanmu.! Aku berjanji akan selalu mencarimu kemanapun engkau pergi.".

       Akhirnya mulai saat itu, si tikus senantiasa menghindar dan berlari menjauh apabila bertemu si kucing.  Dan setiap hari, kemanapun si kucing mencari si tikus senantiasa memanggil-manggilnya dengan teriakan :

       "MEOOOONG....MEOOOONG...MEOOOONG...MEOOOONG..."


Tamat

Sumenep, 30 Januari 2013

Selasa, 11 Desember 2012

KISAH SI BEBEK DAN BURUNG HANTU

Gambar : agus karianto


           Dahulu kala, hidup di kerajaan binatang terasa damai. Seluruh hewan saling sayang menyayangi. Hewan yang tua menyayangi yang muda, sedang hewan yang muda menghormati yang tua. Bahkan mereka suka hidup bergotong royong dalam melakukan setiap pekerjaan. Siapapun yang mendapat kesulitan dalam melakukan sesuatu pekerjaan maka hewan yang lain serentak beramai-ramai membantunya. Sehingga semua pekerjaan yang ringan akan cepat terselesaikan dan pekerjaan yang berat akan terasa ringan karena mereka mengerjakannya bersama-sama. Mereka melakukannya dengan ikhlas tanpa pamrih apapun.
           Namun, akhir-akhir ini, kehidupan di kerajaan binatang terasa jauh berbeda. Antara hewan yang satu saling curiga mencurigai. Hewan-hewan tua enggan menyayangi yang muda, dan sebaliknya hewan-hewan muda sudah tidak menaruh hormat pada hewan tua. Hewan-hewan muda semakin berani bertindak tidak sopan kepada hewan-hewan tua. Rasa kegotong royongan dalam melakukan pekerjaan sudah mereka tinggalkan. Mereka lebih senang hidup menyendiri. Bila ada hewan yang kesulitan melakukan pekerjaan maka tidak ada seekor hewanpun yang ikhlas membantunya. Mereka lebih senang menjadi penonton saja terhadap kesulitan teman-temannya. Kehidupan di kerajaan semakin jauh dari rasa aman dan tenteram.
           Perubahan kehidupan yang jauh dari rasa nyaman di kerajaan binatang itu diakibatkan ulah Si Bebek yang jago gosip. Tiap hari si bebek selalu menyebarkan gosip dimana-mana. Seluruh hewan senantiasa menjadi bahan gosipnya. Sehingga antara hewan satu dan hewan lain terjadi salah faham bahkan tidak jarang terjadi perkelahian. Bila antara hewan satu dan hewan lain terlibat adu mulut dan akhirnya berkelahi maka si Bebek menjauhi mereka. Si bebek takut dikeroyok hewan-hewan karena akibat ulahnya mereka sampai berkelahi. Bahkan terkadang si bebek saling mengadu domba antara hewan satu dengan lain. Hewan-hewan tua berusaha diadu dengan hewan-hewan muda. Begitupun sebaliknya.
           Si burung hantu merasa resah dengan perubahan kehidupan di kerajaan binatang yang semakin tidak ada aturan. Dia tahu bahwa penyebab semua ini adalah akibat ulah si Bebek. Kemudian Si Burung memikirkan suatu cara bagaimana caranya memberi pelajaran kepada si bebek. Dia ingin menghentikan tingkah polah si bebek yang semakin menjadi-jadi.
          "Kalau ulah si Bebek tidak dihentikan, maka kehidupan di kerajaan binatang akan semakin amburadul," pikir si burung Hantu. Si burung hantu tahu bahwa setiap malam si bebek selalu tidur di bawah pohon tidak jauh dari rumahnya. Oleh karena itu,  menjelang gelap si burung hantu sudah bertengger di dahan pohon dimana di bawahnya tenpat si bebek tidur. Dan tidak berapa lama nampaklah si bebek pulang. Lalu si burung hantu berusaha mendekatinya.
         "Selamat malam, bebek," sapa burung hantu.
         "Hhohoho...selamat malam. Hei, kau rupanya si mata SIONG," jawab si bebek mengejek.
         "Wah kamu menghina aku, ya! Apa itu si mata SIONG?" tanya si burung hantu tidak mengerti.
         "Hehehehehe...si mata SIONG! Kalau siang matanya sipit kalau malam matanya plolong! Hahahaha..."
         "Memang keterlaluan kamu, bebek," kata burung hantu. "Semua teman-temanku pasti kau hina, kau fitnah, kau adu domba seperti itu. Pantas mereka saling curiga antara satu dengan yang lain."
         "Ya salah mereka! Kenapa mereka bodoh sehingga bisa saling berkelahi. "
         "Jangan begitu, bebek! Mereka juga teman-temanmu, jadi kamu harus melindungi mereka..."
         "Apa? Melindungi hewan-hewan yang tidak cerdas seperti mereka? Puih...tidak mau ya. Bahkan mereka pantas menerima hadiah akibat kebodohannya."
         "Hei, bebek! Tidak pantas kau berkata seperti itu! Sekali lagi aku peringatkan agar kamu jangan melakukan hal-hal tercela kepada teman-temanku. Kalau tidak mau....maka.....kamu akan mendapat celaka akibat ulahmu sendiri"
         "Memangnya ada apa dengan kamu ini? Sok usil ngurusi urusan teman! Kamu jangan mencoba-coba mengancam aku, ya Burung Hantu! Atau kamu menantang berkelahi dengan aku ya!?" bentak si  bebek.
         Si burung hantu tidak menjawab tantangan si bebek. Sebaliknya ia berusaha memanggil semua hewan agar mengetahui bahwa selama ini mereka telah mendapat fitnahan dan adu domba si bebek. Di hadapan si bebek dan burung hantu yang sedang berdebat, semua hewan hanya saling pandang sesama mereka. Ada rasa penyesalan di antara mereka. Ada rasa bersalah di antara mereka. Selama ini sikap mereka berubah akibat ulah si bebek. Ternyata si bebek telah menfitnah mereka, telah mengadu domba. Mereka merasa geram dan marah terhadap ulah si bebek. Mereka mau mengambil tindakan dengan mengeroyok beramai-ramai namun niat mereka dicegah si burung hantu.
         "Sabar kawan-kawan. Jangan main hakim sendiri. Biarlah si bebek yang mengeluarkan pendapatnya," seru si burung hantu meredam niat seluruh hewan yang mau mengeroyok si bebek.
         "Aku tidak terima apabila mendapat tuduhan seperti ini," kata si bebek. "Sebenarnya tujuanku baik. Aku ingin kalian tidak bodoh lagi...aku ingin kalian bersatu....aku ingin....,"
         Duuuuuuukkkkk....tiba-tiba ada sebongkah batu besar menimpa mulut si bebek. Entah siapa yang telah melemparkannya. Namun dilihat dari arahnya, tentu si burung hantu yang telah melemparkannya.
         "Aduuuhhhh...weekkk...wek..wek...wek!!!!" teriak si bebek kesakitan. Dia berusaha melepaskan diri dari himpitan batu yang menimpa mulutnya namun tidak bisa. Dia terus berusaha melepaskan diri dan akhirnya setelah menarik mulutnya kuat-kuat ia terbebas dari himpitan batu. Namun si bebek kembali berteriak dan merasa menyesal karena batu besar yang menghimpit mulutnya tadi ternyata membuat mulutnya menjadi pipih dan sulit menjadi bentuk semula. Si bebek kini sulit untuk berkata-kata lagi, karena setiap berkata-kata dari mulutnya hanya keluar bunyi : Wek..wek..wekk..wekk. Dan sejak saat itu, si bebek tidak bisa berkata-kata lagi. Dia tidak bisa memfitnah teman-temannya lagi. Dia tidak bisa mengadu domba seluruh teman-temannya lagi. Akhirnya ia hanya bisa  menyesal dalam hati dan sambil kedua matanya berlinang air mata ia pergi menjauhi teman-temannya karena malu atas perbuatannya selama ini.
         "Itulah akibat kesombongan dan mulut yang senantiasa bergosip, memfitnah, dan mengadu domba teman. Pasti akan mendapat balasan sesuai perbuatannya," kata si Burung hantu. Dan seluruh hewan bersorak sorai tanda gembira. Mereka sadar bahwa sikap mereka selama ini salah akibat fitnahan dan adu domba si bebek. Akhirnya mulai saat itu mereka bersatu lagi. Hidup mereka menjadi nyaman dan tenteram.


