Senin, 04 Maret 2013

Si Kakek Monyet yang pembohong

illustrasi : agus karianto
       Di sebuah hutan, hiduplah seekor monyet yang sudah tua. Semua teman-teman menyebutnya Kakek monyet. Dia kini hidup sendirian. Usianya yang sudah semakin tua menyebabkan dia tidak bisa mencari makanan ke dalam hutan. Oleh karena itu, setiap hari dia senantiasa mengharapkan pemberian makanan dari siapa saja yang kebetulan lewat di depan rumahnya.
       Suatu hari, kakek monyet dinobatkan sebagai raja hutan. Jabatan itu diberikan kepadanya hanya karena terpaksa, sebab Pak Harimau yang menjabat sebagai raja hutan saat itu sedang sakit parah. Sementara hewan-hewan lain yang pantas menggantikannya sedang bertugas mencari obat untuk kesembuhan rajanya. Sedangkan seluruh hewan yang tidak kebagian tugas merawat sang raja tidak mau ditunjuk sebagai raja sementara menggantikan Pak Harimau. Akhirnya, daripada terjadi kekosongan pimpinan di hutan maka terpaksa ditunjuklah kakek monyet untuk menjadi Raja hutan.
        Ternyata kepemimpinan kakek monyet tidak sebaik yang diharapkan hewan-hewan. Setelah menduduki jabatan raja hutan, dia sering berbuat tidak jujur. Sering berbuat curang, mau menangnya sendiri. Dan kalau menyelesaikan masalah, keputusannya senantiasa tidak adil. Dia selalu memenangkan  siapa saja yang bisa memberikan keuntungan padanya. Siapa yang bisa memberi hadiah besar maka perkaranya akan dimenangkan oleh kakek monyet. Meskipun mereka dijadikan terdakwa, namun kakek monyet bisa merobah keputusan dengan cara meringankan hukumam bahkan bisa membebaskannya dari segala tuduhan. Sehingga  perbuatan kakek monyet menjadikan seluruh penghuni hutan geram. Marah. Jengkel. Seluruh penghuni hutan berniat menggulingkan kepemimpinannya. Namun niat mereka tidak terlaksana sebab belum ada hewan lain yang berani menggantikan kedudukannya. Akhirnya mereka hanya bisa sabar sambil terus menunggu Pak Harimau sembuh.
         Betahun-tahun berlalu, ternyata Pak Harimau belum sembuh-sembuh juga. Hal ini membuat hewan-hewan sedih karena mereka semakin menderita dan tidak senang dengan kepemimpinan Kakek monyet. Namun lain halnya dengan sikap kakek monyet. Akibat Pak harimau yang tidak kunjung sembuh justru membuat kakek monyet semakin senang, karena jabatannya semakin panjang dan semakin lama dia menikmati enaknya fasilitas menjadi raja hutan.
         Suatu hari, kakek monyet membuat ulah. Saat ia istirahat di tepi danau sendirian, tiba-tiba dia berteriak sekencang-kencangnya.
        "Hoiiiii........ada buaya putih...," teriak kakek monyet.
         Seluruh penghuni hutan terkejut mendengar teriakan kakek monyet. Maka mereka serentak menghampiri kakek monyet yang sedang tiduran di tepi danau. Mereka memang menanti-nanti hewan yang bisa menggantikan kedudukan kakek monyet. Oleh karena itu, begitu mendengar kedatangan buaya putih maka mereka spontan merasa senang dan ingin menyambut kedatangannya. Mereka berniat mengganti kedudukan raja hutan yang dipegang kakek monyet kepada si buaya putih.
         "Mana buaya putihnya, kakek monyet?" tanya semua penghuni hutan.
         "Hahahahahaha...hohohoho...hihihihi....huhuhuhu.....kalian kena tipu," jawab kakek monyet sambil menari-nari dan melompat-lompat kegirangan. "Hahahaha...Mana ada di jaman sekarang buaya putih, sih! Kalian ini mudah kena tipu...hahahahaha..."
         Akhirnya, semua hewan pulang dengan perasaan kecewa dan dongkol kepada kakek monyet. Mereka jengkel karena telah dibohongi raja mereka. Namun belum lama hewan-hewan meninggalkan tempat dimana sang raja istirahat, tiba-tiba ada teriakan sang raja lagi.
         "Hoiiiiii.....rakyatku....ayo kemari....ternyata ada utusan buaya putih nih....cepat!" teriak kakek monyet.
          Dan seluruh hewan-hewan kembali percaya dengan panggilan sang raja. Mereka berlarian menghampiri sang raja yang sedang beristirahat. Tidak terkecuali hewan kecil, tua, muda, jantan dan betina semua mendatanginya. Namun lagi-lagi mereka menjadi kecewa karena ternyata sang raja telah membohonginya untuk yang kedua kalinya.
         "Hahahahaha..hohoho...hihihi....huhuhu.....rakyatku.....kachian dech lu...kalian kena tipu lagi..hohoho." kata kakek monyet sambil bernyanyi-nyanyi sambil tubuhnya berjumpalitan di atas tanah.
          Untuk yang kedua kalinya seluruh hewan semakin jengkel terhadap kebohongan raja mereka. Ternyata jabatan yang disandang kakek monyet disalahgunakan untuk membohongi rakyatnya. Kakek monyet tidak memikirkan akibat tingkahnya membohongi mereka. Akibat ulah si kakek monyet, membuat pekerjaan di rumah mereka terbengkalai. Pekerjaan memasak makanan tertunda, pekerjaan mencari air minum tertunda. Akhirnya, mereka pulang dengan perasaan kecewa. Mereka semakin apatis dengan sikap rajanya. Mereka  semakin waspada dan hati-hati serta tidak mudah percaya apabila raja mereka mengeluarkan perintah.
         "Hoiiiii....ada buaya...hoiii ada buaya....hoiiii ...tolong...tolong...tolong...ada buaya...sungguh nih ada buaya...tolong...tolong rakyatku !!!" teriak kakek monyet kebingungan sambil mencoba berlari dari tangkapan si buaya.
         "Ah....Kakek monyet mulai berbohong lagi, tuh, teman-teman," kata salah satu hewan.
         "Iya...sudah dua kali kita kena tipu," timpal yang lain.
         "Ya...biarkan saja kakek monyet teriak-teriak. Lebih baik kita melanjutkan pekerjaan kita yang belum selesai. Ayo...pulang..pulang...pulang...," kata hewan lainnya sambil berjalan pulang ke rumah masing-masing.
         Ternyata di pinggir danau, kakek monyet benar-benar berhadapan dengan sang buaya. Kakek monyet mencoba berkali-kali melepaskan diri dari gigitan si buaya, namun usahanya selalu gagal. Semakin kuat kakek monyet mengeluarkan tenaga untuk melepaskan diri dari gigitan sang buaya maka tenaganya semakin melemah. Akhirnya si buaya dengan mudah melumpuhkannya. Dan dengan sekali kibasan ekornya, membuat tubuh kakek monyet tidak berdaya dan akhirnya mati. Lalu si buaya membawa tubuh kakek monyet ke sarangnya.
          "Kasihan nasib Kakek Monyet," kata si burung kenari yang sejak lama memperhatikannya. "Akibat ulah kakek monyet yang selalu berkata bohong akhirnya banyak rakyatnya yang tidak percaya terhadap semua perintahnya. Disaat dia terjepit dan memerlukan bantuan namun rakyatnya sudah tidak mempercayai kata-lkatanya lagi. Ucapan sang raja dianggap angin lalu saja. UCAPAN SANG RAJA PASTILAH BOHONG BELAKA.


pesan moral : pemimpin atau siapa saja yang suka berbohong membuat orang tidak mempercayainya.

selesai

sumenep, 4 maret 2013

Selasa, 26 Februari 2013

KISAH SI TOKEK DAN TONGKAT RAJA

Illustrasi : agus karianto
          Dahulu kala, kerajaan Antah Beratah diperintah oleh seorang raja yang bijaksana, jujur dan amanah. Seluruh menteri dan prajurit juga memiliki sifat yang sama dengan rajanya. Bijaksana, jujur dan amanah. Pemimpin yang jujur dan amanah membuat rakyatnya hidup tenteram, aman, damai. Seluruh rakyat tidak pernah terjadi fitnah dan pertengkaran. Suasana kerajaan begitu damai dan tenteram. Kalau ada konflik di antara mereka senantiasa diselesaikan dengan jalan damai.
          Suatu hari, si kancil yang terkenal sok usil terhadap teman-temannya ingin menguji kebenaran sifat teman-temannya. "Aku ingin menguji salah satu temanku, ah! Apa benar mereka jujur dan bisa menjaga amanah," kata si kancil dalam hati. Kemudian  ia mulai mencari sasaran, siapa diantara temannya yang bisa dijadikan uji cobanya. Nah, kebetulan saat itu ada seekor tokek sedang berjemur di bawah sinar matahari di pinggir sungai.
          "Assalamu'alaikum, tokek," sapa si kancil.
          "Wa'alaikumussalam warahmatullohi wabarokatuh," jawab si tokek. "Wah, mau jalan-jalan kemana, Cil?" lanjut si tokek.
          "O aku baru saja lari pagi, tokek," jawab si kancil "Bukankah lari pagi itu sangat baik buat kesehatan kita. Racun-racun yang ada di kulit kita akan keluar bersama air keringat. Jadi tubuh kita makin sehat!"
         "O begitu ya, Cil?" 
         "O iya, tokek. Tadi  aku  dipanggil  Raja. Sebentar lagi sang Raja mau bepergian. Nah,  beliau  berpesan agar aku memberikan  tongkat ajaibnya kepada kamu. Selama sang Raja pergi kamu diperintah untuk merawat dan menjaganya." kata si kancil
       Si tokek terdiam  keheranan. "Apakah benar sang Raja mempercayakan dirinya untuk menjaga tongkat saktinya?" pikir si tokek. "Bukankah di kerajaan ada prajurit yang bisa menjaganya?"
       "Bagaimana...kamu mau atau tidak, tokek ?"
       "Tapi.....???!!!" si tokek merasa ragu dengan kata-kata si kancil.
       "Lho..kamu kok jadi ragu begitu?" kata si kancil. "Bukankah selama ini kalian terkenal jujur dan suka menjaga amanah. Kalau kamu tidak mau maka aku akan mengembalikan amanah ini kepada Raja."
      "Engng...iya..iya...iya...aku mau," jawab si tokek tanpa bisa berpikir panjang lagi.
        "Nah...silahkan kamu terima tongkat ajaib ini," kata si kancil sambil memberikan benda mirip tongkat kepada si tokek.  "Tapi kamu harus hati-hati jangan sampai tongkat ini hilang!"
        "Iya...iya...iya...insyaallah aku akan menjaganya...ini khan perintah sang raja...jadi suatu kehormatan bagiku mendapat amanah dari sang raja."
          Kemudian si tokek menerima sebuah benda mirip tongkat. Benda itu berasal dari potongan dahan pohon yang dibentuk mirip tongkat. Ukurannya cukup besar dan berat. Si tokek merasa kesulitan menerima dan mengangkat tongkat tersebut. Tubuhnya terlalu kecil dan dirinya tidak kuat mengangkatnya. Oleh karena itu si tokek menaruh begitu saja tongkat tersebut di pinggir sungai. Si kancil tersenyum melihat tingkah temannya sambil berjalan meninggalkan si tokek.
        Si tokek terdiam dan tidak mengerti mengapa ia begitu saja menerima perintah si kancil. "Tapi ini perintah raja, aku tidak boleh menolaknya. Aku harus melaksanakannya," kata si tokek.
        Setiap hari si tokek senantiasa setia menjaga tongkat ajaib sang raja. Kini dia tidak bisa pergi terlalu jauh sebab takut tongkat tersebut hilang. Sebenarnya ia berniat memindahkan tongkat tersebut ke rumahnya agar dia mudah mengawasi tongkat si Raja, namun dia tidak mampu mengangkat tongkat yang berukuran besar dan berat itu. Akhirnya demi menjaga amanah raja maka ia senantiasa berkorban menjaganya siang malam di tepi sungai.
        Suatu hari, lingkungan kerajaan diguyur hujan yang sangat lebat. Air meluap kemana-mana. Air sungai mulai naik. Dan si tokek menjadi resah sebab tongkat ajaib sang raja yang dijaganya mulai terendam air sungai. Kemudian, karena air sungai semakin meluap maka tongkat ajaib yang dijaganya mulai terhanyut terbawa aliran air sungai. Si tokek kebingungan. Kemudian dia berteriak-teriak meminta pertolongan :    "Tolong..tolong...tolong...tongkat ajaib sang raja terhanyut...tolong..tolong...tongkat...tongkat....tongkat...tongkat...tongkat....!!!"
Si tokek makin kalut. Dia berlarian ke sana kemari sambil mencari-cari kemana tongkat yang dijaganya terhanyut. Namun usahanya sia-sia. Tongkat tersebut sudah hilang terbawa derasnya air sungai.
Si tokek bersedih. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga  amanah Sang Raja. Dia gagal menjalankan amanah sang raja. Oleh karena itu, demi menjaga amanah sang raja maka si tokek memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah demi mencari tongkat sang raja yang hilang terbawa arus sungai.
         Dan mulai hari itu si tokek mulai mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain. Dan setiap kali ia berada pada suatu tempat ia senantiasa berteriak-teriak : " Tolong... tolong.... tolong.....tolong....tolong.... tolong...tongkat....tongkat..tongkat...tongkat...tongkat....!"
Bila tidak ada kabar tentang keberadaan tongkatnya ia lal pergi dan terus terus berusaha mencarinya kemanapun tongkat itu berada sambil terus berteriak : "Tolong tolong tolong tolong...tongkat..tongkat...tongkat...tongkat...."
         Dan sampai kinipun si tokek masih mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk menemukan  tongkat ajaib sang Raja sambil berteriak-teriak : "TOLONG TOLONG TOLONG TOLONG ...TONGKAT....TONGKAT...TONGKAT...TONGKAT...TONGKAT....."  Dan, sekarang kita sering mendengar si tokek masih selalu berteriak-teriak  : "OTOK..OTOK...OTOK...OTOK...TOKEEEK...TOKEEEEK...TOKEEEEK...TOKEEEEK...
Sementara itu si kancil takut berjumpa si tokek karena merasa berdosa telah berbohong tentang tongkat ajaib si raja yang ternyata bukan tongkat milik si Raja melainkan hanyalah potongan batang mahoni yang tergeletak di tepi sungai.