selesai

sumenep, 12-12-2012

moral cerita :   tukang fitnah dan tukang adu domba biasanya berakibat fatal terhadap dirinya sendiri.

Selasa, 04 Desember 2012

KISAH SANG BANGAU DAN KODOK BUDUK

Gambar : agus karianto




          Dahulu kala, sang Bangau dan Kodok buduk berteman akrab. Kemanapun sang bangau pergi tentu si Kodok buduk turut serta. Dimana ada sang bangau pasti di sana ada si kodok buduk. Dalam hal pembagian makanan mereka senantiasa berbagi bersama. Setiap kali sang bangau mendapatkan makanan maka si kodok buduk akan mendapatkan jatah makanan. Hal ini berlangsung setiap hari. Namun, sang bangau terkadang merasa jengkel karena selama ini si kodok buduk tidak pernah berbagi makanan dengan sang bangau. Si kodok buduk merasa bahwa tanpa harus susah-susah bekerja dia senantiasa mendapat jatah makanan dari sang bangau. Akhirnya, lama kelamaan kebiasaan ini membuat si kodok buduk menjadi pemalas. Dia senantiasa menggantungkan hidupnya kepada sang bangau.
          Sang bangau sering mengingatkan kodok buduk agar tidak menjadi pemalas. "Kamu harus mencoba berusaha mencari rejeki sendiri. Berapapun besarnya rejeki yang kau dapat itu lebih mulia daripada kamu menjadi pemalas dan menggantungkan hidupmu pada pihak lain," demikian antara lain nasehat sang bangau kepada si kodok buduk. Namun semua nasehat sang bangau sama sekali tidak didengarkan si kodok buduk. Bahkan semakin lama si kodok buduk makin menjadi pemalas. Dia lebih suka tidur-tiduran di rumah sambil menunggu jatah makanan dari sang bangau. Hal ini membuat sang bangau menjadi jengkel. "Aku akan memberi pelajaran  si kodok buduk," pikir sang bangau.
          Siang itu, sang bangau sengaja tidak pulang ke rumah. Setelah mendapatkan beberapa ikan di tambak, makanan itu sengaja dihabiskan dipematang tambak sampai tidak tersisa. Ketika menjelang petang, sang bangau sengaja pulang ke rumah tanpa membawa makanan sepotongpun . Nah, saat melihat sang bangau pulang membuat si kodok buduk merasa senang sebab sejak pagi perutnya merasa lapar. Tidak ada sepotong makananpun yang masuk ke perutnya. Namun betapa kecewanya si kodok buduk karena ternyata sang bangau pulang tidak membawa makanan sepotongpun.
         "Aduuuhhh....kamu pulang kok tidak membawa makanan sepotong pun, sih? Perutku lapar nihhh!" kata si kodok buduk.
         "Iya...musim kemarau begini makanan semakin sulit didapat," jawab sang bangau.
         "Tapi...di tambak khan banyak ikan," kata si kodok buduk.
         "Iya ada ikan....tapi aku sulit menangkapnya," jawab sang bangau sekenanya.
         "Wah...kamu mulai bohong kepadaku, ya?" tanya si kodok buduk penuh kecurigaan.
         "Hei...rupanya kamu sudah tidak percaya padaku lagi, ya," jawab sang bangau. "Ya sudah kalau begitu. Aku capek...mau tidur saja."
         "Lalu bagaimana dengan perutku yang kelaparan ini, kawan? Aku makan apa hari ini? Di rumah tidak ada sepotong makanan pun. Aduuh.....lapar....lapaarrr..." teriak si kodok buduk.
Namun sang bangau pura-pura tidak mendengar keluhan temannya. Ia terus pergi tidur.

                                                                             ***
         Keesokan harinya, sebelum matahari terbit sang bangau sudah keluar rumah untuk mencari makanan lagi ke tambak. Si kodok buduk masih tidur. Ia sama sekali tidak tahu bahwa sang bangau telah  meninggalkan rumah. Ketika si kodok buduk terbangun, dia berteriak-teriak memanggil sang bangau.
        "Bangau...bangauuuu....kalau kamu pergi jangan lupa pulangnya membawa makanan yang banyak ya!!!" teriak si kodok buduk.
         Tentu saja teriakan si kodok buduk tidak bisa didengar sang bangau yang telah jauh meninggalkannya. Kini sang bangau sedang menikmati sarapan berupa ikan segar di tambak. Dan kali ini pula ia tetap menghabiskan makanannya di pematang tambak. Dia sengaja untuk yang ke sekian kalinya tidak membawa sepotong makananpun saat pulang ke rumah.
Dan untuk yang kesekian kalinya, si kodok buduk merasa jengkel karena saat sang bangau pulang tetap tidak membawakan makanan untuknya. Perutnya semakin kelaparan. Tenaganya semakin lemah.
         Keesokan harinya, si kodok buduk sengaja  mengikuti kemana sang bangau mencari makanan. Ketika sang bangau menuju pertambakan, ia tetap mengawasinya dari kejauhan. Dan betapa terkejutnya si kodok buduk, ternyata sang bangau selama ini telah berbohong kepadanya. Sang bangau ternyata dengan mudah mendapatkan makanan dan ia selalu menikmati sendiri ikan-ikan segar yang di dapat di pematang tambak. "Waaaahhh....tidak bisa dibiarkan hal ini terjadi. Aku selama ini telah dibohonginya. Aku harus mencari keadilan. Aku mau melaporkan pencurian ikan kepada sang Ratu ikan." kata si kodok buduk sambil berjalan menemui si Ratu ikan.
        "Selamat siang, Ratu Ikan," kata kodok buduk menyapa Si Ratu Ikan.
        "Selamat siang, Kodok Buduk," jawab sang Ratu. "Ada keperluan apa kamu datang kemari?"
        "Begini sang Ratu...aku tadi melihat sang bangau telah mencuri dan memakan anak buahmu. Hal ini tidak boleh dibiarkan terus menerus. Sebab wargamu bisa habis dimakan si bangau. Sang Ratu harus segera mengambil tindakan," demikian lapor si kodok buduk