selesai
sumenep, 27-2-2013

Senin, 18 Februari 2013

KISAH SANG PENULIS CILIK

Illustrasi : agus karianto
     Rumah berdinding bambu itu adalah tempat terindah bagi Seno. Walau kepergian ayahnya 2 tahun yang lalu menyisakan kesedihan yang mendalam namun semangat hidupnya tetap membara. Ibunya yang menderita sakit berkepanjangan tetap menyayangi anak satu-satunya yang masih duduk di kelas 3 sekolah dasar. Seno adalah anak yang pantang menyerah, tekun dalam belajar dan memiliki bakat terpendam sebagai seorang penulis.
     Bakat menulis Seno adalah warisan dari mendiang ayahnya yang juga seorang penulis cerita handal di negeri ini. Meskipun usia Seno masih kecil, namun hasil karya tulis ceritanya telah mengisi beberapa rubrik cerita di berbagai majalah dan surat kabar di daerahnya. Dan dari honor menulis tersebut Seno bisa digunakan untuk membantu keuangan ibunya. Setiap kali ibu Seno menerima uang honor menulis anaknya senantiasa diiringi isak tangis karena bangga melihat anaknya yang masih kecil namun sudah bisa berbakti kepada orang tuanya.
      "Sudahlah, Seno. Kamu jangan terus menerus melakukan itu," kata ibunya "Usiamu masih kecil. Kamu tidak pantas bersusah payah mencari uang untuk ibumu."
       "Hehehe...bu, Seno tidak merasa kecil. Seno merasa tidak capek. Seno merasa tidak mencari uang untuk ibu. Seno merasa senang kok menulis," jawab Seno sambil larut dalam pelukan ibunya.
       "Lho, kamu ini bagaimana. Kan setiap hari kamu menulis lalu pergi ke penerbit surat kabat dan majalah untuk menyerahkan tulisanmu. Dan kamu dapat duit. Kan itu namanya kerja, anakku."
       "Bu, kata ayah seorang penulis itu adalah orang yang bebas seperti burung rajawali. Semakin dia mengepakkan sayapnya maka terbangnya akan semakin tinggi. Nah, kalau sudah terbang tinggi maka dia bisa bebas pergi kemana saja sambil bebas memilih jenis makanan yang dia suka. Dan Seno ingin seperti burung Rajawali itu, ibu. Seno ingin senantiasa mengepakkan sayap dengan memperbanyak latihan menulis dan Seno ingin terbang tinggi sekali."
       "Oh, anakku," bisik ibunya sambil memeluk erat-erat tubuh si Seno. "Ternyata sifatmu seperti ayah yang senantiasa memiliki cita-cita tinggi. Baiklah, ibu ikut mendukung cita-citamu, Nak. Tetapi, untuk hari ini berhenti dulu menulis dan besok lanjutkan lagi, ya."
Kemudian Seno dan ibunya pergi tidur karena hari sudah larut malam.

                                                                ***
        Pagi hari, seperti biasa Seno pergi ke sekolah sambil berjalan kaki. Sebenarnya letak sekolahnya cukup jauh. Namun Seno lebih senang menuju sekolahnya dengan berjalan kaki sebab banyak ide-ide cerita yang bisa dia dapatkan sepanjang perjalanan. Dan setiap ide cerita yang dia dapatkan senantiasa ditulis dalam kertas seadanya agar tidak lupa dan bisa dibaca kembali saat akan membikin cerita. Sebab kata ayahnya : "Tangkaplah kupu-kupu ketika menghampirimu. Tulislah segera bila kita dapat  ide sebelum kita melupakannya"
        "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....Selamat pagi anak-anak," demikian kata Kepala Sekolah mengawali sambutan ketika memimpin upacara bendera di sekolah Seno.
"Hari ini ada sebuah berita penting yang akan bapak sampaikan. Hari ini kami Kepala Sekolah juga para Guru menyesal dan membuat kami terkejut. Hal ini dikarenakan ulah salah satu murid sekolah kita. Beberapa hari yang lalu Bapak didatangi oleh beberapa wartawan sehubungan dengan hal ini. "
        Dan betapa terkejutnya seluruh siswa mendengar pemberitahuan kepala sekolah mereka. Sesama siswa saling pandang dan saling berbisik untuk mengetahui maksud kepala sekolahnya. Mereka dihinggapi perasaan takut bila hal ini menyangkut mereka karena mereka takut mendapat sanksi dari sekolah.
        "Coba dengarkan anak-anak. Langsung saja saya akan memanggil salah seorang siswa yang bapak maksud. Ananda Seno silahkan maju ke hadapan Bapak."
         "Hah?!" seluruh siswa spontan mengarahkan pandangannya ke arah Seno berdiri. Ada yang memandang penuh curita. Ada yang berprasangka buruk. Ada yang mengolok-oloknya. "Dasar, anak miskin aja bikin ulah, uh!" Bahkan ada yang belum mengetahui  persolannya sudah menuduh hina : "Rasain tuh. budak kecil sialan."
          Kemudian si Seno melangkah menuju ke podium. Dia sama sekali tidak takut menghadap kepala sekolah sebab selama ini ia tidak pernah merasa bersalah baik di sekolah maupun dimana saja.
         "Ayo mendekat di samping kanan Bapak, Seno," lanjut kepala sekolah. "Coba kalian diam sebentar anak-anakku. Perlu kalian tahu Si Seno ini telah membikin Kepala Sekolah dan para guru gemes, menyesal, terkejut dan sekaligus kami dibuat bangga. Sebab apa? Beberapa hari yang lalu kami didatangi beberapa wartawan untuk wawancara. Dan ternyata Si Seno ini diam-diam telah membawa nama harum sekolah kita. Ya... Si Seno ini diam-diam ternyata telah ikut mengukir tinta emas nama sekolah kita. Walaupun dia masih kecil, ternyata dia memiliki bakat yang luar biasa. Ternyata tanpa sepengetahuan sekolah ia telah mengikuti kejuaraan menulis tingkat nasional. Dan dia dinobatkan menjadi juara utama kategori anak.anak."
        "Horeeee,,,,,horee.....hore.....hidup Seno...Hidup Seno....Seno...Seno...Seno..!!!." demikian terdengar teriakan seluruh peserta upacara pagi itu.
       "Dan dalam beberapa hari lagi Bapak beserta beberapa guru, Seno dan ibunya akan mendampingi dalam penyerahan hadiahnya. Dan perlu kalian ketahui bahwa hadiah yang akan diperoleh Seno adalah uang pembinaan sebesar Lima belas Juta Rupiah dan piala kejuaraan untuk Seno dan pihak sekolah. Terima kasih Seno," kata Kepala Sekolah sambil menepuk-nepuk pundak siswanya ini.
       Tiada henti-hentinya seluruh teman si Seno berdecak kagum terhadap prestasinya. Mereka tidak menyangka anak sekecil itu sudah berprestasi ke tingkat nasional.
       "Nah, Seno. Sekarang kamu coba ceritakan kesan dan pesanmu kepada kita agar anak-anak yang lain ikut termotivasi mengikuti jejakmu," kata kepala sekolah. Lalu si Seno maju ke depan sambil merendahkan posisi mikrophone agar sejajar ke mulutnya.
      "Bapak kepala sekolah, guru-guruku dan teman-temanku. Seno mengucapkan terima kasih atas sambutan yang luar biasa. Sebenarnya Seno cuma sekedar menyalurkan bakat saja dan mengikuti nasehat Bapak. Bapak Seno berpesan Bila kita punya bakat maka asahlah, bekerja keraslah, tekunlah berusaha untuk mengasah bakat kita. Bagaikan burung Rajawali bila dia tekun mengepakkan sayapnya maka akan bisa mencapai tempat yang tinggi. Penulis adalah sebuah profesi yang tidak mengenal batas umur, agama, ras dan semua orang berhak serta bebas menapaki profesi lewat penulisan ini. Seorang penulis akan senantiasa memanfaatkan waktunya untuk kegiatan yang positif seperti membaca dan menuliskannya dalam karya tulis apa saja. Dan keuntungan selanjutnya, dari hasil menulis kita akan mendapatkan uang untuk biaya sekolah kita. Demikian Bapak Kepala sekolah, guru-guru serta teman-temanku"
       Bapak kepala sekolah, guru-guru dan seluruh siswa tidak menyangka kalau seorang penulis cilik seusia Seno ternyata sudah memiliki wawasan yang luas. Mereka semakin bangga terhadap Seno meskipun si Seno tergolong anak yang miskin namun ternyata kaya akan wawasan jauh melebihi teman-teman seusianya.
        Dan setelah upacara usai, maka spontan seluruh guru dan siswa saling berebutan ingin menyalami si Seno yang sekarang terkenal dengan sebutan SI PENULIS CILIK
            