        "Hah...benarkah informasimu itu, Kodok buduk." kata sang Ratu sedikit geram.
        "Benar sang Ratu...aku berani bersumpah," kata si kodok buduk meyakinkan ucapannya
        "Wah...benar katamu, Kodok Buduk. Hal ini tidak boleh dibiarkan. Sebelum aku pergi ke tempat yang jauh, aku akan mengambil tindakan terlebih dahulu. Aku akan mengirimkan jagoan-jagoanku yaitu Ikan lele untuk menjaga keamanan ikan-ikan di sana. Dia memiliki dua senjata di mulutnya yang bisa digunakan untuk melukai kaki sang bangau. Tapi kami perlu bantuanmu untuk menyebutkan bagaimana ciri-ciri sang bangau itu, Kodok Buduk?"
        "Begini sang Ratu. Dia memiliki ciri-ciri, antara lain :  bulunya putih, paruhnya panjang, dan ciri khasnya dia memiliki kaki yang ukurannya panjang. Inilah keuntungan dia. Karena dengan dua kaki yang panjang dia bisa berdiri di atas tambak tanpa takut tubuhnya basah."
         "Ooooo itu saja ya ciri-cirinya. Nah. ikan lele, saat kamu menjaga air nanti tolong diperhatikan. Kalau ada dua kaki panjang berdiri di tambak atau di perairan manapun maka segera ambil tindakan. Gunakan saja senjatamu untuk melukainya agar teman-teman kita tidak habis dimakan sang bangau." kata sang Ratu sambil berenang pergi menjauh entah kemana. Namun tanpa mereka sadari, ternyata dibalik pohon bakau Sang Bangau rupanya ikut mendengarkan semua pembicaraan mereka. Sang bangau hanya bisa tersenyum.Kali ini sang bangau akan memberi pelajaran yang lain kepada si kodok buduk dan para ikan lele.

                                                                            ***
          Si kodok buduk merasa senang sebab kali ini ia memberi pelajaran sang bangau yang telah membohonginya. Oleh karena itu, ia cepat-cepat pergi ke pematang sawah untuk melihat dari kejauhan bagaimana nasib kaki temannya saat berdiri di tambak akan dilukai oleh ikan-ikan lele,sang penjaga air.
         "Ayooo...Bangau silahkan berdiri di tambak...ayo cepattt," gumam si kodok buduk ketika melihat sang bangau akan berdiri di tambak untuk menangkapi ikan-ikan segar.
Namun betapa kagetnya si kodok buduk, ternyata sang bangau saat berdiri di tambak hanyamenggunakan satu kaki saja. Sedang satu kaki yang lain dilipat ke badannya. Dan hal inilah yang membingungkan ikan lele. Sebab selama mereka bertugas menjaga air, tidak menjumpai dua kaki panjang yang masuk bersamaan di tambak. Dan taktik inilah yang membuat sang bangau senantiasa selamat dari serangan para penjaga air.
Sebaliknya si kodok buduk semakin jengkel dan pergi meninggalkan sang bangau untuk mencari makanan sendiri tanpa mengharapkan bantuan siapapun.
          Dan sejak saat itu dimanapun berada sang bangau bila mencari makan di perairan senantiasa melipat satu kakinya dan si kodok buduk senantiasa makan hewan kecil apa saja yang ditemuinya tanpa mengharapkan bantuan siapapun lagi.


selesai

sumenep, 5 Desember 2012

moral cerita : Rejeki yang diperoleh dari jerih payah sendiri
                     lebih mulia nilainya
                    daripada mengharapkan
                     belas kasihan orang lain.

Jumat, 30 November 2012

KISAH SI SEMUT DAN RAJA LALAT

foto : agus karianto


          Sejak si lalat dinobatkan menjadi sang Raja, maka kehidupan di kerajaan binatang menjadi semakin amburadul. Banyak peraturan yang tidak terpakai. Kelompok lalat sering bikin ulah. Mereka bertindak semaunya sendiri. Mereka beranggapan bahwa raja mereka tidak akan menghukumnya apabila mereka berbuat salah. Sifat lalat yang jorok membuat kerajaan binatang semakin kotor dan kumuh. Banyak sampah berserakan tidak dibuang pada tempatnya.
          Akibat sifat jorok si lalat, membuat banyak semut-semut merasa terganggu. Karena, sejak si Lalat dinobatkan menjadi raja, banyak semut yang sering terjangkit sakit perut. Hampir setiap hari ada saja sekelompok semut yang menderita sakit perut. Dan setelah diamat-amati, ternyata semua ini akibat ulah para lalat yang jorok. Sebab setiap kali para lalat-lalat berpesta pora, mereka terbang ke sana kemari, hinggap di tempat-tempat jorok, setelah itu mereka menghinggapi juga di potongan-potongan makanan yang akan dikumpulkan para semut. Ketika para semut membawa makanan tersebut ke rumah untuk dimakan bersama keluarga maka sehabis makan mereka merasakan perutnya sakit. Sebenarnya sekelompok semut pernah protes kepada sang Raja Lalat, namun tidak ada tanggapan. Bahkan ulah para lalat semakin menjadi-jadi. Dan sang Raja Lalat tidak bisa berbuat banyak.
         "Wahh, gara-gara si lalat jorok yang menghinggapi makanan kita, akhirnya kita jadi sakit perut, nih," kata para semut.
         "Iya, betul...aku kemarin melihat sendiri, di kaki para lalat banyak sekali kotoran saat hinggap di makanan kita, hal inilah yang membuat kita sakit perut" seru semut yang lain.
        "Kita tidak boleh tinggal diam....kita harus mengambil tindakan!Kita protes juga tidak ada tindakan dari sang raja!!"
        "Iya....iyaaaa....kita harus bertindak..."
        "Benar semua semut harus bersatu untuk melawan kecerobohan sang Raja...kita harus melawan kesewenang-wenangan ini....kita harus menaklukkan sang Raja."
        "Setuju...kita harus memberi pelajaran si Raja Lalat yang ceroboh melindungi kelompoknya yang sok kuasa..."
         Oleh karena itu, para semut berkumpul untuk menyusun strategi melawan sang Raja Lalat. Ada yang mengusulkan dipukul beramai-ramai. Ada yang mengusulkan makanan sang Raja dilumuri kotoran agar dia ikut merasakan bagaimana rasanya sakit perut. Dan berbagai usulan yang lain.
        "Kita harus berhati-hati menghadapi sang Raja, sebab dia memiliki sayap. Kalau dia tahu bahwa kita akan memukulnya atau mencelakainya maka dia bisa saja terbang dan kita tidak bisa mengejarnya. Bukankah kita tidak memiliki sayap," kata salah seekor semut kepada teman-temannya. Dan seluruh semut menyadari akan kelemahan mereka yang tidak memiliki sayap.
       "Lalu bagaimana kita bisa mengalahkannya?"
       "Begini, kawan! Untuk menghadapi si Raja Lalat kita harus benar-benar bersatu dan saling bekerjasama. Tidak boleh ada semut yang tidak berperan serta. Untuk berkelahi dengan dia, jelas kita tidak punya kekuatan. Nah, saatnya kita gunakan taktik jebakan saja."
       "Maksud jebakan itu apa, kawan?"
       "Begini, kita akan melawan si Raja dengan melakukan jebakan.Kita akan menjebak dengan cara memanfaatkan kebiasaan jelek yang biasa dia lakukan terhadap kita. Caranya yaitu pertama-tama kita harus dibagi dalam beberapa kelompok. Ada kelompok yang membuat lem, ada kelompok yang membuat makanan, ada kelompok yang memancing si Raja Lalat masuk ke dalam jebakan kita. Dan ada kelompok yang membekuk Raja lalat saat dia takluk ke dalam jebakan kita. Bagaimana, kalian siap bersatu melawan Raja Lalat !?"
        "Siaaaappppp....siiiaaaapppp....kita bersatuuuu.....melawan Raja Lalat!!!"
        Maka malam itu para semut mulai bekerja sesuai tugas masing-masing. Tidak ada kegaduhan selama mereka melakukan tugasnya, sebab mereka khawatir sang Raja Lalat mengetahui rencana mereka.
         Dan pagi hari sebelum matahari muncul, mereka telah selesai mempersiapkan jebakannya. Sebuah makanan yang berbau harum namun seluruh permukaannya telah dilumuri lem perekat telah mereka letakkan di tengah halaman. Para semut berharap agar saat si Raja lalat dan teman-temannya menghinggapinya maka para lalat tidak bisa melarikan diri.
       "Oke...semua siap pada posisi masing-masing...sebentar lali si lalat akan keluar rumah," teriak pemimpin semut. Dan para semut bersiap-siap pada tempatnya masing-masing.
        Tidak berapa lama, nampak si Raja lalat keluar rumah. Ia merasa tertarik pada bau makanan yang sampai pada rumahnya. Spontan ia terbang mencari asal makanan tersebut.
        "Wuahhhh....ada makanan lezzzaaatttt," teriak si Raja Lalat kegirangan. Oleh karena itu segera ia mempercepat terbang menuju makanan tersebut dan secepatnya menghinggapinya. Namun....
        Trrraaaaapppppp....trraaaapppp....traaaapppp...traaappppp
        "Ouugghhhhh......kakiku kok lengket ke makanan? Tolong...tolooonngg..'" teriak si Raja Lalat sambil meronta ronta karena kakinya terperangkap jebakan lem para semut. Dan seketika itu juga seluruh semut keluar dari persembunyiannya untuk menangkap Raja Lalat beramai-ramai.
        "Horeeeee......horeeee....kita berhasil...kita berhasil.....!"
        "Tolooonnngg....aku jangan dilukai, teman-teman! Apa salahku sehingga kalian menjebakku seperti ini? Tolong lepaskan aku, teman-teman" seru Raja Lalat.
        "Hahahahaha...enak saja minta dilepaskan. Biar saja kamu merasakan akibat ketidak adilan dan akibat kecerobohanmu memimpin kami."
        Si Raja Lalat pura-pura tidak mengerti. Ia terus minta tolong untuk segera dilepaskan. Namun para semut segera mengurungnya. Para semut memegangi tubuh Raja Lalat dari segala penjuru tubuhnya sehingga lalat tidak bisa bergerak.
        "Hai, coba jelaskan kesalahanku sehingga aku kau perlakukan seperti ini, kawan!" teriak Raja Lalat.
        "Hehehe..."
        "Sungguh, aku tidak mengerti, kawan! Kalau saja teman-temanku tahu bahwa aku kau tawan tentu mereka akan segera menyerang kamu. Ayo coba jelaskan biar aku punya alasan membela kalian," seru Raja Lalat.
         "Benar juga kata Raja Semut," pikir pimpinan para semut. "Kalau para lalat sampai tahu bahwa pimpinannya tersandera tentu mereka akan menyerang mereka."
Akhirnya, pimpinan semut secepatnya menerangkan kesalahan si Raja Lalat dan segera meminta memerintahkan para lalat agar tidak mengganggu para semut. Pimpinan semut memohon Raja Lalat agar memerintahkan para lalat untuk tidak melumuri dengan kotoran pada setiap makanan yang telah semut-semut temukan dimanapun berada.
        "Oooo jadi hanya itu saja tho permintaan kalian. Jangan khawatir, aku akan segera melaksanakan perjanjian ini," kata si Raja Lalat.
         "Awas...kamu sudah berjanji lho ya, Raja Lalat!" kata pimpinan semut. "Kalau sampai engkau melanggar janjimu maka aku tidak segan-segan mengerahkan seluruh semut di dunia untuk melawan kamu!"
         "Iya...aku janji."
          Kemudian, semut-semut segera membersihkan perekat yang ada di tubuh Raja Lalat.
         "Terima kasih, kawan....terima kasih....tapi aku tidak berjanji memberitahu lalat-lalat di daerah lain khan." kata Raja Lalat sambil terbang meninggalkan para semut. "Kalau ada lalat di tempat lain yang masih mengganggumu itu artinya bukan tanggung jawabku lagi! Kalian bertanggung jawab sendiri terhadap makananmu"
         Para semut hanya bisa saling pandang di antara mereka. Ternyata si Raja Lalat hanya akan memberitahu para lalat di sekitar kerajaan saja. Bila ada lalat di daerah lain yang masih mengganggu mereka maka itu menjadi tanggung jawab para semut untuk mengusirnya.
        Oleh karena itu, sejak saat itu para lalat tidak berani mengganggu setiap makanan yang ditemukan dan dibawa para semut. Lalat-lalat lebih memilih hinggap di makanan yang masih bersih milik manusia. Dan sejak saat itu, setiap ada semut yang menemukan makanan maka mereka selalu membawanya beramai-ramai agar para lalat tidak berani mengganggunya. Selain itu, setiap semut yang menemukan makanan selalu secepatnya dibawa ke dalam sarangnya agar tidak dihinggapi lalat.


selesai


sumenep, 30 Nopember 2012


Moral cerita : Berhati-hatilah menaruh makanan agar tidak dihinggapi lalat.