Kamis, 07 Februari 2013

SANG KURA-KURA PENGHAYAL

          Di sebuah kerajaan, ada seekor kura-kura yang suka mengeluh. Setiap hari, tiada henti-hentinya dia menyesali hidupnya. Dia selalu membandingkan kelebihan teman-temannya dengan dirinya sendiri. Dia sama sekali tidak pernah bersyukur dengan apa yang dimilikinya. Kadang-kadang ia menyesal mengapa tubuhnya dihimpit dengan cangkang yang keras sehingga ia tidak bisa bergerak cepat seperti kijang, kelinci, kuda. Kadang-kadang ia menyesal kenapa hanya bisa berjalan merayap di tanah dan tidak bisa terbang bebas untuk melihat keindahan alam dari udara seperti burung elang, pipit, burung bangau. Kadang-kadang ia merasa menyesal karena hanya memiliki tubuh kecil sehingga tidak bisa menjadi jagoan seperti singa, badak, buaya, harimau. Kadang-kadang dia merasa menyesal kenapa dirinya tidak memiliki ekor yang panjang seperti kera sehingga bisa digunakan bergelantungan dari satu pohon ke pohon yang lain.
            Sikap kura-kura yang senantiasa mengeluh membuat teman-temannya bosan. Kura-kura kurang bersyukur dengan apa yang telah dimilikinya. Dia tidak mengetahui potensi dirinya yang sebenarnya. Akibat suka mengeluh, dia tidak bisa mengembangkan potensi dirinya yang bisa digunakan untuk merobah masa depannya sendiri. Dia lupa bahwa Tuhan menciptakan sesuatu tentu memiliki potensi, bakat dan kelebihan yang berbeda. Dia lupa bahwa setiap makhluk hidup jangan sekali-kali iri dengan kelebihan yang dimiliki makhluk hidup yang lain.
            Suatu hari, puteri raja meminta ayahandanya agar dirinya diperkenankan memelihara hewan yang akan menjadi temannya setiap hari. Dan sang puteri menginginkan agar hewan tersebut tidak bisa berjalan cepat, tidak bisa terbang dan badannya tidak boleh terlalu besar serta jinak. Akhirnya, sang raja menitahkan seluruh prajuritnya untuk mencari hewan yang dimaksud. Dan secara kebetulan akhirnya para prajurit menemukan sang kura-kura.
            Sang puteri raja senang mendapat teman seekor kura-kura. Bentuknya lucu, jalannya pelan, tidak buas, ukurannya mungil. Sepanjang hari sang puteri senantiasa bermain-main dengan sang kura-kura. Tubuh sang kura-kura yang sebelumnya kotor lalu dimandikan. Kulit cangkang kura-kura yang terkelupas disikat dan dibersihkan. Akhirnya, setelah mendapat perawatan istimewa dari sang puteri raja maka tubuh sang kura-kura nampak mengkilat dan menawan. Sang kura-kura mendapat perlakuan yang istimewa dari sang puteri raja. Makan dan minum sang kura-kura semakin terjamin. Tempat tidurnya juga khusus. Sang kura-kura merasa gembira dengan perobahan gaya hidup pada dirinya. Sekarang ia tidak perlu susah-susah mencari makan dan minum karena semua telah disiapkan oleh sang puteri. Sekarang dia tidak perlu susah-susah mencari air untuk persiapan mandi karena semua telah disediakan oleh sang puteri. Sekarang kerjanya hanya berjalan-jalan dan menemani sang puteri di dalam kamarnya saja.
             Suatu saat, sang kura-kura merasa bosan juga hidup bersama sang puteri raja. Walaupun makan, minum, tidur dan mandi cukup terjamin namun kebebasan hidupnya terkekang. Sekarang ia tidak bisa bebas bertemu teman-temannya. Sekarang ia tidak bisa menikmati hidup di alam bebas. Sekarang ia tidak bisa mandi di sungai seperti sebelum tinggal bersama sang puteri raja.
         "Uft...bosan kalau harus hidup seperti ini," kata sang kura-kura. "Aku harus mencari akal agar aku bisa keluar dari kerajaan ini." Lalu sang kura-kura berusaha mencari akal agar dirinya bisa bebas keluar dari kerajaan ini. Akhirnya, ia menemukan akal agar sang puteri raja dan para prajurit membencinya agar dia bisa diusir dan dibuang dari kerajaan.
          Dan malam itu, sang kura-kura sengaja buang hajat di kamar sang puteri. Ketika sang puteri bangun di pagi hari, dia merasa terkejut karena di kamarnya penuh dengan kotoran yang baunya tercium ke seluruh istana sang raja. Sang puteri marah-marah dan menyuruh para prajurit untuk membersihkannya. Begitu pula sang puteri memarahi sang kura-kura yang bertindak jorok di dalam kamarnya.
          "Lain kali kalau kamu ingin buang kotoran bilang dong, agar para prajurit membawamu ke tempat buang kotoran di  kerajaan !" bentak sang puteri kepada kura-kura. "Kamu tahu, aku paling tidak suka kamarku kelihatan jorok. Apalagi baunya sampai memenuhi istana raja"
          "Tapi itu memang kebiasaan hamba, sang puteri," jawab kura-kura sambil berharap sang puteri semakin marah dan mengusirnya dari kerajaan.
          "Iya, kali ini kamu saya maafkan. Dan lain kali kamu harus bilang, ya." kata sang puteri sambil mengelus-elus hewan kesayangannya. Sang kura-kura sebenarnya bosan dengan perlakuan sang puteri kepadanya sebab semakin sang puteri menyayanginya maka peluang untuk keluar dari kerajaan akan semakin kecil.
           Oleh karena itu pada keesokan harinya, sang kura-kura kembali ingin melaksanakan rencananya agar bisa keluar dari kerajaan. Dia kembali berpura-pura akan buang kotoran di kamar sang puteri.
          "Sang puteri....saya sudah tidak tahan nih!" seru sang kura-kura.
           Sang puteri terbangun, dan dia cepat-cepat memanggil para prajurit untuk membawa sang kura-kura keluar kamarnya.
           "Tapi, tuan puteri untuk kali ini bau kotoranku akan semakin bau dari yang kemarin, " kata kura-kura. "Aku takut seluruh istana akan merasakan bau kotoranku."
           "Lalu bagaimana ini, kura-kura ?" tanya sang puteri nampak kalut dan bingung.
           "Begini saja sang puteri, ijinkan aku buang kotoran di pinggir sungai yang jauh dari kerajaan ini, sehingga istana terhindar dari aroma dan  bau dari kotoranku."
           "Lalu bagaimana agar kamu bisa cepat sampai ke sana?"
           "Lho. di kerajaan ini khan ada burung rajawali. Biarlah dia yang akan mengantar saya kesana dengan cepat." kata kura-kura.
          "Hah, bagaimana caranya? Apakah burung rajawali harus mencakar tubuhmu? Wah aku tidak mau bila tubuhmu sampai terluka. Aku tidak setuju bila dengan cara seperti itu."
          "Jangan khawatir sang puteri, tidak seperti itu caranya. Aku juga tidak mau apabila tubuhku dicengkeram oleh kuku-kuku rajawali yang runcing itu. Namun, kedua kaki sang rajawali harus mencengkeram sebatang tongkat dan aku akan bergelayutan dengan cara menggigit tongkat yang dibawanya. Nah dengan cara begitu aku akan bisa mencapai pinggir sungai dengan cepat dan tubuhku aman dari cengkeraman kaki-kaki rajawali. Bagaimana, sang puteri?"