Minggu, 25 November 2012

TANAMAN EMAS SI YATIM

gambar : agus karianto


       Sejak orang tuanya meninggal dunia, kini si Yatim tinggal bersama kakak laki-lakinya. Kakaknya terkenal serakah, apalagi terhadap harta benda peninggalan orang tuanya. Dia ingin memiliki semua harta
benda yang diwariskan orang tuanya untuk kedua anaknya. Si Yatim tidak bisa berbuat banyak dengan kelakuan kakaknya. Semua perintah dan kemauan kakaknya selalu ia turuti. Ia tidak ingin melawan perintahnya. Hal ini dilakukan si Yatim karena ingin menuruti amanah orang tuanya agar mereka berdua tidak saling bertengkar. Sehingga apapun perintah, caci maki, bentakan, sumpah serapah kakaknya yang ditujukan padanya selalu diterima dengan ikhlas dan sabar.
       Hidup si Yatim semakin merana. Semua pekerjaan rumah menjadi tanggung jawabnya. Menyapu, membersihkan halaman rumah serta mencuci dan memasak. Sedangkan kakaknya hanya bisa berfoya-foya menghabiskan harta benda kedua orang tuanya tanpa memberi sepeserpun bagiannya kepada si yatim. Oleh karena itu, setiap hari si yatimlah yang bekerja keras di rumah. Bila ada kesalahan sedikit saja dalam melakukan pekerjaannya maka kakak si yatim tidak segan-segan memberikan hukuman yang diluar batas. Si yatim sering tidak diberi makan seharian. Terkadang untuk mengisi perutnya yang lapar maka ia mencari nasi-nasi sisa kakaknya.
       Para tetangga banyak yang menaruh iba kepada si yatim. Tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak. Mereka takut mencampuri urusan rumah tangga orang. Namun kebanyakan dari tetangga ikut mendoakan semoga si yatim kelak akan mendapatkan kebahagiaan.
       Hari itu, kakak si yatim marah besar. Sebab niatnya berfoya-foya bersama teman-temannya gagal. Harta benda di rumahnya telah habis ia jual. Kini tidak ada harta yang bernilai yang bisa ia jual. Dan demi melampiaskan kejengkelannya ia memaki si yatim habis-habisan.
       "Anak sialan !" katanya. "Kamu jangan mencoba-coba menyembunyikan harta milik orang tua kita, ya! Kamu masih kecil tidak tahu apa-apa dengan harta itu. Ayo cepat keluarkan harta yang telah kamu sembunyikan."
       "Ampun, Kak. Yatim sama sekali tidak menyembunyikan harta itu. Yatim tidak berani, Kak."
       "Alah...dasar pembohong kamu. Adik sialan....ayo keluarkan harta itu. Aku sedang membutuhkannya."
       "Sumpah, Kak. Demi Allah saya tidak menyembunyikan harta-harta itu. Bukankah Kakak sendiri yang telah menjualnya satu persatu harta-harta itu. Dan aku tidak mendapat bagian sama sekali."
        Mendengar ucapan si Yatim membuat kakaknya terdiam. Dia merasa memang selama ini semua harta peninggalan orang tuanya telah ia jual satu persatu untuk berfoya-foya dan sepeserpun ia tidak berikan kepada si Yatim.
       "Diam kamu...kamu mau protes ya...kamu masih kecil tahu apa dengan harta benda, heh?! bentak Kakak Yatim sambil berjalan keluar rumah. Tidak henti-hentinya ia jengkel terhadap adiknya. "Sialan, ternyata dia tidak menyembunyikan harta juga. Duuuh, harta apa lagi yang bisa aku jual yaaa? Darimana aku bisa mendapatkan uang lagi?"
       Tiba-tiba di kejauhan datanglah seorang kakek-kakek mendekati rumah si yatim dan kakaknya. Dia berjalan sambil membawa sebuah bungkusan kain berwarna putih.
       "Assalamu'alaikum, cucu-cucuku," sapanya.
       "Wa'alaikumussalam warahmatullahiwabarokatuh, kakek," jawab si Yatim.
       "Heh, kakek ini siapa kok pagi-pagi begini sudah datang ke rumahku," bentak Kakak si Yatim.
       Kakek-kakek itupun kaget mendengar perbedaan sifat yang ditunjukkan adik dan kakaknya. Dia merasakan sesuatu ketidak adilan yang terjadi di rumah tersebut. Dia merasakan ada sebuah kedholiman yang ditunjukkan  seorang kakak terhadap adiknya. Namun, dia cepat tanggap dan bisa menguasai perasaannya. Kemudian dia memberitahu mereka tentang kedatangannya di rumah tersebut.
      "Kakek sebenarnya petani kepercayaan orang tuamu. Dan sebelum beliau meninggal pernah titip harta karun yang tidak ternilai besarnya yang harus saya berikan kepada kalian apabila kalian sudah dewasa. Nah, karena sekarang kalian telah dewasa maka sudah saatnya kakek membagi harta karun ini kepada kalian."
      "Wuaaaahhhh harta karun....mana harta itu, orang tua," kata Kakak si Yatim berapi-api ingin merampas bungkusan yang dibawa kakek di hadapannya.
      "Husshhh....sabar, den. Jangan serakah begitu. Kakek akan membagi harta ini sesuai pesan orang tuamu. Kakek akan bersikap adil. Tidak ada seorangpun yang dirugikan."
       Kakak si Yatim semakin jengkel. Niatnya merampas peninggalan orang tuanya yang dibawa kakek di hadapnya tidak terlaksana. Akhirnya, ia menuruti saja pembagian harta yang dilakukan kakek tersebut.
       "Begini, cucu-cucuku," kata si kakek mulai membagi harta karunnya."Kedua orang tuamu sengaja meninggal dua jenis harta karun kepadamu. Kamu berdua disuruh memilih salah satu diantaranya. Sebenarnya orang tuamu meninggalkan kepingan-kepingan emas yang sungguh berlimpah ruah banyaknya di
lahan yang ditinggalkannya. Lahan ini ada dua macam. Yang pertama sangat luas yang berada di kanan dan kiri rumahmu ini dan satunya lagi sepetak lahan kecil subur yang ada di sebelah sungai di belakang rumah ini. Nah, untuk mengeluarkan kepingan-kepingan emasnya kalian harus memancingnya dengan butiran-butiran jagung yang kakek bawa ini. Nah, sekarang kalian bisa memilih salah satu diantaranya."
       Betapa senang kakak si yatim mendengar bahwa di lahan orang tuanya ternyata menyimpan kepingan. "Hanya dengan memancing memakai butiran jagung ternyata harta itu bisa keluar? Ouw sunggung senang bila bisa memiliki lahan yang luas tentu harta yang aku punya semakin banyak. Biar saja si Yatim dapat lahan yang kecil di pinggir sungai itu," kata kakak Yatim dalam hati.
       "Hoi, orang tua. Aku pilih lahan yang luas di samping kiri dan kanan rumah orang tuaku. Biarlah lahan kecil di pinggir sungai menjadi milik si Yatim. Dan Yatim harus keluar dari rumah ini karena semua akan menjadi milikku," kata kakak si Yatim menunjukkan keserakahannya.
       Si kakek hanya bisa mengelus dada. Ia kasihan dan prihatin dengan keserakahan kakak si Yatim.
       "Hoi, orang tua...ayo serahkan juga biji-biji jagungnya agar aku segera memancing harta warisan orang tuaku."
       "Sabar, cucuku. Di dalam kantong ini ada seratus biji. Dan aku akan membagi rata untuk kalian."
       "Wahhh....tidak bisa begitu, orang tua. Aku yang memilih lahan luas tentu harus mendapat bagian biji yang banyak juga dibandingkan si yatim yang memiliki lahan kecil. Ayo serahkan kantongmu itu, biar aku sendiri yang membaginya secara adil." kata kakak Yatim sambil merampas kantong yang dibawa kakek di hadapannya.
      "Nah, karena lahanku luas maka aku ambil 90 biji jagung. Dan biarlah 10 biji jagung menjadi milik si Yatim."
      "Wah, kamu tidak adil, cucuku," kata kakek kemudian.
      "Tidak adil bagaimana, orang tua," bentak kakak si yatim. "Justru aku bertindak adil sekali. Siapa yang memiliki lahan luas tentu mendapatkan bagian yang banyak. Hehehehehe......adil khan?!"
       Dan si Yatim tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menerima begitu saja pembagian harta milik kedua orang tuanya. Ia tidak mau bertengkar dengan kakaknya gara-gara harta warisan. Ia cukup senang melihat kakaknya bisa ceria seperti dulu lagi. Ia tetap bersyukur masih mendapat lahan peninggalan orang tuanya walaupun ukurnnya kecil. Oleh karena itu, setelah menerima pembagian jatahnya, maka si Yatim diajak kakek tersebut tinggal di gubuknya dekat lahan milik si Yatim. Betapa senang si yatim ternyata masih ada orang yang peduli dengan dirinya. "Terima kasih, Kek. Yatim senang bisa tinggal bersama Kakek."
     
                                                                ***
       Setelah berhasil merebut harta peninggalan orang tuanya berupa lahan yang luas, kini kakak si yatim merasa bahagia. Ia membayangkan akan mendapatkan kepingan-kepingan emas yang berlimpah ruang di lahannya. "Dengan lahan yang luas begini tentu kepingan-kepingan emasnya akan semakin banyak. Uhuyyy...dasar si Yatim bodoh bisa saja aku bohongi," kata kakak yatim sambil memasang biji-biji jagung di alat pancing yang telah ia siapkan. Ada puluhan alat pancing yang telah dipasangi biji jagung.
      "Nah, malam nanti aku akan memancing kepingan emas agar tidak kelihatan orang. Kalau sampai orang-orang tahu aku mendapat berkeping-keping emas di lahanku ini bisa gawat. Aku tidak mau bila orang-orang mencuri kepingan-kepingan emasku."
Dan malam harinya, kakak si Yatim mulai memasang alat pancingnya di setiap sudut lahan yang menjadi miliknya. Ia juga telah menyiapkan keranjang besar sebagai tempat kepingan-kepingan emas hasil tangkapannya.
       Satu jam, dua jam, tiga jam, enam jam, namun tidak sekeping emaspun yang berhasil ia dapatkan. Kakak di yatim merasa kecewa dan jengkel. "Ah, mungkin emas-emas itu belum mau keluar. Besok aku akan mencoba memancingnya lagi. Siapa tahu mereka akan muncul juga."
       Dan besok harinya kakak si yatim mencoba memasang alat pancingnya lagi. Namun seharian ia tunggui alat pancingnya namun tidak sekeping emaspun yang berhasil didapatnya. Dan berhari-hari, berminggu-minggu hingga berbulan-bulan pekerjaan itu tetap ia lakukan dengan harapan ia mendapatkan berkeping-keping emas dari lahan peninggalan orang tuanya, namun usahanya tetap nihil. Tidak ada sekeping emaspun yang berhasil ia dapatkan. Lahan miliknya makin tidak terurus. Semak belukar tumbuh di sana sini. Kakak si yatim semakin jengkel. Perbekalan makanan di rumahnya semakin habis. Ia kesulitan mendapatkan makanan lagi. Sementara harapan mendapatkan kepingan emas dari alat pancingnya tetap berlanjut. Namun, harapan tinggal menjadi harapan. Tubuh kakak si yatim menjadi kurang terurus. Ia semakin jarang makan. Tubuhnya menjadi kurus kering. Dan untuk sekedar menyambung hidup akhirnya tanpa malu-malu ia minta-minta makanan ke setiap rumah yang ia jumpainya.

       Hal ini beda dengan kehidupan si Yatim. Setelah mendapat jatah lahan dan 10 biji jagung dari kakaknya. Ia bersama di kakek menggarap lahan suburnya. Seluruh tanah mereka olah. Biji jagung mereka tanam. Setiap rumput liar dan hama tanaman  mereka buang. Si Yatim dan Kakek bekerja dengan riang. Mereka bersyukur dengan karunia Allah swt. Setiap pohon jagung yang mereka tanam menghasilkan jagung yang banyak dengan ukuran yang amat besar. Si Yatim dan kakek merasa senang. Dari hasil panen jagungnya ternyata bisa ditukarkan dengan kepingan-kepingan emas yang begitu banyak.
       Ternyata benar kata orang tuanya. Harta warisan orang tuanya yang berupa kepingan-kepingan emas di lahan suburnya bisa dipancing dengan biji jagung hanya dengan cara bekerja keras mengolah lahan dan menanaminya dengan butiran-butiran. Nah, dari hasil panen jagungnya kita bisa membelikannya dengan kepingan-kepingan emas.
Untuk mendapat kepingan-kepingan emas kita tidak bisa memancingnya dengan sikap malas-masalan saja.

      

selesai

sumenep, Senin,29 Nopember 2012


Moral cerita : Untuk mendapatkan kepingan-kepingan emas dimanapun berada kita tidak bisa 
                      memancingnya dengan sikap malas-malasan. Tapi bekerja keraslah dimanapun
                      berada. Dan bersyukurlah apapun yang anda peroleh.
      