          Sang puteri tersenyum mendengar ide sang kura-kura yang cemerlang itu. Akhirnya ia menyetujuinya. Dan seluruh prajurit kerajaan diperintahkan sang puteri untuk mempersiapkan keperluan rencana sang kura-kura. Dan tidak berapa lama, seluruh persiapan telah selesai. Dan sang kura-kura telah menggigit tongkat yang dibawa rajawali. Lalu dalam sekali kepakan sayap saja sang rajawali telah mengudara di angkara. Sang kura-kura merasa senang karena rencananya berhasil. Dia akhirnya bisa keluar dari lingkungan kerajaan yang membosankan. Ia ingin hidup bebas seperti dulu lagi. Ia ingin bisa terbang bebas seperti rajawali yang membawanya. Dan untuk merayakan kegembiraan bisa keluar dari kerajaan dan berpisah dengan sang puteri raja, maka sang kura-kura melambaikan tangan kepada sang puteri sambil berteriak "Daaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......."
Sang kura-kura lupa bahwa saat ini tubuhnya berada di angkasa bersama rajawali. Dan sejak tadi mulutnya senantiasa menggigit tongkat yang dibawa rajawali agar tubuhnya tidak terjatuh saat berada di angkasa. Namun, karena kecerobohannya sendiri yang ingin meluapkan kegembiraan bisa berpisah dengan sang puteri maka tanpa sadar mulutnya terbuka. Saat mulutnya terbuka maka tubuhnya terlepas dari tongkat rajawali, lalu tubuhnya meluncur kebawah dengan cepat dan jatuh ke atas permukaan tanah. Goncangan yang keras pada tubuhnya akhirnya membuat tubuh kura-kura luka parah dan akhirnya mati.



tamat


moral cerita : Bersyukurlah terhadap apa apa-apa yang telah dianugerahkan Allah Swt kepadamu, niscaya
                     Allah Swt akan menambah berkah rasa syukurmu. Namun, bila kita mengingkari dan
                      tidak punya rasa terima kasih dan memanfaatkan potensi yang dianugerahkan Allah Swt
                      maka azab-Nya sanat pedih.

Rabu, 30 Januari 2013

PERSAHABATAN KUCING DAN TIKUS

     Dahulu kala, kucing dan tikus bersahabat. Mereka hidup serumah. Kemanapun kucing pergi   si tikus ikut serta.Begitu pula bila si tikus berjalan-jalan maka si kucing selalu menjaganya. Si kucing menjadi pelindung si tikus yang bertubuh kecil.               Setiap ada hewan yang akan mengganggu si tikus maka si kucing akan membelanya. Dan sebagai tanda eratnya persahabatan mereka, si kucing memberi julukan si tikus dengan namanya,  yaitu SI MEONG  dan sebaliknya si kucing diberi nama SI MOUSE disingkat SI PUS.
       Dalam pergaulan mereka selalu bersama-sama, begitu pula dalam hal pembagian makanan. Setiap ada makanan mereka senantiasa membagi sama rata.
       Suatu malam, si tikus merasa perutnya lapar. Ia ingin mengajak si kucing untuk mencari makanan. Namun, si tikus kecewa sebab si kucing telah tidur pulas. Ia tidak ingin membangunkannya. Maka si tikus pergi sendirian mencari makanan. Ia berjalan kemana saja. Ia berharap bisa mendapatkan sepotong makanan untuk mengisi perutnya yang lapar.

       "Aduuh, kemana lagi aku harus mencari makanan?" kata si tikus. "Hampir sepanjang jalan yang kulalui tidak kutemui sepotong makanan pun....huu..huu..huuuuu."

        Si tikus semakin bersedih. Perutnya semakin terasa lapar. Namun ia tidak berputus asa. Dia terus berusaha mendapatkan makanan.
        Sejurus kemudian, tiba-tiba si tikus berteriak kegirangan. Dia melihat sepotong daging tergeletak di perempatan jalan.

         "Horee...akhirnya aku mendapatkan makanan!" teriak si tikus kegirangan.

        "Wah besar sekali ukurannya, bisa untuk jatah makan selama seminggu, nih."

Kemudian ia cepat-cepat menyeret daging itu dan membawanya pulang. Meskipun dengan susah payah, namun si tikus melakukannya dengan penuh gembira. Sehingga rasa capek, lelah dan lapar tidak dirasakannya lagi. Sepanjang jalan ia  bernyanyi-nyanyi sambil menyeret sepotong daging.

         "Hoiii....Pus...ayo kemari....ada kabar gembira !" teriak si tikus ketika sampai di depan rumahnya. "Hoii...Puuss ...bangun...ada kabar gembira, nih!"

        Si kucing terkejut mendengar teriakan si tikus. Ia segera menghampiri temannya.

        "Wow...sepotong daging segar...mantab," pikir si kucing. "Kebetulan sudah sebulan aku tidak makan daging. Sekarang aku akan menikmati kelezatannya," pikir si kucing mulai timbul rasa serakahnya.

        "Wah...daging segar...terima kasih sahabatku," kata si kucing

        "Lho...lho...lho...apa maksudmu dengan ucapan terima kasih itu, Pus?" tanya si tikus.

        "Ah tidak...maksudku...terimakasih kamu telah mendapatkan sepotong daging untuk kita makan berdua khan?"

        "Iya...kan perjanjian kita seperti itu. Apapun makanan yang kita dapatkan harus kita bagi rata. Benar, khan?" kata si tikus.

         "Iya  ya...," jawab si kucing sambil terus memperhatikan sepotong daging segar di hadapannya.

         "Okey kalau begitu mari kita bagi sama rata ya. Ayo berikan daging itu, Meong...biar aku yang bertugas membaginya."

         Kemudian si tikus memberikan daging yang dibawanya kepada si kucing. Dan si kucing berusaha memotong daging di hadapannya sama rata. Setelah daging terpotong menjadi dua, lalu si kucing dan si tikus memperhatikan ukuran dagingnya.

        "Wah...ternyata daging bagianmu terlalu besar, Tikus," kata si kucing. "Harus dipotong sedikit nih agar bagian kita sama besar."

Kemudian si kucing memotong daging milik si tikus agar potongan dagingnya sama besar. Namun si kucing bertindak curang, ternyata potongan sisa daging yang dipotongnya tidak ditambahkan ke potongan daging miliknya, namun potongan daging itu langsung dimakannya.

        "Waduh...kini daging bagianku yang kelihatannya agak besar, teman." kata si kucing. "Sabar ya saya akan memotongnya lagi agar ukurannya sama besar" kata si kucing sambil memotong dagingnya untuk disamakan dengan ukuran daging milik si tikus.

Dan lagi-lagi si kucing berbuat curang. Sisa potongan daging tersebut langsung dimakannya juga. Demikian, berkali-kali si kucing berbuat curang di hadapan si tikus. Akibat kecurangan si kucing, akhirnya potongan daging milik si tikus dan si kucing semakin bertambah kecil. Si tikus menyadari bahwa temannya telah berbuat curang kepadanya. Ia diam saja. Ia mulai menyusun siasat untuk menyadarkan perbuatan curang sahabatnya.
         Ketika si kucing merasa kehausan setelah berkali-kali makan potongan-potongan daging maka ia minta ijin si tikus untuk mengambil air minum. Dan kesempatan ini tidak disia-siakan oleh si tikus. Ia segera mengambil cabe rawit, lalu mengoles-oleskan cabe rawit keatas potongan daging milik si kucing. Setelah itu si tikus kembali ke tempat duduk semula sambil menunggu si kucing datang.

       "Nah...kini rasa hausku telah hilang," kata si kucing.

       "Dan sekarang pembagian daging ini kita lanjutkan yaa...O ya kelihatannya daging bagianku kelihatannya tidak sama dan terlalu besar dibanding dengan milikmu...oke saya potong ya..."

Lalu si kucing segera memotong daging miliknya. Dan seperti kejadian sebelumnya, ia langsung memasukkan potong daging tersebut ke dalam mulutnya. Si kucing tidak sadar bahwa potongan daging miliknya telah diolesi cabe rawit oleh si tikus.

       "Wuaahhh aduh...ooooh...aaaah...ooooh...aaaahhh....pedas...pedas......pedas...ada apa dengan daging ini?  Ampun..ampun....ampuunnnn....panas.....panasss......"  teriak si kucing sambil berlari kesana kemari merasakan mulutnya terasa panas akibat makan potongan daging yang telah diolesi cabe rawit oleh si tikus.

       "Hahahahahaha....itulah hukuman bagi sang curang!" teriak si tikus sambil tertawa terbahak-bahak. Lalu si tikus lari sambil meraih sisa potongan daging yang menjadi haknya.

        "Alhamdulillah masih bisa menikmati daging walaupun ukurannya semakin kecil," kata si tikus. Si tikus tetap bersyukur karena masih bisa menikmati sisa daging segar yang menjadi haknya. Kemudian, ia berusaha lari sejauh-jauhnya meninggalkan si kucing yang telah melanggar perjanjian persahabatan mereka.
        Sebaliknya si kucing terus berteriak-teriak menahan rasa panas di mulutnya akibat makan potongan daging yang telah diolesi cabe rawit oleh si tikus. Ia terus berlari kesana agar rasa panas di mulutnya hilang, namun rasa panas  di mulutnya sulit hilang dalam sekejap.

       "Awas kamu si tikus...aku akan mencarimu kemana saja kamu lari. Pokoknya aku akan membuat perhitungan dengan kamu!! Aku pasti akan menemukanmu.! Aku berjanji akan selalu mencarimu kemanapun engkau pergi.".

       Akhirnya mulai saat itu, si tikus senantiasa menghindar dan berlari menjauh apabila bertemu si kucing.  Dan setiap hari, kemanapun si kucing mencari si tikus senantiasa memanggil-manggilnya dengan teriakan :

       "MEOOOONG....MEOOOONG...MEOOOONG...MEOOOONG..."