Sabtu, 17 November 2012

AKIBAT KUCING YANG SERAKAH

Gambar : agus karianto

           Hari masih pagi, matahari belum menampakkan diri. Hewan-hewan masih banyak yang tidur. Namun di kejauhan nampak seekor kucing berjalan tergopoh-gopoh. Ia berjalan sambil membawa ember berisi susu yang diletakkan di punggungnya. Sesekali ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Sepertinya ia takut ada teman yang mengikutinya. "Syukurlah tidak ada yang melihatku," kata si kucing dalam hati.
           Ketika si kucing merasa tubuhnya capek ia berniat untuk istirahat. Ia mencari tempat yang aman dari pengamatan teman-temannya. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti manakala ia berjumpa dengan seekor Kancil yang sedang memeluk sebatang pohon bambu. Si kancil berkali-kali mencoba menggigit pohon bambu, seolah-olah hendak memecahkan batang bambu, namun dilepaskan lagi. Setelah usahanya gagal, si kancil nampak bersedih dan menangis. "Hu hu hu hu....gagal lagi usahaku," demikian rintih si kancil di hadapan si kucing.
           Si kucing merasa iba dan ikut bersedih melihat si Kancil menangis tersedu-sedu. Lalu ia berusaha menyapanya.
           "Hei, kenapa kamu bersedih dan  menangis, Kancil?" tanya si Kucing.
           Si Kancil tidak menjawab, bahkan tangisannya semakin menjadi-jadi. "Huuuhuuuuhuuuhuuuuu."  Sebenarnya tangisan si kancil di hadapan si kucing hanya pura-pura saja. Dia berniat memberi pelajaran si kucing yang terkenal serakah dan suka mencuri susu milik teman-temannya. Si kancil jengkel setiap kali mendengar laporan akan kecurangan si kucing kepada teman-temannya.
           "Wah, si kancil benar-benar bersedih, nih," pikir si kucing. Kemudian si kucing meletakkan ember yang berisi susu di bawah pohon. Dan si kancil masih memegang erat-erat batang pohon bambunya.
           "Hei, Kancil...kenapa kamu bersedih ? Bolehkan aku tahu permasalahanmu?"
           "Heeemmm....wah senang sekali apabila kamu bisa membantuku, Kucing," jawab si kancil.
           "Iya...tapi apa masalahnya?"
           "Begini, kawan," kata si Kancil mulai menyusun siasat. "Malam tadi aku mendapat batang bambu ajaib yang jatuh dari langit. Meskipun bambu ini tidak mempunyai akar namun lihatlah daun-daunnya nampak hijau segar. Pasti di dalamnya ada air ajaib di 6 ruasnya yang membuat daun-daun bambu ini nampak masih hijau segar. Pasti air ajaib itu bisa membuat kita awet muda dan sakti. Oleh karena itu, aku berusaha memecahkannya. Namun usahaku gagal. Aku sedih, kawan."
          "Wah, ada air ajaib yang bisa membuat awet muda? Aku harus bisa merebutnya dari tangan si Kancil," pikir si Kucing. "Dasar si Kancil bodoh. Seharusnya membuka batang bambu dengan benda runcing seperti cakarku ini. Mana bisa memecah batang bambu dengan giginya."
          " Begini saja, Cil," kata si kucing. "Bagaimana kalau batang bambumu ini aku tukar dengan setengah ember susuku?"
          "Hahhh! Ditukar dengan Setengah ember susu? Ogah yaaaa....enak aja satu batang bambu ajaib ditukar setengah ember susu. Kamu tidak adil. Kamu mau enaknya sendiri. Kamu serakah," kata si Kancil sambil terus memeluk batang bambunya.
          "Tapi susu ini masih segar dan lezat lho....kamu tinggal minum saja...enakkk, Cil. Daripada kamu kesulitan memecahkan batang bambu itu? Serahkan saja padaku. Kamu bisa menimati setengah ember susu ini"
          "Ogaaaahhhh.....gak mauuuu....tidak sudiiii....Sekali tidak mau ya tetap tidak mau," kata si Kancil pura-pura bertahan dan menganggap bahwa batang bambunya benar-benar sakti.
          "Kalau begitu...bagaimana kalau aku minta hanya setengah saja batang bambumu dan kita tukar dengan setengah ember susuku. Nah...adil kan?"
          "Ogaaahhh...enak saja bambu ini dipotong separo...kesaktiannya bisa hilang, Cing!"
          Si Kucing makin penasaran dengan sikap si Kancil. Dirinya harus bisa memiliki batang bambu itu bagaimanapun caranya agar dirinya bisa tetap awet muda dan sakti. Kalau dirinya sakti tentu ia bebas berbuat apa saja kepada teman-temannya. Ia bebas memiliki susu milik siapapun tanpa takut terhadap teman-temannya. Dan akhirnya ia nekat ingin menukar seember susunya dengan batang bambu yang dimiliki si Kancil.
          "Begini saja, Cil. Bagaimana kalau batang bambumu itu aku tukar dengan seember susuku ini?"
           Si kancil pura-pura keberatan dengan usul si kucing. Padahal dalam hati ia merasa bahwa kali ini si kucing akan menemui batunya. Kali ini si Kucing akan menerima ganjaran akan keserakahan dan kelicikannya.
          "Kalau itu maumu, aku sih setuju-setuju saja, Cing. Tapi kamu ikhlas nggak menukar susumu dengan batang bambu ini?" tanya si Kancil.
          "Ikhlas, Cil. Ayo mana batang bambumu!" kata si kucing tidak sabar ingin memiliki batang bambu milik si kancil. Dan ia akan segera memecahkannya agar bisa segera meminum air ajaib yang ada di tiap ruasnya. "Aku akan menjadi Kucing Sakti dan senantiasa awet muda. Asyiiikkkk," kata si kucing senang.  
          Kemudian si kancil melepaskan batang bambunya. Setelah Ia meraih seember susu milik si Kucing, lalu ia pergi meninggalkan si kucing sendirian.
          "Horeeee....aku akan menjadi kucing sakti.iiiii!" teriak si kucing. Kemudian ia mengeluarkan cakar-cakarnya. Batang bambu yang ada dihadapannya dicakar-cakar berkali-kali agar bisa pecah. Ia terus berusaha memecahkannya. Akhirnya, setelah dengan perjuangan yang keras ia berhasil memecahkan batang bambu di hadapannya. Namun ternyata air sakti yang diharap-harapkannya ternyata tidak ada. Ia hanya mendapati ruas-ruas bambunya kosong tidak ada apa-apanya. Sedangkan daun bambu yang masih hijau disebabkan pohon bambu masih baru dipotong.
         "Haahhhh! Sialan...mana air sakti itu!!???" teriak si kucing. "Dasar si Kancil pembohong...aku telah ditipunya. Aku telah ditipunya....," kata si Kucing sambil bergegas lari mengejar si kancil yang telah membawa seember susunya.      


selesai

sumenep, 17 Nopember 2012


      