Tamat

Sumenep, 30 Januari 2013

Selasa, 11 Desember 2012

KISAH SI BEBEK DAN BURUNG HANTU

Gambar : agus karianto


           Dahulu kala, hidup di kerajaan binatang terasa damai. Seluruh hewan saling sayang menyayangi. Hewan yang tua menyayangi yang muda, sedang hewan yang muda menghormati yang tua. Bahkan mereka suka hidup bergotong royong dalam melakukan setiap pekerjaan. Siapapun yang mendapat kesulitan dalam melakukan sesuatu pekerjaan maka hewan yang lain serentak beramai-ramai membantunya. Sehingga semua pekerjaan yang ringan akan cepat terselesaikan dan pekerjaan yang berat akan terasa ringan karena mereka mengerjakannya bersama-sama. Mereka melakukannya dengan ikhlas tanpa pamrih apapun.
           Namun, akhir-akhir ini, kehidupan di kerajaan binatang terasa jauh berbeda. Antara hewan yang satu saling curiga mencurigai. Hewan-hewan tua enggan menyayangi yang muda, dan sebaliknya hewan-hewan muda sudah tidak menaruh hormat pada hewan tua. Hewan-hewan muda semakin berani bertindak tidak sopan kepada hewan-hewan tua. Rasa kegotong royongan dalam melakukan pekerjaan sudah mereka tinggalkan. Mereka lebih senang hidup menyendiri. Bila ada hewan yang kesulitan melakukan pekerjaan maka tidak ada seekor hewanpun yang ikhlas membantunya. Mereka lebih senang menjadi penonton saja terhadap kesulitan teman-temannya. Kehidupan di kerajaan semakin jauh dari rasa aman dan tenteram.
           Perubahan kehidupan yang jauh dari rasa nyaman di kerajaan binatang itu diakibatkan ulah Si Bebek yang jago gosip. Tiap hari si bebek selalu menyebarkan gosip dimana-mana. Seluruh hewan senantiasa menjadi bahan gosipnya. Sehingga antara hewan satu dan hewan lain terjadi salah faham bahkan tidak jarang terjadi perkelahian. Bila antara hewan satu dan hewan lain terlibat adu mulut dan akhirnya berkelahi maka si Bebek menjauhi mereka. Si bebek takut dikeroyok hewan-hewan karena akibat ulahnya mereka sampai berkelahi. Bahkan terkadang si bebek saling mengadu domba antara hewan satu dengan lain. Hewan-hewan tua berusaha diadu dengan hewan-hewan muda. Begitupun sebaliknya.
           Si burung hantu merasa resah dengan perubahan kehidupan di kerajaan binatang yang semakin tidak ada aturan. Dia tahu bahwa penyebab semua ini adalah akibat ulah si Bebek. Kemudian Si Burung memikirkan suatu cara bagaimana caranya memberi pelajaran kepada si bebek. Dia ingin menghentikan tingkah polah si bebek yang semakin menjadi-jadi.
          "Kalau ulah si Bebek tidak dihentikan, maka kehidupan di kerajaan binatang akan semakin amburadul," pikir si burung Hantu. Si burung hantu tahu bahwa setiap malam si bebek selalu tidur di bawah pohon tidak jauh dari rumahnya. Oleh karena itu,  menjelang gelap si burung hantu sudah bertengger di dahan pohon dimana di bawahnya tenpat si bebek tidur. Dan tidak berapa lama nampaklah si bebek pulang. Lalu si burung hantu berusaha mendekatinya.
         "Selamat malam, bebek," sapa burung hantu.
         "Hhohoho...selamat malam. Hei, kau rupanya si mata SIONG," jawab si bebek mengejek.
         "Wah kamu menghina aku, ya! Apa itu si mata SIONG?" tanya si burung hantu tidak mengerti.
         "Hehehehehe...si mata SIONG! Kalau siang matanya sipit kalau malam matanya plolong! Hahahaha..."
         "Memang keterlaluan kamu, bebek," kata burung hantu. "Semua teman-temanku pasti kau hina, kau fitnah, kau adu domba seperti itu. Pantas mereka saling curiga antara satu dengan yang lain."
         "Ya salah mereka! Kenapa mereka bodoh sehingga bisa saling berkelahi. "
         "Jangan begitu, bebek! Mereka juga teman-temanmu, jadi kamu harus melindungi mereka..."
         "Apa? Melindungi hewan-hewan yang tidak cerdas seperti mereka? Puih...tidak mau ya. Bahkan mereka pantas menerima hadiah akibat kebodohannya."
         "Hei, bebek! Tidak pantas kau berkata seperti itu! Sekali lagi aku peringatkan agar kamu jangan melakukan hal-hal tercela kepada teman-temanku. Kalau tidak mau....maka.....kamu akan mendapat celaka akibat ulahmu sendiri"
         "Memangnya ada apa dengan kamu ini? Sok usil ngurusi urusan teman! Kamu jangan mencoba-coba mengancam aku, ya Burung Hantu! Atau kamu menantang berkelahi dengan aku ya!?" bentak si  bebek.
         Si burung hantu tidak menjawab tantangan si bebek. Sebaliknya ia berusaha memanggil semua hewan agar mengetahui bahwa selama ini mereka telah mendapat fitnahan dan adu domba si bebek. Di hadapan si bebek dan burung hantu yang sedang berdebat, semua hewan hanya saling pandang sesama mereka. Ada rasa penyesalan di antara mereka. Ada rasa bersalah di antara mereka. Selama ini sikap mereka berubah akibat ulah si bebek. Ternyata si bebek telah menfitnah mereka, telah mengadu domba. Mereka merasa geram dan marah terhadap ulah si bebek. Mereka mau mengambil tindakan dengan mengeroyok beramai-ramai namun niat mereka dicegah si burung hantu.
         "Sabar kawan-kawan. Jangan main hakim sendiri. Biarlah si bebek yang mengeluarkan pendapatnya," seru si burung hantu meredam niat seluruh hewan yang mau mengeroyok si bebek.
         "Aku tidak terima apabila mendapat tuduhan seperti ini," kata si bebek. "Sebenarnya tujuanku baik. Aku ingin kalian tidak bodoh lagi...aku ingin kalian bersatu....aku ingin....,"
         Duuuuuuukkkkk....tiba-tiba ada sebongkah batu besar menimpa mulut si bebek. Entah siapa yang telah melemparkannya. Namun dilihat dari arahnya, tentu si burung hantu yang telah melemparkannya.
         "Aduuuhhhh...weekkk...wek..wek...wek!!!!" teriak si bebek kesakitan. Dia berusaha melepaskan diri dari himpitan batu yang menimpa mulutnya namun tidak bisa. Dia terus berusaha melepaskan diri dan akhirnya setelah menarik mulutnya kuat-kuat ia terbebas dari himpitan batu. Namun si bebek kembali berteriak dan merasa menyesal karena batu besar yang menghimpit mulutnya tadi ternyata membuat mulutnya menjadi pipih dan sulit menjadi bentuk semula. Si bebek kini sulit untuk berkata-kata lagi, karena setiap berkata-kata dari mulutnya hanya keluar bunyi : Wek..wek..wekk..wekk. Dan sejak saat itu, si bebek tidak bisa berkata-kata lagi. Dia tidak bisa memfitnah teman-temannya lagi. Dia tidak bisa mengadu domba seluruh teman-temannya lagi. Akhirnya ia hanya bisa  menyesal dalam hati dan sambil kedua matanya berlinang air mata ia pergi menjauhi teman-temannya karena malu atas perbuatannya selama ini.
         "Itulah akibat kesombongan dan mulut yang senantiasa bergosip, memfitnah, dan mengadu domba teman. Pasti akan mendapat balasan sesuai perbuatannya," kata si Burung hantu. Dan seluruh hewan bersorak sorai tanda gembira. Mereka sadar bahwa sikap mereka selama ini salah akibat fitnahan dan adu domba si bebek. Akhirnya mulai saat itu mereka bersatu lagi. Hidup mereka menjadi nyaman dan tenteram.


selesai

sumenep, 12-12-2012

moral cerita :   tukang fitnah dan tukang adu domba biasanya berakibat fatal terhadap dirinya sendiri.

Selasa, 04 Desember 2012

KISAH SANG BANGAU DAN KODOK BUDUK

Gambar : agus karianto




          Dahulu kala, sang Bangau dan Kodok buduk berteman akrab. Kemanapun sang bangau pergi tentu si Kodok buduk turut serta. Dimana ada sang bangau pasti di sana ada si kodok buduk. Dalam hal pembagian makanan mereka senantiasa berbagi bersama. Setiap kali sang bangau mendapatkan makanan maka si kodok buduk akan mendapatkan jatah makanan. Hal ini berlangsung setiap hari. Namun, sang bangau terkadang merasa jengkel karena selama ini si kodok buduk tidak pernah berbagi makanan dengan sang bangau. Si kodok buduk merasa bahwa tanpa harus susah-susah bekerja dia senantiasa mendapat jatah makanan dari sang bangau. Akhirnya, lama kelamaan kebiasaan ini membuat si kodok buduk menjadi pemalas. Dia senantiasa menggantungkan hidupnya kepada sang bangau.
          Sang bangau sering mengingatkan kodok buduk agar tidak menjadi pemalas. "Kamu harus mencoba berusaha mencari rejeki sendiri. Berapapun besarnya rejeki yang kau dapat itu lebih mulia daripada kamu menjadi pemalas dan menggantungkan hidupmu pada pihak lain," demikian antara lain nasehat sang bangau kepada si kodok buduk. Namun semua nasehat sang bangau sama sekali tidak didengarkan si kodok buduk. Bahkan semakin lama si kodok buduk makin menjadi pemalas. Dia lebih suka tidur-tiduran di rumah sambil menunggu jatah makanan dari sang bangau. Hal ini membuat sang bangau menjadi jengkel. "Aku akan memberi pelajaran  si kodok buduk," pikir sang bangau.
          Siang itu, sang bangau sengaja tidak pulang ke rumah. Setelah mendapatkan beberapa ikan di tambak, makanan itu sengaja dihabiskan dipematang tambak sampai tidak tersisa. Ketika menjelang petang, sang bangau sengaja pulang ke rumah tanpa membawa makanan sepotongpun . Nah, saat melihat sang bangau pulang membuat si kodok buduk merasa senang sebab sejak pagi perutnya merasa lapar. Tidak ada sepotong makananpun yang masuk ke perutnya. Namun betapa kecewanya si kodok buduk karena ternyata sang bangau pulang tidak membawa makanan sepotongpun.
         "Aduuuhhh....kamu pulang kok tidak membawa makanan sepotong pun, sih? Perutku lapar nihhh!" kata si kodok buduk.
         "Iya...musim kemarau begini makanan semakin sulit didapat," jawab sang bangau.
         "Tapi...di tambak khan banyak ikan," kata si kodok buduk.
         "Iya ada ikan....tapi aku sulit menangkapnya," jawab sang bangau sekenanya.
         "Wah...kamu mulai bohong kepadaku, ya?" tanya si kodok buduk penuh kecurigaan.
         "Hei...rupanya kamu sudah tidak percaya padaku lagi, ya," jawab sang bangau. "Ya sudah kalau begitu. Aku capek...mau tidur saja."
         "Lalu bagaimana dengan perutku yang kelaparan ini, kawan? Aku makan apa hari ini? Di rumah tidak ada sepotong makanan pun. Aduuh.....lapar....lapaarrr..." teriak si kodok buduk.
Namun sang bangau pura-pura tidak mendengar keluhan temannya. Ia terus pergi tidur.

                                                                             ***
         Keesokan harinya, sebelum matahari terbit sang bangau sudah keluar rumah untuk mencari makanan lagi ke tambak. Si kodok buduk masih tidur. Ia sama sekali tidak tahu bahwa sang bangau telah  meninggalkan rumah. Ketika si kodok buduk terbangun, dia berteriak-teriak memanggil sang bangau.
        "Bangau...bangauuuu....kalau kamu pergi jangan lupa pulangnya membawa makanan yang banyak ya!!!" teriak si kodok buduk.
         Tentu saja teriakan si kodok buduk tidak bisa didengar sang bangau yang telah jauh meninggalkannya. Kini sang bangau sedang menikmati sarapan berupa ikan segar di tambak. Dan kali ini pula ia tetap menghabiskan makanannya di pematang tambak. Dia sengaja untuk yang ke sekian kalinya tidak membawa sepotong makananpun saat pulang ke rumah.
Dan untuk yang kesekian kalinya, si kodok buduk merasa jengkel karena saat sang bangau pulang tetap tidak membawakan makanan untuknya. Perutnya semakin kelaparan. Tenaganya semakin lemah.
         Keesokan harinya, si kodok buduk sengaja  mengikuti kemana sang bangau mencari makanan. Ketika sang bangau menuju pertambakan, ia tetap mengawasinya dari kejauhan. Dan betapa terkejutnya si kodok buduk, ternyata sang bangau selama ini telah berbohong kepadanya. Sang bangau ternyata dengan mudah mendapatkan makanan dan ia selalu menikmati sendiri ikan-ikan segar yang di dapat di pematang tambak. "Waaaahhh....tidak bisa dibiarkan hal ini terjadi. Aku selama ini telah dibohonginya. Aku harus mencari keadilan. Aku mau melaporkan pencurian ikan kepada sang Ratu ikan." kata si kodok buduk sambil berjalan menemui si Ratu ikan.
        "Selamat siang, Ratu Ikan," kata kodok buduk menyapa Si Ratu Ikan.
        "Selamat siang, Kodok Buduk," jawab sang Ratu. "Ada keperluan apa kamu datang kemari?"
        "Begini sang Ratu...aku tadi melihat sang bangau telah mencuri dan memakan anak buahmu. Hal ini tidak boleh dibiarkan terus menerus. Sebab wargamu bisa habis dimakan si bangau. Sang Ratu harus segera mengambil tindakan," demikian lapor si kodok buduk

        "Hah...benarkah informasimu itu, Kodok buduk." kata sang Ratu sedikit geram.
        "Benar sang Ratu...aku berani bersumpah," kata si kodok buduk meyakinkan ucapannya
        "Wah...benar katamu, Kodok Buduk. Hal ini tidak boleh dibiarkan. Sebelum aku pergi ke tempat yang jauh, aku akan mengambil tindakan terlebih dahulu. Aku akan mengirimkan jagoan-jagoanku yaitu Ikan lele untuk menjaga keamanan ikan-ikan di sana. Dia memiliki dua senjata di mulutnya yang bisa digunakan untuk melukai kaki sang bangau. Tapi kami perlu bantuanmu untuk menyebutkan bagaimana ciri-ciri sang bangau itu, Kodok Buduk?"
        "Begini sang Ratu. Dia memiliki ciri-ciri, antara lain :  bulunya putih, paruhnya panjang, dan ciri khasnya dia memiliki kaki yang ukurannya panjang. Inilah keuntungan dia. Karena dengan dua kaki yang panjang dia bisa berdiri di atas tambak tanpa takut tubuhnya basah."
         "Ooooo itu saja ya ciri-cirinya. Nah. ikan lele, saat kamu menjaga air nanti tolong diperhatikan. Kalau ada dua kaki panjang berdiri di tambak atau di perairan manapun maka segera ambil tindakan. Gunakan saja senjatamu untuk melukainya agar teman-teman kita tidak habis dimakan sang bangau." kata sang Ratu sambil berenang pergi menjauh entah kemana. Namun tanpa mereka sadari, ternyata dibalik pohon bakau Sang Bangau rupanya ikut mendengarkan semua pembicaraan mereka. Sang bangau hanya bisa tersenyum.Kali ini sang bangau akan memberi pelajaran yang lain kepada si kodok buduk dan para ikan lele.

                                                                            ***
          Si kodok buduk merasa senang sebab kali ini ia memberi pelajaran sang bangau yang telah membohonginya. Oleh karena itu, ia cepat-cepat pergi ke pematang sawah untuk melihat dari kejauhan bagaimana nasib kaki temannya saat berdiri di tambak akan dilukai oleh ikan-ikan lele,sang penjaga air.
         "Ayooo...Bangau silahkan berdiri di tambak...ayo cepattt," gumam si kodok buduk ketika melihat sang bangau akan berdiri di tambak untuk menangkapi ikan-ikan segar.
Namun betapa kagetnya si kodok buduk, ternyata sang bangau saat berdiri di tambak hanyamenggunakan satu kaki saja. Sedang satu kaki yang lain dilipat ke badannya. Dan hal inilah yang membingungkan ikan lele. Sebab selama mereka bertugas menjaga air, tidak menjumpai dua kaki panjang yang masuk bersamaan di tambak. Dan taktik inilah yang membuat sang bangau senantiasa selamat dari serangan para penjaga air.
Sebaliknya si kodok buduk semakin jengkel dan pergi meninggalkan sang bangau untuk mencari makanan sendiri tanpa mengharapkan bantuan siapapun.
          Dan sejak saat itu dimanapun berada sang bangau bila mencari makan di perairan senantiasa melipat satu kakinya dan si kodok buduk senantiasa makan hewan kecil apa saja yang ditemuinya tanpa mengharapkan bantuan siapapun lagi.


selesai

sumenep, 5 Desember 2012

moral cerita : Rejeki yang diperoleh dari jerih payah sendiri
                     lebih mulia nilainya
                    daripada mengharapkan
                     belas kasihan orang lain.