Senin, 12 November 2012

PEJUANG 1945

Gambar : agus karianto
         Pak Tomo, demikian orang sekampung memanggilnya. Seorang laki-laki yang tubuhnya semakin renta namun semangat hidupnya tetap menyala-nyala. Konon, dia adalah seorang tokoh pejuang di Republik Indonesia ini. Piagam perhargaan pejuang yang menempel di dinding ruang tamunya menjadi saksi sejarah baginya. Meskipun kini ia hidup sebatang kara, namun hampir tiap hari selalu ada saja orang yang mengunjunginya.
         Banyak cerita perjuangan yang bisa digali dari Pak Tomo. Dan dia selalu semangat menceriterakan tentang bagaimana suka dukanya berperang melawan para penjajah yang menguasai negeri Indonesia. Kami bisa tahan berjam-jam mendengarkan cerita-ceritanya. Cerita sinetron dan film di TV seakan-akan tidak bisa menandingi serunya cerita perjuangan Pak Tomo. Siapa saja yang mendengarkan ceritanya pasti seakan terhipnotis, larut dalam ceritanya, seakan-akan mereka mengalami sendiri berada di medan pertempuran. Seru. Emosi kami membara, dan kita semakin benci terhadap ketidak adilan, penjajahan, perampasan hak orang lain. Sungguh luar biasa semangat Pak Tomo.
         Siang itu, setelah pulang dari upacara peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 Nopember, anak-anak beramai-ramai pergi ke rumah Pak Tomo.
          "Tentu cerita perjuangannya kali ini akan semakin seru, kawan-kawan" kata salah satu di antara  mereka.
          "Ya, pastilah...hari ini khan tepat hari Pahlawan 10 Nopember."
          "Asyiikkkk."
          Namun, setibanya mereka di rumah Pak Tomo, ternyata beliau sedang menangis di hadapan Televisi yang ditontonnya. Sesekali beliau menundukkan kepala sambil mengusap air matanya. Dan kamipun terheran-heran. Tidak biasanya beliau bersikap begitu. Kami saling pandang dan bertanya, "Ada peristiwa apa sehingga beliau sampai menangis?" "Mungkinkah Pak Tomo terkenang  saat perjuangan 1945 dulu?" Dan untuk menghilangkan rasa penasaran kami segera mengetuk pintunya.
         "Assalamu'alaikum," sapa kami hampir bersamaan.
         "Wa alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Pak Tomo dari dalam rumah. Dan kami lihat beliau cepat-cepat mengeringkan air matanya.
         "Eeee....cucu-cucuku," kata beliau.  "Ayo..ayoo masuk. Wah, nampaknya kalian belum pulang ke rumah ya? Kok masih pada memakai seragam sekolah begitu? Jangan-jangan kalian bolos sekolah ya??"
         "Wah, ya nggak, Pak. Kami pejuang-pejuang muda penerus perjuangan Pak Tomo kok bolos sekolah. Tidak ada ceritanya seperti itu, Pak."
         "Iyaaa....bapak percaya. Namun, hari ini khan belum waktunya pulang sekolah kok kalian sudah datang ke rumah bapak?"
         "Tadi ada upacara Hari Pahlawan 10 Nopember , pak. Nah, setelah upacara usai, kami diperbolehkan pulang karena di sekolah tidak ada kegiatan belajar lagi. Oleh karena itu kami mampir ke sini."
         "Ooooo begitu tho ceritanya? Lalu kenapa harus ke rumah Bapak?"
         "Pak, kami ingin mendengar cerita perjuangan lagi. Boleh khan, Pak?" rayu kami.
         Dan, Pak Tomo nampak terdiam. Kedua matanya kembali digenangi air mata. Nampaknya beliau makin bersedih. Tapi kami tidak tahu apa penyebabnya.
         "Memangnya ada apa, kok Pak Tomo sedih begitu?" tanya kami memberanikan diri.
         Pak Tomo tidak segera menjawab pertanyaan kami. Ia kembali menyeka air matanya. Dan setelah bernapas dalam-dalam dia mendekati kami.
         "Begini cucu-cucuku," kata Pak Tomo memulai cerita. "Bapak akhir-akhir ini merasa sedih. Sedih sekali melihat kelakuan generasi penerus anak negeri ini. Bapak sering melihat berita di Televisi banyak sekali para pelajar, para mahasiswa, masyarakat, anggota Dewan Perwakilan Rakyat kita dan para pejabat negeri Indonesia saling berkelahi. Mereka saling hantam. Mereka saling caci, saling fitnah, saling ingin menunjukkan kepandaian mereka sendiri. Melihat semua kejadian ini bapak jadi sedih. Sedih cucu-cucuku. Sepertinya menyelesaikan semua persoalan harus dengan pertengkaran tiada akhir. Masyarakat semakin jauh meninggalkan nilai-nilai kemanusiaannya. Masyarakat semakin meninggalkan nilai-nilai persatuan. Masyarakat semakin meninggalkan cara-cara bermusyawarah dalam menyelesaikan sebuah persoalan. Para pemimpin negeri ini banyak yang kurang amanah dalam mengemban tugasnya. Penyelewengan jabatan terjadi dimana-mana. Korupsi. Manipulasi seakan sudah bukan barang tabu lagi. Dan semua ini yang membuat bapak sedih.Sedih cucu-cucuku."
          Kami tidak membantah apa-apa yang disampaikan Pak Tomo. Semua kata-katanya benar. Banyak para pelajar kita saling berkelahi satu sama lain hanya karena perkara sepele. Terkadang dalam perkelahian mereka membawa senjata tajam. Uh...ngeri.
          "Benar, Pak."
          "Rasanya perjuangan bapak tahun 1945 menjadi sia-sia. Seakan tetesan darah dan air mata dalam memperjuangkan kemerdekaan menjadi sesuatu yang sia-sia saja. Kalau boleh bapak berkata bahwa mereka para penerus perjuangan ini telah mengkhianati perjuangan para pahlawan negeri ini. Mereka telah berkhianat menyia-nyiakan potensi mereka untuk melanjutkan perjuangan kami. Mereka berusaha meruntuhkan bangunan Kemerdekaan yang telah dirintis para pejuang ibu pertiwi ini."
         "Tapi, kami bukan termasuk kelompok pengkhianat ibu pertiwi itu, khan Pak?"
         "Hahahahaha....iya...iya...kalian khan cucu-cucuku yang senantiasa peduli dengan arti perjuangan kami. Kalian bukan termasuk kelompok pengkhianat apabila kalian berjuang sungguh-sungguh sesuai tugas kalian sebagai pelajar. Perjuangan kalian yaitu belajar menggali ilmu setinggi-tingginya. Kejarlah cita-cita kalian. "
         "Tapi, kenapa mereka sampai berbuat begitu ya, Pak?"
         "Iya, perbuatan mereka amat memalukan. Memalukan, Pak!" kata teman kami yang lain.
         "Benar cucuku. Beda dengan saat bapak masih berjuang dulu. Kalau jaman Bapak berjuang tidak ada yang namanya perbedaan suku, agama, Ras dan perbedaan-perbedaan yang lain. Bukan berarti tidak pernah ada konflik antara kami. Konflik itu pasti ada. Namun semua konflik itu bisa diselesaikan dengan cara musyawarah. Tidak ada yang saling merasa benar sendiri. Tidak ada yang sok jagoan. Kita saling menghargai satu sama lain. Sebab tujuan kami saat itu sama yaitu bagaimana bisa mengusir para penjajah ibu pertiwi ini."
         "Iya, Pak. Pelajar, mahasiswa atau masyarakat sekarang sepertinya  mudah sekali emosi. Perkara kecil bisa menjadi besar dan ujung-ujungnya bisa memicu konflik yang berakhir dengan bentrok massal. Ngeriiii.... padahal kalau salah satu pihak bisa menahan diri tentu konflik di antara mereka tidak akan bisa terjadi."
        "Wah...bapak bangga dengan kalian. Ternyata cara pandang cucu-cucuku sudah lebih dewasa. Dan mudah-mudahan kalian-kalian ini bisa menjadi pemimpin negeri ini di masa mendatang." kata Pak Tomo.
        "Hahahahaha....tentu saja Pak. Siapa dong pahlawannya? Pak Tomo..."
        "Hahahahaha....kalian ini ada-ada saja, cucuku."
        Baru kali ini kami lihat Pak Tomo tertawa senang. Sepertinya dari sorot matanya ada sebuah harapan besar terhadap kami untuk bisa meneruskan cita-cita beliau.
        "Jadi untuk membangun bumi Nusantara. Membangun Ibu Pertiwi Indonesia. Kalian harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Banyak-banyaklah belajar sejarah. Indonesia itu negeri yang besar dan kaya raya. Bagaikan Untaian Jamrud di Khatulistiwa. Indonesia itu negeri yang subur makmur. Indonesia itu terdiri dari beribu-ribu suku bangsa dan bahasanya, bermacam-macam keyakinan, beraneka adat istiadat yang berbeda satu sama lain. Tidak mungkin suatu Pemimpin mengistimewakan satu suku bangsa atau satu agama lalu merendahkan suku bangsa atau agama yang lain. Kita harus bisa membangun negeri ini dengan memanfaatkan potensi perbedaan yang ada. Kalau kalian jadi pemimpin jangan sampai memaksa orang lain mengikuti kehendak kalian agar tidak terjadi konflik di masyarakat.Fanatik terhadap keyakinanmu itu perlu, namun jangan sampai kamu memaksa orang lain berprinsip seperti kalian. Membangun Indonesia itu perlu kebersamaan. Perlu kerja keras semua pihak. Tanpa mengenal Suku, Agama dan  Rasnya. Setiap manusia yang berstatus warga negara Indonesia memiliki kedudukan yang sama dalam memajukan Bumi Nusantara ini menuju tercapainya tujuan negara Indonesia yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur."
         Kami semakin paham arti hidup bernegara seperti yang dituturkan Pak Tomo. Kami makin kagum dengan cara pandang Pak Tomo tentang hidup bernegara di Bumi Nusantara ini. Pak Tomo benar-benar seorang pahlawan. Dan kamipun akhirnya menyadari betapa bodohnya apabila kami selaku pelajar menyelesaikan persoalan dengan cara perkelahian massal. Semua itu buang-buang waktu dan kesempatan saja.Betapa bodohnya seseorang yang mengisi kemerdekaan dengan cara melakukan korupsi dan manipulasi uang rakyat.
        "Kami tidak mau dijuluki sebagai PENGKHIANAT PERJUANGAN BANGSA, pak," kata kami sambil berpamitan Pak Tomo untuk segera pulang.


selesai

sumenep, 13 Nopember 2012